Life With Ghost

Life With Ghost
Chapter 10



Chapter 10


Sinar matahari sudah mulai menerangi bumi. Hangat nya membangunkan makhluk hidup yang tinggal di bumi.


Mas Damar sudah bersiap , ia memilih untuk membawa bekal saja. Sebab pagi ini dia akan mampir ke sekolah yang terakhir, sebelum berangkat kerja.


"Anak anak mana? " tanya Mas Damar sebelum berangkat.


"Masih tidur! " jawab ku sembari memasangkan dasi nya.


"Oh..."


Mas Damar menatap wajah ku dengan lekat, membuat aku merasa tak nyaman.


"Kamu kenapa sih, Mas? " tanya ku geli.


"Semoga semalam nempel, terus jadi! " ujar nya yang langsung membuat ku tertawa terbahak-bahak.


"Hahah... Apa nya yang nempel terus jadi, Mas?" tanya ku dengan tawa yang tak mampu ku tahan.


"Apa lagi... Iya dedek nya. Mas sudah pingin banget, sayang. Kamu selama ini menolak menambah, alasan nya tunggu Sekar sekolah. Kan Sekarang Sekar sudah sekolah. " protes Mas Damar dengan wajah yang seperti anak kecil minta mainan.


"Hahah.. Iya, iya, Mas. Kamu nggak perlu khawatir. " ujar ku sembari menepuk pundak nya lalu berjalan ke dapur.


"Kamu benaran, sayang? Kita akan punya anak lagi? " tanya Mas Damar begitu antusias.


"Iya, Mas. Sejujurnya aku sudah lepas KB dari pertama Sekar masuk sekolah. Sudah sekitar empat bulan yang lalu. Tapi aku memang tidak memberi tahu kamu. " jawab ku santai sembari berjalan menuju meja dapur.


Mendengar penuturan ku, Mas Damar segera membalikkan tubuh ku kasar menghadap nya.


"Oh, jadi selama ini kamu diam diam, hah! Jadi sebenar nya kamu sudah siap? Kenapa tidak bilang! " Seru Mas Damar sembari menciumi tengkuk ku.


"Mas, ampun, Mas. Habis kamu kan jarang ada waktu buat aku, jadi aku diam saja! " jawab ku terputus putus menahan tawa.


"Ibu!" Seru Jenar yang langsung membuat ku mendorong tubuh Mas Damar. Baju piyama yang aku kenakan, sedikit terbuka di bagian atas, segera aku benarkan.


Jenar hanya membuang nafas kasar, lalu berjalan ke kulkas dan mengambil Air. Lalu kembali melenggang pergi tanpa sepatah kata pun.


Mas Damar hanya terkekeh kecil. Baju nya yang kekar, dan rahang nya yang tegas, membuat aku sangat gemas.


Setelah selesai menyiap kan bekal sarapan Mas Damar, aku segera membangunkan Sekar dan akan mengajak mereka jalan jalan ke taman hari ini.


Tak tega rasanya, melihat mereka akan bersedih karena belum mendapatkan sekolah baru.


"Jenar! Sekar! Ayo sarapan, Nak. Hari ini kita akan jalan jalan! " Seru ku yang membuat kakak beradik itu segera keluar dari kamar.


Jenar yang memang sudah bangung sejak tadi, sudah siap dan sudah mandi.


Aku segera menyiapkan sarapan mereka, lalu mulai menyantap makan pagi.


"Jenar, kamu benar-benar tidak apa, Nak. Kalau seandainya belum sekolah karena adik belum mendapat sekolah baru? Atau kalau tidak, kamu belajar saja di sekolah lama. Ibu takut kamu ketinggalan pelajaran!" ujar ku meyakin kan nya.


"Jenar yakin kok, Bu. Selama adik tidak sekolah, Jenar juga tidak akan sekolah. " jawab nya sembari melempar senyum kepada adik nya.


Kakak beradik ini memang keras kepala. Meski mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali, tetapi ikatan batin di antara ke duanya, sangat lah kuat.


Seharian ini kami menghabiskan waktu dengan berjalan jalan di taman. Memakan ice cream, bersua foto, dan sesekali mampir ke toko mainan.


Sebisa mungkin aku membuat mereka berdua akan lupa dengan masalah ini. Jenar memang tampak lupa, tetapi tidak dengan Sekar. Anak itu tampak terdiam, hanya sesekali tersenyum ketika kakak nya menunjukan mainan atau hal yang di lihat nya indah.


Aku sangat paham apa yang dia rasakan. Hanya saja ia tak ingin menampakkan hal itu kepada kami.


Setelah selesai berbelanja, kami akhir nya memutus kan untuk pulang.


Mata ku membulat, kala mendapati mobil Mas Damar sudah terparkir di halaman. Bukan kah jam segini adalah jam paling menyibukkan untuk dia, lalu mengapa sudah pulang?


Aku segera membawa anak anak masuk ke dalam. Lalu menyuruh mereka untuk ke kamar membongkar mainan da n belanjaaan yang tadi mereka beli.


Setelah itu, aku segera mendatangi Mas Damar yang tengah duduk di dekat jendela.


*****