
Maaf ya, author belum bisa update banyak bab. Penyakit author kambuh lagi, author akan usahakan nanti ya.
Jangan lupa di kasi like guys 🤗🙏
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, apartment Calvin, pria itu duduk di atas balkon sambil menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sedari tadi dia sedang menunggu panggilan dar Fabrizio, ingin mengetahui latar belakang seorang gadis yang mencuri perhatiannya tiba-tiba.
Drrt!
Terdengar getaran pelan dari ponsel Calvin di atas meja seketika. Kedua mata Calvin langsung melirik' layar ponselnya, di mana nama Fabrizio terpampang jelas. Dengan raut wajah datar ia mengambil benda pipih itu dan mengangkat panggilan.
"Hallo, bagaimana, apa yang kamu dapatkan?" tanya Calvin to the point.
Di ujung sana, kota Verona, Fabrizio menjelaskan apa saja yang dia dapatkan tentang Shakila, yang ternyata berasal dari keluarga bangsawan dari sebelah Daddynya dan mengatakan bagaimana sepak terjang Shakila selama ini.
Calvin menyungging senyum tipis sejenak kala mendengar jika Shakila terkenal suka membuat onar.
"Apa dia dekat dengan Chris?" Entah mengapa, sedari kemarin, Calvin merasa ada sesuatu di antara Chris dan Shakila.
"Saya belum menemukan kedekatan tentang mereka Mister, akan saya telusuri lebih dalam lagi, Mister," jawab Fabrizio, dengan suaranya yang terdengar sedikit ketakutan.
Brak!
Saat tak langsung mendapat sebuah jawaban. Calvin mengebrak meja di hadapannya seketika. Dia naik pitam, karena Fabrizio tak becus berkerja.
"Apa kamu bosan hidup ha!!! Cari informasinya lebih detail lagi, bodoh! Setelah menyelesaikan urusanmu di sana! Datanglah ke Indonesia! Kita harus membawa Chris kembali ke Verona, bagaimanapun caranya!" Calvin berteriak kuat sambil bangkit berdiri dari kursi.
"Maaf Mister, baik saya akan ke sana setelah mengurus urusan saya di sini."
Calvin enggan menanggapi. Dia malah mematikan sambungan telepon secara sepihak. Kemudian menatap lurus ke depan dengan sorot mata tajam.
"Ck! Mengapa semuanya tak sesuai perkiraanku!" celetuk Calvin seketika sambil membuang napas kasar. Ia datang ke Indonesia bertujuan untuk membawa Chris ke Verona. Walau kemarin sudah mencelakai pamannya, rupanya lelaki tua itu malah melimpahkan kewenangan pada tetua lain dan memberikan mandat.
Jika Chris menampakkan dirinya maka Calvin baru bisa mendudukki posisinya sebagai pemilik seluruh harta dan aset mendiang ayahnya. Maka dari itu, dia berniat akan membawa Chris ke sana walau bagaimanapun caranya. Namun, tak segampang itu mengingat Ricko dan Ricki berada di sekitar Chris dan Chris bukanlah anak kecil yang muda dirayu.
****
Pagi pun tiba, Calvin sudah siap-siap hendak pergi ke kampus, meski dirinya sangatlah malas mengajar. Kalau bukan karena ingin memantau pergerakan Chris sendiri. Ia tak kan mau. Mau menyuruh anak buahnya, hampir sebagian perintah yang ia katakan tak sesuai rencananya. Jadi, Calvin langsung turun tangan sendiri.
Begitu sampai di parkiran, pandangannya teralihkan seketika. Saat melihat Shakila juga baru saja tiba di kampus.
Calvin cepat-cepat turun dari mobil lalu berkata sedikit nyaring."Selamat pagi, Shakila, cuaca hari ini sangat cerah ya."
Calvin menebarkan senyum lebarnya. Untuk sementara, dia akan berperan sebagai dosen yang baik dan ramah, demi memikat hati para mahasiswa dan mahasiswinya.
Ketika mendengar namanya di panggil, Shakila menoleh ke sumber suara. Bukannya membalas sapaan, dia malah menelisik penampilan Calvin sejenak. Lalu melengoskan mukanya dengan cepat dan melangkah pergi.
Calvin tergelak, melihat sikap Shakila yang cuek dan acuh. Namun, entah mengapa Calvin merasa tertantang. Adanya Shakila di kampus membuat ia menjadi sedikit betah.
"Hmm, menarik." Tanpa sadar Calvin menyungging senyum tipis.
***
"Ih, nyebelin banget sih! Sok kecakepan, cerah apanya, mendung gini!" gerutu Shakila sambil berjalan cepat di koridor kampus. Dia tak habis pikir dosen barunya itu mengatakan har ini cuacanya bagus, padahal jelas-jelas awan yang terlihat di atas pencakar langit, agai gelap.
Langkah kaki Shakila terhenti seketika saat melihat seorang pria yang sedari kemarin membuatnya tak bisa tidur, berdiri di hadapannya dengan kantung matanya yang terlihat gelap. Setiap kali berhadapan dengan Chris, detak jantung Shakila berdebar-debar. Padahal Shakila sudah dicampakkan kemarin. Namun, Shakila tak berani mengutarakan perasaannya. Bagi Shakila, hal itu tabu jika wanita yang terlebih dahulu menyatakan perasaannya.
"Iya, Pak?"
"Tolong siapin ruang laboratorium, jam 9 nanti kalian latihan mandiri," ucap Chris pelan, dengan jarak dua meter dari Shakila.
Shakila menganggukkan kepalanya lalu tanpa sadar memegang dadanya yang semakin berdetak kencang. "Baik, Pak."
"Kamu kenapa? Sakit?" Chris melangkah maju dan reflek memegang pipi kanan Shakila.
Shakila membeku di tempat. Bak sengatan listrik tangan besar dan kokoh itu menopang pipi bulatnya itu. Shakila merasa seakan ada kupu-kupu yang terbang di sekitar mereka sekarang.
"Ng-gak Pak! Shakila sehat kok!" Shakila membuang ke samping karena tak mampu menatap mata Chris. Dia tampak salah tingkah.
Chris enggan membalas. Namun, pria itu menatap lekat-lekat wajah Shakila.
"Kalau begitu, Shakila permisi dulu Pak! Bye!" Secepat kilat Shakila menurunkan tangan Chris dari pipinya. Kemudian melangkah pergi karena tak mampu berlama-lama di dekat Chris.
Sesuai perintah Chris, setelah menaruh tasnya di kelas. Shakila bergegas pergi ke ruang laboratorium menyiapkan alat-alat untuk mereka praktikum. Di dalam ruangan, hanya dia seorang. Shakila begitu asik sendiri sampai tak menyadari seseorang berperawakan tinggi dan besar menyelenong masuk ke dalam ruangan.
"Shakila!"
Shakila tersentak kala mendengar suara seseorang dari belakang. Dengan cepat ia memutar kepalanya.
"Pak Calvin! Mau bikin anak orang mati di tempat apa! Entar Shakila jadi kuntilanak gimana?" Shakila mendengus pelan sejenak.
"Hahaha! Maafkan Bapak Shakila."Calvin mulai mendekati Shakila. "Kamu lagi ngapain?"
"Lagi nyiapin alat-alat untuk matkul Pak Chris," jawab Shakila sedikit ketus lalu memutar kembali kepalanya ke posisi semula.
"Oh, apa Merry sudah telepon kamu, katanya dia minta tolong kamu gantiin dia jadi asdos Bapak hari ini, maka dari itu Bapak mau minta tolong kamu siapin 20 buah tabung reaksi." Calvin berdiri di samping Shakila sambil memperhatikan Shakila tengah sibuk menyusun bola karet.
"Ha? Masa? Merry nggak ada telepon Shakila, Pak! Aduh gimana nih, tangan Shakila cuma dua loh Pak!" Shakila melirik Calvin sekilas lalu mencebikkan bibirnya.
"Mungkin dia lupa, kalau begitu Bapak minta 10 saja dulu, gimana? Sisanya kamu antar ke ruang laboratorium sebelah, setelah kamu selesai sama urusanmu."
Dengkusan kasar berhembus dari hidung mancung Shakila. Tanpa menanggapi perkataan Calvin. Dia bergerak cepat menuju lemari khusus penyimpanan alat-alat laboratorium dan mengambil tabung reaksi satu-persatu. Sementara, Calvin diam-diam memperhatikan Shakila. Sesekali pria itu mengedarkan pandangan di dalam ruangan.
"Ini Pak, nggak usah lama-lama di sini, kita bukan muhrim." Shakila menyodorkan kardus yang di dalamnya ada beberapa tabung kepada Calvin. Akan tetapi, karena asik melihat-lihat Calvin tak menyadari jika alat yang ia perlukan di hadapannya.
"Pak! Ini tabungnya!" teriak Shakila.
Calvin pun tersadar, melempar senyum tipisnya sejenak kemudian mengambil kardus dari tangan Shakila. "Terima kasih."
"Hmm!" Shakila memutar badannya ke belakang. Akan tetapi, tanpa disadari Shakila tali sepatunya terlepas. Sehingga tubuhnya kehilangan keseimbangan. Shakila reflek menutup matanya cepat-cepat. Calvin yang melihat hal itu menahan tubuh Shakila seketika dengan satu tangannya. Alhasil kini badan Shakila berada di pangkuan Calvin.
Dengan jarak sangat dekat, Calvin dapat menghirup aroma tubuh Shakila yang lembut. Tanpa Calvin sadari raut wajahnya sedikit panik saat ini.
"Kamu nggak apa-apa, Shakila?" tanya Calvin sambil menopang pinggang Shakila.
Dari jarak beberapa meter, tangan Chris tampak terkepal kuat. Melihat adegan mesra di depan matanya saat ini. Dadanya bergemuruh amat kuat seperti genderang perang.