Kissing Strangers

Kissing Strangers
Kissing Strangers-Mencium Orang Asing



Malam ini, langit begitu gelap, tanpa awan dan tanpa bintang. Bersih, hanya bulan sendiri yang menyinari hutan belantara, yang kini sudah berpenghuni. Saat ini mereka sedang mengarungi samudera mimpi. Aktivitas berat yang mereka lalui tadi siang, membuat mereka tertidur amat pulas sekarang.


Terdengar pula bunyi cicitan hewan bersenandung kecil, bersamaan pula dengan suara dengkuran halus yang berasal dari salah satu tenda mini.


Dari sela-sela tenda, cahaya bulan menerpa wajah Merry seketika. Pria bermata belo itu melengkuh sejenak. Matanya membuka perlahan-lahan, menguap sejenak lalu matanya celingak-celinguk ke sana ke mari, ketika melihat kawan-kawannya masih mendengkur halus.


"Shhh, aduh perutku sakit banget...."


Merry mengapit pahanya rapat-rapat kala bagian perut dalamnya melilit-melilit tiba-tiba. Lantas dia menoleh ke kanan. "Budi, bangun! Temenin aku boker yuk," katanya sambil menepuk-nepuk pelan pipi temannya agar segera membuka matanya. Akan tetapi, tak ada tanda-tanda temannya akan terbangun. Merry tak menyerah lalu menggoyang-goyangkan badan temannya dengan sangat kuat. Namun, Budi tak kunjung membuka matanya, Budi seperti orang mati saja.


"Ck!" Pada akhirnya, decakan kesal yang terdengar dari mulut Merry. Dia pun mencoba membangunkan temannya yang lain. Namun, mereka pun sama seperti Budi.


Put!


Suara gas keluar seketika dari bokong Merry. Dia menutup hidungnya seketika saat aroma busuk menyeruak ke inderanya. "Ish, nyebelin banget dah, mereka tidur apa mati sih?" Merry memutuskan keluar dari tenda lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat suasana tampak sunyi dan senyap. Merry bergedik ngeri sesaat sambil membayangkan hal yang aneh. Pandangannya seketika tertuju pada tenda Shakila yang berjarak beberapa meter dari tendanya. Merry dapat melihat Shakila sedang mengganti posisi tidur.


"Aha, aku minta tolong Rika atau Shakila aja temanin aku," gumamnya pelan sambil mengambil ancang-ancang untuk berlari menuju tenda Shakila. Merry langsung berlari kencang.


Woosh!


Dengan napas tersengal-sengal, Merry menyibak tenda lalu menepuk-nepuk pundak Rika.


"Rika, temanin aku boker yuk, perutku sakit!" Merry berkata agak sedikit nyaring karena merasa di sekitarnya seperti ada seseorang yang mengawasinya. Bayangan pocong gundul, mbak kunti, suster ngesot melintas cepat di benaknya seketika. Merry menguncang kuat tubuh Rika sambil memanggil-manggil namanya. Wanita itu tak bergerak sedikitpun. Seakan-akan suara Merry tak kan mampu membangunkannya.


"Hoamm... Merry ngapain kamu di sini?" Bukan Rika yang terbangun, melainkan Shakila. Dia terpaksa membuka matanya saat mendengar suara yang tak asing berdengung di telinganya barusan. Dalam keadaan setengah sadar, ia menatap Merry.


Merry tersenyum lebar. "Shakila, temanin aku boker yuk, perutku sakit banget, kayaknya gara-gara makanan yang dikasi Pak Calvin tadi deh, aku takut hantu," sahutnya, cepat sambil memegang perutnya yang semakin sakit.


"Nggak ada hantu, Mer. Udah gih pergi sana, aku masih ngantuk nih." Shakila mencoba merebahkannya tubuhnya kembali.


"Ayolah, Shakila. Nanti aku boker di celana gimana, jahat banget sih, kan aku temanmu, nggak lama kok please!" Merry merengek seketika seraya menarik tangan Shakila.


Mata Shakila berkedip-kedip cepat lalu tanpa memberi tanggapan, pada akhirnya ia menemani Merry.


Selang beberapa menit, berbekal senter, Merry dan Shakila berhenti di pohon kecil, yang tempatnya lumayan jauh dari pusat tenda.


"Boker gih sana, aku tunggu di sini!" sahut Shakila sambil menunjuk ke arah semak-semak.


"Oke, oke, jangan pergi ya, aku nggak lama kok." Merry langsung bergegas setelah melihat Shakila menganggukkan kepala.


Setelah melihat Merry masuk ke dalam rerumputan. Shakila membalikkan badannya sambil mengarahkan senter ke depan sana. Rasa kantuk masih menyerangnya, Shakila beberapa kali menguap-uap.


"Hoammm, cepatan Mer!" teriak Shakila seketika sambil menutup matanya pelan-pelan.


"Iya, iya sabar, baru aja buka celana! Argh! Ish rumputnya nakal deh!" Dari kejauhan Merry berseru. Dia terkejut saat rumput-rumput kecil di sekitarnya, menusuk kulitnya seketika


Saat ini, Merry sedang berjongkok sambil memperhatikan punggung Shakila. Dalam hitungan detik, dari arah samping Merry melihat seseorang mendekati Shakila.


Merry menyipitkan matanya, dan ternyata benar pria itu adalah Calvin. Dia dapat melihat Shakila dan Calvin terlibat pembicaraan kecil. Dia tak dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan mereka. Kepala Merry berputar ke belakang seketika kala mendengar bunyi patahan kayu.


Merry pun mengarahkan senternya ke belakang, hendak memeriksa ada apa di belakang sana. Namun, tak ada tanda-tanda adanya manusia. Setelah itu Merry kembali memutar kepalanya ke depan. Melihat Shakila merebahkan kepalanya ke pundak Calvin kini.


"Astaga Shakila. Mentang-mentang cantik, main nyosor aja, kasihan Pak Chris," desisnya pelan lalu membuang mukanya ke samping karena tak mau melihat pemandangan yang membuat matanya sakit.


Selang beberapa menit, Merry masih bergeming di posisi semula hingga tanpa sadar dia pun memejamkan matanya. Merry segera tersadar. Secepat kilat membuka matanya, melihat di depan sana tak ada lagi Shakila dan Calvin.


"Lah! Shakila!" teriaknya, panik sambil membersihkan bagian bawahnya dengan air botol yang ia bawa.


"Duh! Masa aku di tinggal, ish, Shakila!!!" Dengan tergesa-gesa Merry menaikkan celana lalu mengedarkan pandangannya di sekitar, melihat di ujung sana tampak gelap gulita. Sekali lagi bunyi patahan kayu di belakang sana terdengar, Merry berlari terbirit-birit sambil memanggil-manggil Mamanya.


"Mamak!!!" teriaknya.


Sesampainya di tenda, Merry langsung masuk lalu memejamkan matanya secepat mungkin dan tak lagi memperdulikan temannya sendiri yang masih di luar sana.


*


*


*


Pagi-pagi sekali para mahasiswa dan dosen yang ikut camping terbangun juga dari mimpinya. Sebelum memulai kegiatan, mereka tak luopa selamat mandi dan sarapan bersama terlebih dahulu.


Chris kebingungan, tak melihat batang hidung Shakila sedari tadi. Perasaanya begitu gelisah, entah karena apa, terlebih lagi semalam ia sempat pergi ke suatu tempat bersama Ricko. Jadi, dia tak bisa memantau kekasihnya itu. Namun, sebelum pergi, Chris juga menyuruh Ricki memperhatikan Shakila. Akan tetapi, mengapa perasaannya resah. Dia pun mulai menghampiri Rika.


"Rika, Shakila di mana?" tanya Chris sambil


sambil melirik Merry tengah duduk di samping Rika, menyantap sarapannya.


"Nggak tahu Pak, Rika juga bingung dari pagi Shakila udah nggak ada di tendanya, kayaknya Shakila pergi deh sama...." Perkataan Rika terhenti saat Merry menyenggol lengannya.


"Sama siapa?" Chris semakin gelisah. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.


"Em sama." Rika melirik Merry lagi, meminta Merry menjelaskan praduga mereka.


"Sama Pak Calvin, Pak. Jadi tadi malam Merry minta tolong Shakila temanin boker. Eh tapi pas lagi boker Merry lihat Shakila taruh kepalanya di pundak Pak Calvin, udah gitu Merry di tinggalin pula sama dia, ish, nyebelin banget atuh Shakila," jelas Merry, singkat sambil tersenyum kaku kala melihat raut wajah Chris kini terlihat menyeramkan ni.


Chris menebak jika Shakila di culik Calvin. Dadanya bergemuruh kuat kala Ricki tak menjalankan perintahnya dengan benar.


"Sekarang kalian ikut Bapak pergi ke rumah Shakila minta izin sama Mommynya," katanya sambil bangkit berdiri. Dia harus pergi ke rumah calon mertuanya agar mereka tak khawatir tentang keadaan Shakila, yang mungkin beberapa hari ke depan tidak akan terlihat. Maka dari itu, Chris meminta bantuan teman akrabnya Shakila.


"Ha? Maksudnya, Pak?" Rika dan Merry melemparkan pandangan satu sama lain sejenak.


"Jangan banyak bertanya, ikuti saja perintah Bapak!" Chris melototkan matanya pada Rika dan Merry sejenak. Mereka langsung berdiri dan menundukkan mukanya.