Life With Ghost

Life With Ghost
Chapter 18



Chapter 18


Hari sudah mulai malam, suara jangkrik dan hewan lain nya terdengar memekak telinga. Meski di depan sana adalah jalan raya, nyata nya sepi tak ada kendaraan yang berlalu lalang.


Kemarin malam aku tak terlalu memperhatikan, sebab memang selepas maghrib aku tertidur. Tapi kali ini, Tidak.


"Kok melamun di sini, Dek?" tanya Mas Damar kala aku berdiri di balkon lantai dua.


Di sini pemandangan sama sekali tak sama seperti di kota. Seluruh nya hanya ada kegelapan. Hanya bagian jalan sana yang terang dari lampu jalan.


"Cari angin, Mas. " jawab ku singkat.


"Kamu sakit? " tanya Mas Damar sembari memeluk ku dari belakang.


Aku menggeleng, lalu memegangi tangan nya yang melingkar di perut ku.


Angin malam bertiup lumayan kencang tampak nya hari akan segera turun hujan.


Ueeekkk... Ueeekkk!


Entah mengapa sendari pagi aku merasa sangat mual. Kepala juga terasa berdenyut tak karuan. Badan juga terasa sangat lemas, membuat aku merasa tak nyaman.


"Sayang, kamu kenapa sih? Kayak nya ini bukan asam lambung, tetapi ada sesuatu. " ujar Mas Damar yang mengikuti ku lari ke kamar mandi.


"Atau jangan jangan... Kamu hamil, Dek! " timpal nya lagi.


Sejujur nya aku juga merasa hal yang sama. Mengingat sudah dua bulan ini aku telat.


"Entah lah, Mas. Mungkin. " jawab ku lirih.


"Atau kita ke klinik, biar jelas. Nggak jauh kok, di pusat kota sana. " Seru Mas Damar yang tampak sekali bersemangat.


"Eh, nggak usah, Mas. Kebetulan aku punya persediaan testpack, soal nya pas lepas KB aku langsung beli. Buat jaga jaga. " jawab ku cepat.


Rencana nya besok pagi aku coba tes, apa benar diri ini tengah mengandung.


"Ya sudah kalau begitu kita tidur, ya. " ajak Mas Damar sembari menuntun pundak ku menuju ranjang.


"Terimakasih, Mas. Sudah mau sabar merawat aku dan anak-anak. " lirih ku yang langsung membuat nya mencium pipi ini.


"Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah kewajiban ku sebagai seorang suami. "


Malam ini kami tertidur dengan saling memeluk. Nyaman sekali rasa nya. Hingga hujan turun membasahi bumi malam ini.


Suasana berubah sangat dingin, entah mengapa pikiran ku tertuju pada anak-anak di kamar sebelah. Apa mereka memakai selimut atau tidak?


Aku yang merasa tak tenang, memutuskan untuk bangkit. Sebelum nya aku sudah memastikan Mas Damar terlelap terlebih dahulu.


Ceklek!


Pintu kamar ku buka angin yang bertiup semilir langsung menerpa wajah ku. Padahal ini di dalam rumah.


Aroma bunga kenanga dan bunga hutan seketika menyeruak. Aku menarik nafas dalam tak ingin terlalu ambil pusing masalah ini.


Karena memang di dekat rumpun bambu belakang rumah, ada pohon kenanga dan beberapa bunga liar. Mungkin dari sana aroma nya.


Aku berjalan menuju kamar sebelah, tapi langkah ku tercekat kalau mendengar teriakan Jenar.


"Aaarrgghhh..! IBUUU! " pekik nya yang langsung membuat ku lari dan membuka pintu kamar nya kasar.


"Astagfirullah Halazim! Ada apa, Nak? " tanya ku yang langsung mendekap nya.


"A-adik, Bu. Adik! " ujar Jenar dengan bibir bergetar. Keringat dingin membasahi dahi anak ini.


Aku melihat ke arah ranjang Sekar. Kosong. Tak ada siapa pun di sana. Hanya selimut nya tampak berantakan.


"Adik mana? " tanya ku panik.


"A-adik... Adik di bawa hantu, Bu! "


Deg!


Hantu?


"Kamu yang serius, Jenar! " jawab ku sembari mengguncangkan bahu nya.


Ia tak menjawab, hanya mengangguk dengan wajah ketakutan.


Tanpa pikir panjang, aku langsung menarik tangan nya keluar kamar. Lalu berjalan menuju tangga.


"Sekar!" Pekik ku, kala melihat anak itu berjalan seorang diri dengan tangan yang seperti di tarik seseorang. Hanya saja tak terlihat. Siapa yang tengah menarik nya.


"Sekar tunggu, Nak! "


Aku segera menuruni tangga, sebab anak itu berjalan ke arah pintu utama.


Aku berlari sekuat nya, sampai hampir terjatuh kala menuruni anak tangga.


Sreeettt!


Aku langsung menarik anak ini ke dalam dekapan. Rupanya mata nya masih tertutup.


Aku segera menutup pintu utama, karena sudah terbuka beberapa centi oleh tangan Sekar.


Ku kunci pintu ini sampai putaran ke tiga. Lalu membangunkan Sekar yang masih terpejam.


"Nak, Sekar! Sadar, Nak! " Seru ku sambil mengguncang kan tubuh mungil Sekar. Tak lama anak ini pun mulai membuka mata.


Ia melihat kanan dan kiri, seperti orang yang nyawa nya masih belum terkumpul saat bangun tidur. Sedangkan Jenar, dia masih berdiri di tengah tangga. Tak berani mendekat.


"Ada apa? " tanya ku lirih, saat manik mata Sekar menatap ku lekat. Ia hanya menggeleng kecil, lalu tersenyum.


"Yanti! "


Kami semua mendongak ke atas, kala Mas Damar memanggil ku dari atas.


"Kalian ngapain di sana? " tanya nya lagi.


Aku menatap ke arah Jenar yang ketakutan. Lalu menggendong Sekar kembali naik ke atas.


Begitu aku berjalan mendekati tangga Jenar langsung berlari ke arah Mas Damar. Ia segera memeluk Bapak nya itu dengan tatapan ketakutan melihat kami.


"Jenar kamu kenapa, Nak? "


*****