
Chapter 6
"Jadi, apa yang aku katakan pada mu hari itu belum kamu laksanakan, Tah, Mar?" Ujar nenek tua itu membuka suara. Membuat aku dan Mas Damar menatap nya.
"Amit, Yu. Aku belum bisa!" Ujar ibu itu pelan.
Aku dan Mas Damar yang masih tak paham, hanya bisa saling tatap.
"Maksud Nenek apa?" tanya Mas Damar.
"Dulu... Sewaktu Kinara meninggal, Anis merasa sangat bersalah telah memaksa nya untuk berhenti meminum Asi. Hal itu yang membuat dia nekad, menyusui anak nya meski sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Air asi yang bercampur dengan darah itu, awal dari semua malapetaka ini. Anis bersumpah, akan menyusui anak nya sampai kapan pun.
Meski ASI-nya tak keluar lagi, maka ia akan memberikan darah nya pada anak nya. Dan semua itu terwujud!" Jelas Nenek tua itu.
"Anis meninggal, setelah dua bulan anak nya meninggal. Sebab, dia mengaku Kinara selalu mendatangi nya setiap malam, meminta jatah Asi yang ia janjikan.
Tapi nyata nya, baru satu bukan saja ASI-nya sudah mengering. Hal itu yang membuat Kinara meminum Darah dari tubuh nya.
Saya sudah bilang untuk mencabut sumpah nya, dan mengirimkan doa untuk Kinara, sebab selama Kinara meninggal, Anis menolak untuk mengirimkan doa pada putrinya.
Ia mengatakan, bahwa jika Kinara di yakinkan, maka arwah nya tak akan bisa pulang untuk menyusu pada nya. Padahal itu adalah hal gila, " timpal nenek itu.
Aku membekap mulut tak percaya , mendengar penuturan nenek itu.
"Maaf kan saya, saya hanya tidak rela kalau harus benar-benar berpisah dari cucu saya. Saya masih ingin sering bertemu dengan nya, saya takut jika saya tidak rela!" jawab ibu tua ini.
"Jadi maksud anda, Anda sengaja membiarkan cucu anda gentayangan dan mencari ibu susu untuk tetap ada di dunia? Anda sadar tidak, sudah menghilang kan banyak nyawa!" teriak Mas Damar sembari menunjuk nunjuk wajah wanita itu.
"Dan Saat ini taruhan nya adalah nyawa istri saya! Jika anda masih kekeh dengan keinginan anda, maka anda juga harus ikut merasakan apa yang istri saya rasakan!" teriak Mas Damar yang langsung aku hampiri.
"Mas, sudah cukup! Kita harus bicarakan ini baik baik! " ujar ku mencoba menenangkan suami ku yang sudah mendidih ini.
"Begini saja, kalau kamu mau. Kita panggil Kinara sekarang juga. Kita bicarakan baik baik dengan dia. Dan dengar kan apa yang dia maukan, supaya kamu bisa mengambil keputusan! " ujar nenek tua yang ada di sebelah ku itu.
Ibu ini hanya bergeming, tak menjawab pertanyaan nenek bungkuk.
"Baiklah, saya setuju!" sahut ku karena kesal dengan ibu ini yang hanya menangis dan diam.
Ia meminta agar kami tidak mengosongkan pikiran. Kemudian ia mulai menata benda benda untuk memanggil Arwah di hadapan nya.
Setelah selesai ia mulai melakukan ritual nya. Kami hanya diam menuruti setiap perkataan nya.
"Setelah ini, dia akan masuk ke tubuh salah satu di antara kita. Aku rasa akan tetap anak mu yang pertama ini. Sebab, hanya dia yang seperti nya cocok!" ujar nenek itu sebenarnya tak ku setujui.
Tetapi Mas Damar segera memegangi lengan ku. Ia tahu apa yang tengah aku pikir kan.
Nenek itu mulai mengudak ngudak air di dalam cawan kecil, sembari membaca kan sesuatu.
"Nduk, Cah Ayu. Bocah sing bagus Dewe, Simbah mu nyeluk awak mu! Teko O Nang Omah iki! Simbah Ku utowo arep ketemu Awak mu!"
(Nak, anak Cantik. Anak yang paling cantik sendiri, nenek mu memanggil diri mu! Datang lah ke rumah ini! Simbah mu mungkin ingin bertemu dengan diri mu!)
Entah mengapa perasaan ku mulai tidak tengah. Apa lagi pintu utama di tutup dan lampu di matikan. Membuat suasana gelap tidak karuan.
Jenar yang masih pingsan, tiba-tiba ia bangkit. Duduk dengan wajah tertunduk.
Lalu ia mengangkat kepala nya cepat, menampakkan mata yang merah menyala.
Sekar juga tertawa melihat itu, bukan nya malah takut.
Jenar menatap adik nya dengan tatapan tajam, lalu perlahan bibir nya mengukir senyum.
"Anak mu memang luar biasa. Dia bisa menaklukkan arwah sejahat Kinara!" ujar Nenek itu yang membuat kening ku berkerut.
"Iyo, Terusno Nduk!" ujar nya lagi.
Jenar kembali tertunduk. Lalu bahu nya mulai berguncang. Aku tak paham dengan apa yang ia rasakan, ingin mendekat pun dilarang oleh nenek bungkuk itu.
"Simbah!" rintih Jenar yang aku tak mengetahui suara siapa itu.
"Sakiiittt..."
*****