
Di sisi lain, tepatnya di atas pencakar langit, awan bergerak agak lambat tak seperti biasanya. Benda besar berbentuk burung membelah awan seketika. Pesawat putih itu mengudara dengan kecepatan di atas rata-rata. Tampak pilot dan co-pilot sedang berbicara satu sama lain dengan para awak di tower.
Di dalam salah satu kabin pesawat, seorang wanita berjaket hitam besar melenguh kala merasa tubuhnya sedikit tergoncang. Secara perlahan-lahan matanya berkedip. Pandangannya langsung tertuju ke arah jendela, yang menampakkan sayap kanan pesawat.
Shakila terperanjat kaget.
"Ha? Aku di mana!?" Dengan cepat Shakila bangkit duduk lalu mengedarkan pandangan di sekitar, melihat dirinya di pesawat.
"Lah! Pak Calvin mana!" Ingatan terakhir semalam melintas cepat di benak Shakila seketika. Shakila ingat betul saat Calvin tiba-tiba menghampirinya dan mengajaknya berbicara. Dia ingat rasa kantuk yang amat menderanya, membuat Shakila berbicara sambil menutup mata lalu entah mengapa seseorang membekap mulutnya dan dapat Shakila pastikan sekarang. Pelakunya pasti Calvin, dosennya sendiri.
Shakila terdiam sejenak, mengapa sekarang berada di pesawat lalu di mana Chris dan teman-temannya.
"Pak Calvin!" Dengan napas memburu Shakila berlari menuju pintu ruangan. "Pak! Buka pintunya!" Shakila berteriak sekali lagi sambil mengebrak-gebrak pintu. Gerakan tangan Shakila terhenti seketika, dia merogoh jaket hoodie-nya, hendak mengambil ponsel yang semalam ditaruhnya di dalam saku jaket oversize-nya.
"Ahk! Bagaimana ini, di mana hpku!" Shakila mulai panik. Dia mulai menendang pintu, berharap pintu dapat terbuka.
Lima menit pun berlalu, pintu tersebut masih belum bisa dibuka, pada akhirnya Shakila pun menyerah. Dengan langkah gontai ia berjalan, mendekati ranjang mini di dalam ruangan. Lalu duduk di tepi kasur sambil menatap lurus ke arah jendela.
"Bagaimana ini? Di mana Chris?" Wajah Shakila nampak muram. Entah mengapa, di saat-saat genting seperti ini, dia malah merindu pada kekasihnya itu. Ada rasa tak nyaman yang melingkup hatinya kini. Tapi Shakila tak dapat menjelaskan perasaan apa itu.
Ceklek.
Terdengar bunyi pintu terbuka seketika, Calvin melangkah masuk ke dalam ruangan bersama seorang pria di belakangnya, Fabrizio. Mata Shakila langsung bertemu dengan mata Calvin. Shakila dapat merasakan aura yang menguar dari tubuh Calvin sangat berbeda, terlebih sekarang dosennya itu memakai setelan jas berwarna hitam-hitam.
Shakila bangkit berdiri dan melayangkan tatapan tajam.
"Pak Calvin! Shakila ada di mana?! Kita mau mana?" cecarnya berapi-api sambil melangkah maju, mendekati Calvin.
"Ke suatu tempat, jangan khawatir, Sayang."
Shakila mengerutkan dahinya dengan kuat, saat melihat raut wajah Calvin yang menyimpan sesuatu. Terlebih lagi sekarang sikap dan tutur kata yang di lontarkan Calvin barusan padanya, teramat berbeda, tak seperti dosen yang ia kenal selama ini.
"Jaga ucapanmu, Pak. Jangan panggil aku Sayang, aku bukan kekasihmu, minggir, aku mau keluar!" Shakila berusaha keluar dari ruangan. Namun, Calvin mendorong kuat tubuhnya hingga Shakila tampak terkejut, tubuhnya tersungkur ke bawah, mengenai lantai pesawat.
"Apa-apaan ini Pak!" Sambil menahan sakit yang mendera tulang ekornya, Shakila menatap nyalang Calvin.
"Haha! Apa kamu takut Sayang, jangan takut, lagipula kamu akan pergi ke suatu tempat yang indah. Bapak sudah tahu siapa kekasihmu itu sekarang. Tenanglah sebentar lagi Chris akan mendatangimu."
Calvin menghampiri Shakila seketika. Semalam dia sudah membuat rencana yang sangat rapi sehingga Shakila dapat dengan mudah ia bawa. Dari memberi obat pencahar pada makanan yang dia beri pada Merry, memberi obat tidur pada dosen yang ikut camping dan teman-temannya Shakila.
Bahkan Ricki yang sedang bertugas memantau Shakila, ditaburi obat pencahar juga di minuman yang di pesan Ricki melalui aplikasi online. Semua berjalan dengan sangat mulus dan tanpa hambatan sekalipun. Walaupun dia menaruh rasa pada Shakila. Namun, Calvin masih menggunakan akal sehatnya dan lebih mementingkan jabatan yang harus ia miliki sekarang jua.
"Apa Bapak sedang menculikku ha!" Shakila merasa ada sesuatu tidak beres antara Calvin dan Chris.
"Menurutmu, Sayang?"
"Pasti kamu bingung, mengapa Bapak menculikmu, 'kan?" Calvin memasukan kedua tangannya ke saku celana sambil menggerakkan kakinya.
Shakila tak menyahut. Dia tampak menanti jawaban apa yang akan diberikan Calvin setelahnya. Dengan tangan terkepal kuat, Shakila memundurkan langkah kakinya.
"Haha! Kamu sangat cantik Shakila, mengapa mau berpacaran dengan pria yang sudah memiliki tunangan," kata Calvin dengan seringai tajam yang terpatri di wajahnya sedari tadi.
"Apa maksud Bapak?" Shakila menghentikan gerakan kakinya kala di belakangnya tak ada lagi ruang untuk kakinya memundurkan langkah. Kini Calvin berdiri di hadapannya dengan jarak beberapa jengkal saja.
Calvin malah terkekeh-kekeh, melihat wajah bingung Shakila."Kasihan sekali dirimu Shakila, Chris sudah memiliki tunangan di Verona, apa kamu tahu kalau dia adalah seorang mafia," desisnya pelan sambil mengapai helaian rambut Shakila.
Shakila menyentak kasar tangan Calvin seketika. "Tak usah berbohong Pak! Chris bukan orang seperti itu? Mafia kata Bapak?Cih!" Decihan pelan keluar dari bibir munggil Shakila sejenak. "Jangan membuat lelucon, Pak Chris adalah dosen di kampusku!" sergahnya.
"Hahaha!"
Calvin tertawa seketika membuat perasaan Shakila semakin tak menentu. Walaupun Shakila menyangkal perkataan Calvin. Namun, jauh dilubuk hatinya sempat terbersit jika Chris adalah seorang mafia. Apalagi tempo lalu Chris bertanya, bagaimana jika dia adalah seorang mafia.
"Fabrizio, ambilkan aku foto-foto itu!" kata Calvin seketika. Fabrizio mengambil cepat amplop di dalam saku jasnya lalu memberikan amplop berwarna coklat itu pada Calvin.
Calvin menyambutnya dan menyodorkan benda itu pada Shakila. "Bukalah, Sayang."
Shakila terdiam sesaat. Tanpa banyak kata ia mulai menyambar amplop dari tangan Calvin. Lalu membuka cepat amplop tersebut dan mengambil foto-foto yang tersimpan di dalamnya.
Mata Shakila terbelalak kala melihat sebuah foto Chris dan seorang wanita berfoto bersama-sama. Dada Shakila semakin membara, saat melihat sebuah foto menampilkan Chris dan dua orang bertato sedang memegang pistol.
"Pembohong! Ini pasti photoshop! Sebenarnya kamu siapa Pak? Ada hubungan apa Bapak sama Pak Chris! Lalu kenapa aku diculik ha!" teriak Shakila sambil melempar foto ke sembarang arah. Dia tak serta-merta percaya dengan apa yang dikatakan Calvin barusan.
"Kamu tak perlu tahu Sayang, yang terpenting-ahk! FABRIZIO!"
Calvin naik pitam kala Shakila membogem pukulan di rahangnya seketika. Gerakan wanita itu sangat gesit dan tak dapat di prediksi.
"Biadab! Berani kamu denganku ha!" Calvin tak tinggal diam. Dia pun melayangkan pukulan kuat tepat di perut Shakila hingga dara menyembur keluar dari mulutnya. Shakila ingin membalas namun dari tenguknya di setrum alat kejut seketika oleh Fabrizio.
Bruk.
Shakila ambruk di tempat.
"Si4l!" Calvin menyeka darah yang mengalir sedikit dari bibirnya sejenak. Lalu mengalihkan pandangan pada Fabrizio. "Ikat wanita ini, jangan sampai dia kabur! Sembunyikan dia sekarang juga!" titahnya.
"Baik Mister." Fabrizio mengangkat Shakila seperti karung beras tiba-tiba. Lalu melangkah cepat menuju ambang pintu. Selepas kepergian Fabrizio, Calvin mengambil ponsel di sakunya kemudian menggeser layar sejenak hendak menghubungi Chris.
Setelah panggilan terhubung, Calvin langsung berkata sambil menyeringai kuat,"Jika masih mau melihat Shakila hidup, datanglah ke Verona sekarang juga, adikku."