
Chapter 8
"Ada apa, Sekar? " tanya ku penasaran.
Sekar menatap ke arah ku, lalu kembali menatap ke arah Jenar.
Ia bergeming, sebelum akhir nya berlari ke arah ku.
"Ada apa, Nak? " tanya ku bingung.
Sekar memeluk ku erat, tanpa menjawab perkataan ku. Tangan nya bahkan memegangi baju ku dengan kuat, dan wajah nya ia tenggelam kan di dada ku.
"Kamu kenapa, kok kayak nya sedih sekali? " tanya ku lagi. Mencoba untuk melonggar kan pelukan.
Ceklek!
Pintu terbuka, menampakkan nenek bungkuk itu dengan wajah yang serius.
"Sudah waktu nya dia pergi! " ujar nya lirih.
Sekar menggeleng. Tampak sekali dia bersedih mendengar perkataan nenek itu.
Nenek bungkuk itu berjalan mendekati tubuh Jenar. Lalu menghapus bubuk kapur yang melingkar pada nya.
Tubuh Jenar menegang. Dengan mata yang melotot tajam. Lalu tak lama, ia terkulai dan mata nya kembali tertutup.
"Bagaimana, Nek? " tanya ku penasaran.
"Dia sudah keluar! " jawab nya sambil menatap ke arah jendela samping tempat tidur.
Tampak sosok asap putih membentuk manusia. Jelas sekali kalau itu adalah anak anak.
Aku menyipit kan mata, bagian yang membentuk tangan itu tampak melambai. Seperti mengatakan perpisahan.
"Kinara! " seru nenek Kinara yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan berlari.
"Selamat tinggal, Nduk. Simbah sekarang hanya sendirian di dunia ini! " ujar nya dengan air mata yang tumpah ruah.
"Kinara bisa melihat cahaya di ujung sana, Mbah. Keliatan nya di sana banyak orang, Kinara akan pulang, Mbah. Mbah baik baik di sini, ya. Kinara sayang Simbah! Kinara akan mendoakan Simbah bahagia selalu.
Aku terpaku, kala mendengar suara yang tadi berada di tubuh Jenar, kini keluar dari mulut Sekar yang selama ini terlahir bisu.
Aku sama sekali tak dapat mencerna hal yang baru saja terjadi ini.
Tak berselang lama, kepulan asap itu perlahan memudar. Terbang menjauh ke atas awan yang gelap.
Setelah itu, Sekar juga menyusul kakak nya pingsan.
_________
Pagi hari sudah tiba, setelah bermalam dan membantu do'a untuk arwah Kinara, kami memutuskan untuk pulang.
Rasa nya lega sekali bisa keluar dari masalah ini. Hanya tinggal kembali ke rumah dan menyelesaikan masalah sekolah Sekar.
"Saya sangat berterima kasih, Nak. Kalian sudah mau membantu kami. Dan saya juga sangat meminta maaf, karena sudah menyusahkan kalian! " ujar ibu tua ini sebelum kami pulang.
Kasihan sebenarnya dia. Di saat usia nya yang sudah setengah abad, harus hidup seorang diri tanpa ada yang menemani.
Anak tunggal nya sudah meninggal, Cucu nya juga. Sedangkan menantu nya memilih pergi setelah Kinara meninggal.
Mobil mulai kami lajukan dengan kecepatan sedang, meninggal kan kompleks ini dengan hati yang tenang.
Jenar masih seperti orang yang kekurangan gizi. Diam membisu dengan wajah yang sembab. Sesekali dia akan bertanya, kami dimana dan sedang apa. Sebab, dia sama sekali tak mengingat kejadian kemarin.
Ciiittt!
Suara decitan rem yang di pijak oleh Mas Damar secara mendadak, menimbulkan bunyi yang memekak telinga.
Tampak di depan ada Nenek bungkuk yang berdiri dengan tangan sebelah nya yang memegangi tongkat. Ia berdiri tepat di tengah jalan yang akan kami lewati.
Mas Damar segera turun, lalu mendekat ke arah nya. Aku pun ikut turun serta.
"Pindah lah ke tempat yang jauh dari keramaian, untuk menghindari anak kalian mendapat sesuatu yang kalian takut kan. Yang lebih penting nya, jauh dari keramaian membuat kalian akan merasa sedikit tenang! " ujar nya yang langsung melenggang pergi sebelum kami sempat bertanya.
Dari mana dia tahu masalah yang tengah menimpa kami? Siapa kah Nenek itu?
*****