
Chapter 11
Setelah selesai berbelanja, kami akhir nya memutus kan untuk pulang.
Mata ku membulat, kala mendapati mobil Mas Damar sudah terparkir di halaman. Bukan kah jam segini adalah jam paling menyibukkan untuk dia, lalu mengapa sudah pulang?
Aku segera membawa anak anak masuk ke dalam. Lalu menyuruh mereka untuk ke kamar membongkar mainan da n belanjaaan yang tadi mereka beli.
Setelah itu, aku segera mendatangi Mas Damar yang tengah duduk di dekat jendela.
"Mas, Kamu kenapa? Kok jam segini sudah pulang?" tanya ku.
"Nggak apa, Dek. Mas cuti hari ini. Fokus cari sekolah untuk anak-anak" jawab nya lesu.
"Bagaimana, sudah ketemu sekolah nya? Ada yang menerima siswa baru?" tanya ku antusias.
Mas Damar hanya menggeleng lemah, dengan wajah tertunduk seperti tak selera melakukan apa apa.
"Kok gitu sih, Mas? Memang nya sudah berapa sekolah yang Mas datangi?"
"Banyak. Sudah seluruh kabupaten malah. Mas minta bantuan teman mas yang memiliki anak di kabupaten. Tapi semua sekolah menolak. Setelah Mas telusuri dengan fajar, ternyata kasus bunuh diri yang menyangkut guru di sekolah sebelum nya , itu membawa nama Sekar.
Meski tidak masuk dalam berita , tapi sekolah itu yang memberi kabar pribadi dari sekolah ke sekolah yang lain" Jelas Mas Damar yang membuat hati ku memanas.
"Nggak masuk akal, Mas! Bagaimana mungkin mereka menyangkutkan Sekar dalam hal ini. Hanya karena Sekar itu anak Indigo, lalu mereka menolak nya?
Apa mereka tidak mementingkan prestasi Sekar yang luar biasa?" Sergah ku dengan nada tinggi. Kesal rasa nya mendengar kebenaran ini.
"Kalau begitu, aku akan datangi kepala sekolah yang kemarin. Seenak jidat dia menghilang kan masa depan anak anak ku!" seru ku dan langsung bangkit, tetapi di halangi oleh Mas Damar.
"Yanti! Sabar, jangan bertindak gegabah, mereka punya hak. Kita rakyat kecil bisa apa? Toh memang Sekar kemarin membuktikan bahwa memang ada yang tidak beres di sekolah itu kan?
Lagi pula memang sekolah itu tidak pantas untuk Sekar. Kita akan cari sekolah di luar kota ini. Kebetulan Mas di pindah ke cabang yang baru, dan itu luar dari kota ini." ujar Mas Damar yang membuat hati ku sedikit meluluh.
Aku menarik nafas dalam, lalu duduk kembali ke sebelah Mas Damar.
"Mas Serius?" tanya ku memastikan.
"Iya, Sayang! Besok Mas mau survei tempat nya. Sekalian cari rumah yang akan kita tinggali di sana. " jawab Mas Damar.
"Terus, Uang nya? "
"Mas akan jual mobil kita. Untuk sementara waktu kita pakai motor saja, nanti Mas akan sempatkan antar jemput anak anak sebelum berangkat kerja." jawab Mas Damar yang membuat hati ku kembali terasa lega.
Malam telah tiba, hujan deras di luar sana membawa angin yang dingin nya menyapa kulit.
Tetapi semua ini demi masa depan anak anak ku. Jenar tidak akan mau sekolah, jika adik nya juga tidak sekolah. Meski bibir nya tidak mengakui, bahwa ia takut adik nya iri dan sedih melihat dia sekolah dan Sekar tidak. Tetapi, aku sangat tahu jalan pemikiran anak itu.
Malam sudah semakin larut, setelah menidurkan anak anak, Mas Damar segera masuk ke dalam kamar.
Mendekap diri ini dari belakang lalu menciumi pundak yang membuat bulu kuduk ku berdiri.
"Ada apa, Mas?" tanya ku lirih.
"Besok Mas akan berangkat. Paling sekitar dua hari, soal nya wilayah lumayan jauh. Dan survei juga tidak cepat." ujar Mas Damar tepat di telinga ku.
"Tidak masalah, Mas. Tetapi, setelah survei kita harus segera pindah ke sana. Lebih cepat mereka sekolah lebih baik, Kasihan Jenar kalau harus banyak ketinggalan pelajaran. " sahut ku.
Mas Damar mengangguk, lalu membawa ku tidur di atas ranjang.
_____________
Mata ku membelalak, kala berada di tengah hutan jati dengan suasana yang masih asri dan pesisir yang bersih tanpa ada rerumputan yang tumbuh di sana.
Rasa nya seperti hutan ini memang terawat.
Tampak beberapa kali ada sebuah bayangan yang berlalu ke sana ke sini, mata ku yang kesulitan menangkap bayangan itu, hanya bisa melihat ke kanan dan ke kiri. Sesuai dengan arah bayangan itu.
"Siapa disana?!" Pekik ku lantang.
Hening. Tak jawaban, hanya sebuah bayangan yang tampak seperti ramai itu lalu lalang.
Aku mencoba berjalan mendekat, karena rasa penasaran yang semakin menjadi.
Baru saja aku berjalan beberapa langkah, sebuah tepukan di pundak ku, membuat ku terjingkat.
Aku berbalik perlahan, melihat seseorang yang tengah menepuk pundak ku ini.
Aku menarik nafas kasar, dengan berjalan mundur beberapa langkah ke belakang.
Jantung ku berdegup dengan kencang, kala melihat seorang kakek kakek tua dengan wajah yang teramat mengerikan.
"Tinggal lah ,disini. Maka anak mu akan aman. Di sinilah tempat anak mu yang sesungguhnya!" ujar kakek itu dengan suara serak tapi mengerikan.
Di sini? Di hutan ini?
*****