
Chapter 15
"Ini Rumah nya, Mas?" tanya ku dengan mata yang tertuju pada bangunan megah dan lumayan besar di hadapan.
Mulut ku menganga, dengan mata membulat sempurna. Rumah sebagus ini, semegah ini. Mengapa ada di tengah hutan jati?
Memang hutan ini tidak lah lebat. Jajaran pohon tersusun rapi, seperti memang di rawat. Entah mengapa aku seperti tidak asing dengan wilayah ini. Seperti nya aku pernah melihat, tapi lupa kapan dan bagaimana bisa?
"Iya, Sayang. Rumah ini, rumah pemilik hutan jati ini. Awal nya hanya pondok, tapi kini di bangun megah." jawab Mas Damar.
"Mas ada curiga, ngga sih? Kenapa rumah sebesar ini dan semegah ini bisa di jual dengan harga semurah itu? " tanya ku lagi, kini sembari menatap ke arah nya.
"Awal nya sih iya, tapi setelah di jelaskan enggak lagi" jawab Mas Damar kembali.
"Jadi, rumah ini sengaja di bangun di tengah hutan jati untuk sekalian memantau hutan ini. Sering sekali ada penanganan liar yang terjadi disini,
Sedangkan pemilik nya harus pindah ke luar kota untuk merawat ibu nya yang sakit. Itu sebab nya, rumah ini di bangun megah dan di jual murah, supaya cepat menarik minat pembeli dan ada yang menjaga kebun ini" jelas nya.
Masuk akal juga apa yang ia jelaskan. Mungkin memang itulah kebenaran nya.
"Jadi selama tiga hari, Mas Damar tinggal di sini?" tanya ku, ia hanya mengangguk.
Lalu mengajak anak-anak masuk ke dalam. Suasana di sini sungguh nyaman, udara sejuk dengan remang-remang sinar matahari.
"Aaaa... Auuuu! Naaa!" jerit Sekar sembari loncat loncat. Anak ini senang sekali tampak nya, seolah melihat sesuatu yang dapat membuat mood nya yang tadi sempat hilang, langsung kembali dalam sekejap.
Ia berlari masuk ke dalam rumah. Tubuh mungil nya berbalik, ketika di ambang pintu. Tangan nya melambai, seolah tak sabar agar meminta kami segera masuk.
Syukurlah, setidak nya Sekar sangat senang tinggal di sini. Tetapi, berbeda dengan Benar, anak ini justru diam saja melihat ke sekeliling rumah ini.
"Jenar, ayo masuk, Nak!" ajak ku karena ketika di ajak Bapak nya ia tak kunjung masuk.
Ia hanya menatap ku sekilas, lalu mengangguk dan menggandeng tangan ku.
Rumah ini masih sangat rapih. Mungkin karena memang sudah di tempati Mas Damar beberapa hari.
Tampak barang barang yang kami titip kan pada teman Mas Damar kemarin, terkumpul di pinggir sebelah lemari barang barang.
Ada sofa, ada lemari kecil lengkap dengan isi nya. Bahkan peralatan dapur juga sudah lengkap.
Di dalam rumah ini, hawa nya sangat sejuk. Tetapi, sedikit gerah. Entah lah, hawa nya dingin, tetapi berkeringat di tubuh.
Mulai dari menyapu, menyepel, bahkan sampai membersihkan rumput di sekitaran rumah.
Sedangkan Mas Damar, ia mengecat rumah ini di bagian luar. Selain sudah sedikit berlumut, warna nya juga terdapat bercak hitam-hitam kemerahan. Aku tak tahu apa itu.
"Ibuuukk!" pekik Jenar yang membuat aku dan Mas Damar yang sedang membersihkan bagian belakang rumah, seketika saling pandang dan berlari masuk ke dalam rumah.
Kami berdua lari dengan tergopoh-gopoh, serta nafas yang terengah-engah.
"Ada apa, Jenar?" seru ku yang berada di ambang pintu tengah.
Tampak anak itu meringkuk di atas sofa. Dengan lutut di Teluk dan wajah di tenggelamkan di kaki nya. Bahu nya berguncang, seperti dia tengah menangis.
"Jenar, Ada apa, Nak?" tanya ku panik. Aku segera berhambur ke arah nya.
"Jenar... Jenar ta-takut... " ujar nya dengan nada terbata bata.
"Takut apa, Nak?"
Ia tidak bisa menjawab. Aku berinisiatif untuk memeluk nya erat, memberi nya sejuta ketenangan untuk meminimalisir ketakutan nya.
"Jenar tidak usah takut, disini ada ibu." ujar ku lirih. Mas Damar hanya bisa menatap kami dari kejauhan.
"A-ada... Tikus, bu." ujar nya yang membuat mata ku membulat.
"Tikus? Kamu teriak tadi ada tikus?" tanya ku lagi yang langsung di jawab celengan kepala Mas Damar.
Sejenak aku berfikir, bahwa ia melihat penampakan atau apa. Ternyata hanya tikus.
"Tikus nya gede, bu. Ngga kayak di rumah!" Kekeh Jenar yang semakin terlihat gemas.
"Tikus di sini memang gede gede, Nak. Nanti Bapak racun, ya. Ngga usah takut. " jawab Mas Damar.
Setelah menenangkan Jenar, kami mulai melanjutkan beres beres rumah. Tapi entah mengapa, aku merasa seperti ada sesuatu yang kurang.
"Mas, Sekar Mana? " tanya ku saat kami akan kembali berjalan ke belakang.
"Eh iya, Sekar dimana?"
*****