
Chapter 20
Mas Damar tengah berbicara dengan seorang dokter, rencana nya sore ini aku sudah boleh pulang. Mengingat kondisi ku yang memang sudah membaik. Hanya butuh istirahat yang cukup saja.
"Bagaimana, Mas? Apa kata dokter? " tanya ku setelah dia kembali.
"Ada perubahan rencana, Dek. Kamu baru boleh pulang besok pagi. Soal nya takutnya nanti ada pendarahan, karena tadi setelah di cek, kandungan kamu agak bermasalah. "
Deg!
Penjelasan Mas Damar membuat ku takut.
"Maksud, Mas? Kandungan aku lemah? " tanya ku ketakutan.
"Ngga, cuma tadi pas di USG kayak nya ada sesuatu masalah. Mas juga ngga tahu, hanya dokter yang paham. " Jawab Mas Damar.
Aku hanya menjawab dengan anggukan.
"Lalu bagaimana anak anak? "
"Mereka juga akan bermalam di sini. Mau bagaimana lagi? " jawab mas Damar.
Tak terasa malam telah tiba. Setelah makan malam, Anak-anak sudah terlelap. Mas Damar juga tertidur di lantai beralaskan karpet tipis.
Sedangkan aku, mata ini seolah tak ingin terpejam. Padahal keadaan rumah sakit sudah sangat sepi. Banyak perawat dan dokter sudah pulang. Hanya mereka yang bertugas malam saja yang masih ada.
Bahkan pasien pasien lain yang keluarga nya menunggu di sini juga sudah terlelap. Mungkin.
Kresek!... Kresek!
Suara seperti TV yang kehilangan sinyal itu terdengar begitu jelas. Apa mungkin di rumah sakit ini ada televisi? Kalaupun ada, mengapa suara nya sampai sini?
Aku tak ingin ambil pusing. Suara apa pun, yang terpenting tidak mengganggu ku.
Wussshh
Sekelebat bayangan seseorang lewat dari depan sana. Terlihat dari jendela yang terbuka sedikit gorden nya.
Siapa kah itu? Apa mungkin suster? Kalau pun iya, cepat sekali lalu nya. Seperti berlari.
Aku tak ingin penasaran, apa lagi mencoba mencari tahu. Aku tetap berbaring di ranjang. Mencoba untuk memejamkan mata.
"Allahuakbar! " aku terkejut, kala tiba-tiba ranjang ini bergoyang. Seperti di dorong oleh seseorang. Hal itu yang akhir nya kembali membuat ku membuka mata.
Jantung yang berdegup kencang, karena keterkejutan membuat ia sulit berpikir.
Aku melirik ke arah samping, tak ada siapa pun dan apa pun di sana. Apa mungkin ranjang se kokoh ini bisa bergoyang begitu kuat nya?
Nafas ku masih tersegal, memikirkan yang baru saja aku alami.
"Apa tadi aku mimpi, ya?" gumam ku pada diri sendiri.
Aku kembali memejamkan mata, tetapi bersamaan dengan itu ekor mata ku menangkap sosok yang kembali berjalan di jendela.
Kali ini tidak secepat tadi. Bahkan sangat santai.
Tetapi , yang membuat aku bergidik, yang tampak itu bagian paha nya.
Sosok yang aku yakin bukan manusia. Paha nya hanya sebesar lengan ku. Kecil seperti tengkorak. Kulit nya bergelambir dan mengeluarkan lendir berwarna kecoklatan.
"Gggrrrhhh!"
Aku hanya bisa mengerang, sembari menunjuk ke arah jendela. Sosok itu berdiri tepat di depan jendela sana.
Kaki nya bergerak, seperti dia ingin mencoba menunduk.
Benar saja, beberapa detik kemudian rambut gimbal panjang tergerak dari atas ke bawah.
Semakin lama, semakin terlihat wajah sosok itu.
Mata sebesar telor ayam, bahkan lebih besar. Gigi yang runcing keluar dari bibir nya, dan saling bertabrakan satu dengan yang lain nya. Tidak rapi.
Kulit wajah nya mengelupas, dengan menampakkan tulang di pipi nya. Lebih seram nya lagi, tangan nya yang hanya tinggal tulang dan kuku yang sangat tajam itu menunjuk ke arah ku.
"Ggrrhhh!"
Lagi lagi aku hanya bisa mengerang, tubuh ku yang tegang dan mulut ku yang kelu tak bisa berucap.
Tangan ku yang sebelah lagi menggenggam erat pinggiran ranjang, hingga menimbulkan deritan saking kuat nya.
"Awwww... Awwww Sa-Sakit!"
Aku memegangi perut yang terasa nyeri, saking takut nga dan sangat gemetar. Sedangkan tangan ku yang sebelah lagi menggenggam erat pinggiran ranjang, hingga menimbulkan deritan saking kuat nya.
"Astagfirullah Halazim, Yanti! Kamu kenapa, Dek?! "
Untung nya Mas Damar terbangun. Ia langsung berlari dan melepaskan genggaman di tangan ku. Ia segera menggenggam erat, dan melihat ke arah perut ku.
"Ya Allah, Sayang. Kenapa? Sakit?" tanya Mas Damar panik. Ia ikut memegangi perut ku juga.
Tak lama, pandangan nya tertuju pada area bawah ku.
"Astagfirullah, Dek! Darah!" Pekik Mas Damar yang semakin membuat ku terkejut.
"Da-darah?" ulang ku.
Mas Damar segera membuka pintu, lalu berlari entah kemana.
"Dokter! Tolong, dokter!" terdengar suara Mas Damar yang berteriak di luar.
Tak lama, hening. Tak ada lagi suara nya.
Kemana Mas Damar, kenapa malah tak ada suara nya. Padahal perut ku sangat sakit, bahkan aku tak dapat bergerak.
Ceklek!
Pintu di buka, menampakkan sosok perempuan mengenakan pakaian serba putih. Khas seorang dokter.
"Dok... Tolong, dok! Sakit!" ujar ku lirih.
Ia hanya mengangguk, lalu berjalan ke arah ku.
Aneh. Wajah nya tanpa ekspresi, bibir nya pucat. Bahkan ia sama sekali tak membawa perlengkapan seperti dokter.
*****