
Tiga tahun kemudian. Di gedung pencakar raksasa, terlihat sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di pintu utama. Seorang wanita elegan menyembul keluar seketika, diikuti dua orang bocah laki-laki yang memiliki wajah serupa. Dialah Shakila dan dua anak kembarnya, kini wanita itu nampak modis dan jauh dari kata tomboy, dress selutut yang ia kenakan membuat dirinya semakin nampak menawan.
Shakila memakai pakaian serba hitam, di mulai dari kacamata, dress, tas bahkan heelsnya pun senada. Sementara, di sampingnya, Noel dan Niel berjalan cepat memasuki kantor Daddynya.
"Ayo, Mommy. Nanti Daddy di peyuk-peyuk sama wanita gila!" teriak Noel sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Iya, benal Mommy. Ayo cepat!" Niel malah menghidupkan mainan mobilnya dan meletakan mobil mini itu ke lantai marmer. Lalu menyalakan remote control-nya.
Di belakang, Shakila mengulas senyum tipis, melihat tingkah kedua anaknya yang semakin hari semakin menggemaskan.
Shakila menaikan kacamatanya ke atas rambut."Oh ya, benarkah? Memangnya siapa wanita gila yang berani peluk Daddy?"
Kemarin Noel dan Niel bercerita kalau di kantor Daddynya ada wanita yang berusaha menggoda Daddy mereka. Shakila tentu saja tahu hal itu. Tapi wanita itu adalah suruhan Calvin. Entah apa motif Calvin, Shakila tak peduli. Shakila sudah terbiasa, malahan dia berterima kasih karena dengan begitu dapat melihat kesungguhan hati Chris. Selama dua bulan ini, sudah 5 lima orang wanita yang berusaha menganggu Chris tapi berakhir di pecat oleh suaminya sendiri. Puncaknya adalah kemarin kala Noel dan Niel yang acapkali bermain di kantor Chris, tak sengaja melihat wanita yang di sinyalir suruhan Calvin, berusaha menggoda Chris. Jadi, sepulang dari kantor, mereka mengadu pada Mommynya.
Kedatangan ia kemari juga karena kemauan Chris. Yang katanya minta ditemani kerja karena beberapa bulan belakangan, perkerjaannya semakin menggunung jadi dia meminta Shakila datang ke kantor, memijatnya seperti yang biasa Shakila lakukan di rumah.
"Ada Mommy! Ayo cepat! Ish! Mommy jalannya kayak ciput!" seru Noel sambil menghentikan gerakan kaki dan menatap tajam Mommynya.
"Haha." Shakila malah tertawa pelan.
"Ayo Mom!" Niel berjalan cepat, mendekati Mommynya dan menggandeng tangan Mommynya.
"Iya, iya sabar ya Sayang." Tampaknya Noel dan Niel benar-benar tak sabaran.
Sesampainya kantor, Shakila melempar senyum tipis, melihat wanita yang dikatakan kedua anaknya, berusaha menarik perhatian Chris, dengan memakai pakaian terbuka di bagian atas, hingga menampakkan belahan dadanya. Tapi Chris tak mengubrisnya sedikitpun. Pria itu malah sibuk menatap layar laptop.
"Sayang, kamu sudah datang?" Chris yang sedang mengetik, menghentikan gerakan tangannya seketika.
"Tentu saja Sayang, apa aku menganggumu, Sayang? Aku tak tahu ada sekretaris baru?" Shakila menyeringai tipis sambil membusungkan dadanya, bermaksud menampakkan dadanya yang lebih besar dari sekretaris baru Chris.
Sekretaris itu memutar mata malas, melihat kedatangannya.
"Pecat saja wanita gila ini Daddy!" teriak Noel dan Niel serempak, tiba-tiba.
Sekretaris itu tampak terkejut.
Chris melirik sekretaris itu sekilas, dengan sorot mata tajam. "Ya, Daddy pun aku akan memecatnya sekarang, memang sebaiknya Mommymu saja yang jadi sekretaris Daddy, 'kan?" Chris bangkit berdiri lalu menarik pinggang Shakila seketika.
Shakila mengalungkan tangannya di leher Chris sambil melempar senyum tipis.
"Ya Daddy benal!" Sekali lagi Noel dan Niel berseru sambil cekikikan setelahnya kala melihat wajah panik sang sekretaris.
"Mister, salah saya apa? Saya minta maaf Mister, kalau saya berbuat salah." Sekretaris itu mengatup kedua tangannya di depan dada.
"Hei, Aunty kan memang punya salah, bagaimana sih! Sekalang Aunty pelgi dali sini!" Bukan Chris yang menjawab, melainkan Noel dengan suara cemprengnya. Sementara, Shakila dan Chris saling melemparkan pandangan sejenak, mengulum senyum, melihat tingkah kedua anaknya itu, yang overprotektif.
"Tapi Mister–"
"Apa kamu tuli? Pergi dari sini! Uangmu akan di transfer Ricki nanti, titipkan salamku pada Calvin, katakan padanya jika masih menganggu keluargaku, bersiap-siaplah orang suruhanmu akan ku bunuh, jangan lupa suruh Ricki kemari setelah kamu sampai di luar," sela Chris seketika sambil menatap tajam.
Sekretaris langsung terdiam. Bergedik ngeri sejenak saat mendapatkan tatapan mematikan dari Chris. Tanpa banyak kata dia melangkah pergi dari ruangan karena tak mau terlalu lama, melihat kemesraan yang ditampilkan Chris dan Shakila saat ini.
"Jangan terlalu kasar, Sayang. Noel dan Niel masih di sini." Selepas kepergian sekretaris itu, Shakila membuka suara.
"Tak apa Sayang, mengerti juga harus begitu, tegas dan tidak memberi celah pada orang yang jahat pada mereka," sahut Chris sambil melirik Noel dan Niel yang kembali bermain dengan mobilnya.
"Hm, baiklah, oh ya apa jadi mau diurut?" tanya Shakila.
Chris tersenyum penuh arti lalu melabuhkan kecupan cepat di bibir merah Shakila. "Tunggu Ricki datang kemari."
Dahi Shakila berkerut samar. Melihat senyuman Chris yang terlihat mencurigakan, menurutnya.
Dalam sepersekian detik, Ricki pun mulai masuk ke ruangan.
"Iya, kamu temani Noel dan Niel bermain di luar, ada yang harus aku kerjakan dengan Shakila." Chris mencium bibir Shakila lagi sambil menatap penuh nafsu. Shakila langsung memutar mata malas karena tahu apa yang diinginkan suaminya kini.
"Baik Mister."
"Noel, Niel, ikut Uncle Ricki keluar ya, Daddy mau membuatkan kalian adik," celetuk Chris seketika.
"Yei! Buatin yang banyak ya Daddy, hihi, ayo Niel kita keluar!" Noel segera menarik tangan Niel untuk keluar bersama Ricki.
"Ahk!" Begitu pintu di tutup, Shakila menjerit histeris kala tubuhnya di angkat seperti karung beras tiba-tiba. "Sayang, kan semalam udah, capek tahu," protes Shakila sambil memberontak. Namun, Chris tak mengiyakan perkataan Shakila. Pria itu malah membawa Shakila ke ruangan khusus.
Sementara itu, di luar, Noel dan Niel malah melihat Ricki menggoda karyawan perempuan yang kebetulan melintas di dekatnya.
"Bree, apa kamu tak mau dinner denganku, aku mohon terimalah ajakanku," kata Ricki, memohon.
Wanita berambut pendek itu malah menyilangkan tangannya di dada lalu menolak ajakan Ricki. Namun, Ricki tak menyerah. Dia berusaha membujuk wanita tersebut. Lantas, keduanya pun mulai berdebat. Mengabaikan Noel dan Niel yang mendongakkan kepalanya ke atas.
"Uncle Licki tidak kelen, apa sebaiknya kita telepon Uncle Licko dan Aunty Gissel, Kak?" tanya Niel.
"Tidak usah, bialkan saja. Lebih baik kita main mobil saja yuk." Noel mengajak adiknya untuk bermain mobil yang mereka bawa dari rumah.
"Ayuk!" Niel dan Noel langsung berlarian ke lorong lain, meninggalkan Ricki yang menyadari kepergian mereka.
Ricki masih saja beradu mulut. Sampai pada akhirnya suara yang tak asing ia kenal, membuat Ricki menoleh.
"Nyonya Bernadet?" Ricki melonggo sejenak. Melihat Bernadet datang tiba-tiba ke kantor. Selama beberapa tahun ini wanita tua itu menghindari Chris dan cucu-cucunya.
Sementara karyawan wanita tadi langsung melenggang pergi.
"Hm, di mana Chris? Apa dia sedang sibuk?" Bernadet mengangkat angkuh dagunya. Sambil melirik ke sana kemari, seperti mencari sesuatu.
"Yah! Mobilnya tidak bisa jalan lagi, pelmisi Nyonya, kakimu menghalangi mobil kami jalan-jalan."
Belum sempat Ricki mengerakkan bibirnya. Noel berbicara kala mobil mainannya berhenti tepat di kaki Bernadet. Sementara, Niel baru saja sampai.
Bernadet melebarkan matanya lalu menatap Noel dengan tatapan sendu. Selama tiga tahun ini, diam-diam Bernadet memperhatikan cucu-cucunya, dengan bantuan orang suruhannya. Yang kerapkali mengirimkan dia foto Noel dan Niel. Ingin sekali dia menimang dan mengendong mereka. Namun, karena keangkuhannya Bernadet memilih memendam keinginannya. Ia tak mengira kedatangannya kemari untuk meminta uang pada Chris malah membuatnya bertemu Noel dan Niel.
"Glandma! Wah, Niel ada Glandma!" teriak Noel.
Bernadet tampak terkejut. Bagaimana bisa mereka tahu bahwa dirinya adalah Grandma mereka. Bukankah selama ini mereka tak pernah bertatap muka.
Niel mendongakkan kepalanya ke atas. "Wah! Glandma! Yiipiiiii!" serunya sambil memeluk kedua kaki Bernadet. Noel pun melakukan hal yang sama.
Bernadet membeku sejenak. Sebuah perasaan hangat menjalar di relung hatinya. Reflek, dia membungkukkan badan lalu berkata,"Cucu Grandma sudah besar ya, siapa yang bilang ini Grandma kalian?" Bernadet mengulas senyum lebar sambil mengubit gemas pipi bulat keduanya, bergantian.
"Mommy! Kan ada foto Glandma, hihi, Glandma main ke lumah Noel dan Niel yuk." Noel cekikikan.
Bernadet tersenyum hambar. Apa dia diperbolehkan mengunjungi kediaman Chris. Mengingat selama ini dia tak pernah berkunjung. Melihat wajah Noel dan Niel secara langsung, Bernadet diterpa dilema.
"Nyonya, maafkan Noel dan Niel, mer–"
"Sudahlah tak apa-apa, Ricki. Biarkan aku bermain dengan cucuku sebentar, kalau Chris masih sibuk tak apa, katakan padanya nanti berikan aku uang, takut aku lupa," sela Bernadet cepat sambil menggandeng tangan Noel dan Niel.
Ricki mengulas senyum lebar. Sepertinya sikap Bernadet mulai melunak. Itu semua berkat daya pikat Noel dan Niel. Siapa yang tak terpesona dengan kelucuan Noel dan Niel, semuanya pasti akan luluh pada akhirnya.
"Baik Nyonya."
"Ayo, Noel dan Niel ikut Grandma duduk di situ ya, Grandma punya mainan baru," kata Bernadet setelahnya sambil menarik tangan Noel dan Niel menuju sofa di lorong.
"Yeiii, asik! Okidoki Glandma! Hihi!" Kaki munggil Noel dan Niel melangkah perlahan, mengikuti gerakan kaki Bernadet. Keduanya nampak bergembira.