
Chapter 14
"Lah, ban nya malah bocor, Dek!" seru Mas Damar.
"Iya sudah , Mas. Berhenti dulu. Itu di depan ada bengkel. " jawab ku.
Jenar yang tadi sudah tertidur, terpaksa bangun dengan mata yang masih lengket. Anak-anak aku ajak untuk berjalan, karena memang letak bengkel hanya sekitar 20 meter saja.
Sedangkan , Mas Damar. Ia mendorong motor dengan masih menghidupkan nya.
Setelah sampai di bengkel, Mas Damar segera mengutarakan niat nya untuk menambal ban. Si pemilik bengkel mengangguk, lalu mulai mengerjakan tugas nya dengan sesekali bertanya.
"Bapak ini sekeluarga mau kemana?" tanya nya ramah.
"Mau ke *** , Mas. Pindahan!" jawab Mas Damar singkat.
"Oalah, jauh ya. Sebaik nya istirahat saja dulu, Mas. Takut nya tengah malam sampai sawangan!" tawar tukang bengkel itu.
"Ndak usah, Mas. Saya nanti agak ngebutan aja. Supaya sampai kota lebih cepat. Nanti kami istirahat di sana saja." tolak Mas Damar.
"Yakin? Masih 20 kilo, loh Mas. Baru sampai kota. Apa bisa di tembus dengan waktu 2 jam. Sedangkan, medan jalanan yang rusak parah? " Tukang bengkel itu mencoba untuk meyakinkan Mas Damar.
Sebenarnya aku juga cemas, tapi Mas Damar sangat percaya dengan ucapan wanita tua yang menjadi tetangga nya di sana.
Setelah menunggu hampir satu jam, akhirnya ban selesai di kerjakan. Karena kebocoran parah di depan dan belakang, akhirnya di ganti oleh ban yang baru. Hanya saja alat yang di gunakan masih sangat sederhana.
"Bagaimana, Mas? Apa yakin mau lanjut? " tanya ku mencoba untuk meyakinkan.
"Yakin, Dek. Masih keburu ini!" ujar Mas Damar kembali memakai helm nya.
Aku hanya menurut. Tidak bisa lagi membantah keyakinan Mas Damar.
"Bu, Jenar ngantuk" ujar Jenar sembari bergelayut di lengan ku.
"Sabar ya, sayang. Nanti bobok lagi di motor. " ujar ku menenangkan nya.
Motor kembali melaju. Entah mengapa aku sama sekali tak melihat ekspresi ceria di wajah Sekar. Biasanya anak itu akan tertawa dan tersenyum sepanjang waktu. Entah mengapa sekarang dia banyak diam.
Setelah melewati rumah yang letak nya sudah mulai jarang jarang, kami akhir nya benar-benar tiba di sawangan yang memanjang sepanjang jalan.
Sawangan adalah wilayah kosong yang tidak di tumbuhi pohon atau berdiri bangunan sama sekali. Biasa nya hanya akan ilalang atau semak belukar yang memanjang.
Angin yang bertiup berlawanan dengan arus motor membuat bergidik bulu kuduk. Aku merapat kan tubuh kepada Mas Damar. Menghimpit Jenar agar mengurangi sedikit rasa dingin.
Hawa nya sungguh tidak biasa. Aku merasa ada banyak pasang mata yang sedang mengawasi kami. Apalagi langit yang gelap tanpa ada nya bulan dab bintang. Aku takut, sangat takut.
Tapi berkali-kali aku mencoba menarik nafas, menenangkan hati agar tidak berpikir yang bukan bukan.
Sekar mulai menunjukkan gelagat yang aneh, kalau kami mulai memasuki sawangan yang di tumbuhi oleh ilalang sepanjang perjalanan ia mulai menunjuk nunjuk ke arah sebrang jalan.
Tepat sekali dari wajah nya ia begitu ketakutan. Aku menyenggol bahu Mas Damar agar, ia sadar oleh gelagat anak nya yang berubah.
"Mas, lihat anak mu itu loh. Dia kenapa? " ujar ku panik.
Mas Damar segera menunduk lalu menatap ke arah Sekar.
"Kamu kenapa, Nak? " tanya nya santai.
"Auuuu... Auuuuu!" teriak Sekar yang semakin menjadi.
Tangan nya yang berpegangan pada kepala setir bahkan ia hentak hentakan.
"Mas, anak mu ini kenapa sih, Mas? " seru ku yang semakin merasa ada yang tidak beres di sini.
"Sudah, diam, Dek. Baca basmallah dan ayat kursi sepanjang jalan. Kita akan baik baik saja!" sergah Mas Damar.
Aku menurut. Mulut ku sibuk melafazkan ayat kursi dan surah surah pendek. Tapi sayang nya pikiran ku tidak bisa fokus.
Apalagi aroma kembang kenanga menyeruak tajam di sekitar perjalanan. Meski laju motor yang semakin kencang, aroma bunga motor itu seolah mengikuti laju motor kami.
Lampu motor kami tiba-tiba padam, hal itu semakin membuat lu tak tenang. Beberapa saat hidup, namun kembali padam dan itu terus berulang hingga beberapa kali.
Aku rasa Mas Damar juga sudah merasa tak enak. Terlihat dari tangan nya juga yang tampak gemetaran.
Setelah lampu mati, kini suara motor yang tersendat-sendat seperti akan mati. Mas Damar semakin menarik gas hingga pol, tapi laju motor seperti biasa saja.
Aku semakin mengeratkan pegangan pada Mas Damar. Tampak nya dia juga paham.
Hal yang paling aku takutkan benar-benar terjadi. Motor kami berhenti, dengan kondisi jalan yang sangat gelap. Aku segera meraba tas dan mencari ponsel, sembari memegangi tangan Jenar dengan kuat nya.
"Aaaa... Auuu!" Sekar sibuk mengatakan sesuatu karena aku yang tak dapat melihat gerakan tangan nya, aku tak tahu apa yang sedang ia katakan.
Ia menarik narik baju ku, dengan sesekali berucap yang aku sendiri tak tahu apa artinya.
"Ada apa sih, Nak! Kamu ngomong apa!?" sentak ku yang merasa panik dan kesal melihat tingkah nya.
Seketika itu juga Sekar diam tak berulah.
"Sabar Yanti, jangan bentak anak seperti itu. " sahut Mas Damar.
Padahal kami sudah isi full tank sebelum berangkat. Tak mungkin jika itu kehabisan bahan bakar.
"Bagaimana, Mas?" tanya ku sembari menghidupkan senter.
"Kamu tenang. Coba tarik nafas dan tenang kan pikiran, Yanti. Seperti nya kita sedang mendapat gangguan" ujar Mas Damar Lirih.
Aku menurut. Lalu mencoba menarik nafas, dan membuang nya perlahan. Aku memfokuskan fikiran bahwa kami hanya akan lewat saja.
"permisi Mbah, Mbak, Adik, atau siapapun yang ada disini. Kami hanya ingin numpang lewat, tanpa mau mengganggu siapapun. " ujar Mas Damar sembari tertunduk.
Aku mengikuti dia, tetapi hanya berucap di dalam hati.
Mas Damar kembali mencoba menghidupkan mesin motor. Syukur lah kali ini dia mau hidup.
Kami mengucap kan salam dan terima kasih sebelum akhir nya kembali melanjutkan perjalanan. Hati ku sudah mulai lega. Setidaknya kami akan segera tiba di kota.
Sayang nya ujian kami kali ini adalah mata. Mata ini seperti terasa ada yang meniup. Rasa nya ingin sekali terpejam. Mungkin karena ini sudah tengah malam, memang waktu nya orang untuk beristirahat.
"Yanti, jangan tidur!" ucap Mas Damar yang tampak nya sadar aku mengantuk.
"Heheh.. Iya, Mas. Maaf, mata ku berat banget"
Aku mencoba sekuat mungkin untuk tetap terjaga, tetapi rasa nya kantuk ini sudah sangat berat.
Mas Damar menghentikan laju motor seketika. Aku yang tadi sangat mengantuk, Tiba-tiba langsung sangat fresh.
"Bagaimana, apa mau tidur di sini?" tanya nya yang langsung dapat tepukan ku.
"Hish... Ngaco kamu , Mas. Cepet jalan." seru ku yang hanya di balas dengan tawa nya.
Motor kembali melaju, hingga tak sadar kini kami sudah mulai mendapati satu persatu rumah yang semakin lama semakin rapat.
Hati ku sangat tenang. Mas Damar juga mengatakan bahwa kami akan beristirahat beberapa saat di salah satu rumah makan.
Setidaknya aku bisa sebentar memejamkan mata, sebelum nanti akan setengah hari lagi di perjalanan.
Tujuan kami kali ini adalah sebuah rumah makan rumahan. Ada soto, nasi dan berbagai lauk, dan ada nasi pecel.
Warung ini buka 24 jam. Dan ini menjadi satu-satunya warung yang buka malam ini.
Motor kami tepikan, lalu Mas Damar menggendong Sekar yang tampak nya juga mengantuk.
Kali ini anak ini tidak membuat ulah, hal itu yang membuat kami yakin bahwa rumah makan ini aman untuk kami singgahi.
Setelah memesan makanan, Mas Damar juga meminta izin untuk numpang singgah sampai dini hari. Sebab perjalanan kami memang tak kan lama lagi. Tetapi tenaga kami sudah terkuras sejak kejadian di sawangan tadi.
"Kamu lihat sesuatu nggak, Dek. Pas melewati sawangan tadi?" tanya Mas Damar setelah kami selesai menyantap soto pesanan kami.
"Ngga, memang melihat apa, Mas?" tanya ku sembari mengemil kerupuk kulit.
"Mas lihat. Yang pertama ada Mbak Kunti. Yang kedua Mas yang berbulu yang menahan laju motor kita." jelas Mas Damar yang membuat ku susah payah menelan saliva.
"Serius, Mas?" tanya ku memastikan.
"Iyalah, Serius! Maka nya Mas minta kamu untuk fokus dan berdoa." jawab nya lagi.
Aku hanya terdiam. Benar memang firasat ku tadi. Merasa ada yang tak beres di sawangan tadi.
"Kamu kan yang ngeyel, berangkat malam malam" celetuk ku.
"Iya sudah lah, setidaknya sehabis ini tidak ada halangan lagi. Sepanjang perjalanan sampai ke daerah rumah yang akan kita tinggali, hanya ada rumah dan perkampungan." ujar Mas Damar yang membuat ku mengangguk.
Sekitar dua jam kami berhenti dan tidur di rumah makan ini. Mas Damar mengajak kami melanjutkan perjalanan. Sebab sudah tak lama lagi akan segera tiba.
Aku hanya mengangguk, lalu membangunkan anak anak dan mengajak mereka melanjutkan perjalanan.
Kali ini Sekar yang di belakang. Kasihan dia. Lagi pula Jenar juga sudah terjaga. Dia kehilangan kantuk nya yang tadi sempat tertunda.
Motor terus melaju dengan kecepatan yang kadang tinggi dan kadang sedang. Tergantung jalan yang kami temui.
Hawa dingin semakin menerpa, kala kami melewati daerah perbukitan perbatasan kota ini dengan kota yang akan kami tinggali.
Sepanjang jalan yang penuh dengan kelokan dan tebingan, aku hanya bisa menikmati setiap pemandangan indah yang tercipta di sekitar sini.
Perumahan yang kami lewati, tidak banyak. Sesekali kami akan menemui hutan yang tidak banyak di setiap celah pemukiman.
Daerah nya masih sangat asri.
Hari sudah mulai pagi, kala kami tiba di pusat kota ini. Ramai nyan penduduk di sini dengan segala kemegahan bangunan nya.
Membuat mata ku terpana.
"Dari sini sudah tidak jauh, Dek. Tinggal dua jam lagi sampai" ujar Mas Damar yang membuat senyum ku mengembang.
Semangat di dalam hati ku semakin tumbuh subur.
*****