
Chapter 24
"Yang saya maksud adalah anak yang ada di dalam kandungan mu. Memang nya kamu pikir siapa?" tanya nya balik.
"Astagfirullah!" sejenak aku berpikir tenang karena aku pikir yang di maksud Nenek Sumi tadi adalah Sekar anak ku.
Lalu sekarang kemana dia? Bagaimana keadaan nya? Anak itu baru berumur enam tahun, mau pergi kemana dia. Kalau pun pulang, apa dia akan menunggu ku di depan rumah. Sebab memang kunci aku bawa.
Setelah berdiskusi, akhir nya kami memutus kan untuk pulang. Nenek Sumi juga akan ikut serta. Dia lah yang nanti akan mengusir jin itu dari rumah kami.
"Kalian pulang duluan saja, cari anak kalian. Nanti malam saya akan datang." seru Nenek Sumi saat kami tengah berdiskusi.
Kami menurut. Apa lagi rasa di perut ku sudah sama sekali tidak sakit. Bahkan aku sudah bisa jalan sendiri. Tidak perlu papahan seperti tadi.
Jenar sendari tadi hanya terdiam. Mungkin dia terpikir kan dengan kepada adik nya.
Motor mulai melaju, meninggalkan kawasan rumah Nenek Sumi yang memiliki halaman yang cukup luas.
Hari sudah sangat sore, bahkan langit juga sudah gelap. Bukan karena menjelang petang, tapi karena mendung yang tiba-tiba berkeliling.
"Mau hujan kayak nya, Mas. Apa tidak kasihan Nenek Sumi kalau tidak di jemput?" tanya ku pada Mas Damar.
Jarak rumah nya ke rumah kami lumayan jauh. Aku tidak yakin jika Nenek setua dia bisa berjalan seorang diri di gelap nya malam. Apa lagi jika nanti hujan.
Tetapi aku ingat dengan ucapan nya tadi.
"Selama Gusti Allah masih ada di dalam hati kita, jangan takut. Jin dan sederet nya itu akan kalah jika di lawan oleh keberanian kita." ujar Nenek Sumi kala kami tengah berbincang tadi.
Benar apa yang dia katakan. Mengapa manusia harus takut pada makhluk yang sama-sama di ciptakan oleh-Nya. Apa lagi posisi kita berada di atas dia. Seharus nga kita tidak boleh takut, bukan?
Ketika hati ku baru saja selesai memikirkan apa yang di katakan oleh Nenek Sumi tadi, ekor mata menangkap sosok anak kecil yang seperti nya aku kenali.
Anak kecil yang berdiri di antara makam lama. Berdiri tepat di gundukan-gundukan makam yang sudah berlumut dan terlihat usang itu.
Anak kecil itu menangis sesegukan, sebelum akhir nya ada sesuatu yang membuat dia terdorong ke belakang. Seperti terhempas oleh angin.
Jika saja dia bisa berteriak, pasti dia sudah berteriak. Sebab tangan nya terangkat ke udara seperti meminta tolong.
"Mas... Ada Sekar, Mas! Sekar!" pekik ku sembari menepuk pundak Mas Damar.
Mas Damar segera menghentikan laju motor kami, lalu melihat ke arah makam.
"Mana Sekar?" tanya nya sembari mengedar kan pandangan ke sekeliling.
"Ngga ada, Dek. Ngga ada siapa-siapa!" sergah Mas Damar.
Iya, memang sekarang dia sudah tidak ada. Tapi tadi benar tidak salah lihat.
"Ya sudah, kita segera pulang, ya. Kita lihat apakah Sekar ada di rumah atau tidak. Kalau tidak nanti kita balik lagi ke sini. Ini makam, Dek. Ngga baik buat kamu." jawab Mas Damar yang paham akan perasaan ku.
Aku hanya bisa mengangguk lemah. Tak bisa berkata apa-apa lagi.
Motor kembali melaju. Kini Mas Damar mengendarai motor dengan kecepatan lumayan tinggi. Mengingat angin dan petir yang mulai menggelegar.
Setelah tiba di rumah, aku segera berlari masuk ke dalam rumah.
Tapi pintu utama masih dalam keadaan terkunci, bagaimana mungkin Sekar bisa masuk?
Aku membuang nafas kasar ketika berada di depan pintu.
"Sekar, ngga ada di dalam, Mas. Pintu nya saja masih terkunci." ujar ku mulai tak tenang.
"Kamu tenang dulu, sayang. Anak itu sangat lihai. Kamu ingat waktu kita tinggal kondangan dan pintu terkunci hari itu, dia masuk lewat mana?" jawab Mas Damar mencoba membawa ku ke nostalgia.
Dulu saat kami pergi ke hajatan tetangga, Sekar dan Jenar memang masuk ke dalam rumah tidak lewat pintu. Melain kan dari jendela yang mereka bobol dari luar. Kelebihan akal yang di berikan oleh Tuhan kepada putri ku.
Aku langsung membuka pintu, penasaran apakah anak ku ada di dalam.
Setelah melihat ke dapur dan melihat ke beberapa jendela lantai atas yang sama sekali tak terbuka, membuat nafas ku mulai tak tenang.
Aku segera berlari ke lantai atas. Terlanjur basah rasa kekhawatiran ku ini. Kalau memang dia ada di rumah, setidak nya pikiran ku akan tenang.
Setiba nya di lantai dua, aku masih sama sekali tak mendapati ada nga tanda-tanda kehadiran seseorang di sini. Pikiran ku semakin kacau, bagaimana jika yang aku lihat di makam tadi benar putri ku? Ya Allah.
Aku kembali berlari ke bawah, ingin memberi tahu Mas Damar bahwa Sekar tak ada di sini.
Langkah ku terhenti kala melihat Jenar berdiri di tangga. Dengan tatapan ketakutan dan mata yang tak berkedip menatap ku.
"Jenar." panggil ku.
"Ibu." jawab nya, tangan mungil nya bergerak menunjuk ke arah ku.
*****