Kissing Strangers

Kissing Strangers
Kissing Strangers-Mencium Orang Asing



Shakila membalikkan badannya, hendak pergi ke helikopter bergabung bersama Merry dan juga Rika. Namun, suara Chris menghentikan gerakan kakinya seketika.


"Shakila, tunggu! Jangan pergi!" serunya sambil mendorong kasar tubuh Gissel seketika hingga Gissel terjatuh ke bawah. Lalu berlarian mendekati Shakila.


Shakila terkejut kala tangannya di sentuh Chris.


"Jangan pergi Sayang, mau kemana?" tanya Chris sambil memegang kedua pipi Shakila..


Shakila hanya diam saja. Namun, jauh di lubuk hatinya, dia senang karena Chris menghampirinya.


"Chris, apa-apaan ini?" tanya Gissel dengan tatapan sendu.


Chris menurunkan tangannya lalu menatap Gissel. "Maaf, Gissel. Aku tidak bisa menikah denganmu karena hatiku sudah milik wanita ini," ucapnya sambil menggenggam tangan Shakila.


Tanpa sadar Shakila tersenyum tipis.


Napas Gissel tercekat. Dia tak mampu menahan sakit yang merasuk relung hatinya sekarang. Pria yang ia tolong malah mencintai wanita lain. Apa pengorbanannya selama ini, tak berarti di mata Chris. Jantung Gissel tercabik-cabik, menatap genggaman tangan Chris dan seorang wanita muda di hadapannya yang begitu erat.


"Apa maksudmu?" Gissel mengigit bibir bawahnya kemudian. Berharap air matanya tak keluar sekarang juga. Namun, apa yang di harapkannya tak terjadi. Cairan bening itu mulai mengalir di kedua pipinya pelan-pelan.


"Maksudku, kita tidak bisa menikah. Kamu tahu sendiri, selama ini aku tidak pernah mencintaimu, aku minta maaf Gissel, semoga kamu dapat mengerti," jelas Chris.


Gissel membeku. Dia tak menyanggah perkataan Chris. Kepalanya langsung menunduk lemah. Memikirkan nasib percintaannya yang tragis.


Shakila yang mendengarkan isakan tangis Gissel pun terenyuh, secepat kilat ia melepaskan tangannya dari tangan Chris lalu mendekati Gissel.


"Maaf, aku tak bermaksud merebut Chris darimu, Gissel," ucap Shakila sambil menggapai tangan Gissel.


Gissel menegakkan kepalanya lalu menatap bola mata wanita yang lebih muda darinya itu. Dia enggan membalas perkataan Shakila, malah menatap dalam bola mata Chris.


Chris menghela napas berat karena dirinya sedari dulu tak bisa membalas perasaan Gissel. Walau wanita itu terlampau baik padanya selama ini. Bahkan mau menolongnya di saat dia sedang mengalami masalah kemarin. Chris mengalihkan matanya ke samping. Tak mau melihat Gissel menangis.


"Apa maksudmu, Chris? Kamu ingin membatalkan pernikahanmu dengan Gissel?' Setelah berbincang-bincang dengan Calvin barusan dan menyuruh anaknya untuk mengalah karena wasiat dari mendiang suaminya harus tetap dijalankan. Calvin tak serta-merta langsung menjawab. Selagi menunggu jawaban anaknya, Bernadet tak sengaja mendengar obrolan Chris dan Gissel.


"Iya, aku membatalkan pernikahan ini, lagipula aku tidak mencintai, Gissel." Chris mengalihkan pandangan pada Mamanya seketika.


Sebelah alis Bernadet terangkat sedikit lalu berkata,"Lalu kamu mencintai siapa?"


"Wanita yang ada di hadapanmu saat ini, namanya Shakila, Ma–" Chris tak meneruskan perkataannya diterpa kebingungan kala mendapatkan tatapan dari Mamanya sekarang karena memanggilnya dengan sebutan Mama.


Bernadet mengalihkan pandangan pada Shakila dan Gissel. Dia menatap kedua wanita itu sejenak. Shakila tampak salah tingkah saar diperhatikan begitu intens. Dalam sepersekian detik, Bernadet memutus kontak matanya.


"Kita kembali ke Verona, selesaikan di sana!" titah Bernadet lalu melangkah pergi menuju helikopter.


Chris melempar pandangan pada Shakila seketika. "Ayo kita ke tanah kelahiranku, ucapnya sambil menggapai tangan Shakila.


Shakila mengangguk pelan lalu menautkan jemarinya ke jemari Chris lalu melangkahkan kakinya menuju helikopter. Sementara, Gissel masih bergeming di tempat. Dengan muka muramnya, ia mengusap cepat jejak air matanya.


"Hahaha, kasihan sekali, sepertinya ada yang patah hati!" Calvin menyeringai tipis, seakan-akan mengoloknya.


Gissel hanya diam saja. Enggan untuk membalas perkataan Calvin. Dia melenggang cepat menuju helikopter.


*


*


*


Sesampainya di Verona, Shakila, Merry dan Rika, melemparkan pandangan sejenak, melihat mansion Chris sangatlah besar dan megah. Dapat dipastikan keluarga Chris bergelimangan harta. Saat ini mereka berjalan masuk menuju pintu utama mansion.


"Gila ini mah konglomerat banget, eh Shakila calon suamimu kaya nih, nanti suruh dia traktir aku beliin ruko untuk aku jualan pecel lele," sahut Merry sambil menyenggol lengan Shakila.


Rika tersenyum smrik. "Ya elah, dikit itu mah, mending minta–"


"Stop! Udah, jangan berisik!" teriak Shakila seketika sambil menutup mulutnya karena suaranya melengking nyaring.


Lima menit kemudian, Shakila, Chris, Gissel dan juga Bernadet telah sampai di ruang tengah. Sedangkan Calvin langsung pergi ke kamarnya hendak membersihkan diri. Sementara, Ricko, Ricki dan teman-teman Shakila di ruang tengah. Mereka di suruh Chris menunggu di situ saja.


Kini Shakila dan Chris duduk berhadapan dengan Bernadet dan Gissel.


Shakila meremas jaket hoodie-nya saat merasa suasana di ruangan amat mencekam. Dia menundukan pandangannya karena tak berani menatap bola mata Bernadet. Chris mengambil cepat tangan kanannya dan menggengamnya dengan begitu erat, berusaha menenangkan Shakila.


"Jadi, wanita ini yang mau kamu nikahi?" Bernadet mulai membuka suara. Setelah memindai penampilan Shakila dari ujung kepala dari ujung kaki.


"Iya, aku akan menikahi dia."


"Wanita seperti dia?" Bernadet mendengus lalu menatap remeh. "Cih! Lihatlah penampilan dan sikapnya itu, jauh dari kata elegan, sementara Gissel, dia wanita elegan dan lemah lembut, aku tidak merestui hubungan kalian, pernikahanmu dengan Gissel harus tetap berlanjut karena ini mandat terakhir suamiku," ucapnya.


Shakila tak berani menyanggah. Dia semakin menundukkan kepala.


Chris naik pitam lalu bangkit berdiri seketika."Aku tidak meminta persetujuan darimu, bukankah kamu bilang aku bukan anakmu ha! Terserah katamu, Shakila lah yang pantas mendampingiku, aku tak peduli dengan penampilannya, yang paling penting adalah hatinya! Aku akan menikahi Shakila!"


Bernadet malah terkekeh mengejek setelahnya. "Kamu sangat egois! Bagaimana dengan Gissel! Dia sudah membantumu ha!" ucapnya sambil mengalihkan perhatian ke arah Gissel, sedari tadi hanya diam saja dengan wajah muramnya.


Chris mendekati Gissel lalu berjongkok di hadapannya. "Gissel, maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, terima kasih karena berkatmu aku bisa hidup sampai saat ini, jasamu tidak akan aku lupakan dan aku mohon, apa kamu mau menikah dengan pria yang sama sekali tidak mencintaimu?"


Gissel mengangkat kepala lalu melempar senyum kaku."Apa kamu mencintai wanita itu, Chris?" Bukannya langsung menjawab, Gissel malah mengalihkan pandangannya ke arah Shakila.


"Iya, dialah wanita yang aku cintai," ucap Chris penuh penekanan.


Gissel lagi, lagi melempar senyum tipis. Kemudian berkata,"Suruh dia mendekat."


Chris paham lalu menyuruh Shakila untuk mendekati mereka. Dengan takut-takut Shakila berjalan sambil sesekali melirik Bernadet masih dengan wajah juteknya.


Saat Shakila berdiri di hadapannya, Gissel berdiri lalu menggenggam kedua tangan Shakila.


"Apa kamu mencintai, Chris?" tanya Gissel seketika.


Sebelum menjawab, Shakila melirik Chris sekilas. "Iya, aku sangat mencintainya, sekali lagi aku minta maaf, Gissel," jawabnya.


Gissel menarik panjang saat mendengar jawaban Shakila. Cairan bening yang sedari tadi ia tahan, meluruh lagi pada akhirnya. Dia menarik Shakila ke dalam pelukan tiba tiba.


"Baiklah, aku puas mendengarnya, kalau kamu sangat mencintai Chris, maka dari itu jaga dia untukku, dia adalah pria yang baik, kalian sangat serasi, jika kalian menikah nanti, undanglah aku," jawabnya sambil memejamkan matanya sesaat. Menahan sesak, berusaha mengikhlaskan pria yang ia cintai untuk wanita lain.


Shakila mengangguk pelan sambil ikut membalas pelukan Gissel. Dia terenyuh sejenak akan kebaikan hati Gissel


"Gissel! Apa kamu sudah gila! Apa kamu tahu konsekuensinya kalau kamu membatalkan pernikahan ini ha!" Bernadet bangkit berdiri sambil melayangkan tatapan tajam.


Gissel mengurai pelukan lalu menatap Bernadet. "Aku tidak gila Ma, biarkan Chris bersama wanita yang dicintainya, iya aku tahu konsekuensinya."


Napas Bernadet terdengar memburu. Dia melengoskan mukanya ke samping seketika.


"Terima kasih Gissel, aku harap kamu mendapatkan jodohmu nanti," ucap Shakila kemudian.


Gissel membalas dengan senyuman tipis saja.


"Gissel, aku harus pergi ke tempat Paman Benvolio, ada urusan sebentar, terima kasih karena kamu mau berlapang dada, aku harap kamu mendapatkan pengganti yang lebih dariku," kata Chris, menimpali.


Gissel mengangguk pelan.


"Ayo Shakila, kita keluar!" Chris menyambar cepat tangan Shakila.


"Jadi kamu memilih wanita ini!" Bernadet membuka suara lagi.


"Iya, kenapa? Suka atau tidak, aku akan menikah dengan Shakila tanpa persetujuan darimu!" Chris melotot tajam.


Bernadet berdecih sejenak lalu melipat kedua tangannya di dada. "Fine! Pergi kamu dari sini dan jangan pernah menampakkan hidungmu di sini lagi!"


Chris menyeringai tipis. "Dengan senang hati," ucapnya lalu menarik tangan Shakila seketika dan melangkah pergi.