Life With Ghost

Life With Ghost
Chapter 21



Chapter 21


Aneh. Wajah nya tanpa ekspresi, bibir nya pucat. Bahkan ia sama sekali tak membawa perlengkapan seperti dokter.


Ia hanya berjalan memegangi infus ku, lalu kembali berjalan mengitari ranjang ku.


"Dok, bagaimana? Perut saya sangat sakit!" pekik ku.


"Suami saya mana?" tanya ku lagi.


Ia berhenti.


"Sakit nya nanti hilang. " jawab nya datar.


Ia berbalik menatap ku. Lalu tangan nya bergerak mendekati area bawah ku.


Ia mencoba mencolek sesuatu yang ada di antara ************, lalu menarik tangan nya lagi.


Se-tetes darah ada di ujung jari nya, lalu ia bergerak mengarah kan jari itu ke tangan nya.


Ia menjilat darah yang ada di ujung jari nya itu. Seketika itu juga wajah nya berangsur berubah. Hampir mirip dengan wajah... Makhluk tadi.


"Aaarrggg!"


Brakk


"Yanti!" pekik Mas Damar yang membuka pintu kasar. Aku kembali menatap ke arah sosok tadi, ternyata sudah tidak ada.


Mas Damar segera berlari ke arah ku. Mata nya kembali menatap ke arah bawah ku.


"Loh, darah nya? " ujar Mas Damar dengan wajah yang tampak terkejut.


"Darah nya kenapa, Mas?" tanya ku.


Aku tidak bisa melihat ke arah bawah, jadi tidak tahu apa yang terjadi.


"Kok darah nya hilang!" jawab Mas Damar dengan wajah yang masih tak percaya.


Tak berselang laa, seorang dokter menyebul dari balik pintu.


"Ada apa?" tanya nya ketika melihat kami berdua.


"Tadi ada darah, Dok. Tapi sekarang... " ujar Mas Damar kebingungan.


"Mana darah nya?" tanya dokter itu.


Ia segera mengecek perut ku, lalu berpindah ke infus.


"Semua nya baik baik saja. Ada masalah apa, Pak?" tanya nya lagi.


"Tadi perut saya nyeri, Dok." sahut ku yang sadar Mas Damar tidak bisa menjawab.


Dokter itu segera memeriksa perut ku. Memencitnya .


"Tidak ada masalah apa apa. Semua nya baik baik saja, hanya ibu banyakin istirahat, ya. " ujar nya setelah memeriksa ku.


Setelah itu dokter wanita itu pergi.


Mas Damar masih ternganga di pinggir ranjang. Tangan nya bergerak membuka selimut kecil yang hanya menutupi sebagai kaki ku.


"Tadi Mas ngga salah lihat, Dek. Beneran ada darah." kekeh Mas Damar yakin.


Aku terdiam. Sejujur nya aku juga melihat hal yang sama dari tangan makhluk itu. Tetapi aku tak berani bercerita. Takut nya nanti justru menjadi beban pikiran nya.


Tetapi memang ada yang aneh. Rasa sakit di perut ku tadi benar hilang. Seperti apa yang di katakan sosok makhluk tadi. Tidak, ini hanya sebuah kebetulan.


Mas Damar kembali terduduk. Sembari menatap ke arah ku.


"Um,sudah tidak, Mas. " jawab ku dengan senyuman yang aku paksa kan.


Aa sosok tadi, sosok yang sama seperti yang Jenar lihat? Sebab ciri-ciri nya sangat sama.


Jika memang iya, Jin jenis apa itu? Dan mengapa mengikuti ku? Apa yang dia mau?


__________


Sinar matahari sudah mulai bersinar. Memberikan semangat baru untuk ku untuk menjalani hari hari.


Rasa nya tubuh ku sudah mulai ringan. Rencana nya pagi ini juga kami akan segera pulang.


Mas Damar sudah bersiap-siap. Seharus nya anak anak datang ke sekolah hari ini. Tetapi karena aku di rawat, semua nya jadi kacau.


"Nanti, kalau sudah pulang anak anak bawa ke sekolah ngga apa, Mas." ujar ku saat Mas Damar tengah membereskan barang.


"Ngga bisa dong, Sayang. Mas harus jagain kamu, apa lagi keadaan kamu belum sepenuh nya sembuh. Masih lemah." jawab Mas Damar.


"Tapi, Mas. Kasihan Jenar dan Sekar kalau harus di tunda lagi sekolah nya. " ujar ku merasa tak enak.


"Udah lah, Sayang. Kamu ngga perlu khawatir. Masalah sekolah besok masih ada waktu." sergah nya.


Aku tidak lagi bisa menjawab jika dia sudah berkata seperti itu.


Setelah bersisp siap, dan dokter pun sudah melepas infus di tangan ku, kami segera berjalan keluar rumah sakit.


Mas Damar berusul untuk kami naik taksi saja. Sebab motor dia minta orang membawa nya pulang. Tak mungkin juga kami akan pulang dengan motor itu.


Setelah menunggu beberapa menit, akhir nya mobil yang lewat jalur depan rumah kami datang.


Mas Damar membuka kan pintu untuk ku, lalu kami semua.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali sopir taksi itu akan bertanya kepada kami. Tampak nya supir itu lumayan ramah.


Aku baru tahu, jika ini adalah pusat kota. Aku hampir tak percaya, jika ada hutan jati yang lumayan besar di tengah-tengah kota.


"Bapak rumah nya dimana, Pak?" tanya nya kepada Mas Damar.


"Di hutan jati, Mas." jawab Mas Damar singkat.


"Sebelum nya atau sesudah nya, Pak?" tanya supir taksi itu lagi.


"Di tengah-tengah nya, Mas!"


Wajah supir itu tampak lain. Entah itu perasaan ku saja atau memang iya. Terlihat dari kaca bahwa wajah nya itu ketakutan.


"Ru-rumah yang di tengah hutan jati itu, Pak?" tanya nya gugup.


"Iya, Mas. Memang nya kenapa?" tanya Mas Damar kembali.


"Ti-tidak, Pak. Tidak apa apa."


Setelah pembicaraan itu, semua hening. Tak ada pembicaraan sama sekali. Bahkan supir taksi tadi yang tampak sekali ramah, kini diam seribu bahasa.


Setelah tiba di area hutan jati, supir taksi itu memelan kan laju mobil. Hingga beberapa menit kemudian, baru tiba di depan rumah kami.


"Berhati-hatilah, Nyonya. Saya hanya bisa mengatakan itu. Rumah itu terkenal dengan rumah darah. Rumah yang kerap kali menerlan korban!" ujar pak supir itu ketika hanya tinggal aku yang belum turun.


Belum sempat aku bertanya apa apa, Mas Damar sudah terlebih dahulu memanggil ku.


"Sayang, ayo cepetan!"


*****