Kissing Strangers

Kissing Strangers
Kissing Strangers-Mencium Orang Asing



Chris mengajak Shakila pergi ke rumah sakit hendak bertemu Pamannya. Ingin bertanya mengapa Mamanya mengatakan kalau dia bukanlah anaknya. Selagi pergi ke rumah sakit, Chris menyuruh Ricki untuk melihat - lihat Calvin. Walau Calvin sudah tumbang, alias tak ada lagi orang-orang kepercayaannya lagi tapi tetap saja tidak menutup kemungkinan, Calvin dapat melakukan sesuatu lagi yang akan membahayakan dia ke depannya. Merry dan Rika pun di suruh Chris untuk bersama Ricki. Sementara Ricko ikut dengannya pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di sana, Chris kaget, melihat para penjaga berdiri di depan pintu rumah sakit.


"Biarkan aku masuk, aku Chris Costello," kata Chris karena wajah para penjaga nampak asing dan tak pernah ia lihat.


"Costello?" Seorang pria berkulit hitam, menelisik penampilan Chris dari atas sampai ke bawah lalu menekan earpiece yang terpasang di telinganya seketika. Ia berbicara dengan seeorang di ujung sana sejenak.


Chris dan Shakila melemparkan pandangan satu sama lain.


"Baiklah, silakan masuk, kamar Tuan Benvolio lantai 6," sahutnya kemudian.


Anggukan pelan sebagai balasan Chris. Sebelum melangkah, Chris memberi kode pada Ricko untuk menunggunya di luar. Lalu menarik tangan Shakila ke dalam bangunan rumah sakit tersebut.


Sesampainya di atas, Chris mengerutkan dahi, melihat para penjaga memasang kuda-kuda siap sedia.


Saat pintu kamar terbuka, mata Chris langsung bertemu dengan mata pamannya.


Pamannya tengah duduk di atas ranjang dengan infus terpasang di tangan kanannya.


"Akhirnya kamu sampai juga," desis Benvolio sambil mengulas senyum tipis.


Chris melangkah maju, mendekati pamannya.


"Paman, maaf aku baru bisa menjengukmu, sebenarnya beberapa minggu yang lalu, aku mencoba menghubungimu tapi tidak bisa karena anak buah Calvin–"


"Tutup pintunya!" sela Benvolio seketika sambil menyuruh salah seorang penjaganya yang berdiri di dekat pintu. Pria itu mengangguk lalu menutup perlahan-lahan pintu tersebut. "Maaf menyela, ya Paman juga baru tahu dari Fabrizio, tapi sekarang, kamu tak perlu takut Chris, maafkan Paman, bukannya membantu, malah menyusahkanmu, ini semua gara-gara abangmu itu, Paman tak bisa memprediksi kalau dia ternyata menaruh iri padamu, pria itu benar-benar licik, kamu pasti bingung, mengapa bodyguard Paman baru, itu semua karena kelicikan Calvin, dia menaruh bodyguard suruhan di sekitar Paman," katanya kemudian dengan rahangnya sedikit mengeras.


"Iya, tak apa Paman, ini di luar perkiraan kita, tapi sekarang pasukan dia sudah tak ada lagi, jadi bagaimana dengan keadaan Paman sekarang?"


Sebelum menjawab, Benvolio menarik napas dalam. "Sudah lumayan membaik, baguslah, Paman senang mendengarnya," katanya sambil mengulas senyum tipis. "Siapa ini?" Benvolio melirik Shakila sekilas, yang dari tadi hanya diam saja mendengarkan mereka berbicara karena mereka berbicara menggunakan bahasa Italia.


Chris melirik Shakila sekilas. "Dia kekasihku." Dia mengulas senyum tipis sejenak. "Maksudku pendamping hidupku,"katanya dengan bahasa Italia.


Shakila menyengir kuda karena tak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Benvolio tampak terkejut sesaat."Kamu kemanakan Gissel, Chris?" tanyanya dengan satu alis terangkat sedikit.


"Maaf Paman, aku tak bisa menikahi Gissel, tadi aku sudah meminta maaf padanya, kalau aku tak bisa melanjutkan hubunganku dengannya, Paman tahu sendiri kan, aku tidak mencintai Gissel."


Benvolio tak langsung menyahut. Dia melirik Shakila sekali lagi. Lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela. "Iya Paman tahu, aku harap pilihanmu benar Chris, kasihan Gissel sebentar lagi dia pasti akan diasingkan," katanya pelan.


"Diasingkan, maksudnya?" Dahi Chris berkerut samar.


Benvolio menoleh. "Tak usah kamu pikirkan, sekarang ada apa kamu datang kemari, pasti ada yang mau kamu sampaikan bukan?"


"Iya, aku mau bertanya Paman, Mama mengatakan padaku, kalau aku bukan anaknya, apakah benar, Paman?" Chris bertanya-tanya sedari tadi, berharap Pamannya dapat memberikan jawaban atas keresahan hatinya.


Benvolia mendengus kasar sebentar. "Bernadet ternyata sudah berani melanggar janjinya, baiklah, mungkin sudah saatnya aku menyatakan kebenarannya," ucapnya sambil mengubah posisi duduk.


Chris menatap lamat-lamat Pamannya, berusaha mendengarkan seksama apa yang akan di sampaikan.


"Setelah kamu mendengarkan, jangan bersedih, Papamu menyayangimu sebagai anak kandungnya," lanjutnya lagi.


Chris mengangguk pelan.


Lalu Benvolio pun mulai menceritakan kebenaran yang tersimpan rapat-rapat.


"Chris, kamu memang bukan anak kandung Bernadet, dulu aku menemukanmu di jalanan bersama orangtuamu, orangtuamu sudah lama meninggal karena hidup mereka luntang-lantung pada waktu itu."


Benvolio menjeda kalimatnya sesaat sambil menerawang kejadian beberapa tahun silam.


"Saat aku menemukanmu, kamu dalam dekapan mereka, bayi munggil yang tak berdosa menahan dingin dan lapar di malam hari, aku tak tega, jadi aku mengambilmu dan ingin mengangkatmu menjadi anakku, tapi saat itu, istriku tak setuju jadi aku memberikanmu dengan Papamu, dia sangat senang walau pada akhirnya setelah istriku meninggal, Mamamu meminta Papamu menitipkan kamu padaku lagi." Benvolio kembali menambahkan sambil menatap dalam bola mata Chris, yang kini sekarang tampak berkaca-kaca.


Chris membeku. Tak menyangka, wanita yang selama ini ia sayangi bukanlah Mamanya. Wajar saja jika selama ini Mamanya membencinya. Chris menahan agar cairan bening tak keluar dari bola matanya.


"Di mana kuburan mereka Paman?" tanya Chris, penasaran.


Chris enggan menyahut. Dia hanya menunduk lesu.


"Chris, mereka sudah tenang, sekarang kamu harus fokus dengan apa yang sudah di mandatkan Papamu, dia berharap kamu dapat memimpin perusahaannya, besok adalah hari pelantikanmu, selepas itu kamu bisa pergi ke tempat orangtua kandungmu," lanjut Benvolio lagi.


"Baik Paman." Chris mencoba tegar meskipun hatinya sekarang tengah muram. "Sepertinya kita harus membersihkan orang-orang di klan Costello, Paman. Aku mendengar dari Ricko dan Ricki, ada beberapa tetua yang memihak pada Calvin," katanya.


"Ya, aku juga baru tahu, aku serahkan semuanya padamu, Chris. Aku yakin kamu bisa menemukan orang-orang yang terlibat." Benvolio kembali merebahkan tubuhnya perlahan-lahan di atas bed. "Aku mau tidur, supaya cepat pulih dan menghadiri acaramu itu!" sahutnya dengan senyum jahil terpatri di wajahnya kini.


"Baik Paman, aku akan mengurusnya, kalau begitu aku pergi dulu," ucapnya sambil mengulas senyum tipis.


"Hmmm, dan untuk pacarmu itu, datanglah besok, suruh dia memakai gaun, mataku sakit melihat dia memakai jaket aneh itu," ucapnya sambil melirik Shakila sekilas, tanpa ekspresi sama sekali.


Chris menoleh ke samping lalu menggengam lebih erat tangan Shakila. "Baiklah, Paman. Sesuai permintaanmu, besok dia pasti akan memakai gaun yang sangat cantik."


Shakila melemparkan pandangan pada Chris. Dia tampak kebingungan, kala mendengarkan obrolan yang mereka bicarakan tak dia mengerti. Ingin sekali rasanya Shakila memakai google translate menerjemahkan perkataan mereka.


"Hmmm, terserah, pergilah!" Benvolio menggerakkan tangannya seketika lalu memejamkan matanya perlahan-lahan.


***


Sesampainya di luar ruangan, Shakila langsung bertanya,"Pak, tadi ngomong apa sih? Shakila nggak ngerti tahu!"


"Nggak usah dipikirin Sayang, Paman cuma bilang suruh kamu pakai gaun pas hadir di pelantikanku besok," ucapnya sambil mengulum senyum.


"Eits, kirain apa, jadi Bapak bakalan jadi CEO nih, nggak jadi mafia lagi?" tanya Shakila penasaran.


Sebelum menjawab Chris menarik napas panjang. "Sayang, aku memang menjadi CEO, tapi aku tidak bisa melepaskan perkerjaan yang sudah aku geluti dari dulu, kamu tenang saja, sekarang aku akan menekuni perkerjaan mafia yang tidak terlalu ekstrim."


Chris tak bisa meninggalkan perkerjaan yang sudah membesarkan namanya. Meskipun begitu ia akan berusaha bergelut dengan perkerjaan yang tidak terlalu berurusan dengan darah.


Shakila mengulas senyum. "Baiklah, aku senang mendengarnya, maaf kalau aku terlalu ikut campur urusan perkerjaanmu Pa–"


Perkataan Shakila terjeda kala Chris meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


"Shftt, mulai dari sekarang, jangan panggil aku Bapak, panggil aku Sayang atau kalau bisa suamiku," ucapnya sambil menarik pinggang Shakila.


Semburat merah langsung muncul di kedua pipi Shakila. "Ish, Pak malu ih, tuh ada orang di sini," ucapnya sambil melirik ke sana kemari.


"Biarin, kalau kamu masih panggil Bapak, nggak akan aku lepasin!" ucapnya sambil menempelkan tubuhnya ke tubuh Shakila.


Shakila membuang muka ke samping kala pangkal hidungnya dan pangkal hidung Chris hampir bertemu.


"Hm, iya deh iya, Suamiku Sayang," kata Shakila diiringi cekikikan setelah itu.


"Ha, apa? Aku tidak mendengar." Chris tersenyum jahil, melihat ekspresi Shakila yang nampak menggemaskan. Secepat kilat menangkup pipi Shakila.


"Suamiku Sayang," desis Shakila kala mereka saling memandang satu sama lain sejenak. "Eh tapi, kan kita belum nikah, jadi Sayang dulu deh."


"Tenang, aku akan melamarmu nanti."


Mendengar kata lamaran, raut wajah Shakila berubah seketika kala mengingat Daddynya. "Tapi, Sayang harus berhadapan sama Daddy dulu, Daddy galak banget loh," ucapnya dengan raut wajah serius.


Entahlah, Shakila takut Daddynya tak merestui mereka. Apalagi dulu Daddynya pernah mengatakan jangan mencari suami orang luar negeri. Daddynya menginginkan suami lokal. Ditambah lagi Daddynya itu pilih-pilih dalam menentukan pasangan.


"Segalak apa?" tanya Chris, serius.


"Sangat galak! Lebih galak darimu," ucap Shakila.


"Oh ya? Tenanglah, aku bisa menenangkan hati Daddymu," ucap Chris sambil menyeringai tipis.


Shakila enggan menyahut. Dia nampak gelisah, memikirkan nasib hubungan mereka yang berlika-liku ini.


"Sudah, jangan dipikirkan Sayang, ayo sekarang kita pulang," sahutnya sambil mengandeng tangan Shakila.


Shakila mengangguk pelan.