
Sesuai praduga Chris. Para tetua yang dicurigai akhirnya tertangkap juga. Berkat bantuan Ricko dan Ricki serta Fabrizio, mereka tak dapat berkutik sama sekali.
Begitupula dengan Calvin, kini tak memiliki orang kepercayaan yang berada di sisinya. Setelah hampir saja membunuh tangan kanannya kemarin, Fabrizio memutuskan unruk tidak berkerja lagi di bawah Calvin. Dia malah berubah haluan dan ingin menjadi anak buah Chris. Fabrizio mengatakan ia akan membuktikan pada Chris akan menjadi anak buah yang setia padanya. Chris, iya, iya saja, asal Fabrizio dapat bertanggung jawab dengan keputusannya.
Seperti yang dikatakan Benvolio, hari ini adalah hari pelantikan Chris. Pagi-pagi sekali ia telah bangun, hendak pergi ke kamar kekasihnya yang sedari semalam tertidur. Sementara ia dari tadi malam sibuk, mengurus permasalahan yang telah diperbuat Calvin dan baru sampai kamar hotel pagi-pagi buta.
Sesampainya di depan kamar, Chris mengetuk perlahan-lahan pintu kamar Shakila.
"Sayang, ini aku buka pintunya!" Chris berseru dari luar pintu. Shakila melenguh sejenak kala mendengar suara Chris. Bukannya membuka mata, ia malah merubah posisi badan dan kembali tidur. Wajah kelelahan tampak jelas terukir di wajahnya itu.
Saat tak mendengarkan jawaban dari dalam, Chris mengerutkan dahi. Dia melirik arloji sekilas menunjukkan pukul enam pagi. Sebelum pelantikan nanti, Chris berencana akan membawa Shakila ke salon. Dia tak mau terlambat datang ke acaranya. Sekali lagi Chris memanggil-manggil nama Shakila.
"Sayang!" Karena tak mendapat jawaban. Chris mencoba, memutar gagang pintu, yang ternyata tidak dikunci. Tanpa pikir panjang ia pun masuk ke dalam lalu melihat Shakila masih asik mengarungi samudra mimpinya.
Chris mengulas senyum tipis kemudian, lalu mendekati Shakila dan duduk di tepi ranjang.
"Sayang ayo bangun, kita harus ke salon," ucapnya sambil menyentuh rambut panjang Shakila.
"Hmm, malas." Dengan mata terpejam Shakila membalas. Tubuhnya terasa remuk, mungkin akibat pertempuran kemarin. Daya magnet yang terdapat pada kasur ini, membuat Shakila enggan untuk beranjak.
Chris tersenyum penuh arti lalu secara diam-diam naik ke atas ranjang.
"Ahk!" Shakila membuka matanya kala Chris memeluknya dari belakang tiba-tiba.
"Hentikan Chris! Geli," Shakila tertawa pelan ketika tangan kokoh Chris menggelitik perutnya. Namun, Chris mengindahkan perkataannya. Pria itu malah membalik tubuh Shakila hingga sekarang keduanya saling bersitatapan satu sama lain.
"Chris, hentikan!" Shakila masih menahan geli karena Chris malah menggelitik lehernya sekarang. Dia berusaha memberontak tetapi nyawanya belum terkumpul semua.
"Hm, aku tidak akan menghentikannya kalau kamu tidak bersiap-siap sekarang, Sayang." Chris semakin lincah menggerakkan jari-jemarinya.
"Ya iya, stop baiklah aku akan mandi," ucap Shakila diiringi tawa pelan setelahnya. Lantas Chris menghentikan gerakan tangannya lalu membawa Shakila ke dalam pelukannya.
Shakila sedikit terkejut kala tubuhnya ditarik. Secepat kilat ia mendongakkan kepalanya.
"Mau mandi bersama?" katanya sambil menatap dalam bola mata Shakila.
"Ish! Dasar mesum! Nggak mau! Kita belum nikah tahu!" protes Shakila dengan senyum lebar melukis di wajahnya. Walaupun dia mencintai Chris. Tapi dia memiliki prinsip untuk tidak melakukan hubungan, sebelum mengucap janji suci.
"Kalau begitu kita nikah sekarang yuk!" Chris melabuhkan kecupan cepat di pucuk kepala Shakila sejenak. Ketika berdekatan dengan Shakila, Chris susah sekali menahan diri. Shakila terlalu menggemaskan, menurutnya. Apalagi saat melihat muka bantal Shakila saat ini, yang terlihat imut, membuat Chris ingin cepat-cepat menikah.
"Gila!" Shakila semakin menyunggingkan senyumannya. Jantungnya berdebar-debar tak karuan saat Chris menghangatkan tubuhnya sekarang. "Nggak mau! Udah ah aku mau mandi!" Shakila mendorong kuat dada Chris. Lalu beranjak cepat dari atas kasur dan tak lupa menjulurkan lidahnya ke arah Chris, yang sekarang tersenyum lebar hingga menampakkan gigi-gigi putihnya.
"Bye! Aku mau mandi! Pergi gih sana!" seru Shakila sambil berlarian menuju kamar mandi. Meninggalkan Chris yang melihat ke bawah celananya, melihat batang pisangnya menyembul ke atas.
"Si4l! Sepertinya aku harus bermain solo," sahutnya sambil beranjak dari kasur hendak ke kamarnya yang di sebelah Shakila.
*
*
*
Tepat pukul 7 pagi, Shakila dan Chris sudah di salon, sementara Merry dan Rika masih berleha-leha di hotel. Mereka akan menyusul pergi ke perusahaan Chris nantinya.
Dengan sabar Chris menunggu Shakila di make over, sesekali dia menatap arloji, yang setiap menitnya, jarum jam berpindah-pindah. Kini Chris juga telah memakai setelan tuxedo berwarna hitam dan sepatunya pun selaras dengan warna tuxedonya. Chris nampak gagah dan tampan, seperti biasanya.
"Bersabarlah Mister, sebentar lagi pasti selesai, wanita memang lama berdandannya, hehe, bahkan kita bisa membuat Candi hanya dengan menunggu mereka berdandan," kata Ricki tiba-tiba. Sedari tadi dia berdiri di samping Chris dan memperhatikan atasannya yang terlihat gusar.
Chris melirik sekilas. "Hm, oh ya Ricko kemana?" tanyanya, heran. Karena sedari pagi dia tak melihat batang hidung Ricko.
"Ada urusan sebentar Mister, sebentar lagi juga dia akan datang bersama seseorang," ucap Ricki kemudian.
Satu alis Chris terangkat sedikit. "Seseorang? Siapa?"
"Wow, itu Shakila, Mister!" Bukannya membalas perkataan Chris. Ricki mengalihkan pandangannya ke depan sambil menunjuk ke arah Shakila.
Shakila melangkah maju pelan-pelan, menghampiri Chris. Kini wanita itu sudah terlihat anggun dengan memakai gaun panjang berwarna hitam, pundaknya yang seputih pualam terekspos sedikit hingga menampilkan leher jenjangnya itu. Wajahnya yang imut juga sudah dipoles dengan make up natural.
Shakila nampak malu-malu kala Chris menatapnya dengan seksama.
"Sayang, aku tidak tahu kalau ada malaikat jatuh dari langit," ucapnya sambil melangkah cepat, mendekati Shakila.
Shakila tersipu malu sejenak. "Dasar gombal!" celetuknya sambil memukul pelan dada bidang Chris.
Chris tersenyum lebar. "Memang itu kenyataannya Sayang."
"Mister!" Pembicaraan Shakila dan Chris terhenti seketika kala Suara Ricko terdengar di depan pintu utama Salon. Lantas Chris dan Shakila serta Ricki mengalihkan pandangannya. Melihat Ricko datang bersama Gissel.
Sebelum melangkah, Gissel melempar senyum tipis kepada mereka.
"Nyonya Gissel ingin berbicara dengan anda dan Shakila sebentar," ucap Ricko lagi sambil mempersilakan Gissel berjalan.
Chris mengangguk pelan lalu melemparkan pandangannya sejenak pada Shakila.
"Hai Shakila, kamu sangat cantik hari ini, aku tak menyangka kalau orang berdiri di hadapanku sekarang adalah kamu, "ucap Gissel memulai pembicaraan.
"Hehe, terima kasih Gissel. Tapi aku kalah cantik denganmu," ucapnya sambil mengulum senyum malu-malu.
Gissel membalas dengan tersenyum tipis lalu dia menatap Chris.
"Selamat Chris, hari ini adalah pelantikanmu."
"Terima kasih, Gissel. Aku harap kamu bisa menghadiri acaraku nanti," ucap Chris, tanpa ekspresi sama sekali.
Gissel tersenyum kaku. "Maaf, aku tidak bisa. Sebenarnya aku datang ke sini, mau berpamitan denganmu karena aku hari ini akan diasingkan ke kota lain," ucapnya sambil melirik Shakila kembali.
"Maksudmu?" tanya Chris, penasaran.
"Apa Paman tak memberitahumu?" Gissel malah balik bertanya.
Chris menggeleng.
Gissel menarik sudut bibirnya sedikit. Keluarga Gissel memang seorang bangsawan di Italia. Namun, karena statusnya yang hanya anak tiri di keluarganya, maka dia harus menikah dengan seseorang yang memiliki kekuasan di Italia dan jika tak terwujud maka Gissel akan diasingkan ke pulau terpencil dan menjadi budak.
Gissel tentu saja bisa menolak permintaan Chris kemarin. Tapi Gissel menyadari satu hal bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Apalagi, melalui pancaran mata Chris, Gissel dapat melihat rasa cinta Chris pada Shakila teramat besar dan dalam. Gissel tak mau mencintai pria yang tidak mencintainya juga. Walau sudah sejak lama ia mencintai Chris secara diam-diam dan hanya dapat memandangnya dari kejauhan. Gissel percaya akan perumpamaan bahwa cinta tak selamanya memiliki. Dia akan berusaha mengubur rasa cintanya dalam-dalam dan berharap akan ada kebahagiaan untuk dirinya suatu saat nanti.
"Kalau begitu tak usah kamu pikirkan Chris, aku hanya mau berpamitan."
Chris hanya diam tapi dia melirik Ricko sekilas kemudian.
Gissel mendekati Shakila tiba-tiba. "'Shakila, selamat ya untuk kalian berdua, kalau menikah jangan lupa undang aku," ucapnya sambil tersenyum getir.
"Pasti itu. Mengapa kamu di asingkan, Gissel?" tanya Shakila, penasaran.
Gissel malah memeluk Shakila seketika sambil menepuk-nepuk pelan punggung Shakila sejenak. "Rahasia," ucapnya sambil mengurai pelukan.
Shakila hanya diam saja. Dia melirik Chris karena tak puas dengan jawaban Gissel.
"Kalau begitu, aku permisi dulu, sekali lagi selamat Chris!" Gissel menaikkan syalnya ke pundak sejenak lalu melangkah pergi setelah melihat Chris menganggukkan kepala.
Sesampainya di luar pintu utama, Gissel menitihkan air matanya seketika. Napasnya sesak. Dia tak mampu berlama-lama melihat pria yang dicintai bersama wanita lain. Sambil menarik napas dalam, dia menoleh ke samping, melihat Ricko berdiri di dekatnya.
"Ricko, kenapa kamu di sini?" Gissel menghapus cepat air mata.
"Aku mau berbicara dengan Nyonya sebentar, maafkan aku, Nyonya, kalau aku dan adikku selama ini sering merepotkanmu," ucap Ricko, tulus sambil menatap lekat-lekat mata Gissel.
Gissel terkekeh pelan, menutupi kesedihannya.
"Aku pikir apa, kamu dan Ricki sama sekali tak pernah merepotkan ku kok, malah kalian banyak membantuku, ya sudah kalau begitu aku pergi dulu, selamat bertugas!" serunya sambil menepuk pelan pundak Ricko dan melenggang pergi seketika. Meninggalkan Ricko dengan wajah muramnya.