Light System Vs Dark System

Light System Vs Dark System
Seseorang yang Misterius



Sontak mereka berdua menoleh ke arahnya, dan Sakti dibuat terpukau ketika melihatnya, “Imut sekali Dia.”


“Eh, ada Mentari,” sahut Surya.


“Namanya Mentari,” dalam hati Sakti yang masih terpesona.


“Kamu Programer baru disini ya? Perkenalkan namaku Mentari dan usiaku duapuluh empat tahun,” ucap cewek berwajah imut yang matanya seperti pancaran rembulan indah, dengan rambut sebahu dan berponi.


“Namaku Sakti, dan usiaku sama sepertimu,” jawabnya lalu mereka bersalaman.


Ketika Sakti bersalaman dengan Mentari, dalam sekejap Sakti menjadi berhalusinasi...


“Eh, sudah pulang ya,” kata Mentari setelah melihat Sakti membuka pintu, sambil menenteng jaznya.


“Iya, capek sekali di kantor tadi. Mana ada rapat dadakan.”


“Tapi kamu harus tetap semangat ya! Biar tambah semangat Aku udah masakin makan malam.”


“Kamu masak apa, Mentari?” tanya Sakti kepada Mentari yang sedang memasak di dapur.


“Nasi Goreng ikan saos tomat,” jawab Mentari.


Sakti tersadar kembali dari halusinasinya usai bersalaman,


“Kok jadi halu sih,” dalam hatinya Sakti setelah tangan Mentari yang begitu lembut, terlepas dari jabat tangannya.


“Apa Aku boleh bergabung dengan kalian ?” tanya Mentari usai bersalaman dengan Sakti.


“Oh, boleh kok boleh,” sahut Sakti dengan cepat sambil memberinya tempat duduk.


Mentari duduk di samping persis Sakti dan Surya duduk sendiri dalam posisi menghadap mereka.


“Kamu makan apa?” basa-basi Sakti.


“Nasi goreng ikan Saos tomat,” jawab Mentari dengan makanan yang tadi dibawanya dari prasmanan.


“Sama dong, Aku juga mengambil Nasi Goreng Ikan Saos tomat.” Mereka berdua tersenyum karena tak menyangka makanan yang diambil sama.


Dalam hati Surya, “Hmm...Sepertinya Aku akan jadi nyamuk.”


Sakti mencari-cari pertanyaan di dalam kepalanya, supaya dapat mengajaknya berbicara.


“Oh iya, Kamu lulusan dari kampus mana?” tanya Sakti setelah mendapatkan bahan.


“Dari Kampus Negeri, fakultas kedokteran.”


“Kedokteran? Masa kerja di IT?” kaget Sakti setelah meneguk minuman bersodanya.


“Ngga kok, bercanda hehehe...”


“Fakultas IT tentunya. Kalo Kau, dari Kampus mana?” sambung Mentari.


“Kampus Ubi Ungu, Fakultas Informatika.”


“Nanti mau pulang bareng ngga?” ajak Mentari.


“Memangnya kita searah?” kata Sakti sebelum menyuap nasi.


“Tidak tahu juga sih, hehehe... Kalo boleh tau, alamat rumahmu dimana?” tanya Mentari.


Sakti menatap ke arah Surya dengan tajam, dan penuh curiga. Terlihat jelas Surya tengah asik makan, saat mereka berbicara.


“Aku akan beritahu, tapi bukan disini. Soalnya ada Om-Om Genit.”


“Oh seperti itu, Aku mengerti,” sahut Mentari dengan senyum imutnya.


Dalam hati Surya, “Padahal Aku sudah berpura-pura tidak dengar.”


Dalam Hati Sakti, “Memangnya Aku tidak tahu Kau sedang berpura-pura tak dengar, Om-om Genit. Tetap akan kuawasi Kau!”


Lalu sebuah ide, terbesit dipikiran Sakti,


“Begini saja, bagaimana kalau nanti kita pergi ke Cafe?” saran Sakti.


“Jadi, Kau mengajakku pergi ke Cafe?” tanya Mentari.


Dalam hati Surya, “HAA...! Tiba-tiba Dia ngajak jalan? Aku tidak salah dengar kan?”


Dalam hati Sakti, “Aku tidak tahu kenapa, dengan spontan Aku mengajaknya jalan.” Pipi Sakti berubah menjadi kemerahan jambu, karena salah tingkah.


“Boleh kok,” balas Mentari dengan senyuman manisnya.


Surya melihat Sakti yang tiba-tiba terdiam dan sedang memandangi sesuatu.


“Sakti, kenapa bengong?”


“Itu, Ivana kan?” kata Sakti.


“Oh, itu. Jadi kau kenal dengan Ivana?” kata Surya sambil melihat Ivana juga.


“Iya, Dia adalah teman kuliahku tapi beda kelas. Ternyata Ivana juga bekerja disini,” kata Sakti.


“Kenapa Kau baru tahu sekarang? Dia kan satu bagian sama kita,” sahut Mentari.


“Bagaimana Sakti bisa menyadarinya, Mentari? Di Divisi programing ada sekitar seratus orang. Ditambah lagi, mereka berdua baru saja bekerja disini.”


Mendengar perkataan Surya barusan, membuat Sakti menoleh ke arahnya.


“Sejak kapan, Ivana kerja disini?” tanya Sakti kepada Surya.


“Satu jam sebelum Kau datang bersama HR,”


“Hah? Kenapa Kau tidak bilang padaku?”


“Hei, hei. Aku juga tidak tahu, kalau Kau kenal dengan Ivana. Lagi pula, memangnya ada apa sih? Kau ada masalah dengannya?” kata Surya.


“Tidak ada. Aku hanya kaget.” Sakti lanjut menyuap nasi.


“Dia cantik ya, tapi sikapnya sangat dingin. Apa sewaktu di kampus, sikapnya juga begitu?” tanya Surya.


“Ya, begitulah. Dia hanya bergaul dengan orang-orang tertentu saja.”


“Orang-orang tertentu? Seperti apa? Apakah harus tampan?”


“Bukan, yang kudengar dari salah satu teman akrabnya adalah... Sesuai pilihannya sendiri, dan tak ada yang tahu seperti apa kategorinya, termasuk teman yang ia pilih.”


“Kenapa Kau tak bilang saja, ‘tak ada yang tahu’. Jadi tak usah panjang lebar! Bikin bingung saja.”


“Hei, tunggu dulu! Aku belum selesai bicara. Dari yang kuamati selama di kampus dan pergaulan kecilnya. Aku mulai menyadari sesuatu, Dia tidak suka bergaul dengan banyak orang dan hanya orang-orang cerdas dan yang suka obrolan berbobot, yang akan dijadikannya teman.”


“Hah? Serumit itu cara pertemanannya.”


“Bukan hanya itu, juga orang-orang yang punya pengetahuan luas akan suatu tempat, seperti Kampus, Balai Kota, Perpustakaan Nasional dan yang punya banyak kenalan pejabat atau Dosen-Dosen kampus, yang akan dijadikannya teman.”


“Pantas saja temannya sedikit,” jawab Surya sebelum meneguk es tehnya.


Tiba-tiba Sakti menyadari seperti ada yang kurang,


“Loh, Mentari mana?” kaget Sakti yang baru menyadari sebelahnya kosong.


Lalu terdengar suara Mentari di telinga mereka,


“Mencariku ya?” sahut Mentari yang datang dengan sepiring nasi baru.


Sakti terkejut, ketika melihatnya membawa sepiring nasi lagi, tidak lupa juga dengan lauknya. Namun ekspresi Surya tampak normal dan biasa saja.


“HAA... Kau nambah lagi?” desis(suara pelan) Sakti.


“Karena tadi kalian asik bicara berdua, Aku tanpa sadar sudah menghabiskan makananku duluan. Dan Aku baru mengambilnya lagi, Hehehe,”


Sakti terheran ketika melihatnya kembali dengan sepiring nasi baru.


“Apa, satu porsi belum cukup untukmu?” tanya Sakti.


“Dia sudah biasa seperti itu,” sahut Surya.


“Lalu kenapa bentuk badanmu masih terjaga?”


“Kalau itu sih... Aku selalu berOlahraga setiap hari, dan porsi Olahragaku lebih banyak dari porsi makanku.”


“Pantas saja.”


Sangat terlihat sekali, Mentari sangat menikmati hidangannya dengan lahap.


Sakti masih shock melihat cewek yang penampilannya imut, tapi makannya sebanyak itu.


Dalam hati Sakti, “Bagaimana jika di sudah Cafe nanti? Hadeuh.”


Akhirnya, mereka pun telah selesai makan siang dan Jam selesai istirahat, juga telah berbunyi.


Sakti hendak menaruh piring yang kotor itu, namun tak sengaja menabrak Ivana, yang hendak menaruh piring kotor juga.


“Aduh, maaf-maaf. Aku tidak sengaja,” kata Sakti.


Ivana hanya terdiam, memperhatikan Sakti dan lanjut berjalan lagi seperti tak terjadi apa-apa.


Benar-benar hal yang tak terduga, Sakti sampai menabrak Ivana.


“Eh, tunggu dulu!” panggil Sakti. Karena ia penasaran dengan siapa Ivana sebenarnya.


**Bersambung...


Tekan vote dan tambahkan favorit untuk mendukung Author ya** : )