
Dor!
Dor!
Pertempuran masih terjadi di pulau tersebut. Baik kubu Chris dan Calvin, tak ada yang mau mengalah. Walaupun Chris kalah jumlah. Namun, anak buahnya memiliki kemampuan yang lebih pandai dari anak buah Calvin.
Saat ini Chris dan Shakila, tengah berkelahi dengan lawannya masing-masing. Pasangan kekasih itu terlihat kompak di arena pertempuran. Shakila tak peduli lagi dengan penampilannya yang nampak berantakan. Yang terpenting saat ini dia tengah berusaha mengalahkan lawannya secepat mungkin.
Sedangkan Merry dan Rika duduk di helikopter, menyaksikan pertempuran. Beberapa menit sebelumnya, Ricko dan Ricki menyuruh mereka menunggu saja di helikopter karena keduanya salah sasaran. Bagaimana tidak, Merry dan Rika malah melawan anak buah Chris, bukan anak buah Calvin.
Chris tersenyum penuh kemenangan kala melihat bangunan Calvin meledak seketika.
Boom!
"Shakila, awas!" Chris mendekati Shakila dan membawanya ke dalam pelukan, berusaha melindungi wanitanya dari puing-puing ledakan.
"Sayang, kamu baik-baik saja, 'kan?" Chris pelukan seketika dan menelisik tubuh Shakila dari atas hingga ujung kaki.
"Tenanglah, aku baik-baik saja," jawab Shakila sambil tersenyum tipis.
"Ayo kita pergi, sebelum–" Perkataan Chris terhenti kala mendengar suara baling-baling helikopter di atas kepalanya. Secepat kilat ia mendongakkan kepalanya ke atas, begitu juga dengan Shakila.
"Haha! Wah-wah adikku ternyata sangatlah romantis," ucap Calvin melalui speaker toa sambil memberi kode pada pilot mendaratkan helikopter segera.
Pilot dan co-pilot mengangguk paham lalu mendaratkan helikopter di atas pasir putih tersebut. Calvin pun melangkah keluar dari benda itu.
Chris membawa tubuh Shakila ke belakangnya sambil melayangkan tatapan tajam pada Calvin.
"Menyerahlah Calvin, anak buahmu sudah tumbang!" seru Chris sambil melirik ke kanan dan ke kiri, hendak memberitahu Calvin jikalau seluruh anak buahnya sudah terkapar ke tanah dan hanya tersisa sedikit saja.
"Tidak akan! Kamu harus ke Verona dan menyerahkan jabatan padaku!" Calvin menyeringai tipis setelahnya.
"Cih! Jangan bermimpi Calvin, Ayah menyerahkan warisannya padaku! Sebaiknya kamu mundur saja, orang licik sepertimu tidak cocok menjadi seorang pemimpin!" Chris menatap nyalang Calvin. Dia sangat menyayangkan sikap saudaranya itu, yang terlampau serakah dan hanya memikirkan diri sendirinya saja.
Sedari tadi Shakila hanya diam saja, mendengar perdebatan di antara dua saudara itu. Dia memicingkan matanya sejenak kala merasa wajah Chris dan Calvin sangat berbeda, tak seperti saudara kandung pada umumnya. Setidaknya satu saja kemiripan tapi ini tidak, semua tampak berbeda.
Ketegangan semakin terasa, kala Fabrizio yang sudah terluka parah, mendekati Calvin.
"Mister, sebaiknya kita menyerah saja Mister, ough, ough..." Fabrizio menyemburkan darahnya seketika karena di hantam oleh lawannya tadi di bagian perut.
Calvin melotot tajam. "Diam! Ini semua gara-gara kamu, karena tak becus berkerja!" Secepat kilat Calvin mengarahkan pisau ke arah perut Fabrizio. Namun, gerakannya kalah cepat saat Chris menyentak kasar tangannya hingga pisau terjatuh ke tanah.
"Ahk!" Calvin meringis kesakitan kala tangannya di pelintir Chris sekarang.
Sementara, Fabrizio menatap penuh kecewa pada atasannya itu. Dengan perlahan-lahan ia mundur. Menjauhi dari Calvin dan Chris seketika.
Shakila tercengang, karena Calvin teramat kejam, dengan saudaranya bahkan anak buahnya pun sendiri. Calvin tak segan-segan, ingin melukai orang kepercayaannya.
"Lepaskan aku, bedebah!" teriak Calvin sambil berusaha memukul perut kanan Chris. Namun, karena tinggi badannya yang lebih pendek dari Chris, dia sedikit kesusahan.
"Tidak akan, sebelum kamu mengurungkan niatmu mengambil warisanku!" Kini Chris mencekik leher Calvin dari belakang.
"Hahaha! Tidak, takhta itu milikku! Kamu harusnya sadar diri ha!" teriak Calvin berusaha melepas jeratan tangan Chris.
Chris semakin mempererat cekalannya. Calvin terbaik-batuk setelahnya karena cekikikan itu menyulitkannya untuk bernapas.
Shakila begitu was-was.
Chris melepas cekalannya lalu memutar badan Calvin dan melayangkan pukulan di perut saudaranya, hingga Calvin menyemburkan darah.
"Ahk!" Calvin terhuyun ke belakang sejenak. Lalu secepat kilat mengambil pistol di saku celananya.
Shakila menegang. Kedua matanya melebar seketika. Namun, perasaannya lega saat Chris kini berhasil menendang kuat tangan Calvin dan mengambil alih pistol dari tangan Calvin.
Calvin meneguk ludahnya tiba-tiba kala Chris mengarahkan pistol tepat di dahinya.
"Jadi, bagaimana? Masih mau lanjut?" Chris menyeringai tipis.
"Haha! Tidak akan, tembaklah, kalau kamu berani." Calvin benar-benar sudah hilang akal sehatnya. Dia malah menantang adiknya itu.
"Hentikan Chris! Sudahi semua ini!"
Chris dan Calvin serempak menoleh ke sumber suara kala mendengar suara yang tak asing di telinga. Bernadet melangkah cepat, mendekati keduanya dan di belakangnya, Gissel mengikuti langkah kaki calon mertuanya itu.
Saat mendapat informasi dari Ricko kalau Chris berada di teluk Meksiko. Ia langsung bergegas pergi. Namun, saat ingin pergi, Bernadet mendengar pembicaraannya di telepon, memaksa Gissel untuk membawanya. Dengan terpaksa Gissel mengiyakan keinginan Bernadet.
"Hentikan!" Bernadet langsung menarik tangan Calvin dan memeluk putranya dengan begitu erat.
Chris terpaku di tempat. Karena Mamanya tak melirik dia sedikitpun. Hatinya begitu perih kala tak dihiraukan Mamanya sendiri.
Dari jarak dua meter, Shakila dapat melihat sorot mata Chris, menyiratkan kesedihan mendalam.
"Calvin, kamu tak apa-apa 'kan, Nak?" tanyanya sambil menelisik tubuh Calvin dari kepala sampai ke bawah.
Calvin berdecak sesaat. "Apa kamu buta ha! Seperti yang kamu lihat sendiri, aku terluka sekarang gara-gara anakmu ini!" serunya sambil mendorong kasar dada Mamanya lalu menatap Chris. Bernadet lantas terkejut. Secepat kilat Gissel menahan tubuhnya dari belakang.
Chris meradang. "Calvin, bisakah kamu lebih lembut dengan Mama ha!" teriaknya sambil menondongkan lagi pistol di dahi Calvin.
"Hentikan Chris! Apa yang kamu lakukan! Jangan sentuh anakku!" Bernadet menarik cepat tubuh Calvin dan membawanya ke belakang tubuhnya. Calvin melempar senyum smirk pada Chris. Karena Mamanya berada di pihaknya.
Chris terhenyak. Bagai tertusuk sembilu, hatinya begitu perih. Mengapa Mamanya malah membela Calvin. Padahal jelas-jelas Calvin mendorong Mamanya.
Dengan perlahan-lahan Chris menurunkan senapan berlaras pendeknya lalu menatap sendu mata Mamanya.
"Aku juga anakmu, Ma. Mengapa Mama malah membelanya?" tanya Chris.
"Diam kamu! Kamu bukan anakku! Aku membencimu!" teriak Bernadet, berapi-api.
"Apa maksud Mama?" Chris mencoba bertanya meski sekarang perasaannya begitu kacau kala mendengar Mamanya mengatakan kalau dia bukan putranya.
Bernadet menatap tajam sambil mengulas senyum sinis. "Tanyakan saja langsung pada Pamanmu itu ha!" serunya lalu mengalihkan pandangan pada Calvin.
Chris tersenyum getir. Untuk pertama kalinya ia dapat bersitatap dengan Mamanya meski jawaban yang dilontarkan Mamanya barusan, mencabik-cabik hatinya. Apa memang benar dia bukan anak Bernadet. Entahlah. Pikiran Chris berkecamuk.
Sambil menyembunyikan perasaannya, pikiran Chris langsung melayang pada Benvolio, Pamannya, yang saat ini masih di rumah sakit. Chris menundukkan mukanya ketika Bernadet kembali memeluk Calvin tepat di hadapannya.
"Ch–" Shakila hendak mendekati Chris, bermaksud ingin memeluknya. Namun, seorang wanita yang ikut bersama Mamanya Chris, memeluk Chris tiba-tiba.