Kissing Strangers

Kissing Strangers
Kissing Strangers-Mencium Orang Asing



Di sisi lain, tepatnya di bandara, setelah menyuruh Rika dan Merry untuk meminta izin pada Sekar dan membuat alibi bahwa Shakila sedang berada di suatu tempat, menyelesaikan tugas yang ia berikan, dan barusan ia mendapat panggilan dari Calvin, mengancamnya agar cepat-cepat ke Verona. Tanpa pikir panjang Chris pun bergegas pergi ke Verona. Dia juga meminta Ricko dan Ricki mengumpulkan anak-anak buahnya hendak membawa pulang Shakila. Tak ada keraguan di hati Chris walau jumlah anak buahnya saat ini begitu sedikit.


Di samping kanan, kiri Chris, Merry dan Rika melangkah lebar mengikuti langkah kaki dosennya itu.


"Pak, pelan-pelan atuh jalannya!" Merry memasang mata memelas.


Chris melirik sekilas Merry lalu kembali memandang lurus ke depan. Dia enggan membalas Merry. Mungkin karena jengkel dua parasit ini tiba-tiba mau ikut katanya ingin membantu Shakila. Padahal Chris sudah mewanti-wanti bahwa mereka akan berhadapan dengan orang yang keji.


Tadi setelah memberi alasan pada Sekar. Rika dan Merry tentu saja penasaran. Dengan terpaksa Chris menjelaskan semuanya tanpa ditutup-tutupi. Setelah mendengar penjelasan darinya kalau dia seorang mafia. Bukannya takut keduanya malah terkagum-kagum, aneh sekali, pikirnya sejenak.


Rika menyenggol lengan Merry seketika sambil melangkah tergesa-gesa. "Mer, coba kita nggak usah ikut aja tadi, pegel nih kakiku, encok entar jalan, barbie!" sungutnya.


"Ish, nggak boleh gitu, Shakila dalam bahaya tahu, kita harus nyelamatin dial," kata Merry.


Rika hanya diam saja lalu menghentikan langkah dan kaki saat melihat Chris berhenti tepat di depan helikopter berwarna hitam.


"Mister, semuanya sudah siap!" Ricko keluar dari helikopter seketika.


Chris mengangguk. "Suruh Ricki retas titik lokasi Calvin, aku tidak yakin Shakila ada di Verona."


"Baik Mister, Ricki akan kemari sebentar lagi." Ricko mengalihkan pandangan ke arah Rika dan Merry seketika. "Mister mengapa mereka ikut?"


"Kami mau membantu, Shakila." Rika dan Merry menjawab serempak sambil menunjukkan senyum pepsodent-nya.


Ricko membuang napas kasar mendengar jawaban mereka. Dia melirik Chris lagi.


"Urus mereka, jangan sampai membuat misi kita gagal!"


"Baik Mister."


Setelah mendengar tanggapan Ricko, Chris melangkah cepat, memasuki helikopter seketika.


Ricko mengalihkan pandangan ke arah Rika dan Merry. "Jangan membuat ulah! Ikuti apa yang aku katakan nanti jika terjadi sesuatu, mengerti?"


"Mengerti!" seru Merry dan Rika, semangat.


Lima menit kemudian, helikopter pun lepas landas. Chris duduk di tengah helikopter bersama Merry dan Rika. Sementara, Ricko dan Ricki sebagai co-pilot.


"Bagaimana, apa kalian sudah menemukan titik temu Shakila?" tanya Chris seketika sambil menoleh ke bawah sana, melihat hamparan lautan luas membentang.


"Sedang aku cari, Mister, sebentar lagi akan selesai!" Dari depan, Ricki menjawab sambil mengotak-atik laptop.


Chris tak menyahut. Pikirannya sekarang sedang kacau. Dia berharap Shakila dalam keadaan baik-baik saja di sana.


"Tunggu aku Sayang," desisnya pelan sambil menatap lurus ke lautan.


Sementara itu, tengah-tengah di pulau antah berantah, yang di kelilingi lautan dan bebautan besar. Terdapat satu rumah besar nan luas, yang terbuat dari bebatuan besar berwarna putih. Di setiap sudut-sudut bangunan nampak sekumpulan manusia berdiri tegap, tengah menjaga dan memantau pergerakan di luar sana.


Di lantai dua tepatnya sayap kanan bangunan, terlihat seorang wanita tergolek di lantai, Shakila melenguh sesaat saat mendengar suara cicitan burung di telinganya. Dengan perlahan-lahan ia membuka matanya.


"Shfttt..." Shakila meringis sejenak sambil memegang dadanya yang masih terasa sakit akibat di hantam Calvin tadi. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat dirinya sudah bukan di pesawat lagi.


"Di mana aku?" Shakila berusaha bangkit berdiri. "Si4lan! Pak Calvin benar-benar psyco!" gerutunya kemudian sambil memindai ruangan kecil dan pengap yang ditempatinya saat ini.


Dia mengedarkan sejenak sembari melangkahkan kaki menuju pintu ukiran kayu tersebut. Secepat kilat ia menendang-nendang pintu, berharap dapat terbuka. Namun, pintu tersebut sangatlah kokoh dan susah untuk dibuka paksa. Pada akhirnya dia hanya bisa mondar-mandir di dalam ruangan sambil berpikir keras.


"Argh!!! Di mana aku!" Shakila mengacak-acak rambutnya frustasi. Perhatian Shakila teralihkan dikala pintunya terbuka lebar, menampakkan dua orang pria tinggi dan besar menyelenong masuk ke dalam ruangan sambil membawa pistol dan sepiring makanan.


Shakila mundur beberapa langkah.


"Hai cantik, ini makanan untukmu, makanlah Mister masih berbaik hati padamu, sebelum jantungmu diambil," sahut seseorang sambil menatap penuh nafsu pada Shakila.


"Apa maksudmu?" Shakila memberanikan diri, melangkah maju.


Kedua pria itu malah melempar senyum penuh arti sesaat.


"Sudahlah, cantik, jangan banyak bertanya, makanlah dulu," katanya sambil meletakkan piring di lantai.


Shakila mulai merasakan perasaan yang tak nyaman. Matanya memicing saat melihat handphone yang terselip di saku celana salah seorang pria. Tanpa pikir panjang ia mendekat dan melayangkan pukulan dengan cepat di rahangnya sambil mengambil handphone milik pria itu secara diam-diam.


Shakila menyembunyikan ponsel tersebut dengan cepat ke belakang tubuhnya.


"Eitz, stop! Sudahlah, kita keluar, jangan membuat keributan, kata Mister wanita ini memang gila!" sahut yang satunya sambil menahan tangan temannya yang ingin menondongkan pistol ke arah Shakila.


Sebelum melangkah keluar, dia tersenyum sinis lalu melenggang pergi. Meninggalkan temannya seorang diri yang kini menatap tajam Shakila.


"Bersihkan lantai ini! Aku tidak akan lagi memberikanmu makanan!" sahutnya sambil melengoskan muka.


Selepas kepergian mereka, Shakila bangkit berdiri lalu mengeluarkan cepat ponsel tersebut dan mengotak-atik.


Shakila mengumpat kesal karena di dalam ponsel tak ada apa-apa. Dia pun berusaha mengingat-ingat nomor Chris, tapi nomor yang diketik ternyata salah. Shakila tak menyerah, dia pun mulai mengetik nomor Rika. Dan bingo, panggilan pun terhubung akhirnya.


"Rika, ini aku Shakila, tolong aku, katakan pada Chris aku diculik Calvin," desisnya pelan sambil melirik daun pintu.


"Shakila, ah syukurlah, ahk!" Di ujung sana Chris menyambar cepat ponsel Rika.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Chris.


Mendengar suara Chris, Shakila tanpa sadar mengulas senyum tipis sejenak. "Sayang, aku diculik Pak Calvin, ada hubungan apa Bapak dengan Pak Calvin, apa benar Bapak mafia dan sudah bertunangan?" cecarnya beruntun.


Helaan napas berat terdengar dari ujung sana. "Maaf, iya benar Bapak seorang mafia dan sudah bertunangan tapi Bapak tidak mencintainya Shakila, kami dijodohkan dari kecil, dan Calvin adalah saudara kandungku, kami memiliki masalah internal," jelas Chris singkat.


Shakila tercengang.


"Jadi benar Bapak seorang mafia, mengapa Bapak bohong sama Shakila. Shakila kecewa sama Bapak." Shakila menekan suaranya. Dia tak dapat mengungkapkan dengan kata-kata lagi perasaannya saat ini. Shakila amat kecewa, ternyata pria dia dicintainya selama ini telah berbohong padanya.


Rahang Shakila nampak mengeras setelahnya.


"Maaf." Hanya satu kata itu yang dapat dikatakan Chris. Dia pun menyesali perbuatannya karena membohongi Shakila karena tak mau Shakila pergi darinya. Sebab pekerjaan yang ia miliki adalah perkerjaan kotor.


Hening, tak ada lagi tanggapan Shakila. Keduanya sama-sama terdiam.


"Kita selesaikan nanti urusan kita, sekarang cepat, bebaskan aku dari sini, aku tidak tahu ada di mana, tapi yang jelas, ruangan di tempatku sekarang semuanya putih dan dinding-dindingnya dari batu putih," sahut Shakila kemudian sambil melangkah maju ke sisi kanan, melihat ada seekor burung munggil yang hinggap di lubang kecil.


"Oke Sayang, maafkan Bapak, Bapak benar-benar menyesal, bisa deskripsikan lagi di mana tempatmu Sayang," kata Chris sambil melirik Ricki, untuk melacak Shakila ada di mana melalui panggilan yang terhubung saat ini.


"Tunggu sebentar, di sini ada burung kecil warnanya hitam keungu unguan, Shakila nggak pernah lihat burung ini Pak, tapi di luar kayaknya lautan semua deh," sahut Shakila sambil berusaha mengapai burung yang saat ini masih bergeming di lubang.


Dia mengambil cepat burung itu dan mendekatkan burung ke ponselnya."Hei, burung bersuaralah, bantu Shakila ya, entar Shakila kasi duit," katanya selayaknya berbicara pada manusia dan ajaibnya burung itu berkicau beberapa kali.


"Mister! Itu burung Kolibri Ruby, ada di Amerika Serikat, teluk Meksiko, aku sudah dapat lokasinya!" sahut Ricko di sebrang sana.


Shakila melebarkan senyuman lebar seketika. "Ayo cepat kemarilah. Tolong–"


Brak!


Shakila terkejut saat tiba-tiba dari luar pria yang tadi dia ambil ponselnya mendorong paksa pintu. Shakila memundurkan langkah kakinya seketika sambil tersenyum kaku. "Maaf, aku hanya, ahk!"


Bruk!


Shakila terperanjat kala tubuhnya di banting ke lantai seketika. Ponsel yang ia pegang tadi pun terpecah belah.


"Ahkk..." Shakila berusaha bangkit berdiri. Akan tetapi, pria itu malah menginjak perutnya seketika. "Lepaskan aku, si4lan!"


"Haha, aku tidak akan melepaskanmu! Mari kita bersenang-senang Sayang," ucapnya sambil menurunkan retsleting.


Shakila meradang. Kedua matanya melotot tajam. "Bermimpilah b4jingan!" sahutnya sambil menendang kuat kaki kanan pria itu hingga sang pria tersungkur ke lantai. Dalam sepersekian detik. Shakila dan pria yang memiliki tato di seluruh badan saling menyerang satu sama lain.


Seketika alarm di semua ruangan berbunyi kuat. Fabrizio yang sedang berada di lantai satu, menggerakan kepalanya seketika.


"Ada apa?" tanyanya pada bawahannya yang sedang duduk di depan komputer.


Pria itu menoleh lalu berkata,"Tuan, sepertinya ada yang menerobos masuk ke dalam ruangan sandera."


Fabrizio berdecak kesal sebentar. "Si4l! Perintahkan semuanya pergi ke sayap kanan!" titahnya seketika sambil mengambil pistol di atas meja.