Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Strategi yang sangat Baik



“Chewy Gum shoot!”


Terlihat di depan mata mereka, senjata itu mengeluarkan permen karet yang cukup besar. Dan mengenai kedua lengan raksasa dari Robot itu, sehingga tak dapat bergerak setelah dua kali tembakan.


Robot Raksasa itu meronta-ronta untuk melepaskan diri, namun Bagas tidak membuang-buang waktu, saat melihat peluang di depannya.


Dengan cepat, Ia langsung menghampiri kepala Robot itu selagi tak bisa bergerak, menggunakan jetparknya. Bagas melakukannya tepat seperti yang dikatakan Sakti, ia memutar paksa Kepala Robot tersebut, sehingga bagian belakangnya menghadap mereka.


“Sakti! Cepat!” kata Bagas yang tengah menahan kepala Robot tersebut.


“Sekarang Mentari!” Mereka melepaskan bidikan dari Taser Gun tersebut, dan Flasdisk itu melesat cepat ke arah yang ditentukan mereka.


Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah berharap agar mengenai slot itu dengan tepat. Namun di saat bersamaan, salah satu lengan Robot itu terlepas dan gerakannya menghalangi Flashdisk tersebut.


Sehingga Flasdisk itu terjatuh sebelum mengenai sasaran. Kemudian, dengan cepat mengincar Bagas yang masih menahan Kepalanya.


Saat flasdisknya terjatuh, kepalan Raksasa Robot itu sudah berada dekat di hadapan Bagas, untuk menghantamnya.


Tapi Bagas juga tak kalah cepat, melepaskan jetpark dari tubuhnya. Kemudian Ia langsung terjatuh, lima detik sebelum hantaman itu menghancurkan Jetparknya yang masih terbang.


Bukan hanya jetparknya saja, tapi juga Kepala Robot itu yang ikut terhantam sehingga terlepas dari badannya. Karena hantaman dari Robot itu yang tak terelakan dan begitu kuat hantamannya.


Setelah kepala Robot itu terlepas, Robot itu perlahan-lahan berhenti dan akhirnya berhenti total di atas kepala Bagas.


“Fuhh, hampir saja,” kata Bagas.


Sakti teringat sesuatu dari kejadian ini, “Oh pantas saja. Tadi Sudarma mengatakan, Aku hanya menambahkan energinya saja, saat membidik kepalanya dengan tegangan tinggi. Artinya, sumber energinya berada di kepalanya.”


 


“Maka dari itu, sewaktu terlepas dari tempatnya, Robot itu mati total,” sahut Mentari.


 


“Ya, tepat sekali. Pintar juga Kau.”


Sakti teringat sesuatu, “Bagas! Selamatkan orang yang disandera itu!” teriak Sakti.


Namun ketika mereka menoleh ke arah yang dimaksud, terlihat bangku sandera itu telah kosong dan Sudarma tidak ada.


“Gawat! Apa Dia membawa kabur Direktur?”


 


“Oi!” suara teriakan yang membuat mereka menoleh ke arah yang sama. Dan terlihatlah, Ivana yang telah melumpuhkan Sudarma dan juga Direktur yang telah bebas.


“Syukurlah.”


* * *


Kondisi di dalam perusahaan tersebut, setelah Rendy berhasil ditaklukan serta diamankan. Surya bersama empat orang, termasuk Aryo mengumpulkan semua ID Card yang berada di bagian Divisi Pengembangan.


“Ayo, ambil semua! Jangan sampai ada yang terlewat.”


“Iya, siap. Jangan lupa juga yang masih dipegang beberapa dari mereka.”


Ucap mereka, saat mengambil semua Id Card dari tempat kartu tersebut yang berada di dinding, serta yang berada di dalam kantong beberapa orang.


 


“Jadi, tersisa dua kartu lagi ya. Sakti sedang tidak berada di sini, tapi kemarin dia meninggalkan kartunya padaku,” kata Surya, setelah menyesuaikan semua kartu dengan jumlah orang yang bekerja di bagian pengembangan.


“Sepertinya, ada dua orang lagi yang masih membawa kartunya. Sebelumnya, Aku melihat mereka keluar dari kantor, sewaktu mengambil sapu untuk Aryo,” kata Ditto yang tadi mengambil sapu.


Terlintas sesuatu di kepala Surya, “Oh iya, Aku tidak melihat Mentari ada di sini. Apa salah satu yang Kau lihat itu beramput poni?”


 


“Iya, dan yang salah satu lagi rambutnya diikat,” jawab Ditto.


“Artinya, yang satu itu memang Mentari dan yang satu lagi sepertinya Ivana,” kata Surya yang sangat yakin, setelah melihat meja Ivana dan Mentari kosong.


“Lalu, bagaimana? Apa kita cari mereka?”


“Aku akan kirim pesan singkat kepada Mentari. Sepertinya dia juga tidak jauh dari Ivana.”


Surya mengirim pesan singkat kepada Mentari, memberitahunya informasi dari ID Card itu dan, segera menghancurkannya serta memberitahu Ivana.


“Memangnya, untuk apa Kau mengambil kartu-kartu itu?” tanya salah seorang yang terheran dengan, yang dilakukan Surya.


Mereka yang tengah bekerja, menjadi teralihkan perhatiannya, kepada Surya dan empat orang yang bersamanya.


 


“Dengar! Gara-gara kartu ini, keluarga kita diawasi oleh Sudarma. Maka dari itu, jangan menyimpan kartu ini dan serahkan pada kami!” ucap salah seorang yang membantu Surya.


“Ha..” kaget mereka semua.


“Bagaimana bisa?” tanya salah seorang.


“Haa..”


“Siapa orangnya?”


“Akan ku hajar sampai merengek dia.”


“Dengar! Kalian tak perlu tahu siapa orangnya. Supaya kalian selamat dan tak ada ancaman lagi. Setelah semuanya selesai, kami akan ceritakan yang sebenarnya terjadi. Mengerti?”


 


“Ya, mengerti!” jawab mereka.


“Baik, terima kasih banyak!” ucap Surya.


Sementara keadaan Rendy, tengah dijaga ketat oleh tiga orang teman Surya, yang sebelumnya membantu Botak ke ruang pengobatan.


“Hei, kalian kenapa hanya berdiri?” kata Rendy yang sedang terikat, di sebuah kursi dalam Gudang.


 


“Kalian tidak mau uangkah? Jika mau, bantu Aku keluar dari sini dan kalian akan mendapatkan banyak uang,” kata Rendy yang mencoba menghasut.


“Apa?” kata salah seorang yang menoleh ke arahnya.


“Iya, kalau Kau berada dipihakku. Kau akan mendapatkan uang sesukamu.”


“Sepertinya Kau salah orang. Aku sama sekali tidak tertarik dengan uang,” jawab orang itu.


“Mobil? Wanita? Jabatan?” kata Rendy yang masih berusaha.


“Wah, kata-katamu Dunia sekali ya. Tapi juga bukan itu yang membuatku tertarik.”


“Lalu apa dong? Supaya kita bisa bekerja sama, ayo segera katakanlah.”


“Ohh, Kau memaksa sekali ya. Baiklah, jadi yang membuatku tertarik adalah, pencundang yang beraninya pakai senjata dan yang telah menipu kami demi keuntungan. Sekarang, merengek-rengek meminta kami melepasmu?”


Hal itu, membuat dua orang yang bersamanya tertawa, karena guyonan temannya tersebut, “Hei, sudahlah. Kasihan orang itu, bentar lagi kan bakal dipenjara.”


“Hei! Kalian keterlaluan sekali! Cepat lepaskan Aku!” teriak Rendy sambil meronta-ronta.


“Hei! Kau bisa diam tidak? Apa ingin Kubuat merengek kesakitan?” kecam orang itu dengan tatapan tajam. Yang akhirnya membuat Rendy tak berkutik lagi.


 


Surya dengan beberapa orang yang bersamanya, termasuk Aryo pergi ke halaman belakang perusahaan, usai mengambil korek dan minyak.


Mereka membakar habis kartu-kartu berbahaya itu di belakang halaman Perusahaan. Terlihat, api melahap habis kartu-kartu tersebut, yang dilemparkan ke dalam tong. Dan cahaya yang timbul dari api tersebut, menyinari wajah mereka.


“Aku masih heran, bagaimana bisa ID Card ini mengawasi keluarga kita semua?” renung Surya sambil melihat kartu-kartu itu terbakar.


“Lihat! Di dalamnya ternyata ada Chip,” kata Aryo yang berada di sampingnya, usai membongkar salah satu kartu dari kartu-kartu tersebut.


“Apa? Chip?” tanya Surya yang kaget dengan hal itu.


“Chip ini, yang digunakan Sudarma untuk mengawasi kediaman kita semua.”


“Lalu, apa Kau tahu cara kerjanya?”


“Ya. Chip ini adalah Chip yang digunakan mata-mata. Aku pernah melihatnya di Black Market.”


“Untuk apa Kau membuka Black Market?”


“Iseng-iseng. Jadi, cara kerja Chip ini adalah mengirim sinyal kepada pusatnya, setelah orang yang menerima Chip ini sampai di rumah. Kemudian, mereka mengeluarkan Drone-Drone sesuai sinyal dari Chip pada Id Card ini.”


“Ada yang mengirim Drone? Atau secara otomatis?”


“Bukan otomatis! Karena sinyal-sinyal itu tak bisa melakukannya dengan otomatis. Jadi dijalankan oleh beberapa orang di bagian pusat.”


“Jadi begitu. Sepertinya ada dua kemungkinan, pertama Sudarma membayar mereka. Atau, mereka adalah bawahan dari Sudarma langsung. Apa kita perlu menyelidikinya?”


“Tidak usah. Itu bukan urusan kita, biar polisi saja yang melakukannya. Intinya, semua kartu ini harus dimusnahkan, dan bagaimana dengan yang tersisa dua?” ucap Aryo, sebelum melemparkan Chip tersebut, ke dalam tong yang berisi api.


“Tenang, kita tinggal menunggu jawaban dari Mentari, dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dari semua ini.”


“Oh iya! Bagaimana dengan senjata yang Kau amankan itu? Mau Kau apakan?” tanya Surya.


“Masih padaku. Dan sepertinya akan Ku simpan untuk berjaga-jaga, kita tak tahu apa yang akan terjadi lagi.”


“Ku harap, Kau menjaganya dengan benar, jangan seperti Rendy.”


“Tenang saja.”


 


Tekan tombol vote dan tambahkan ke favorit untuk mendukung Author ya :)