
Chris hendak masuk ke dalam ruangan. Namun, tangannya tiba-tiba ditarik dari belakang. Chris lantas terkejut. Secepat kilat menoleh ke belakang, melihat Ricko dan Ricki menahan tangannya kini.
"Jangan Mister, jika Mister masuk ke dalam, Calvin akan curiga dan bertanya-tanya mengapa anda marah. Calvin pasti akan menyakiti Shakila." Saat melihat rahang Chris yang masih mengeras, Ricko menggenggam erat pergelangan tangan Chris.
"Benar apa yang dikatakan abangku Mister, ayo, sebaiknya kita pergi dari sini Mister, siapa tahu saja anak buah Calvin juga mengintai kita sekarang, kita tidak boleh bertindak gegabah, pikiranlah juga keselamatan Shakila ke depannya." Ricki menimpali sambil mengedarkan pandangan di sekitar sejenak, yang tampak sepi.
Bukannya menanggapi perkataan kedua anak buahnya itu, Chris mendengus lalu menyentak kasar tangan mereka. Dengan dada bergemuruh kuat, ia melangkah pergi. Meninggalkan Ricko dan Ricki yang saling melemparkan pandangan satu sama lain. Setelah melihat punggung Chris menghilang, keduanya pun ikut berlalu dari tempat tersebut.
Sementara itu, di dalam ruangan laboratorium, saat merasa tubuhnya di topang, Shakila lantas membuka cepat matanya. Pandangannya langsung bertemu dengan mata Calvin yang tak mengedipkan matanya sedari tadi, sedang memandangi wajah imut Shakila. Dalam sepersekian detik, Shakila mendorong kuat dada Calvin. Lalu membenarkan tali sepatunya kemudian menegakkan kembali tubuhnya.
"Shakila, kamu nggak apa-apa?" Calvin kembali bertanya sambil menatap lekat-lekat.
"Ya nggak apa-apa, Pak." Shakila menjawab tanpa menatap lawan bicara. Entah mengapa dia tak suka tatapan yang dilayangkan Calvin padanya kini. Shakila begitu risih.
"Yakin?" Calvin tampaknya masih mengkhawatirkan Shakila.
Anggukan pelan sebagai balasan Shakila. "Shakila permisi dulu Pak, mau ke toilet," kata Shakila, tanpa mendengarkan tanggapan Calvin, Shakila berjalan menuju ambang pintu.
Begitu sampai di luar, Shakila menggerutu-gerutu kecil sambil melangkah cepat menuju taman belakang yang mengarah ke toilet khusus wanita.
"Argh! Benar-benar ceroboh kamu ini! Untung saja Pak Calvin menahan tubuhku, tapi mengapa aku mendengar detak jantung Pak Calvin cepat ya." Shakila menggaruk kepalanya sejenak karena tadi sempat mendengar degup jantung Calvin yang berdetak amat kencang. Sambil berjalan lurus ke depan, Shakila tampak berpikir keras.
"Ahk-hmf!" Shakila berteriak saat dari belakang seseorang mencekal pergelangan tangannya dan membekap mulutnya seketika. Kedua matanya melirik ke samping, melihat Chris menarik tangannya.
"Shftt, diam." Chris memberi kode pada Shakila untuk tidak bersuara. Dengan raut wajah kebingungan Shakila menurut saja. Chris pun menurunkan tangannya lalu berjalan cepat sambil memegang tangan Shakila.
"Pak, kita mau kemana? Lepasin tangan Shakila, Pak. Sakit Pak!" Dengan takut-takut Shakila berkata. Dia dapat merasakan aura yang menguar dari tubuh Chris begitu dingin saat ini.
Tak ada tanggapan, Chris malah mempercepat langkah kakinya sambil melirik ke kanan dan ke kiri, seakan memastikan sesuatu.
Selang beberapa menit, Chris dan Shakila di bangunan belakang yang terhubung dengan kantor. Chris sengaja memilih bangunan tersebut karena jarang ada orang yang lalu lalang.
"Pak, lepasin tangan Shakila! Sakit...." Sedari tadi Shakila menahan sakit dikala cekalan Chris semakin kuat hingga membuat tangannya sedikit membiru.
Tanpa mengeluarkan satu patah kata, Chris melepaskan tangan Shakila lalu berdiri di hadapannya.
"Apa kamu selalu berpakaian seperti ini?" tanya Chris seketika. Adegan di ruang laboratorium tadi, menari-nari di benaknya sedari tadi. Dia tak mampu menahan rasa cemburu yang menyeruak di hatinya, ingin sekali rasanya ia menyembunyikan Shakila di suatu tempat, sehingga tak ada seorang pun yang dapat melihat wanitanya itu.
Dahi Shakila berkerut samar sambil menelisik penampilannya sendiri sesaat, yang menurutnya biasa-biasa saja, kemeja coklat muda dipadukan dengan celana kain berwarna putih dan semuanya tertutup dengan rapat. "Ha? Maksudnya apa Pak, memangnya ada yang salah sama penampilan Shakila? Perasaan biasa aja deh,"celetuknya sambil menatap Chris.
"Ck! Biasa apanya. Bapak tidak mau tahu, besok ganti pakai rok!" Dengan sorot mata tajam Chris berkata.
Dengkusan kasar terdengar dari hidung Chris seketika. "Nggak terbuka apanya! Kemejamu itu ketat, lihat dadamu itu ha!" katanya sambil menunjuk ke arah dada Shakila tiba-tiba.
Shakila tergelak sejenak, tanpa banyak kata menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Ish dasar mesum! Itu sih pemikiran Bapak aja yang mesum! Lagian Bapak nggak berhak larang-larang Shakila! Bapak bukan Mommy ataupun Daddy Shakila bahkan pacar pun bukan! Jadi Bapak nggak usah marah-marah!" teriak Shakila, mengeluarkan emosinya.
"Mesum?" Dengan satu alis terangkat Chris bersuara. "Kamu bilang dosenmu sendiri mesum? Kamu bilang Bapak nggak berhak marahin kamu?"
"Iya, memang mesum, 'kan? Iya, Bapak nggak berhak, Bapak bukan siapa-siapanya Shakila." Saat mengucapkan kata bukan siapa-siapa, bibir Shakila seketika manyun.
Chris menyeringai tipis, melihat respon Shakila. Yang menurutnya seakan tengah menggodanya, bagaimana tidak, sedari tadi dia malah fokus dengan bibir munggil Shakila yang bergerak-gerak tak ada hentinya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata ia menarik kembali tangan Shakila dalam satu kali hentakan, hingga kepala Shakila menabrak dada bidangnya. Kini tak ada lagi jarak di antara mereka. Chris menarik pinggang Shakila hingga menempel ke dadanya.
"Ahk! Bapak mau ngapain?" Shakila diterpap kepanikan. Dia berusaha mendorong dada Chris namun tenaganya kalah.
"Bukankah kamu tadi mengatakan Bapak mesum?" Chris tersenyum smirk sambil menatap mata Shakila yang nampak semakin panik.
Belum sempat Shakila menjawab. Chris memegang kedua pipi Shakila dengan cepat kemudian melabuhkan kecupan di bibir munggil tersebut.
Saat bibirnya dibungkam, mata Shakila melebar sempurna. Sensasi aneh menjalar seketika di relung hatinya kala Chris memperdalam lagi ciumannya. Shakila ingin sekali mendorong Chris. Namun, keinginan hatinya bertolak belakang. Shakila begitu hanyut dalam permainan pria itu.
Lambat-lambat kelopak mata Shakila pun mulai menutup dan tanpa sadar ia membalas cumbuan yang diberikan Chris. Sambil mengalungkan tangannya ke leher Chris, Shakila berjinjit, menyeimbangi tinggi badan Chris. Untuk sejenak dua insan manusia itu seakan lupa diri. Chris memeluk Shakila dengan begitu erat. Tetapi, mereka tak menyadari jika ada empat pasang mata, di balik semak-semak, melihat gerak-gerik mereka sedari tadi. Siapa lagi kalau dua pria berkepala botak, anak buah Chris. Sejak Calvin berada di kampus, mereka tak melepaskan pandangan mereka dari bosnya itu.
Shakila melenguh sebentar saat Chris mengurai pelukannya seketika. Dia menatap dalam bola mata Chris, yang sekarang sedang menopang pipinya.
"Bapak tidak mau tahu, kalau ada seseorang yang bertanya apa kamu sudah memiliki kekasih, jawab saja, sudah, mengerti?" kata Chris.
Bak sebuah sihir Shakila mengangguk pelan. Kemudian Chris membawa Shakila ke dalam pelukannya lagi.
"Bapak tidak suka kamu dekat-dekat pria lain selain Bapak!" kata Chris, tegas sambil mengecup lembut pucuk kepala Shakila.
Dalam pelukan Chris, Shakila mendongakkan kepalanya. "Ha? Tapi Pak, kita kan nggak pa–"
Bruk!
"Awh! Sakit banget pant4tku...." Shakila mengaduh kesakitan saat tubuhnya di dorong sampai terjungkal ke belakang. Secepat kilat ia menatap Chris dan berseru, "Bapak apa-apan sih! Kasar banget tahu!" Dengan tertatih-tatih ia bangkit berdiri.
Bukannya membalas perkataan Shakila, Chris malah melangkah pergi begitu saja, tanpa berniat membantu Shakila.
Shakila melonggo sejenak. "Si4lan! Dasar dosen mesum, gila, psyco! Ahk! Semoga dia kejatuhan tahi burung!" teriaknya sambil menghentak-hentakkan kakinya, meluapkan semua kekesalannya. Di belakangnya, dengan jarak beberapa meter, Calvin mengerutkan dahi, melihat Shakila menjerit-jerit tak jelas saat ini.