
Author minta maaf ya, gak rutin updatenya, masih sibuk sama real life. Tenang, bulan ini ceritanya author rampungkan. Berhubung kemarin novel author nggak dapat reward. Author minta tolong sekali 🙏 babnya jangan ditabung karena itu merusak retensi. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, biar author semangat, hari ini author usahakan setor 2 bab 🙏
...----------------...
Menjelang siang, Shakila dan kawan-kawannya bersantai di kantin. Mereka tengah menyantap makanan yang tersedia di atas meja. Hawa panas mie ayam dan bakso tampak mengepul ke udara.
Dengan muka tertekuk sempurna Shakila memasukan makanan ke mulutnya. Merry dan Rika melemparkan pandangan penuh tanda tanya sebab sedari tadi wajah Shakila tampak tak bersemangat.
Gerakan tangan Merry terhenti seketika. Ia menaruh sendok di pinggir mangkok.
"Shakila, kok manyun? Kenapa sih? PMS?" Merry mengajukan pertanyaan yang membuat Shakila mengalihkan pandangannya.
Shakila menggeleng. "Nggak kenapa-kenapa." Suara Shakila terdengar sedikit ketus. Sekali lagi Merry dan Rika melirik satu sama lain.
"Yakin?" tanya Rika, kemudian menyeruput teh es dengan cepat.
"Iya." Helaan napas berat terdengar pula dari hidung Shakila. Ia tiba-tiba bangkit berdiri. "Aku mau ke toilet sebentar ya."
Anggukan pelan sebagai balasan Merry dan Rika. Mereka semakin heran, melihat sikap Shakila.
Shakila melangkah cepat menuju toilet. Perasaannya semakin tak karuan. Bagaimana tidak, pria yang cintai seakan mempermainkan perasaannya. Dia ingin menumpahkan semua emosinya yang ditahan sedari tadi. Belum juga Shakila sampai di toilet, tangannya di tarik lagi oleh seseorang dari belakang. Saat melihat siapa pelakunya, dada Shakila mulai bergemuruh kuat. Chris, pria itulah yang membuat suasana hati Shakila buruk hari ini.
"Bapak mau ngapain! Lepasin tangan Shakila!" Dengan sorot mata menyala-nyala Shakila berseru. Dia berusaha mengibaskan tangan Chris namun tenaganya kalah.
"Nggak, Bapak minta maaf karena mendorong kamu tadi, ayo ikut Bapak sebentar ke suatu tempat, ada yang mau Bapak sampaikan," kata Chris sambil sesekali melirik ke kanan dan ke kiri, beruntung suasana di sekitar tampak sepi.
"Nggak! Shakila nggak mau maafin Bapak! Bapak jahat! Shakila bukan cewek yang seenaknya dicium-cium tahu! Shakila benci sama Bapak!" Shakila tak mampu lagi membendung perasaannya. Dia berkata sambil mengigit bibir bawahnya, berusaha agar sesuatu di balik bola mata untuk tidak keluar. Namun, pada akhirnya cairan bening mengalir perlahan-lahan dari pelupuk matanya juga.
Chris tercekat secepat kilat menarik tubuh Shakila ke dalam pelukan. "Tapi Bapak cinta sama kamu Shakila," katanya cepat sambil mendekap Shakila lebih erat.
Shakila langsung mendonggak. "Cinta? Maksud Bapak?" tanyanya. Apa dia salah mendengar barusan, Chris menyebutkan kata cinta.
Chris mengurai pelukan dan memegang kedua pipi Shakila. "Iya, Bapak cinta sama kamu, Shakila. Bapak mau kamu yang jadi pendamping hidup Bapak nantinya. Maafin Bapak karena menyakiti kamu selama ini. Tapi Bapak kecewa, ternyata kamu malah membenci Bapak?"
"Ish! Seharusnya Shakila yang kecewa, hiks, hiks...., apa Bapak nggak tahu benci itu kepanjangannya, benar-benar cinta! Shakila cinta juga sama Bapak! Shakila mau jadi istri Bapak," sahutnya lalu menelusupkan wajahnya ke dalam dada bidang Chris. Shakila menangis tersedu sedan. Dada Shakila terasa berbunga-bunga sekarang. Akhirnya kegalauan berubah dalam sekejap, ia dan Chris ternyata memiliki perasaan yang sama. Dia tak dapat lagi mengungkapkan kebahagiaan yang merasuk relung hatinya saat ini.
Begitupula dengan Chris. Pria itu mendekap tubuh munggil Shakila lebih erat lagi. Untuk sejenak keduanya sama-sama hanyut dalam dunianya.
Lima menit pun berlalu suara isak tangis Shakila sudah tak terdengar lagi.
"Shakila, kita ke suatu tempat dulu, ada yang mau Bapak bicarakan." Chris mengurai pelukan seketika.
Tanpa banyak tanya, Shakila mengangguk pelan.
***
Kini Shakila dan Chris di bangunan belakang. Keduanya berdiri berhadapan.
"Mau ngomong apa Pak?" tanya Shakila lebih dulu, ketika melihat Chris memasang tampang serius.
Chris tak langsung menjawab. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, ingin memastikan sesuatu apa ada orang di sekitar mereka atau tidak dan sepertinya suasana aman, tak ada tanda-tanda orang akan melintas.
"Pak?" Shakila bersuara sekali lagi.
"Shakila, untuk saat ini hubungan kita jangan sampai orang tahu, Bapak tidak mau kamu terluka nantinya," jawab Chris seketika.
"Ha? Kenapa nggak boleh?" Bibir bawah Shakila turun seketika.
"Shakila, ini untuk kebaikan kita bersama, Bapak tidak mau kamu nanti digosipkan sama teman-temanmu, mengertilah Sayang," kata Chris lalu menarik pinggang Shakila.
Chris mengulas senyum tipis lalu melabuhkan kecupan singkat di bibir Shakila. "Sepertinya ada yang cemburu."
"Kenapa? Memangnya nggak boleh!" Mata Shakila mendelik ke atas.
"Tidak Sayang. Sebenarnya ada yang mau Bapak tanyakan juga sama kamu Shakila, Bapak kamu jawab sejujur-sejujurnya." Chris menunjukkan mimik muka yang serius.
"Oh, gampang itu, Bapak mau tanya apa?" Dengan dahi berkerut samar, Shakila bertanya.
"Kalau misalnya Bapak seorang mafia, apa Shakila masih mau jadi pacar Bapak?" Chris menatap dalam bola mata Shakila.
Shakila terkekeh pelan sejenak. "Apaan sih? Pertanyaan Bapak aneh banget, mafia itu perkerjaan paling kotor, nomor dua setelah koruptor, setahu Shakila mafia itu banyak merugikan masyarakat. Membunuh, merengut kebebasan orang, dan lain-lainnya. Kalau misalnya Bapak seorang mafia, Shakila bakal pergi."
"Jangan!" Chris mendekap tubuh Shakila seketika. Ketakutan menjalar ke relung hatinya. Dia takut Shakila benar-benar meninggalkannya. Apa jadinya nanti jika Shakila mengetahui perkerjaan Chris yang memang keji dan tak berperikemanusiaan. Hampir sebagian perkerjaan mafia selalu berhubungan dengan darah. Bisnis yang dia geluti di Verona salah satunya, menjual organ manusia. Yang di mana orang-orang tak bersalah diculik dan dibunuh secara brutal.
Dalam pelukan Chris, alis mata Shakila bertautan. "Bapak kenapa sih? Aneh deh, Bapak nggak mungkin mafia, 'kan?"
"Bukan Sayang," jawab Chris cepat sambil mengecup pelan pucuk kepala Shakila.
"Baguslah, awas saja kalau Bapak bohong, Shakila nggak suka orang pembohong." Shakila mengurai pelukan seketika dan menatap lekat-lekat wajah Chris.
"Iya Sayang." Chris tersenyum hambar setelahnya.
Dari jarak beberapa meter, Ricko mengepalkan kedua tangannya karena Chris melakukan tindakan semua hatinya. Dia sangat menyesalkan perbuatan majikannya itu, yang tak berpikir dampak ke depannya.
"Argh! Kacau semuanya," gerutunya. Getaran dari saku celana, mengagetkannya seketika. Ricko mengambil ponselnya buru-buru. Matanya melebar, melihat nama Gissel menghiasi layar ponselnya.
"Hallo Nyonya?" sapanya terlebih dahulu.
"Hallo, Ricko, bagaimana kabar Chris? Apa dia baik-baik saja di sana?" Di ujung sana, hanya dengan membayangkan wajah Chris saat ini, Gissel tersenyum lebar.
Ricko menatap lurus ke depan, melihat Chris dan Shakila berciuman kembali. "Sangat baik, Nyonya."
"Baguslah, aku senang mendengarnya, sampaikan rinduku padanya, Ricko. Jaga selalu dia untukku, aku akan membantu Chris mendapatkan takhtanya kembali."
Ricko menghela napas pelan sesaat. Bagaimana bisa, wanita sebaik Gissel tak pernah bisa meluluhkan hati Chris. Ricko tak mengerti dengan pemikiran majikannya itu. Dia menaruh rasa kasihan pada Gissel.
"Baik Nyonya," jawab Ricko setelahnya.
"Ya sudahlah, kalau begitu aku tutup dulu, aku mau ke kamar Nyonya Bernadet, sepertinya beliau belum makan."
"Baik Nyonya."
Setelah sambungan terputus, Ricko menaruh kembali ponselnya ke tempat semula lalu menatap ke depan, melihat Shakila dan Chris berjalan bergandengan tangan ke suatu tempat.
***
Di sisi lain, tepatnya kota Verona. Gissel mendorong kuat pintu berganda itu menggunakan sikunya. Dia masuk ke dalam ruangan sambil membawa nampan, yang didalamnya berisi makanan khas Italia.
"Bagaimana kabarmu hari ini Ma? Sudah merasa baikan?" Gissel bertanya sambil menaruh nampan di atas nakas.
Di atas tempat tidur, Bernadet mengabaikan pertanyaan Gissel. Dia terduduk lemah sambil menyenderkan kepalanya pada headboard kasur. Sorot matanya tampak kosong dan tak bernyawa sekali. Dia sedang mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit kamar.
Gissel hanya mampu menarik napas berat karena kondisi Bernadet saat ini sangat terpuruk pasca ditinggal mendiang suaminya. Tak ada lagi binar terlihat dimata Bernadet. Wanita cantik dan berpenamilan glamor itu benar-benar terlihat kacau.
Gissel dapat memahami perasaan Bernadet saat ini, yang ditinggal tiba-tiba oleh sang suami. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun pria itu menyembunyikan penyakitnya dari Bernadet. Bernadet amat menyesal karena terakhir bertemu suaminya. Mereka sedang berseteru.