
Chapter 22
Setiba nya di rumah, sikap Jenar masih saja dingin. Ia jadi sering murung, dan jarang sekali berbicara.
Mas Damar juga tampak nya tak sadar akan keadaan putri nya. Bukti nya saja, dia tidak mau bertanya atau sekedar mengajak putri nya bicara.
Aku yang penasaran, akhir nya memberanikan diri mendekat.
"Jenar, Ada apa? Kenapa wajah nya murung seperti itu?" tanya ku lembut
"Ngga apa, Bu. Jenar rindu nenek." jawab nya lirih.
"Jenar, ada masalah apa pun yang kamu hadapi, tolong beri tahu ibu. Jangan Jenar pendam sendiri. Nggak baik, Nak." ujar ku lirih.
Mencoba untuk membuat nya terbuka, se terbuka nya pada ku.
"Jenar takut, Bu. Sikap adik aneh sekarang. Dia sering melototin Jenar dan ngga mau lagi main sama Jenar. Apa lagi, Jenar juga sering di mimpikan oleh hantu yang waktu itu Jenar lihat." jawab nya dengan wajah tertunduk.
"Jenar yang sabar, ya. Nanti ibu bicarakan sama Bapak. Supaya jin itu segera pergi. Mungkin dia penunggu rumah ini, Nak. Karena sudah lama tidak di huni. Ngga apa, nanti juga pergi." ujar ku meyakin kan.
Jenar hanya mengangguk kecil, lalu tersenyum dan memeluk ku.
Hari sudah beranjak siang. Aku masih menunggu Mas Damar di teras rumah yang di penuhi dengan bunga hias. Mas Damar memang melarang aku untuk memasak. Selama rasa nyeri di perut ku sering kambuh.
Tak berselang lama, terdengar suara deru motor yang tak asing bagi ku.
Mas Damar pulang dengan menenteng bungkusan makanan. Ada rujak buah juga yang tampak sangat segar.
"Assalamu'alaikum, Dek. Sudah salat, sudah makan?" tanya nya setelah turun dari motor.
"Salat sudah, Mas. Tapi kalo makan belum, tunggu kamu." jawab ku.
Ia tersenyum, lalu duduk di sebelah ku.
"Ini, makan nasi dulu, baru makan rujak." ujar nya sembari menyodorkan bingkisan makanan.
"Makasih, Mas. Tapi Yanti mau bicara sesuatu, Mas." ucap ku setelah berpikir matang matang.
"Jadi, Nenek Sumi yang Mas bilang itu, kemarin datang kemari. Dia bilang, kalau Yanti bener hamil suruh datang ke sana segera. Apa lagi memang kondisi rumah ini lama di tinggal. Yanti rasa, kita harus datang ke sana." ucap ku lagi, mengutara kan isi hati.
"Iya, Nenek itu memang baik, Dek. Seperti nya kita memang harus datang ke sana." jawab Mas Damar.
Aku senang, dia mengerti apa yang aku maksud.
"Kalau begitu, nanti sore kita datang, ya. Kebetulan Mas izin ngga masuk lepas tengah hari ini. Soal nya Mas masih khawatir sama kamu." ujar Mas Damar.
"Iya, Mas. Siang ini Yanti mau tidur dulu. Habis minum obat bawaan nya mual pengen tidur aja." jawab ku sembari bangkit membawa bingkisan yang tadi di bawa oleh Mas Damar.
Anak-anak sudah tertidur. Jadi aku memilih untuk menyimpan makanan sebagian di lemari pendingin. Biar nanti ketika mereka bangun, tinggal memanasi.
Aku segera naik ke atas. Melihat anak anak dan berencana akan tidur bersama mereka.
Alhamdulillah, setelah aku berjanji akan mengusir jin itu dari rumah ini. Jenar sudah mau tidur memeluk adik nya dalam satu ranjang.
Dia pasti hanya takut karena melihat secara langsung jin yang memang sangat mengerikan itu.
Aku saja yang orang tua seperti ini masih gemetar, apa lagi dia yang anak-anak.
Ya Allah, aku punya Allah. Sebaik nya aku salat dulu sekarang, meminta perlindungan dan pertolongan-Nya atas makhluk yang mengganggu kami ini.
Aku benar-benar mencurahkan isi pikiran dan hati di salat kali ini. Air mata ku tumbang, aku takut kalau harus melalui masa sulit.
Apa pun itu, aku hanya bisa berserah diri pada yang kuasa. Menjalani takdir apa pun yang telah ia garis kan. Menjalani nya dengan bissmillah dan yakin semua akan baik baik saja.
Setelah selesai salat, aku memutuskan untuk berbaring di ranjang Sekar yang tidak di gunakan.
Sembari berbaring, sembari menatap mereka dengan damai. Semoga tidak akan terjadi hal yang mengerikan, yang akan membuat mereka terpisah kan. Meski sejujur nya ada rasa ke-khawatiran yang aku sendiri tidak tahu apa itu.
Tak terasa, aku mulai terlelap dengan sendiri nya.
"Yanti, Dek. Bangun."
Mata ku terpejap, kala merasakan guncangan lirih di pundak ku.
Perlahan mata ini mulai terbuka. Hal pertama yang aku lihat adalah Mas Damar.
"Kenapa, Mas?" tanya ku sembari mengucek mata.
"Jadi ke rumah nenek Sumi?" tanya nya pelan.
"Eh, iya jadi, Mas. Anak-anak sudah bangun?"
"Sudah. Mereka juga sudah mandi di bawah." jawab Mas Damar.
Aku segera bangkit dari ranjang, lalu berjalan keluar.
Ternyata benar, hari sudah sore. Aku menatap ke arah jam dinding di atas lemari, menunjukan pukul 15.35 entah berapa lama aku tertidur. Tidak sadar.
"Sekarang kamu mandi, kami tunggu di sini." ujar Mas Damar lalu menyusul anak-anak yang bermain bola di halaman depan.
Aku tersenyum melihat Jenar. Tampak nya dia sudah tidak takut lagi pada adik nya seperti kemarin. Bahkan sudah terlihat ceria sekarang.
Aku segera masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dan bersiap siap.
Setelah selesai, aku segera menghampiri Mas Damar dan anak-anak yang bermain di halaman.
"Ayo, Mas, Nak. Kita berangkat, ibu sudah siap! " teriak ku pada mereka dari teras rumah.
"Mau kemana, Bu?" tanya Jenar.
"Mau main ke rumah nenek di sana, Nak. Dia punya pohon mangga yang sedang berbuah lebat." sahut Mas Damar.
Berbeda dengan Jenar, ketika aku menatap wajah Sekar, ia tampak seperti tak suka.
Ia hanya sesekali tersenyum menatap kakak nya yang loncat-loncat tidak sabar.
Kami melalui perjalanan dengan sepeda motor kesayangan ini.
"Mas janji, nanti kalau sudah gajian bakal sewa mobil. Supaya kalau mau bepergian gini ngga nyusahin kamu, Dek." ujar Mas Damar saat motor kami baru saja melaju.
"Ya Allah, Mas. Ngga apa loh, naik motor juga aku udah seneng. Yang penting sekarang kita mempersiapkan untuk kelahiran anak kita. Jadi jangan mikir yang lain dulu. " jawab ku cepat.
Mas Damar hanya mengangguk, lu mengelus dengkul ku pelan.
"Auuuu... Auuuu.. Auuu!"
Sekar menunjuk-nunjuk ke arah belakang. Bahkan badan nya sibuk ingin melihat ke belakang. Ia seperti melihat sesuatu yang tertinggal di sana.
"Ada apa sih, Nak? Kamu lihat apa? " tanya Mas Damar yang melajukan motor pelan, sembari sesekali melirik ke belakang.
"Ada apa, Mas?" tanya ku.
"Ngga tahu, ini Sekar kenapa sih?" ujar Mas Damar kebingungan.
Sekar memukul mukul lengan Mas Damar. Seperti meminta agar kami putar balik.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya ku lirih.
Bukan nya menjawab, dia malah mencakar tangan ku yang memegangi pundak nya.
"Auuuuwww!" pekik ku yang langsung membuat Mas Damar menghentikan laju motor kami.
Motor kami berhenti, bahkan hampir terjatuh saat di belokan.
Darah segar mengucur dari pergelangan tangan ku yang di cakar oleh Sekar. Sedangkan anak itu bahkan sama sekali tidak ada rasa bersalah. Justru melotot menatap ku. Dia benar-benar tidak seperti Sekar yang ku kenal. Ya Allah, ada apa ini?
"Sekar, apa yang sudah kamu lakukan?!" teriak Mas Damar yang panik melihat luka di tangan ku.
Bukan nya menjawab atau menunjukan ketidaksengajaan, Sekar justru lari ke arah yang berlawanan.
"Eh, Nak. Tunggu!" seru ku panik.
Begitu juga dengan Mas Damar dan Jenar. Wajah mereka berubah tegang. Bingung harus bagaimana.
Mana lah cuaca di sekitar hutan jati makin gelap saja.
"Jenar, kamu kejar adik, Nak. Ibu takut dia kenapa-napa!" seru ku kepada Jenar yang bengong melihat tangan ibu nya terluka.
"Tapi, Bu... "
"Sudah, biar Bapak saja yang kejar. Mungkin dia marah karena Bapak bentak." sahut Mas Damar.
Ia segera berlari, menyusul Sekar yang tampak nya berlari pulang.
Sedangkan Jenar, anak ini sangat pintar. Di melepas bando yang ia kenakan. Bando kain itu dia lepas, lalu ia kebatkan di tangan ku.
"Terimakasih, Nak." ujar ku sembari mengelus pucuk kepala nya.
"Ibu, merasa tidak? Adik seperti bukan dia?" ujar Jenar dengan bibir bergetar.
"Sejak... malam saat jin itu datang. Jenar rasa ada yang lain dari adik, atau jangan jangan yang bersama kita itu bukan... "
"Jenar! Jangan berpikir hal buruk, Nak. Kita akan datangi nenek itu untuk mencari kebenaran. Siapa tahu dia juru kunci rumah itu, dan bisa membantu kita. Kamu tahukan, adik itu memang mudah terpengaruh sama hal gaib. Jadi, kita sabar ya, sayang. " ujar ku sembari memeluk Jenar erat. Memberikan sejuta ketenangan agar dia berpikir positif.
Tak berselang lama, Mas Damar kembali dengan nafas terengah-engah. Bahkan dia sampai berjongkok dan bertumpu pada lutut saking lelah nya.
"Bagaimana, Mas? Dimana Sekar?" tanya ku dengan segala kepanikan.
"Kayak nya Sekar pulang, Dek. Sekarang bagaimana, mau ke rumah nenek itu atau pulang saja? " tanya Mas Damar.
"Pulang saja, Mas. Aku khawatir sama Sekar. " jawab ku cepat.
Mas Damar mengangguk, lalu menarik nafas dalam sebelum akhir nya membantu ku untuk berdiri.
"Auuwww!" pekik ku sembari memegangi perut yang lagi lagi terasa linu dan sakit.
Wajah Mas Damar berubah panik, ketika melihat ku yang tak lagi bisa berjalan.
"Ya Allah, Dek. Lihat ini!"
Mas Damar menunjuk kaki betis ku, yang hanya memang mengenakan daster berwarna cream.
Ada setetes darah yang mengalir di sana. Membuat ku membekap mulut tak percaya.
"Astagfirullah, ibu!" teriak Jenar ketakutan.
"Tenang, sayang. Ibu ngga apa. Sekarang ayo kita pulang." ajak ku meyakinkan mereka.
"Kamu yakin? Apa kita tidak ke rumah nenek Sumi saja dulu. Siapa tahu dia bisa membantu, Dek." usul Mas Damar.
Tetapi aku tak setuju. Aku sudah sangat khawatir pada anak ku.
"Tidak, Mas. Kita pulang!" seru ku yakin.
Mas Damar menurut. Ia langsung membopong ku naik ke atas motor.
Tetapi langkah kami terhenti, kala melihat seseorang di sebelah motor kami.
"Ne-Nenek Sumi!"
*****