Life With Ghost

Life With Ghost
Chapter 9



Chapter 9


Seusai nya tiba di rumah, aku segera merebah kan diri di sofa. Rasa nya nyaman sekali sekarang. Seperti baru saja keluar dari penjara.


"Bu, Jenar ngantuk. Jenar mau tidur di kamar, ya..! " ujar Jenar lemah.


Tampak nya dia memang butuh istirahat yang cukup. Sekar juga ikut masuk ke dalam, mengikuti kakak nya. Ia pun tampak nya juga sangat lelah.


Aku dan Mas Damar memilih untuk bersua beberapa saat di ruang tamu. Lama rasa nya kami tidak menghabiskan waktu bersama.


"Bagaimana, Mas. Kita akan masukkan Sekar ke sekolah yang mana? " tanya ku sembari bersandar di dada bidang suami ku.


Sedangkan tangan nya, sibuk mengelus anak rambut ku di belakang telinga.


"Masih ada dua sekolah lagi yang belum kita datangi. Letak nya lumayan jauh, tapi tak apa. Setidaknya masih bisa di jangkau dari sini! " jawab Mas Damar.


"Baiklah, Mas. Kita usaha kan yang terbaik. Meski Sekar itu otak nya lancar, tapi kalau tidak memiliki ijazah, percuma juga! " ujar ku lirih.


"Tidak apa, kamu tidak perlu khawatir. Semua nya akan baik baik saja. Setelah ini, kita akan ajari Sekar hidup normal seperti yang lain nya. Kita akan ajari dia untuk mengabaikan apa pun yang dia lihat"


Aku hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Mas Damar. Meski rasa nya sulit, memahami apa yang Mas Damar katakan.


Bayangkan saja, sosok yang kita lihat dari hadapan mata, meminta tolong. Atau bahkan mengajak bicara, mana mungkin bisa kita abaikan.


Makhluk halus itu sama seperti kita manusia biasa. Berkeliaran, melakukan aktivitas, hanya saja mereka tidak memiliki tujuan seperti kita manusia.


Ada yang berusaha meminta tolong, tapi tak mendapat bantuan. Ada juga yang senang mengganggu manusia karena mereka tidak memiliki pekerjaan. Ya, begitu lah mereka.


Hidup berdampingan dengan yang tak kasat mata, membuat kita harus siap kapan pun dan dimana pun untuk mendapat gangguan dari mereka.


Tetapi, apa pun itu percaya lah. Kita punya Allah yang akan selalu melindungi umat nya. Kita punya Allah yang juga menciptakan mereka, dan satu hal yang paling penting.


Derajat kita, berada di atas mereka. Lalu apa alsan kita untuk takut pada mereka?


Tak terasa, hari sudah beranjak malam. Rencana nya, kami akan menikmati makan malam di luar hari ini. Lama rasa nya tak menghabiskan waktu bersama.


Mas Damar dan anak anak juga setuju. Mereka juga sedang bersiap saat ini.


"Ayo, Bu. Kita berangkat, Sekarang! " Seru Jenar yang sudah sangat tak sabar.


Bahagia rasa nya melihat mereka yang antusias seperti itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Kedai pecel lele adalah tujuan kami malam ini. Jenar yang memang sangat menyukai sambal dan lalapan, begitu antusias melihat itu.


Baru saja kami turun dari mobil, Sekar sudah kembali menunjukan lagat yang aneh.


"Auuuu.... Auuuaaa! " ujar Sekar saat kami akan masuk ke dalam kedai itu.


Ia tampak sekali tak suka, dengan menarik baju ku menggeleng gelengkan kepala.


"Ada apa, Nak? " tanya ku yang merasa tak nyaman. Sebab, banyak pasang mata yang memperhatikan kami.


Mas Damar berjongkok, mencoba untuk mengajak Sekar bicara dengan lembut.


"Sekar kenapa? Nggak suka makanan nya? " tanya Mas Damar lirih.


Sekar menggeleng, dengan bibir yang mengerucut dan wajah yang sangat ketakutan.


Tangan mungil nya meraih buku yang memang selalu ia bawa ke mana-mana.


Lalu ia menuliskan kata Bismillah.


Mas Damar dan aku menautkan alis bingung.


Tetapi, Mas Damar tetap mengikuti apa yang ia katakan. Mas Damar menarik nafas dalam, lalu berucap Basmalah dan menatap ke arah warung pecel itu.


"Astaghfirullah! " teriak Mas Damar yang membuat ku bingung.


"Ada apa, Mas? " tanya ku terkejut.


Mas Damar bergeming, hanya menatap ku sekilas lalu beranjak menggendong Sekar masuk ke dalam mobil kembali.


Aku yang penasaran, mengikuti apa yang di katakan Sekar tadi.


Aku mulai menarik nafas dalam, lalu mengucapkan Basmalah dan istighfar sebanyak tiga kali, lalu mulai menatap ke arah warung itu.


Mata ku seketika membulat, kala melihat puluhan pocong yang berada di sekitar warung itu.


Muali ada yang menginjak nginjak makanan pembeli. Ada yang menduduki nya, ada juga yang meneteskan liur nya ke dalam mangkuk, ada juga yang berjaga di atas rumah nya.


Semua pocong yang ada di sana, berwajah seram dengan kain kafan yang lusuh dan kotor, serta bercak darah dimana-mana.


Aku menelan ludah susah payah, dengan kaki tangan yang mulai bergetar tak karuan. Bibir ku bahkan sampai bergetar, kala melihat salah satu pocong yang ada di sana, menatap ku dengan tatapan tajam dan mata yang bulat besar hampir lepas dari tempat nya.


Di saat pocong itu ingin melompat ke arah ku, tangan mungil segera menarik ku ke dalam.


"Ibu, Tidak apa apa? " tanya Jenar yang ternyata sudah duduk di bangku belakang.


"Ti-tidak , Nak" jawab ku gugup.


Kala wajah ini ingin menatap ke arah itu lagi, tangan mungil Jenar segera menghalangi.


Ia menggeleng, memberi isyarat agar aku tidak melihat lagi ke arah sana.


Aku menurut, hingga mobil ini kembali melaju aku masih terdiam seribu bahasa.


"Malam ini mau makan dimana? " tanya ku pada akhir nya.


"Makan di rumah aja, Bu. Jenar nggak mau makan di luar. Nggak enak waktu liat belatung di piring orang tadi! " Jawab Jenar cepat.


Aku hanya mengangguk. Untung persediaan makanan masih ada di kulkas, masak saja apa yang ada di sana.


"Nafsu makan ku juga hilang, Dek. Mas masih terbayang oleh orang yang makan darah dari hidung pocong tadi! " sahut Mas Damar dengan bergidik.


Sedangkan Sekar, ia sudah terlelap di sebelah Jenar.


Setelah mobil menepi, aku segera menggendong Sekar dan menidurkan dia di kamar. Masalah tidur, Sekar memang nomor satu.


Setelah menidurkan Sekar, aku segera masuk ke dalam dapur, mulai menyiapkan bahan makanan untuk masak seadanya.


"Bu, nggak usah masak lah. Jenar ngantuk! Mau tidur saja, besok saja ibu masak! " ujar Jenar ketika aku baru akan mengiris daging dan sayuran.


Aku menatap ke arah Mas Damar, dia mengangguk seolah setuju dengan apa yang di katakan Jenar.


"Kalau pun ibu masak, nanti yang makan siapa? Jenar masih trauma melihat pemandangan tadi! " ujar Jenar lagi.


Aku hanya tersenyum menjawab nya. Lalu kembali memasukkan sayuran dan daging ke dalam kulkas.


"Mas, tapi nggak apa kita tidur dalam keadaan perut kosong? " tanya ku lirih.


"Nggak apa, sayang. Kasihan juga anak anak. Untung Sekar tadi memberi tahu, kalau tidak, bisa sakit kita semua!" ujar Mas Damar lembut.


Ia menarik masuk tangan ku ke dalam kamar. Membaringkan tubuh dan beristirahat.


"Sayang, tadi Mas sudah bicara dengan kepala sekolah, tempat yang akan Sekar masuki. Tetapi dia bilang, tidak bisa menerima. Sebab murid nya sudah penuh! " Ujar Mas Damar yang membuat hati ku kembali bersedih.


"Tapi kamu tidak perlu khawatir, masih ada satu sekolah lagi. Besok pagi Mas akan datangi. Semoga Sekar akan keterima ber sekolah di sana! " ujar Mas Damar yang pasti tahu apa yang ku rasakan.


Aku hanya mengangguk pelan, lalu menenggelamkan wajah di dada nya.


"Sayang, seperti nya, sudah waktu nya Sekar memiliki adik!" ujar Mas Damar dengan suara berat dan seperti menahan sesuatu.


"Maksud Mas Damar?" jawab ku dengan menahan senyum karena tahu apa yang dia maksud.


"Tidur mungkin kamu tidak tahu! " seru Mas Damar segera mengukung tubuh ku. Dan...


Kalian tahulah!


*****