Kissing Strangers

Kissing Strangers
Kissing Strangers-Mencium Orang Asing



"Mister! Sebentar lagi kita sampai!" seru Ricki kala melihat rahang Chris mengeras setelah mendengar jeritan Shakila di ujung sana. Napas pria itu nampak memburu, menahan amarah yang akan siap meledak.


Chris tak menyahut sama sekali. Pandangannya lurus ke depan.


Ricki melemparkan pandangan ke arah Ricko, berharap saudaranya dapat mempercepat kendaraan yang mereka tumpangi sekarang. Hanya dengan lirik mata, Ricko mengerti. Dia menaikkan tuas agak lebih tinggi.


"Aduh, Shakila kok teriak gitu, dia nggak apa-apa, 'kan?" tanya Rika, cemas.


"Nggak tahu, Rika. Semoga saja dia nggak kenapa-kenapa."


Begitu pula dengan Merry dan Rika mengkhawatirkan juga keadaan Shakila saat ini. Keduanya melemparkan pandangan sejenak, saat merasa aura yang menguar dari tubuh Chris, membuat mereka ketakutan.


"Hei, Upin, cepatan dong, lama amat sih!" celetuk Merry seketika sambil menepuk kuat pundak Ricki, di kemudi depan.


Ricki menoleh dan melotot tajam. "Namaku bukan Upin, bodoh! Ricki, namaku Ricki!" serunya, tak terima.


"Iya, iya, terserah! Cepatan!" Merry menepuk kuat pundak Ricki sekali lagi.


"Kamu pikir ini mobil!" Ricki mendengus kasar.


"Ish, kan aku cuma kasi saran." Merry menjulurkan lidahnya seketika.


Ricki kesal. "Si4l!" Dia hendak memukul Merry.


"Diam! Bisakah kalian diam!" Namun, teriakan Chris menghentikan gerakan tangan Ricki. Chris menatap tajam Ricki dan Merry secara bergantian. Keduanya langsung terdiam.


*


*


*


******************Dor******************!


Dor!


Shakila terkejut dikala ia membidik seorang pria di hadapannya. Tangannya tampak gemetar, karena untuk pertama kalinya ia menembak seseorang.


Setelah berhasil kabur dari ruangan penyekapan dan melawan sang pria dengan menendang burungnya tadi. Shakila berlarian, hendak keluar dari bangunan aneh. Pasalnya rumah yang berdinding kan serba batu ini, memiliki ruangan berliku-liku dan tidak ada pintunya, sehingga Shakila sedikit kesusahan berlari dari kejaran para penjaga.


Beberapa menit sebelumnya, dia sedang melawan penjaga yang satunya dan penjaga tersebut ingin membidiknya. Demi menyelamatkan dirinya. Shakila merebut pistol dan mengancam sang pria, jika mendekat akan dia tembak. Namun, pria itu mengindahkan perkataannya. Berakhir Shakila tanpa sengaja menekan pelatuk.


Pistol yang di pegang Shakila seketika terjatuh, dia merasa telah menjadi seorang pembunuh.


"Tid-ak...." Shakila tergugu, lidahnya begitu sulit digerakkan saat ini. Kedua pipinya mulai banjir dengan air mata.


"Aku pembunuh..." desisnya pelan sambil melihat pria yang dia tembak barusan tergolek tak berdaya di lantai.


"Cepat cari dia! Tangkap dia hidup-hidup!"


Samar-samar Shakila dapat mendengar suara seorang pria di ruang sebelah. Dengan tergesa-gesa ia mengusap jejak air matanya dan mengambil kembali pistol di lantai untuk berjaga-jaga. Lalu Shakila berlarian ke ruangan lain, berharap dapat menemukan jalan keluar.


Berjarak beberapa meter, Fabrizio melebarkan matanya, melihat kedua anak buahnya, yang ditugaskan mengantar makanan dan menjaga di depan pintu, menggelepar di lantai.


"Si4l! Benar-benar wanita gila!" Fabrizio mengedarkan pandangan di sekitar sejenak. Lalu mengalihkan pandangan pada ke enam anak buahnya, yang sedari tadi bersamanya.


"Hei cepat cari dia sekarang! Sepertinya dia pergi ke sayap kiri!" Dengan sorot mata dingin, Fabrizio berseru kemudian.


"Baik Tuan!" Secepat kilat mereka melangkah pergi menuju ruangan yang dikatakan atasannya. Selepas kepergian anak buahnya, Fabrizio mengambil ponsel dari sakunya tiba-tiba dan menelepon Calvin.


"Hallo Mister, ada masalah di sini?" Fabrizio sedikit takut-takut mengungkapkan apa yang terjadi di tempatnya sekarang.


"Apa?" Calvin menebak telah terjadi sesuatu yang tak diinginkannya.


Mendengar suara Calvin yang dingin, Fabrizio menelan ludahnya pelan-pelan. "Shakila kabur, Mister. Tapi saat ini dia masih di dalam, anak buahku sedang mengejarnya, dan tadi anak buahku mendapat informasi jika Chris sudah mengetahui lokasi tempat persembunyian kita," sahutnya.


Prang!


"Bedebah!"


Fabrizio terlonjak kaget kala mendengar suara pecahan kaca di ujung sana. Dia terdiam, tengah menunggu perintah dari atasannya.


"Apa kalian tidak becus berkerja ha! Mengurus satu orang saja kalian tidak bisa! Aku akan datang ke sana sebentar lagi, selagi aku dalam perjalanan, tangkap Shakila hidup-hidup! Jangan membuat kesalahan lagi' Fabrizio, kalau sampai gagal! Nyawamu akan melayang,"sahut Calvin sambil memutus sambungan sepihak.


Fabrizio menghela napas kasar setelahnya. Kemudian melangkah cepat ke arah timur.


***


Dor!


Sekali lagi pria itu menembakkan peluru ke arahnya. "Keluarlah lah Baby, mari kita bermain!" sahutnya.


Ahk! Si*l! Bagaimana ini! Apa aku harus menggunakan pistol ini?


Shakila berperang di dalam hatinya sambil melihat pistol yang dipegangnya sedari tadi.


"Shakila, keluarlah Sayang!"


Shakila melebarkan mata saat mendengar suara Chris dari atas atap, diikuti suara deru baling-baling helikopter.


"Chris...."


Tanpa pikir panjang Shakila menyembulkan kepalanya keluar sambil mengarahkan senapan berlaras pendek itu pada sang lawan.


Dor!


Dor!


Pria tadi seketika tumbang di tempat.


Shakila menembak sambil terjun ke lantai satu. Dia melonggo sejenak karena dapat melompat dengan ketinggian tiga meter.


"Gila! Keren banget aku!" Shakila berdecak kagum pada dirinya sendiri sesaat.


Dor!


Shakila reflek merendahkan tubuhnya saat beberapa orang pria melangkah cepat, menuruni anak tangga. Secepat kilat ia berlari ke pintu utama rumah sambil menodongkan pistol ke belakang.


Dor!


Dor!


Dor!


Shakila tak peduli lagi, apakah sang lawan tertembak atau tidak, yang terpenting saat ini dia tengah berusaha melindungi dirinya.


Di atas pencakar langit, Chris menatap seksama, Shakila sedang berusaha berlari dari penjaga. Melalui Ricki, dia pun menyuruh anak buahnya yang di helikopter lain, menembak bangunan tersebut. Ricki paham dan berkomunikasi dengan rekannya melalui alat yang terpasang di telinganya.


Chris pun menyuruh Ricko mendaratkan helikopter.


Sesampainya di bawah, dia berlarian menghampiri Shakila sambil menondongkan pistol ke para musuh yang mulai mendekat dan bertambah banyak.


"Aduh, terus kita gimana?" tanya Merry pada Ricki, masih di helikopter, tak berani keluar.


"Terserah, kalau di sini pun, kalian akan mati, bertarunglah sesuai kemampuanmu!" Ricki menyeringai tipis lalu mengambil cepat senapannya dan keluar bersama Ricko dari helikopter.


Merry menoleh ke samping, hendak bertanya pada Rika. "Rika, gimana–" Namun, perkataannya terhenti kala melihat Rika sudah di luar sambil membawa pistol. Merry melonggo sejenak. Tanpa pikir panjang keluar dan bergabung bersama Rika.


"Rika, tunggu aku, bagaimana caranya kita ikut bertarung?"


"Apa kamu tidak dengar, sesuai kemampuanmu!" Rika tampak bersemangat walau dirinya juga tampak takut-takut. Dia hendak mengambil ancang-ancang ingin membidik lawan.


"Sesuai kemampuan?" Merry menoleh ke atas, berpikir keras. Sementara Rika berhasil membidik seorang pria, dari jarak dua meter.


Rika tersenyum penuh kemenangan. "Ini seperti bermain game," gumamnya pada diri sendiri. Dia dapat melihat Ricko dan Ricki membidik sang lawan satu-persatu di ujung sana, sambil melindungi mereka.


"Aha, aku tahu." Secepat kilat Merry mengambil sesuatu di balik jaketnya, yaitu pete, yang kebetulan dia ambil ketika meminta izin ke rumah Shakila. Karena Merry memang suka pete sedari dulu. Lalu dia memasukkan pete-pete itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan sangat cepat.


"Merry, apa yang kamu lakukan? Kita ini sedang bertarung, mengapa kamu malah makan?" Rika heran.


"Katanya bertarung sesuai kemampuan, 'kan?" Merry berkata sambil mengunyah.


Dahi Rika semakin berkerut sambil menutup hidungnya karena aroma mulut Merry yang tak enak dicium. "Maksudnya?"


"Maksudnya begini... Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Secara kebetulan seorang pria yang sudah tak berdaya, berjalan terhuyung-huyung ke arah mereka dan Merry langsung mengarahkan mulutnya dan menyebarkan aroma-aroma surgawi sehingga pria itu pingsan di tempat.


"Huek, huek!" Rika mual seketika karena jarak mereka sangatlah dekat.


"Nah, begitu maksudnya, itulah kemampuanku, membunuh tanpa menyentuh," sahutnya sambil menyelipkan rambutnya ke telinga. Lalu melempar senyum smirk pada Rika, yang saat ini malah memundurkan langkah kakinya, tak mau berdekatan dengan Merry, yang mulutnya sangatlah bau.