
Chapter 13
"Maksud Mas Damar? Desa pedalaman gitu? "
"Oh, ngga. Dia di pinggir jalan raya, hanya masuk sekitar lima puluh meter dari jalan raya. Jalan nya juga aspal, setapak gitu. Dan sekeliling nya sudah kota. Hanya berjarak dua ratus meter dari pemukiman. Ada pasar, Mall, dan lain-lain. " Jelas Mas Damar yang membuat hati ku lega.
"Kamu kan yang bilang, cari rumah yang jauh dari tetangga, Supaya Sekar nyaman. Lagi pula, yang memilih aku suka sama rumah itu, selain dekat dari cabang yang aku tempati sekarang, harga nya juga murah.
Yang lain bisa sampai ratusan juta dengan halaman dan tanah yang seluas itu. Sedangkan ini, hanya lima belas juta saja, sayang. Sisa penjualan mobil kan bisa buat kamu. " Ujar Mas Damar lagi.
Aku hanya mengangguk.
"Berarti sekarang kita tinggal datang kesana, Mas? Kapan? " tanya ku lagi.
"Malam nanti, Dek. Enak kalau malam, sampai sana menjelang siang. Kalau siang bisa tengah malam baru sampai. " jawab Mas Damar.
"Sekarang kamu beresin barang barang, nanti siang Dito mau bantu bawakan. Kebetulan dia langsung berangkat siang nanti, jadi sekalian biar di bawa. " ujar Mas Damar lagi.
Aku kembali mengangguk, lalu masuk ke kamar untuk memberi kabar pada anak anak.
"Sekar! Jenar! Yuk, sekarang siap siap. Bapak sudah pulang, tuh. Kita mau berangkat ke rumah baru malam ini. " ujar ku yang langsung mendapat seruan dari mereka.
"Serius, Bu. Bapak sudah pulang? " seru Jenar dengan raut wajah yang gembira.
Ia segera berlari ke depan, tanpa menunggu jawaban ku. Tetapi tidak dengan Sekar. Anak ini hanya diam saja sejak tadi.
"Sekar, Kamu kenapa, Nak? " tanya ku lembut.
"Bukan nya kemarin kamu tulis di buku kangen Bapak?" ujar ku lagi. Ia hanya mengangguk,
Lalu melemparkan senyuman yang membuat mata kecoklatan nya berbinar. Lesung pipi nya juga tercetak jelas.
Ia lalu berjalan keluar, entah mengapa aku merasa ia tak semangat akan pindah hari ini. Entah lah, apa yang di pikirkan anak itu.
Aku mulai bersiap siap. Membawa barang barang yang penting, dan beberapa pakaian yang masih layak pakai saja. Tidak banyak, Mas Damar mengatakan bahwa dia sudah membeli sebagian bekakas dari sana.
Mobil Dito sudah datang. Dia yang mengangkut barang barang yang sudah aku siap kan tadi.
"Sebagian barang barang biar di sini. Nanti kalau kita kangen Simbah, kita pulang ke sini. " ujar Mas Damar kepada anak-anak.
Selepas salat maghrib, kami sudah bersiap. Mengendarai motor bebek kami, sebab hanya ini satu satunya kendaraan yang kami punya.
"Kamu yakin, Mas? Mau naik motor malam malam. Kenapa nggak besok aja, ngga apa kalau pun sampai sana tengah malam. Dari pada kita tengah malam ada di jalan? " tanya ku meyakinkan Mas Damar.
"Yakin, Dek. Kata orang tua yang tinggal tak jauh dari rumah yang akan kita tempati, ngga elok kalau pindah ke rumah baru itu datang nya malam malam" Jelas Mas Damar.
"Lagian tadi seharian Mas sudah tidur, jadi aman!" timpal nya lagi.
Aku mengangguk, lalu mulai menaikkan anak anak ke atas motor. Tak lupa jaket tebal yang memiliki kupluk untuk keduanya. Suasana malam akan sangat dingin nanti nya.
Apa lagi daerah yang akan kami datangi, daerah dataran tinggi. Sekar Kekeh mau naik depan, anak itu memang suka suasana malam.
Jenar yang mudah sekali mengantuk, akhirnya duduk di tengah.
"Bagaimana nanti kalau Sekar ngantuk, Mas? " tanya ku kemudian. Sesaat sebelum motor melaju.
"Nanti biar Mas yang gendong depan. Kebetulan Mas bawa kain. Badan Sekar kan Kecil. Gampang! " jawab Mas Damar.
Aku mengangguk, lalu mulai naik ke atas motor. Jaket bulu tebal yang aku gunakan, masih tertembus oleh angin yang bertiup cukup kencang.
Motor mulai melesat meninggalkan kawasan rumah lama ini. Membelah jalan raya dan meninggalkan kota yang telah kami tinggali selama lima tahun terakhir.
Semoga, pindah nya kami ke rumah baru, akan membawa kebahagiaan yang baru.
Motor semakin melaju, bersamaan dengan waktu yang terus berputar. Setelah melewati hamparan rumah dan bangunan yang berjajar rapi, kini kami mulai melewati perkampungan yang masih banyak penduduk nya.
Perkiraan Mas Damar, tengah malam kami sudah akan tiba di kota sebelah. Jadi kami harus mempercepat perjalanan. Sebab, sebelum melewati kota sebelah, kami akan melewati daerah sawangan yang jarang penduduk nya. Jangan sampai tengah malam kami baru sampai sana.
Duaarrr!
Ciiittt!
Motor seketika berhenti melaju, kala ban motor bagian depan dan belakang pecah secara bersamaan. Terpaksa kami harus mengganti nya terlebih dahulu. Untung saja masih ada bengkel yang buka, meski jam sudah masuk pukul 22.00 malam.
*****