Life With Ghost

Life With Ghost
Chapter 25



Chapter 25


"Ibu... Di belakang ibu!" ujar Jenar yang langsung membuat ku terhenti.


Aku berbalik menatap ke arah yang Jenar tunjukkan.


Sesosok bayangan besar tinggi dengan rambut gumbal acak acakan ada di dinding belakang ku. Aneh nya itu hanya seperti bayangan. Tidak ada wujud nya.


Aku segera menggendong Jenar turun ke bawah, menemui Mas Damar yang mencari Sekar ke sekitar rumah.


"Mas Damar!" Seruku yang berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga.


Tampak Mas Damar tengah berbicara dengan seseorang didepan.


"Nenek Sumi," lirih ku. Melihatnya, aku jadi urun mengatakan apa yang tadi aku lihat.


Cepat sekali dia sampai sini, bukankah jarak dari sini ke rumah nya itu cukup jauh. Bagaimana dia bisa secepat kilat sampai sini.


"Cepat sekali sampai sini, Nek?" tanya ku sembari menurunkan Jenar dari gendongan ku.


"Saya kemari, karena merasa ada yang janggal. Kenapa Nyai Cindana mengikuti Putri kalian? Ada urusan apa kalian dengan kepala jin itu?" tanya Nenek Sumi dengan raut wajah cemas.


Aku ternganga, mengapa aku seperti tak asing dengan nama jin itu. Seperti pernah dengar.


Oh, jin yang sering aku dengar dari orang tuaku dulu.


"Ma-Maksud Nenek, Apa? " tanyaku dengan bibir gemetar.


"Sebaiknya kita bicara didalam saja. Tidak enak kalau diluar seperti ini." ujar Mas Damar berusul.


Aku mengangguk. Lalu menarik tangan Jenar masuk ke dalam.


"Apakah anak kalian ada hubungan dengan Nyai Cindana? Kalau iya, kalian harus waspada!" ujar Nenek Sumi setelah kami semua duduk dan mulai berbincang.


"Memangnya waspada kenapa, Nek?" tanya Mas Damar.


"Nyai Cindana adalah jin yang memilih keturunan nya lewat anak manusia. Biasanya, anak yang dia titipkan diberi sebuah kelebihan. Tetapi... " ucapannya terjeda.membuat aku penasaran saja.


"Tapi apa, Nek?" tanyaku penasaran.


"Jika dia merasa keturunan nya diperlakukan tidak baik, maka dia akan datang mengambilnya! " sahutnya yang membuat tulang ku rasa nya ingin di lolosi dari tempat nya.


"Lalu, sekarang saya harus bagaimana, Nek?" tanyaku dengan tangan gemetar.


Ia bergeming. Menarik nafasnya dalam lalu membuangnya perlahan.


"Begini saja. Kita bersihkan rumah ini dari jin yang suka memakan janin. Saya juga melihat ada beberapa jin dan hantu lainnya yang tinggal disini. Sebaiknya kita bersihkan dulu, baru urus anakmu. Sebab, jika rumah ini bahkan belum bersih, susah juga ingin menemukan anak kalian." jelasnya yang membuat air mataku luruh.


"Tapi, Nek. Semenjak bayi, anak kami itu anak yang sangat luar biasa. Bisa mengusir hal gaib. Dan membantu kami dalam kejaran musuh yang ingin memb*nuh." sergah Mas Damar.


"Apakah kalian sudah mensyukuri kelebihan itu? Apakah kalian sudah memastikan bahwa hati anak kalian itu bahagia? Apakah kalian menyadari, bahwa anak kalian itu merasa kelimpungan? Berada di antara dua dunia?"


"Kalian tahu, anak kalian itu hatinya mudah terpedaya dengan hasutan jin? Tidak? Saya rasa inilah penyebabnya. Kalau saya rasa, anak kalian itu diculik oleh penunggu sini. Hal itu yang membuat Nyai Cindana murka." timpal nya lagi.


"Bagaimana bisa, Nenek berusul seperti itu? " tanyaku penasaran. Sebab dia berbicara seolah dia tahu semuanya.


"Saya hanya menebak. Karena kalian bilang anak kalian hilang. Dan kini Nyai Cindana ada disini. Apa lagi?"


Benar juga apa yang dia bilang. Kalau memang begitu, bagaimana nasib anak ku?


"Lalu, bagaimana nasib anak saya, Nek?" tanyaku dengan air mata yang sudah tumpah ruah.


"Sudahlah, sebaik nya kita bereskan rumah ini dulu. Nanti saya bantu cari anak kalian." ujar Nenek Sumi.


Mas Damar setuju. Ia segera membawa Nenek Sumi naik ke atas. Rencana nya kami akan mulai membersihkan dari atas, kebawah, sampai keliling luar.


Aku yang menggendong Jenar hanya bisa melihat, tanpa bersuara sepatah katapun. Aku masih terpikir oleh apa yang dikatakan Nenek Sumi tentang Sekar. Bagaimana jika memang Sekar diambil oleh Nyai Cindana. Bukankah dia jin terkuat seperti yang sering ku dengar.


Nenek Sumi mulai menumbuk daun bidara dan daun kelor. Tidak lupa juga garam gosok yang dilarutkan ke dalam air.


Cara ini memang efektif untuk meruqyah rumah. Aku pernah dengar dulu dari Nenekku. Tapi tak tahu bagaimana cara menggunakan nya.


Setelah selesai ditumbuk, daun kelor dan daun bidara itu dimasukkan ke dalam larutan garam. Lalu Nenek Sumi mulai memasukkan nya ke dalam kendi.


"Setelah saya memercikkan air ini ke seluruh bagian rumah mu, bacalah surah Al-Fatihah, surah Al Baqarah ayat 1-5, ayat kursi, Al Baqarah ayat 255-257 . Ini harus dibacakan oleh si pemilik rumah agar mereka yang masih berdiam diri disini segera enyah." ujar Nenek Sumi sebelum ia mulai berjalan memasuki kamar demi kamar, sudut tangga sampai di balkon.


Setelah selesai, ia pergi kebawah, masuk ke dapur, WC, dan seluruh ruangan rumah ini.


Setelah Nenek Sumi selesai memercikkan air itu ke seluruh rumah ini, aku segera keluar mendekati mereka yang tengah berbincang di ruang tamu.


"Tunggu beberapa menit, dan dengar kan. Apa yang akan terjadi pada mereka. Karena waktu kita tepat, beberapa menit sebelum maghrib." ujar Nenek Sumi yang membuat alisku bertaut.


Kami semua terdiam tanpa ada kata sepatah pun. Menajamkan pendengaran.


"Arrgghh.. Gggrrhh!"


Terdengar suara jeritan dan geraman dari seluruh penjuru ruangan. Aku tidak terlalu paham, sebab suara itu seperti lari terbawa angin dan samar.


Bahkan ada beberapa yang seperti mengoceh, tapi tidak jelas berkata apa. Nenek Sumi bahkan sampai terkekeh mendengar itu. Apakah mereka penunggu rumah ini? Sebanyak itu?


Setelah beberapa menit, akhirnya suara itu padam. Aku bisa menarik nafas lega.


"Nah, mereka sudah pergi kalian tentu bisa merasakan aura yang lega dari rumah ini 'kan? " ujar Nenek Sumi.


Benar memang, hawanya sudah tidak sepengap tadi. Bahkan sudah berubah sejuk.


"Saya pulang dulu, masalah anak kalian saya akan tanyakan pada teman saya. Dia dulu tinggal lama di telaga buaya. Banyak jin ular nya di sana. Nanti saya akan minta pendapat dia tentang masalah ini." ujar Nenek Sumi berpamitan.


Mas Damar yang menanggapi nya. Sedangkan aku sama sekali tak bisa berpikir. Ingin bertindak pun tak tahu apa yang harus dilakukan.


"Sabar ya, Dek. Sekar pasti akan segera ditemukan. Ini sudah malam, kalau kita pergi mencari dia, akan sangat beresiko. Apa lagi kamu sedang hamil. " ujar Mas Damar yang paham akan apa yang aku rasakan.


Aku hanya bisa mengangguk lemah. Berharap semua ini akan baik baik saja.


"Mas, aku belum siap kalau harus berpisah dari Sekar," ucapku dengan bibir bergetar menahan sesak di dada.


"Mas janji, kita tidak akan berpisah dari dia."


"Aku baru tahu, kalau anak ku itu keturunan Jin. Aku pikir dulu dia hanya sebatas anak istimewa, ternyata... Hiks. Aku sama sekali tidak rela, kalau ibunya nanti akan datang mengambilnya. Aku yang melahirkan dia, Mas!" seru ku dengannya sesegukan.


Sakit sekali rasa di dada ku ini. Tidak rela rasanya mengetahui semuanya.


Malam sudah semakin larut, suara jangkrik dan kodok di empang kecil belakang rumah sudah bernyanyi merdu.


Bahkan suara burung hantu juga sudah terdengar bersahut-sahutan. Malam ini ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Tidak seperti biasanya yang sepi seperti kuburan.


Mas Damar sudah terlelap, sedangkan Jenar... Dia memilih tidur di pelukan bapak nya.


Aku tidak bisa tertidur, memikirkan dimanakah anakku saat ini. Jika memang dia dibawa ke alam jin, apakah dia akan baik baik saja?


Hiks... Hiks...


Aku yang berusaha terpejam, mendengar tangisan seseorang. Tampak nya arah tangisan itu berasal dari pelukan Mas Damar.


Aku bangun, lalu beralih menatap Jenar. Benar praduga ku, anak itu menagis dengan tersendu sendu.


Gegas aku segera menarik tangannya dan membuat dia terbangun.


"Jenar kenapa menangis?" tanya ku berbisik.


Ia yang masih sesegukan sulit untuk berucap.


"Hiks... Hiks... Yang Ki-Kita usir penunggu rumah ini, Bu. Ta-tapi bukan jin yang hari itu menemui adik!"


Deg!


"Bagaimana kamu tahu?" tanyaku antusias.


"Ta-tadi waktu kita selesai melakukan ritual itu, Jenar lihat adik. Dia ada di pundak makhluk yang kemarin Jenar lihat... Huaaaa!" tangis Jenar pecah.


Aku segera membawanya ke pelukkan ku. Menenangkan nya yang terlalu dalam ketakutan.


Aku hampir tak percaya apa yang dia katakan. Tapi memang apa yang Jenar katakan selalu menunjukkan kebenaran.


Allah... Ujian apa lagi ini? Ku kira dengan tinggal disini anak-anak ku akan baik baik saja. Tapi, kini sudah mendapati masalah seperti ini.


"Sa-satu hal yang buat Jenar takut, Bu. Wajah... Wajah adik. Di-dia tampak sedih dan menangis. Apa adik kesakitan, Bu?" tanya Jenar yang membuat hatiku teriris.


Sekar bukan tipe anak yang cengeng. Jika memang dia sampai menangis, berarti memang benar dia tengah kesakitan. Ya Allah, pikiran ku tak tenang sekarang.


*****