
Chapter 12
Tak terasa, ini sudah dia hari Mas Damar pergi. Tanpa kabar, dan membuat hati ku cemas.
Kedua anak ku sudah terlantar, tidak sekolah dan hanya berdiam diri di rumah. Kasihan mereka.
"Bu, Bapak lama ya pulang nya? " tanya Jenar yang membuat ku terkejut.
"Ah, iya sayang. Sabar, ya..." ujar ku sembari mengelus pucuk kepala nya.
"Cari rumah nya yang jangan banyak tetangga ya, Bu. Kasihan adik, nanti jadi bahan bulian lagi. " ucap Jenar lirih.
"Iya, sayang. Kamu nggak perlu khawatir. " ujar ku sembari meraih nya ke dalam dekapan.
Dua hari ini kami lewati tanpa Mas Damar, rasa nya aneh saja. Malam sulit tidur, makan juga jadi tidak berselera. Hari ini, tepat tiga hari. Tapi dia masih tak ada kabar dan tak ada tanda tanda akan pulang.
Raut wajah Jenar dan Sekar juga berubah masam. Agak nya mereka juga merindukan Bapak nya.
Berkali-kali aku mencoba menghubungi nya, tetapi bahkan ponsel nya tak aktif. Kemana sebenarnya kamu, Mas?
Hari sudah menjelang tengah malam. Entah mengapa perasaan ku sangat tak sedap. Besok berarti sudah empat hari Mas Damar tak pulang, kenapa jadi meleset sejauh ini?
Tok... Tok... Tok...
Aku terperanjat, kala mendengar ketukan dari pintu utama. Aku yang terbaring miring dengan pikiran melayang akan Mas Damar, seketika terbangun.
"Siapa Malam malam begini bertamu? " tanya ku pada diri sendiri.
Ku lirik ke arah jam dinding, bertepatan dengan itu ia berdeting. Tepat pukul dua belas malam. Hujan juga merintik dari luar. Siapa kah gerangan?
Kaki ku bawa mendekati pintu kamar, lalu memutar knop pintu dan menuju ruang utama.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar ketukan itu kembali. Hati ku mulai ragu, mengapa kalau itu manusia, tidak mengucap kan salam dan berucap sepatah kata pun.
Pikiran ku kalut, teringat akan ucapan orang tua dahulu. Jika ada yang mengetuk pintu tengah malam itu bukan lah manusia.
Aku teringat akan cermin.
"Dek, itu kamu? Buka pintu nya, ini aku!"
Tangan yang sudah siap menggenggam cermin, seketika terhenti. Itu suara Mas Damar.
Aku langsung berlari ke arah pintu, namun kembali terhenti kala mengingat sesuatu.
Mas Damar tak akan mengetuk pintu tanpa mengucap kan salam, apa jangan jangan...
Aku beringsut mundur, jantung ku kembali terpompa dengan cepat. Membayangkan hal hal yang akan terjadi jika aku membuka pintu itu. Dan pamali membuka pintu tengah malam benar ada nya. Jam jam segini, memang waktu nya makhluk halus berkeliaran.
Aku segera masuk ke dalam kamar kembali, menutup pintu rapat dan merebahkan diri di kasur. Ku tarik selimut hingga menutupi kepala, rasa nya tak sanggup jika harus berada di posisi itu.
Suara kokokan ayam jantan, membuat mata ku kembali terbuka. Tak terasa bahkan hari sudah kembali pagi, ya Allah, sampai detik ini suami ku masih tak ada kabar.
Membicarakan tentang suami, aku teringat akan kejadian semalam. Bukan kah ada suara Mas Damar yang mengetuk pintu?
Mengingat itu, aku segera bangkit dari ranjang, dan berlari keluar.
Krieeetttt!
Pintu terbuka, menampakkan sesuatu yang membuat mulut ku menganga, dengan mata yang membulat sempurna.
"Mas Damar!" Seru ku sembari berlari ke arah nya.
Mas Damar tertidur di kursi panjang teras, dengan jaket tebal dan tubuh yang meringkuk di sana. Aku yang kasihan segera mendekati nya.
"Mas Damar, bangun, Mas!" Seru ku sembari menguncang guncang kan tubuh nya.
Mas Damar menggeliat, lalu mulai membuka mata.
"Loh, sudah bangun?" ujar nya dengan mengucek mata dan suara berat.
"Sudah. Kok , Mas Damar nggak bangunin aku?" seru ku kesal.
Sebenarnya ini salah ku, terlalu berlebihan semalam. Gegara sering mendengar hal mistis, jadi terpedaya.
"Habis, Mas manggil nama kamu, sampai ucap salam nggak di bukain pintu nya. Ya sudah, Mas tidur di luar" ujar nya santai.
Benar memang apa yang dia ucap kan. Ya Allah, aku jadi merasa bersalah.
"Maafin aku ya, Mas. Aku pikir kamu makhluk astral semalam. Soal nya bertamu tengah malam. Kan Yanti jadi takut!" Sergah ku dengan suara manja dan bibir mengerucut.
"Tengah malam? Mas datang subuh tadi , Dek. Di antar Dito!"
Deg! Subuh? Berarti yang tengah malam...
"Tapi, Mas. Yang hampir Yanti buka kan pintu dan itu Mas Damar jam dua belas malam. Kok subuh?" tanya ku balik dengan alis bertaut.
Mas Damar juga tampak kebingungan. Terlihat ia menelan ludah beberapa kali.
"Bagus lah, kamu tidak buka kan. Atau kalau tidak, nanti benar bukan manusia!" ujar Mas Damar dengan bibir yang mencoba tersenyum.
Mas Damar mengajak ku masuk ke dalam. Tak ingin terlalu terpikir kan oleh hal seperti ini. Toh memang banyak makhluk halus yang mengintai kami sejak Sekar hadir. Hanya saja kami tak pernah mengurus nya.
"Bagaimana, Mas? Apakah Mas Damar sudah menemukan rumah yang akan kita tinggali nanti? " tanya ku setelah melepas kaos kaki Mas Damar.
"Insya Allah sudah, Dek. Rumah nya lumayan besar, tingkat dua. Tapi di tengah hutan jati. Nggak apa? " jawab nya yang membuat tangan ku berhenti melakukan aktivitas.
"Maksud Mas Damar? Desa pedalaman gitu? "
*****