Life With Ghost

Life With Ghost
Chapter 23



Chapter 23


"Nenek Sumi!" seru Mas Damar terkejut.


"Tidak perlu khawatir. Anak mu akan baik baik saja nanti. " ujar nya menatap tajam ke arah kami.


"Sekarang bawa istri mu ke rumah nenek. Nenek akan bantu kamu nanti." timpal nya lagi.


Ia berjalan dari belokan ke arah makam yang pagar nya sudah berkarat dan menuju sebuah jalan setapak.


Mas Damar memapah ku kembali menaiki motor, begitu juga dengan Jenar. Setelah kami semua naik, Mas Damar melajukan motor dengan sangat hati-hati.


Ternyata dari jalan setapak ini, rumah nya sudah tidak jauh lagi.


Rumah dengan dinding yang masih papan, dan berlantai kan semen kasar itu tampak sedikit kumuh. Mungkin karena dia tinggal seorang diri dan memang sudah renta.


"Ayo, Masuk!" seru nya setelah kami tiba di depan rumah nya.


Mas Damar memapah ku berjalan masuk ke dalam rumah yang berukuran sedang ini.


Nenek Sumi menyuruh Mas Damar menidurkan aku di ranjang yang terletak di dekat kursi dan meja kecil. Sekilas tempat ini mirip rumah sakit dalam versi sederhana.


Entah mengapa aku merasa bahwa nenek ini seorang tabib penyembuh seperti jaman dahulu.


"Saya sudah tinggal di sini selama dua puluh lima tahun. Saya sangat paham dan sangat mengerti tentang daerah ini." ujar Nenek Sumi sembari mengunyah kapur sirih yang membuat gigi nya berubah merah.


"Tempat ini, adalah tempat para Jin di buang. Baik Jin penglaris, Jin buang anak, dan masih banyak jenis nya lagi. Itu sebab nya, saya meminta agar kalian tidak menempati rumah itu ketika malam hari." timpal nya lagi.


"Maksud Nenek, bagaimana?" tanya ku penasaran.


"Awal nya, saya kira kamu tidak hamil. Maka nya saya hanya mengatakan jangan pindah ketika tengah malam. Tetapi saat tahu kamu hamil, saya tidak memberi tahu kamu tentang satu hal." jawab nya yang semakin membuat ku penasaran.


"Tolong, jelaskan apa maksud nya?" seru ku tidak sabar. Selain rasa sakit di perut ini, kata kata nya sungguh membuat aku penasaran.


"Rumah itu dulu, di tempati oleh penjaga hutan ini. Usut punya usut, ternyata dia menggunakan jin penglaris dari salah satu anak jin yang menunggu hutan jati. Lalu ia pergi dan mengunci anak jin itu menjadi peliharaan nya.


Ibu nya yang tidak terima, selalu mencari korban dari anak kecil atau janin dari wanita hamil yang menempati rumah itu.


Setahu saya, kamu hanya punya anak kecil, jadi saya saran kan jangan datang malam hari. Kalau saya tahu kamu juga hamil, saya pasti akan menyuruh mu datang kemari dulu sebelum tinggal di sana." Jelas nya. Kini aku paham sekarang.


"Lalu, sekarang bagaimana nasib anak dan istri saya, Nek?" tanya Mas Damar dengan raut wajah cemas.


"Tenang lah. Jin itu tidak seberapa sulit di tangani. Malam ini juga kita usir dia, kalian tidak perlu khawatir soal itu." jawab nya santai.


Ia menyiran daun itu dengan air panas yang di campur dengan garam. Lalu memberi kan nya pada ku.


"Minum lah, maka ganguan jin akan mereda pada bayi mu. Selain itu juga, air ini bisa memperkuat kandungan. Selebih nya, hanya Gusti Allah yang berkuasa." ucap nya.


Aku menururti perkataan nya dengan menerima gelas yang berisi minuman dari daun Bidara itu. Rasa nya seperti air putih biasa. Jadi aku cepat menghabiskan nya.


Setelah selesai, Nenek Sumi meminta ku agar berbaring di ranjang, lalu mengangkang kan kaki.


Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan, mungkin akan memeriksa janin ku atau membersihkan darah yang mulai mengering yang mengalir dari kewanitaan ku.


"Tahan sedikit!" seru nya yang membuat ku susah payah menelan saliva.


"Aaarrggghhh!" teriak ku parau.


Rasa nya seperti tersengat listrik ketika daun Bidara yang telah di siram air panas tadi di tempel kan di ******** ku.


Rasa nya persis seperti ketika tangan kita dalam keadaan basah dan memegang kabel yang terbuka. Tapi jika belum pernah merasakan, jangan pernah coba.


Kaget, sakit, perih. Tiga kata itu yang saat ini aku rasa kan. Meski rasa nya hanya sebentar saja, tetapi tetap saja, itu mengerikan.


"Pengaruh buruk sihir jin liang itu sudah menghilang dari janin mu. Kamu tidak perlu khawatir." ujar Nenek Sumi setelah melepas daun Bidara itu dari area bawah ku.


Rasa nya sudah sedikit hilang nyeri yang tadi terasa begitu memilukan. Sampai sulit berpikir positif.


"Lalu bagaimana dengan Sekar, Mas?" tanya ku pada Mas Damar.


"Kalian punya anak yang lain?" tanya Nenek Sumi.


Aku melongo mendengar penuturan nya. Bukan kah tadi dia mengatakan bahwa anak ku akan baik baik saja, lalu mengapa sekarang masih bertanya?


"Bukan nya Nenek sudah tahu, kalau kami memang punya anak dua?" tanya ku.


"Tidak, saya tahu nya cuma anak kecil ini." jawab nya dengan dahi berkerut.


"Lalu, yang Nenek maksud anak saya akan baik baik saja tadi apa?" tanya ku lagi.


"Yang saya maksud adalah anak yang ada di dalam kandungan mu. Memang nya kamu pikir siapa?" tanya nya balik.


"Astagfirullah!"


*****