Kissing Strangers

Kissing Strangers
Kissing Strangers-Mencium Orang Asing



Keesokan harinya, kini status Shakila dan Chris telah berubah. Kadangkali keduanya menikmati masa indahnya di kampus. Shakila senyam-senyum sendiri saat mengingat ciuman panas yang ia lakukan bersama Chris di dalam laboratorium tadi pagi. Hampir saja mereka melakukan hubungan yang tak seharusnya dilakukan.


Saat ini Shakila, Merry dan Rika tengah duduk di kantin sambil menunggu pesanan datang. Merry dan Rika mengerutkan dahi, melihat tingkah Shakila, yang seperti orang gila.


"Heh! Shakila, kamu kenapa? Kayak orang gila aja! Kemarin sedih sekarang senyam-senyum nggak jelas!" kata Merry sambil menyelipkan rambut pendeknya ke telinga.


"Iya benar, di sangka teman-teman nanti kita dikira temanan sama orang gila, aku sih ogah, kenapa sih? Kamu dapat uang 1 M atau bagaimana?" Rika pun sama penasarannya.


Dengan senyuman yang tak memudar dari tadi, Shakila menatap keduanya bergantian. "Hehe ada deh! Kepo banget dah," sahutnya.


"Ish! Jahat banget sih, kalau lagi senang-senang malah lupain kita, coba kalau sedih!" Merry mengerucutkan bibirnya ke depan sejenak.


"Iya benar tu Mer, si Shakila kalau udah mainan baru pasti kita dilupain tuh, dasar kulit lupa kacang!" seru Rika.


Shakila dan Merry menghela napas pelan sejenak, mendengar perkataan Rika.


"Kacang lupa kulit, Rika!" protes Merry cepat.


"Iya, iya, terserah!"


"Jangan gitu dong, lagian kalau aku kasi tahu, kalian pasti ember, soalnya Pak Chris bilang jangan kasi tahu siapa-siapa kalau kami pacaran." Shakila melebar matanya seketika tatkala membeberkan hubungannya pada kedua teman akrabnya itu. Secepat kilat ia membekap mulutnya sendiri.


"Aaaaa apa?" Merry dan Rika terkejut. Bibir mereka mengangga sedikit sejenak. Rika bangkit berdiri tiba-tiba lalu mendekati Shakila dan memegang kedua pundak Shakila.


"Sha, jadi kalian pacaran?" tanya Rika. Tentu saja sebagai seorang sahabat dia sangat senang.


Tanpa sadar Shakila mengangguk cepat. Shakila memukul kepalanya sendiri tiba-tiba saat keinginan hati dan anggota tubuhnya tak selaras.


"Woaaaaa! Senangnya." Rika memeluk sejenak tubuh Shakila.


"Selamat ya, traktir kita entar, hehe." Merry pun tak kalah senangnya.


"Iya, iya." Shakila mengurai pelukan Rika seketika. "Sekarang duduk gih, makanan udah mau datang tuh," katanya sambil menunjuk dengan menggunakan bibirnya, ada seorang waitress wanita membawa nampan berisi pesanan mereka. Rika bergegas duduk kembali ke tempat semula. Waitress pun mulai menaruh bakso, nasi goreng dan nasi gila di atas meja serta 3 gelas es teh manis.


"Tapi kalian jangan kasi tahu siapa-siapa ya, cukup kalian aja yang tahu." Selepas kepergian waitress Shakila mulai membuka suara. Dia tak mau melanggar perintah Chris. Walau bagaimanapun dia sudah berjanji. Namun, ya nasi sudah menjadi nasi goreng, karena nyatanya mulutnya tidak bisa diajak berkerjasama.


"Lah tumben, biasanya kamu gembar gembor tuh," celetuk Rika dengan dahi berkerut kuat.


"Ish, ini sekarang beda tahu, aku harus berbakti sama calon suamiku." Shakila menebarkan senyum manisnya.


Merry dan Rika geleng-geleng kepala.


"Baru aja pacaran, perjalanan masih panjang, Shakila, ya tenang aja kami nggak akan kasi tahu orang, palingan mulut kamu tuh yang harus direm, lihat aja tuh tadi kamu sendiri yang ngasi tahu." Merry langsung mengeluarkan pendapatnya.


"Hehe, sorrry, pokoknya janji ya sama aku, jangan kasi tahu siapapun! Nanti aku dimarah sama Pak Chris lagi." Shakila berusaha memperingati keduanya karena tadi pagi Chris sempat mengingatkannya.


"Iya, iya udah yuk, sekarang kita makan, lapar nih!" Rika mengajak kedua temannya untuk makan saat aroma bakso miliknya, menyeruak ke indera penciumannya.


Shakila dan Merry mengangguk cepat, lalu mulai mengambil sendok masing-masing.


Shakila menggedikkan baju sedikit. "Nggak tahu, tergantung," katanya lalu memasukkan kembali nasi goreng ke mulutnya.


"Ikut dong, seru tahu! Kamu harus ikut Shakila, katanya kita mau camping di desa. Kapan lagi coba, hehehe. Sekalian kamu foto-foto ntar sama ayangmu," Rika berkata sambil mengedipkan mata genit ke arah Shakila.


Shakila tak membalas. Dia malah memasukkan kembali makanannya ke mulut.


Selang beberapa menit, setelah menyantap makan siang mereka. Shakila, Merry dan Rika bergegas pergi ke perpustakaan hendak mengembalikan buku yang mereka pinjam tadi. Setelah menyelesaikan urusannya di perpustakaan. Mereka hendak kembali ke kelas, siap-siap untuk mata kuliah terakhir hari ini. Namun, saat sampai di koridor yang menghubungkan kelas dan kantor. Langkah kaki mereka terhenti tatkala Calvin tiba-tiba berdiri di hadapan mereka.


"Shakila, kamu masih sibuk sekarang?" Calvin bertanya seketika.


Shakila melirik Merry dan Rika sekilas.


"Hm, nggak sibuk sih Pak, tapi—"


"Kalau ada waktu, apa kamu bisa ikut Bapak sebentar?" Calvin menyela perkataan Shakila seketika, sambil mengulum senyum tipis ia bertanya.


Shakila tak langsung menjawab. Sekali lagi matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, hendak berbicara dengan kedua temannya melalui bahasa isyarat yang hanya mereka pahami.


"Shakila banyak waktu kok Pak, udah ambil aja!" Merry langsung mendorong pundak Shakila seketika.


Mata Shakila melebar, melihat sikap Merry yang menyebalkan, menurutnya. Bagaimana tidak, padahal tadi dia meminta agar keduanya mengatakan dirinya sibuk.


"Iya benar, ambil aja Pak!" Rika pun sama, sama-sama menyebalkan, menurut Shakila. Shakila menatap tajam Rika seketika. Namun, Rika tak peduli.


"Silakan Pak, culik aja Shakila, eh tapi nanti dikembaliin ya," kata Rika sambil menggapai tangan Merry. "Udah yuk, Mer. Kita masuk kelas dulu." Merry mengangguk cepat lalu mulai menggerakan kaki.


"Kami permisi dulu Pak!" sahut Rika dan Merry serempak sambil melempar senyum jahil pada Shakila.


Shakila semakin melototkan matanya. Sementara Calvin membalas dengan menganggukkan kepala.


"Ayo, ikut Bapak sebentar Shakila." Calvin mulai membuka suara setelah melihat Rika dan Merry sudah menghilang dari pandangan.


Shakila tampak serba salah. Mau tak mau ia menganggukkan kepala.


***


Shakila keheranan, mengapa Calvin membawanya ke taman belakang sisi kanan kampus, yang di mana banyak bunga-bunga bermekaran. Shakila baru menyadari jika di area taman kampus, terdapat hamparan bunga yang indah, cocok sekali sebagai tempat untuk berpacaran, pikirnya sesaat. Namun, yang menjadi pertanyaan Shakila adalah mengapa Calvin membawanya kemari. Kenapa tidak di tempat lain saja.


"Ada apa Pak?" Karena tak mau menerka-nerka. Lebih baik Shakila langsung bertanya kala Calvin malah terdiam sedari tadi.


Calvin tampak sedikit gugup. Jakunnya terlihat naik dan turun, seperti tengah membasahi kerongkongannya. Terdengar tarikan napas panjang dari hidungnya seketika.


Shakila semakin mengerutkan dahi. Akan tetapi, feelingnya mengatakan kalau dosennya ingin menyatakan sesuatu yang sangat penting.


"Pak, mau ngomong apa? Shakila harus ke kelas sebentar lagi." Shakila membuang napas kasarnya.


"Maaf sebelumnya, Bapak mau tanya, hal yang lumayan privasi, makanya Bapak bawa kamu ke sini. Em jadi begini kamu sekarang lagi dekat sama siapa?"