
Beberapa bulan kemudian, memasuki musim gugur, Shakila dan Chris sudah berada di Verona. Chris membawa Shakila ke Verona dan memutuskan menetap di sana. Mengingat tanggungjawabnya sebagai presdir bertambah besar.
Chris memilih mansion yang tak terlalu jauh dari kantornya, sekaligus ingin memantau istrinya itu. Apalagi sampai saat ini baik Bernadet maupun Calvin, tak mau bertemu dengannya. Mungkin karena warisan telah jatuh ke tangannya. Calvin juga sekarang tak memiliki kekuatan sama sekali untuk menggulingkannya. Meskipun begitu dia harus waspada. Walau banyak bodyguard yang telah dia tugaskan memantau Shakila diam-diam di rumah.
Shakila menurut-nurut saja atas keinginan suaminya itu. Meskipun sekarang dia tak memiliki teman alias berjauhan dari Merry dan Rika. Namun, dia tak mau egois. Lagipula dia bisa bermain ke Indonesia sewaktu-waktu, apalagi Chris memiliki pesawat pribadi yang bisa dia pakai setiap saat.
Selagi menunggu Chris pulang berkerja. Shakila bersantai-santai di taman belakang mansion sambil menyeduh teh hangat. Dia di suruh Chris untuk meminum obat herbal agar dapat menyehatkan tubuhnya. Dengan ditemani maid yang umurnya tak lagi muda, Shakila menyenderkan kepalanya ke belakang sambil menatap lurus ke depan, melihat pemandangan sore hari yang amat indah.
"Nyonya, apa mau cemilan?" Dari samping, Maid mendekati Shakila.
Shakila menoleh. "Hmm, boleh, bawakan aku coklat cookies saja," katanya.
"Baik, Nyonya." Maid pun mundur beberapa langkah dan mulai melenggang pergi masuk, ke dalam mansion.
Shakila kembali mengalihkan pandangannya kembali ke depan.
"Nyonya? Anda memanggil saya tadi?" Di belakang, suara Ricki tiba-tiba terdengar.
Shakila memutar kepala. "Iya." Beberapa menit yang lalu, dia menghubungi Ricki untuk datang ke mansion sekarang, ada yang mau ia tanyakan.
Ricki yang sedang merampungkan perkerjaannya di kantor tadi. Terpaksa menuruti perkataan Shakila. Setelah mendapat ancaman dari Chris kemarin. Chris menyuruhnya Untuk mematuhi apapun permintaan Shakila walau ada badai sekalipun.
"Ada apa Nyonya?" Ricki melangkahkan kaki dan berdiri di hadapan Shakila.
Sebelum menggerakkan bibirnya, Shakila menarik napas dalam. "Ricki, kamu harus jujur denganku, apa di kantor ada wanita cantik, maksudku? Apa ada sekretaris baru atau bagaimana?" tanyanya, menggebu-gebu sambil memicingkan matanya.
"Ha?" Ricki melonggo sejenak kala mendapat pertanyaan aneh dari Shakila. "Tidak ada Nyonya, memangnya kenapa Nyonya?"
"Ck! Jangan bohong, tadi malam Chris tidak membangunkanku saat aku menunggunya di ruang tamu. Dia juga tidak mencium kepalaku semalam, pasti ada wanita lain di kantor kan!" Shakila melipat tangannya di dada seketika, menahan sebal. Karena tadi pagi pun Chris buru-buru pergi ke kantor katanya ada meeting mendadak.
Ricki malah tertawa hambar. Menebak sepertinya Shakila tengah cemburu buta. Padahal jelas-jelas tadi malam saat Chris baru saja sampai rumah. Dia menggendong Shakila ke kamar dan tak lupa melabuhkan kecupan-kecupan pelan di kepala Shakila di sepanjang jalan.
"Nyonya, tadi malam Mister mencium anda kok, dia tidak tega membangunkan anda," jelas Ricki, sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah! Terserah lah, awas saja nanti dia datang, aku akan mengurungnya di kamar!" Bibir Shakila kembali merengut.
Ricki tampak serba salah. Dia berdiri sambil sesekali melempar senyum kakunya. Entah mengapa akhir-akhir ini sikap Shakila sedikit berubah. Wanita itu seringkali memintanya ke mansion untuk menanyakan hal sepele.
"Nyonya, ini cookiesnya, baru saja selesai dimasak oleh Chef." Maid baru saja sampai. Dia pun menaruh nampan yang berisi cookies dan es coklat dingin, di atas meja bundar. Melihat wajah masam Shakila, dia melirik Ricki sekilas dan bertanya pada Ricki melalui bahasa isyarat.
"Ricki, aku tidak mau tahu, besok di kantor tidak boleh ada karyawan wanita! Mengerti!" sahut Shakila setelahnya sambil mengambil cookies di dalam piring.
Astaga, apa dia sudah gila?
Ricki melempar senyum kaku kemudian. "Hehe, ya Nyonya. Akan saya usahakan."
"Jangan diusahakan, tapi dilaksanakan!" Shakila mendengus sejenak lalu mulai memasukan cookies ke dalam mulutnya. Akan tetapi, baru saja ia mencecap rasa manis dari kue cookies itu. Perutnya bergejolak seketika.
"Hoek...." Shakila bangkit berdiri seketika sambil membekap mulutnya sendiri.
"Nyonya!" Ricki dan Maid begitu panik. Mereka lantas mendekat.
"Anda tidak apa-apa, Nyonya? Apa cookiesnya tidak enak?" tanya Maid, khawatir.
Shakila tak menyahut. Dia malah membungkukkan badan dan mengeluarkan semua isi makanannya hari ini ke rerumputan hijau tersebut.
Ricki dan Maid terlihat semakin panik.
"Nyonya, ayo kita ke dalam ya, sepertinya udara di luar tak baik buat Nyonya," kata Maid sambil mengurut pelan tengkuk Shakila.
"Iya...,"sahut Shakila, lemas sambil menyeka pelan bekas muntahan di bibirnya.
Sesampainya di dalam, Shakila merebahkan dirinya di atas sofa dan meminta Maid untuk mengambilkannya air putih.
"Hm, aku baik-baik saja kok, mungkin hanya kecapean, karena Chris terkadang mengempurku subuh-subuh," jawabnya jujur, karena Chris kadangkali menjamah tubuhnya ketika dia sedang tertidur.
"Nyonya yakin?" Ricki merasa ada sesuatu aneh saat ini. Shakila mengangguk cepat. "Nyonya, apa sudah menstruasi, em maksudku datang bulan begitu, apalagi Nyonya menyatakan Mister em itu..." ucapnya, hati-hati, karena pembicaraan mereka sekarang agak privasi.
Shakila melebarkan matanya seketika. Baru saja teringat jika bulan ini tanggal menstruasinya sudah lewat."Ricki, apa kamu bisa membelikan aku testpack sekarang," katanya kemudian sambil mengelus pelan perutnya. Berharap praduganya benar, apalagi dia merasa dirinya cemburu pada Chris tanpa alasan yang jelas.
"Tentu saja bisa Nyonya." Ricki mengangguk cepat lalu melenggang pergi keluar mansion.
*
*
*
Malam pun tiba. Sekali lagi Shakila tertidur pulas di ruang tamu, menunggu Chris pulang. Saat Chris masuk, pemandangan pertama yang ia lihat adalah istri munggilnya yang menselonjorkan kakinya di atas sofa.
"Kasihan sekali dia," kata Chris sambil menyodorkan tas kerjanya pada Ricki.
Ricki mengambil alih tas dari tangan Chris sambil berkata, "Iya Mister, tadi sore Nyonya juga muntah."
"Apa katamu? Muntah? Kamu ada ke sini tadi sore?" Sorot mata Chris berubah dingin. Karena Ricki tak mengatakan kalau Shakila sakit.
Ricki tampak serba salah. "Ya muntah, maaf Mister, Nyonya Shakila mengatakan padaku, untuk memberitahu anda setelah sampai di rumah saja, dia tak mau anda mengkhawatirkannya,"sergahnya. Karena setelah dia membelikan Shakila testpack ke apotik. Shakila menyuruhnya untuk tidak mengatakan pada Chris tentang keadaannya.
Chris hanya diam. Dia malah menghampiri Shakila dan menggendongnya seketika lalu melangkahkan kaki ke kamar miliknya.
Begitu sampai di kamar. Chris merebahkan Shakila di atas ranjang lalu melabuhkan kecupan di pucuk kepalanya. "Maafkan aku Sayang. Setelah semua perkerjaanku selesai, kita akan liburan," desisnya pelan, sambil memperhatikan lekat-lekat wajah Shakila.
*
*
*
Keesokan paginya, Chris terkejut kala mendengar suara teriakan Shakila dari kamar mandi. Secepat kilat ia beranjak dari tempat tidur dan menggedor-edor pintu.
"Shakila, Sayang, ada apa? Buka pintunya Sayang!" seru Chris, panik. Tanpa menghentikan gerakan tangannya. "Sayang!"
Dalam hitungan detik, pintu pun terbuka. Chris menelisik tubuh Shakila sambil memegang pundaknya. "Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang terluka?" tanyanya, cemas.
Shakila malah melengkungkan senyuman lalu berkata,"Sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi Daddy."
Chris mengerutkan dahi. "Maksudnya Sayang?"
Shakila mengeluarkan testpack yang disembunyikannya sedari tadi di belakang. Lalu menyodorkan benda pipih itu kepada Chris.
"Lihatlah, dua garis merah!" seru Shakila, bersemangat.
Chris mengambil benda tersebut. Lalu mengamati testpack itu dengan seksama. Detik selanjutnya, matanya berkedip cepat. "Kamu hamil, Sayang?" tanyanya, seakan tak percaya.
Shakila mengangguk cepat. Dengan senyumnya yang tak memudar dari tadi. "Iya!"
Chris langsung membawa Shakila dalam dekapannya dan mengecup wajah istrinya bertubi-tubi. "Terima kasih Sayang, terima kasih!" sahutnya, senang sambil memeluk Shakila begitu erat. Saat ini Chris tak dapat menjabarkan kebahagiaannya dengan kata-kata.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang." Chris mengurai pelukan seketika sambil menatap dalam bola mata Shakila. Karena sebentar lagi akan ada anggota baru hadir di tengah-tengah mereka.
"Aku juga sangat mencintaimu." Shakila mengalungkan kedua tangannya di leher Chris.
Chris mengulas senyum hangat lalu melabuhkan kecupan pelan di bibir Shakila.
...🌺 THE END 🌺...