
Chapter 17
Satu malam sudah kami lewati dengan alhamdulillah tidak ada gangguan.
Sekar dan Jenar tertidur nyenyak, begitu juga Mas Damar. Jangan tanyakan aku, aku bahkan sama sekali tak merasa ada nya hal yang buruk di sini. Aku rasa Mas Damar sudah tepat memilih rumah ini.
Pagi ini kami semua bangun dengan tubuh yang sangat segar. Semalam tertidur pulas membuat kami semua bersemangat.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, aku segera memanggil anak anak. Lalu mengajak nya sarapan bersama.
"Nak, pagi ini Bapak mau ajak kalian jalan jalan keliling kota mau? Sekalian nanti lihat sekolah yang akan kalian pilih." ujar Mas Damar di sela sela menikmati sarapan.
"Boleh. Tapi nanti Jenar mau beli boneka, ya. Jenar mau ada teman" ujar Jenar dan langsung di angguki oleh Mas Damar.
Setelah selesai sarapan dan bersiap siap, mereka akhir nya berangkat.
Aku sengaja tidak ikut, karena ingin membersihkan membersihkan halaman dari guguran daun jati. Satu hari jadwal menyapu tiga kali. Sudah seperti jatah makan saja. Nasib tinggal di kelilingi pohon.
Aku melambaikan tangan, sampai motor mereka tiba di jalan raya dan hilang di telan belokan.
Seusai nya, aku segera meraih sapu lidi untuk memulai mengelilingi rumah ini.
Sekeliling rumah sudah tidak lagi ada tanah. Semua nya sudah di semen. Memudahkan aku dalam menyapu halaman ini.
Srekkk! Sreekk!
Aku mulai menyapu. Sembari menyanyi dan sesekali megecek telepon.
Kraataak!
Aku terperanjat, lalu mengedarkan pandangan ke beberapa penjuru tempat. Tapi tak ada siapapun di sana. Aku menggedikan bahu, mungkin hanya salah dengar.
Aku kembali melanjutkan aktivitas, sembari mendengarkan musik dari ponsel menggunakan headset.
Wwuuuuusss!
Terpaan angin yang tak biasa di pagi hari, membuat ku melepaskan headset yang baru saja terpasang. Perasaan ku tidak enak.
Aku merasa ada seseorang yang saat ini tengah berdiri di belakang ku. Susah payah aku menelan ludah.
Perlahan aku memutar tubuh, dengan degub jantung yang sebisa mungkin aku netral kan.
"Aaaa! Astagfirullah!" seru ku terkejut.
Seorang nenek nenek dengan kerudung bunga bunga yang hanya ia ikat kan ke belakang, dan gigi depan nya yang sudah tak ada, berdiri tepat di belakang ku. Ia tersenyum dengan mengunyah kapur sirih.
"Ny-nyari siapa, Nek?" tanya ku gugup.
"Tidak. Saya tetangga kamu! Rumah saya dekat kuburan lama, belokan sana." jawab nya dengan menunjuk ke arah jalan. Suara nya sudah serak dan sedikit tak jelas.
"Saya dengar Nak Damar mengajak istri nya pindah. Jadi saya kemari. " timpal nya lagi.
Aku hanya mengangguk, lalu mengajak nya masuk.
"Mari, Nek. Kita Masuk. " ujar ku sembari mempersilahkan nya.
"Tidak usah. Saya hanya mampir, setelah ini saya masih ada urusan." jawab nya cepat.
Ia hanya tersenyum lalu berbalik. Ingin melenggang pergi.
Tetapi baru beberapa langkah, ia berbalik lagi menghadap ku, dengan wajah yang berubah masam. Cepat sekali suasana hati nya berubah.
"Apa kamu sedang hamil?" tanya nya yang membuat kening ku berkerut.
"Tidak, Nek. Memang nya kenapa, ya?" tanya ku balik.
Ia menarik nafas dalam, lalu membuang nya kasar.
"Tidak. Tapi saya merasa darah mu segar, aroma nya juga wangi. Seperti orang yang sedang hamil. Hati-hati takut nya nanti terjadi hal yang tak di ingin kan. Jika memang hamil, sebaik nya datang ke rumah saya." ujar nya dengan wajah serius dan langsung berjalan pergi.
Belum sempat aku mempertanyakan apa maksud nya, tetapi bahkan dia sudah pergi.
Setelah kepergian nenek itu, aku hanya bisa termangu menatap kosong. Setelah sekian detik aku tersadar dari lamunan, dan menatap ke arah nenek tadi berjalan, ia sudah tak ada.
Berkali-kali aku mengucek mata, memastikan apa yang aku lihat ini benar.
Iya, nenek itu sudah benar-benar tak ada. Bahakan di kanan kiri jalan raya juga tak ada.
Sepanjang pinggiran jalan raya sana, juga masih di tumbuh pohon jati. Tidak mungkin jika nenek itu masuk ke sana kan? Lagi pula jalan nya juga sangat pelan, tidak mungkin secepat itu menghilang.
Hampir satu jam lama nya, aku baru selesai menyapu saja. Rasa nya pinggang ku sudah sangat pegal. Dan kepala ku gelinyengan tidak karuan.
Aku memutuskan untuk menyudahi saja menyapu nya. Meski kurang beberapa meter lagi, rasa nya aku sudah tidak kuat.
Aku memutuskan untuk masuk. Menonton televisi dan mengemil makanan yang Mas Damar beli kemarin.
Tok... Tok... Tok...
Aku terkejut, kala mendengar ketukan dari pintu utama.
Tanpa menunggu lama lagi, aku segera melangkahkan kaki menuju pintu utama.
Ceklek!
Pintu kubuka, mata ku tercengang kalau melihat pemandangan di hadapan.
Tidak ada siapa-siapa, padahal tadi jelas aku mendengar ketukan. Tidak mungkin aku salah dengar.
Aku berjalan keluar, melihat kanan dan kiri sekitar rumah tapi tetap tak ada siapa pun. Mungkin memang benar aku salah dengar.
Aku ingin masuk ke dalam rumah, tapi urin kalau mendengar suara Sekar.
"Auuuu... Auuuu!" secepat mungkin aku segera berbalik.
Terlihat dari dalam hutan sana ada sosok anak kecil yang tak jelas wajah nya.
Aku segera berlari keluar. Dengan nafas yang tersegal-segal aku mengedarkan pandangan. Suara Sekar seperti berputar-putar, kadang di kanan kadang di kiri.
Bahkan kadang seperti di atas. Aku sudah seperti orang tak waras mendengar teriakkan anak ku itu.
"Sekar! Kamu dimana, Nak?!" ujar ku kebingungan.
"Astagfirullah!"
Aku menarik nafas dalam, lalu menetralkan nafas. Bukan kah anak ku tadi pergi bersama Bapak nya. Tak mungkin jika itu tadi adalah Sekar. Ya Allah, ini pasti halusinasi ku.
Setelah kembali tenang, aku segera berlari kembali ke rumah.
Bersamaan dengan itu, Mas Damar dan anak-anak juga sudah pulang.
"Kamu darimana, Dek?" tanya nya yang melihat ku terengah-engah.
"Um, dari mengejar marmut tadi. Lucu, sayang nya masuk ke dalam. " jawab ku bohong sembari menunjuk ke arah dalam hutan.
Mas Damar hanya mengangguk, lalu mengajak ke-dua putri nya masuk ke salam rumah.
Tak mungkin aku menceritakan apa yang aku lihat barusan, jelas itu akan menjadi beban pikiran mereka. Apa lagi Jenar, dia bisa tambah panik nanti.
Ueekkk... Ueekkk
Aku berlari masuk ke dalam rumah, menabrak Mas Damar dan masuk ke dalam dapur. Rasa nya perut ku tak nyaman, seperti di remas-remas sehingga membuat isi di dalam nya Seakan-akan keluar.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Mas Damar panik, ia mengikuti langkah ku masuk ke dalam dapur.
"A-aku ngga tahu , Mas. Perut ku mual, asam lambung naik kayak nya, soal nya tadi makan yang asem asem. " jawab ku sekena nya.
"Oh, makanya kalau makan lihat lihat. " ujar Mas Damar sembari memijat tengkuk ku.
Sejujur nya pikiran ku berputar pada perkataan nenek tua tadi.
Mengingat sudah dia bulan aku tidak mendapat bulanan, dan sudah lebih dari empat bulan aku tidak KB.
Tapi aku ingin diam dulu. Nanti aku buktikan keberadaan nya terlebih dahulu, sebelum memberitahu Mas Damar.
"Mas, nenek yang kamu bilang itu rumah nya di mana? Nama nya siapa?" tanya ku pada Mas Damar.
Ia yang sedang bermain dengan anak-anak hanya menatap ku sekilas.
"Di dekan makam lama. Belokan ujung jalan. Nama nya Sumi" jawab Mas Damar.
"Oh, tadi dia kesini. Mampir saja. Kapan kapan main yuk, Mas!" ajak ku.
Mas Damar hanya mengangguk. Ia tak terlalu menanggapi karena Sekar terlalu sibuk mengajak nya bermain.
Aku ingin bertanya pada nenek itu, apa yang dia tahu, dan apa yang dia maksud tadi. Aku sungguh penasaran.
*****