Life With Ghost

Life With Ghost
Chapter 19



Chapter 19


"Jenar kamu kenapa, Nak? " tanya ku pelan.


"Ja-Jangan mendekat Jenar... Jenar mau bobok sama Bapak aja! " Seru Jenar yang tangan nya sangat gemetar.


Aku sama sekali tak tahu, apa yang sebenarnya anak ini lihat. Mengapa tangan nya sampai gemetar seperti itu.


Setelah semua tenang, akhir nya Mas Damar memutuskan anak anak akan tidur bersama di kamar kami. Takut jika nanti Sekar mengigau seperti tadi, Mas Damar akhirnya mengunci pintu kamar, dan mengganjal nya dengan besi.


"Sudah, sekarang semua nya tidur. Jangan bergadang. Besok Bapak mulai bekerja, jangan sampai kesiangan, ya. " ujar Mas Damar yang langsung tidur begitu saja.


Aku menatap ke-dua anak ku. Lalu tersenyum dan mengangguk ke arah mereka, meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja.


Sekar mengangguk, lalu tertidur di sebelah Mas Damar. Sedangkan Jenar, dia masih bergeming tanpa mengucapkan sepatah kata pu.


"Tidur, yuk! " ajak ku sembari memegang pundak nya.


Ia hanya menoleh, tanpa mengubah ekspresi sama sekali.


___________


Pagi sudah tiba. Yang kami takutkan benar terjadi, kami bangun ketika matahari sudah mulai sedikit menyebul.


Aku segera bangun dan mulai bergelut dengan dapur, tetapi kepala yang terasa berdenyut dan tubuh yang terasa sangat lemas, membuat ku terjatuh di ruang tamu.


"Astagfirullah, Yanti! Kamu kenapa, Sayang? " ujar Mas Damar yang langsung berhambur ke arah ku.


"Ngga tahu, Mas. Kepala ku pusing. " jawab ku.


"Ya sudah, tidak usah masak. Nanti Mas belikan makanan di kedai sana. Siang Mas juga akan pulang membeli makanan. Kamu istirahat total, ya. Jangan lupa nanti tes, siapa tahu benar ada dedek nya. " ujar Mas Damar sembari mengusap perut ku.


"Iya, Mas. Makasih, ya. "


Setelah kembali tertidur di sofa ruang tengah sembari menunggu Mas Damar pulang membeli sarapan, aku segera memeriksa ponsel.


Tetapi, Tiba-tiba Jenar berlari dari arah tangga dengan wajah pucat. Ia berlari dan langsung memeluk ku.


"Ya, Allah! Jenar, kamu kenapa? "


Ia bergeming. Hanya menggeleng dengan wajah yang seperti habis menangis.


"Ada apa, Nak? "


"Ibu kenapa tinggal kan Jenar sendirian? " tanya nya dengan suara sedih.


"Kok sendirian, kan ada adik. " jawab ku.


Aku teringat akan kejadian semalam. Apa yang sebenarnya membuat Jenar ketakutan.


"Coba cerita kan sama ibu, apa yang kamu lihat semalam? " tanya ku pada nya. Mencoba mencari tahu kejanggalan yang kami alami tadi malam.


"Je-Jenar lihat sesuatu semalam. Jenar lihat, seorang wanita besar tinggi, kurus badan nya. Bahkan kayak tengkorak , tapi sangat tinggi.


Bahkan menyentuh plafon. Rambut nya gimbal, tangan nya memiliki kuku tajam, setajam pisau, Bu...


Terus... Mata nya besar, kayak telor ayam. Dan yang lebih seram nya, seluruh kulit nya kayak mengelupas, sampai bergelambir. Dan... Dia telanjang bulat, Bu! " jelas Jenar yang hampir membuat ku tak percaya.


"Dia menarik adik, kata nya adik mau dibawa pergi. Karena adik adalah anak nya! "


Anak nya? Astagfirullah, kepala ku semakin berdenyut nyeri.


Rasa nya aku semakin tak dapat berpikir hal baik, hingga aku rasa kan tubuh ku ambruk ke sofa dan pandangan ku gelap.


"Sayang, Yanti! Bangun, Sayang! "


"Dek, kamu tidak apa apa? "


Samar aku melihat Mas Damar saat mata ini mulai terbuka.


Hal pertama yang aku lihat adalah, ruangan yang berwarna putih, dengan aroma obat yang menguar ke penciuman.


Aku mengedarkan pandangan, menelisik ke setiap penjuru tempat.


Tampak kedua anak ku tengah terduduk di sofa sebelah ranjang tempat aku berbaring. Wajah mereka sama cemas nya.


"Kenapa aku di rumah sakit, Mas? " tanya ku lirih.


"Tadi kamu pingsan. Kata dokter bawaan kandungan. Kamu benar hamil, sayang. Dan sudah masuk tiga bulan. " Jawab Mas Damar.


"Alhamdulillah."


"Kata dokter, kamu di suruh untuk banyak istirahat. Soal nya badan kamu lemah, ngga boleh banyak stress juga. " ujar Mas Damar lagi.


Aku hanya mengangguk. Biarlah badan ku lemah, yang penting kandungan ku sehat.


Mas Damar membuka bingkisan makanan. Tampak nasi padang dengan lauk gulai ayam ia bawakan.


Mencium aroma itu, justru membuat perut ku terasa semakin di aduk.


"Um,nggak mau, Mas. " Seru ku sembari mendorong tangan nya yang akan menyuapi ku.


"Eh, mual, ya? Ya sudah, kita makan bubur saja, ya. " ujar Mas Damar yang langsung membawa pergi bungkusan itu menjauh.


Sekar yang sejak tadi tertawa, akhir nya meraih bungkusan itu dan memakan nya. Selama ini dia tidak suka pedas, kenapa sekarang jadi sangat suka.


"Eh, Dek. Jangan makan di sini, kasihan ibu."ujar Jenar yang tampak sadar sendari tadi aku menutup hidung.


" Ngga apa, Sayang. Kalau adik mau makan, biar makan saja. " sahut ku cepat. Meski sebenarnya aku juga menahan.


"Tapi, Bu. Adik baru saja selesai makan. Baru saja bareng Jenar dan Bapak. " ujar Jenar.


"Nggak apa, Nak. Mungkin adik masih selera. " jawab ku cepat.


Tidak biasa nya Sekar makan banyak. Di antara kami dia lah yang makan paling susah. Tapi kali ini seperti nya berbeda.


Tak apa lah, aku tak ingin ambil curiga. Biasa bukan? Anak-anak memang nafsu nya masih labil. Paling juga nasi satu bungkus itu tak akan habis.


Brruukk!


Aku dan Mas Damar mendongak ke arah Sekar. Baru saja aku pikir tak habis, tapi Sekar sudah menghabiskan tanpa sisa nasi bungkus itu.


Ia menjatuhkan bungkus nasi itu ke lantai, sembari menjilati tangan nya yang terkena gulai ayam.


"Dalam hitungan menit? Ia menghabiskan makanan itu?! " Seru Mas Damar tak percaya. Begitu juga dengan diri ini.


*****