
Chapter 16
"Eh iya, Sekar dimana?"
Kami baru menyadari , anak itu tidak ada bersama Jenar tadi. Biasanya mereka berdua tak pernah berpisah.
"Jenar, kamu lihat adik?" tanya ku yang kembali menemui nya.
Anak yang baru akan merangkak remaja itu tengah sibuk menyapa buku nya di lemari TV.
"Ngga tahu, Bu. Jenar pikir malah ikut ibu." ujar nya yang membuat degub jantung ku tak beraturan.
"Kamu yang serius, Nak?" tanya ku meyakinkan nya.
"Serius, Bu. Jenar ngga tahu."
Aku langsung naik ke atas, mencari anak itu di kamar nya.
Sayang nya ia tak ada. Kamar yang baru di beres kan itu masih tampak bersih dan rapi.
Aku segera berlari ke kamar ku, mungkin saja dia ada di sana. Sebab, semua peralatan gambar dan belajar nya ada di sana.
Masih nihil. Ia tak ada di sana. Pikiran ku kalut, ketakutan mulai merajai pikiran ini.
"Ada, Dek?" tanya Mas Damar yang berlari mengikuti dari belakang.
Aku menggeleng, lalu tertunduk ke lantai dengan air mata yang mulai tumpah.
"Dimana Sekar, Mas? Anak itu tidak bisa berteriak atau minta tolong. Bagaimana nanti jika terjadi sesuatu pada nya?" Seru ku panik.
"Tenang, Yanti. Tenang." Mas Damar mencoba menenangkan dengan memeluk tubuh ku. Jenar juga ikut mendekat.
Mas Damar mengajak ku mencari Sekar keluar rumah. Sebab anak itu memang suka sekali suasana lembab. Di luar begitu lembab, karena sinar matahari tidak seberapa menembus wilayah ini.
Aku menurut. Lalu kami bertiga berjalan ke luar.
Mengelilingi rumah ini untuk mencari Sekar. Mulai jalan setapak yang memanjang hingga jalan raya. Sampai area belakang rumah yang di tumbuh beberapa rumpun bambu kuning.
Aku yang terus berlari mencari Sekar, seketika terhenti. Kala melihat kain yang tampak nya seperti baju, dari balik salah satu rumpun bambu itu.
Aku yang penasaran, seketika mendekat. Semakin lama, itu semakin terlihat jelas. Baju itu adalah baju...
"Sekar!" teriak ku yang langsung berhambur memeluk nya.
Anak indigo ini tengah tertawa seorang diri, dengan memegangi sebuah boneka yang aku tak tahu boneka siapa itu. Boneka dengan rambut ikal panjang, serta bibir tebal berwarna merah.
Sekilas boneka itu tampak menyeramkan.
"Apa yang kamu lakukan disini, Nak?" tanya ku panik.
Ia sama sekali tak menjawab. Bahkan raut wajah nya yang tadi begitu senang, kini berubah datar.
Tak ingin ambil pusing, aku segera mengajak nya pulang. Sebelum itu, aku meletakkan boneka aneh itu di sana. Aku tak ingin Sekar membawa nya pulang.
"Ketemu dimana, Dek?" tanya nya.
"Di balik bambu, Mas." jawab ku lirih.
Aku segera membawa putri ku masuk ke dalam rumah. Sebab pikiran ku sangat takut pada boneka yang di pegang Sekar tadi.
Setelah sampai di dalam, aku segera menidurkan Sekar. Ini sudah lewat tengah hari, dan dia belum tidur siang.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhir nya ia tertidur juga.
Kini gantian Jenar yang harus aku tidur kan. Aku tak ingin dia juga berpikir macam-macam tentang kejadian tadi. Yang ada nanti dia semakin tidak nyaman di sini.
"Jenar, Sayang!" panggil ku.
Di satu kamar ini, ada dua ranjang yang bersebrangan. Pas jika untuk Jenar dan Sekar.
"Tidur, ya, Sayang. Nanti malam kita makan bersama, sekalian membagikan makanan ke tetangga yang lain." ujar ku sedikit ingin membuat nya tenang.
"Bu, Jenar mau pulang!" jawab nya.
Alis ku bertaut mendengar penuturan nya.
"Pulang? Pulang kemana? Ini rumah kita, Nak. "
"Pulang ke rumah lama. Di sini ngga enak. Sepi, ngga punya teman." ujar nya lirih.
"Loh, bukan nya kemarin Jenar yang bilang. Kalau kita harus tinggal jauh dari tetangga, supaya adik nyaman. Sekarang kan adik sudah nyaman." jawab ku.
"Adik nyaman karena memiliki banyak teman, bu. Teman tak kasat mata!"
Deg!
Aku membalikkan tubuh Jenar yang memunggungi ku.
"Maksud kamu apa, Sayang?"
"Bu, Jenar takut. Jenar takut teman Sekar nanti akan membawa Sekar ke alam mereka. Jenar takut kalau nanti terjadi sesuatu terhadap adik, bu!" ujar nya dengan air mata berlinang.
"Lah, bukan nya Jenar sudah tahu dari lama. Kalau adik memang bisa melihat sosok yang tidak bisa kita lihat. Kenapa sekarang Jenar berkata seperti itu?"
"Entah , Bu. Jenar merasa, Jenar akan kehilangan adik. Jenar merasa, akan ada sesuatu hal terjadi nanti nya kepada adik. Jenar takut, Bu!" ucap nya lagi dengan air mata berlinang.
"Jenar jangan berpikir seperti itu, Nak. Sebentar lagi kalian berdua akan sekolah, di sekolah yang baru. Kali ini tidak akan pindah pindah seperti kemarin.
Jadi Jenar jangan berpikir hal hal yang seperti itu, ya. Ibu janji, ibu akan melindungi kalian berdua dari apapun yang akan terjadi." jawab ku mencoba meyakin kan dia.
Jujur, aku merasa tak tenang setelah mendengar penuturan Jenar. Tidak biasa nya anak ini berpikir seburuk ini. Ya Allah, semoga apa pun itu semua akan baik baik saja.
*****