Life With Ghost

Life With Ghost
Chapter 7



Chapter 7


"Sakit, Mbah, Sakit! " Lirih Jenar dengan suara yang bukan dia.


"Kinara, Nduk! Cucuku! " ujar ibu itu dengan wajah yang sangat tak percaya.


Ia ingin mendekat, tetapi lingkaran ini terlalu sempit. Ia hanya bisa menagis melihat cucu nya yang masuk ke dalam tubuh anak ku.


"Opo yang sakit, Nduk? " tanya nya dengan air mata yang berderai.


"Semua nya, Mbah. Kalau Kinara Ndak minum susu Kinara sakit, tapi kalau minum susu, sudah nya juga sakit. Kinara ndak mau sakit seperti ini ,mbah. Kinara mau ikut ibu, tapi ndak tahu bagaimana cara nya. Tolongin Kinara, Mbah! " rintihnya sembari sesegukan.


Hati ku teriris mendengar itu. Kasihan sekali dia, anak sekecil dia sudah merasakan sakit nya siksa.


Tak sadar air mata ku juga mengalir mendengar ucapan nya. Andai aku berada di posisi keluarga nya, pastilah aku tak akan melakukan hal seperti ini.


"Orang yang sudah meninggal entah anak kecil, dewasa, orang tua. Semua sama! Kalau tidak di kirim doa, akan susah menemukan jalan pulang ke rumah nya. Apa lagi kalau sama sekali tidak pernah di kirim doa.


Maka nya dia sampai gentayangan. Itulah kenapa bapak ibu kita dulu, sering kali memperingati kita agar tak lupa mendoakan mereka ketika sudah tiada. Kalau pun hanya di kirim doa sekali dua kali, maka siksa kubur nya sama sekali tidak berkurang! " Ujar Nenek bungkuk itu menasehati.


Ibu tua ini semakin menangis sesegukan, sembari menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan.


"Aku pikir apa yang di katakan Anis dulu ada benar nya. Jika kami tidak mengirim doa untuk nya, maka dia akan tetap ada di sisiku selama nya. Aku tidak pernah tahu, kalau itu justru menyiksa nya! " ujar ibu itu menyesal.


"Aku sakit, Mbah. Lakukan apa pun yang bisa menolong ku. Sekar bilang aku sudah menyakiti banyak orang, dan hanya Simbah yang bisa bantu aku! " ujar Kinara yang berada di tubuh Jenar.


Aku terenyuh, kelebihan yang di miliki anak ku, ternyata bisa membantu. Setidak nya masalah ini cepat menemukan jalan keluar.


"Tunggu lah disana, Nak. Kami akan segera menyelamatkan mu! " jawab nenek bungkuk itu yakin.


Ia bangkit, menyingkirkan bubuk kapur tadi yang ia tabur kan.


"Hari ini juga, panggil warga untuk mengirim kan doa untuk cucu mu. Setelah itu dia akan menemukan jalan pulang nya! " ujar nenek bungkuk itu lagi.


Kami hanya mengangguk, mencoba untuk bangkit.


"Tunggu! " ujar Kinara yang berada di tubuh Jenar.


Kami semua terhenti, lalu menatap ke arah nya.


"Bagaimana dengan nasib ku, setelah ini aku tak kan bisa mengendalikan diri. Aku akan mencari ibu susu ku dan menyusu pada nya lagi! "


Deg!


Jantung ku terpompa lebih cepat mendengar penuturan nya.


Aku memandang ke arah nenek itu, dia hanya mengangguk dan kembali menabur kan bubuk kapur itu ke sekeliling Jenar.


Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan nenek itu. Meski aku sedikit khawatir dengan keadaan Jenar di sana. Tapi aku yakin, semua ini akan segera berakhir.


"Kalian harus tetap di sini sampai doa selesai! Setelah itu kalian boleh pulang! " ujar nenek tua itu.


Aku hanya mengangguk, sebelum Mas Damar pergi keluar untuk mengambil kan baju ganti untuk ku dan membantu ibu ini untuk memanggil warga datang kemari.


Sekar sedari tadi masih anteng berada di dekat kakak nya yang tertidur setelah selesai di beri lingkaran kapur.


Ia tampak tersenyum senang dengan keadaan yang sekarang. Karena teman nya akan segera mendapatkan jalan pulang.


Hari sudah mulai petang, setelah sudah menyiapkan segala kue dan kebutuhan tahlilan dadakan, warga juga sudah mulai berdatangan.


Mereka amat senang, setelah dua tahun akhirnya Kinara akan di kirim doa. Tak akan ada lagi korban ibu susu seperti yang terjadi pada Guru itu.


Tahlil sudah mulai di bacakan, sedangkan aku yang berada di kamar bersama Jenar, hanya bisa mendengar kan dari dalam.


Nenek bungkuk itu juga memilih untuk pulang. Dia akan datang jika tahlil sudah selesai di bacakan.


Sekar tumben belum tertidur jam segini. Dia masih asyik bermain dan tertawa seorang diri. Seperti tengah bercanda dengan seseorang. Kebiasaan anak itu memang.


Setiap ayat Allah yang di lafazkan untuk mengirim doa, tubuh Jenar akan sedikit bergerak, seperti orang yang terkena sengat listrik.


Bersamaan dengan itu, Sekar juga menoleh ke arah nya. Menggeleng, seperti mengatakan jangan.


"Ada apa, Sekar? " tanya ku penasaran.


Sekar menatap ke arah ku, lalu kembali menatap ke arah Jenar.


Ia bergeming, sebelum akhir nya berlari ke arah ku.


"Ada apa, Nak? " tanya ku bingung.


Sekar memeluk ku erat, tanpa menjawab perkataan ku. Tangan nya bahkan memegangi baju ku dengan kuat, dan wajah nya ia tenggelam kan di dada ku.


"Kamu kenapa, kok kayak nya sedih sekali? " tanya ku lagi. Mencoba untuk melonggar kan pelukan.


Ceklek!


Pintu terbuka, menampakkan nenek bungkuk itu dengan wajah yang serius.


"Sudah waktu nya dia pergi! "


*****