Kissing Strangers

Kissing Strangers
Kissing Strangers-Mencium Orang Asing



Selang beberapa hari, pada akhirnya Shakila ikut camping juga, setelah dibujuk dan dirayu oleh Merry dan Rika.


Shakila memang tidak terlalu suka pergi ke hutan karena dia memiliki phobia terhadap beberapa binatang satu di antaranya adalah cacing. Jadi dia berpikir bahwa di hutan belantara akan ada banyak cacing bertebaran di mana-mana.


Pagi-pagi sekali, Shakila berangkat bersama kedua teman akrabnya itu, yang kebetulan tadi malam menginap di rumahnya. Begitu sampai kampus, mereka mencari bus yang akan mereka tumpangi. Begitupun dengan mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Mereka terlihat sangat antusias, memilih-milih bus.


"Cie, cie, cie, lagi nyari Ayang ya, pasti mau satu bus sama Ayang, 'kan?" Rika berbisik pelan di telinga Shakila seketika. Dia tengah menggoda Shakila.


"Berisik deh!"


Saat mendengar perkataan Rika, mata Shakila mendelik ke atas sejenak. Sementara Merry malah cekikikan, menyaksikan tingkah teman-temannya.


"Pastilah, Rika. Eh tu Pak Chris, udah yuk kita naik bus itu, kayaknya masih sepi deh." Merry menunjuk ke arah bus berukuran sedang. Shakila dan Rika pun mengalihkan pandangannya seketika.


"Iya, ayo kita naik bus itu aja!" Rika langsung merangkul tangan Shakila dan mengajaknya berjalan cepat menuju bus di depan pekarangan kampus.


Saat sampai di dalam bus, Shakila dan Rika menghentikan gerakan kakinya kala melihat Merry yang malah duduk di samping Chris. Merry menyengir kuda, melihat Shakila melayangkan tatapan tajam padanya kini. Tadi Merry begitu terkejut saat tiba-tiba tangannya di tarik oleh dosennya itu dan menyuruhnya untuk duduk bersamanya. Merry ingin menolak, namun Chris mengancamnya akan memberinya nilai D di mata kuliahnya.


"Sha, Ayangmu kok nggak noleh ke kamu, senyum kek atau apa gitu kek." Rika berbisik pelan di telinga Shakila seketika.


Shakila enggan menanggapi perkataan Rika. Dia menatap Chris yang sedang memalingkan mukanya ke jendela bus. Bibir Shakila manyun saat Chris cuek padanya saat ini.


"Udah yuk, kita duduk di belakang aja," Dengan muka tertekuk Shakila berkata sedikit nyaring. Dia sengaja menaikan suaranya agar Chris menoleh ke arahnya. Akan tetapi, Chris sama sekali tak menghiraukan Shakila.


Shakila semakin jengkel, tanpa banyak kata dia melangkah maju ke depan menuju bangku paling belakang, Rika dan Merry melemparkan pandangan sejenak, melihat tingkah Shakila.


Sepuluh menit kemudian, setelah duduk di tempatnya masing-masing. Bus pun mulai bergerak menuju tempat tujuan. Dalam perjalanan, para mahasiswa-mahasiswi sempat bernyanyi-nyanyi di dalam bus.


Berbeda dengan Shakila. Suasana hatinya memburuk saat Chris mengabaikannya tadi. Dia melototkan matanya ketika Chris menoleh ke belakang sejenak, melihat ke arahnya.


Ish! Awas aja nanti dia!


Shakila mengerutu di dalam hatinya sambil membuang mukanya ke arah jendela.


*


*


*


Beberapa jam kemudian, bus pun berhenti di tepi jalan raya, akhirnya mereka telah sampai ke tempat tujuan. Para mahasiswa dan mahasiswi masih tertidur pulas karena perjalanan yang mereka tempuh lumayan jauh.


"Shakila, sudah sampai!" Rika langsung terbangun saat merasa kendaraan yang mereka tumpangi tak lagi bergerak. Menoleh ke kanan dan ke kiri, Rika tampak bersemangat saat melihat gunung yang menjulang tinggi di luar sana.


Shakila melenguh sesaat kala mendengar namanya di panggil. Secara perlahan-lahan ia membuka matanya, melihat hamparan hutan yang indah dari jendela bus, yang sangat memanjakan matanya. Aroma dedaunan pepohonan dan udara segar bercampur menjadi satu hingga menyeruak ke indera penciumannya seketika. Untuk sejenak Shakila berdecak kagum dibuatnya.


"Keren, 'kan? Udah yuk kita turun. Tuh lihat si Merry udah main nyelenong aja dia." Rika menunjuk keluar jendela, menampakkan Merry berputar-putar tak jelas, sama-sama kagum dengan pemandangan di hutan tersebut.


Shakila mengangguk pelan lalu beranjak dari bangku dan melangkah hendak keluar, menyusul teman-temannya yang sudah keluar sedari tadi. Namun, langkah kaki Shakila terhenti saat Chris menahan tangannya. Rika langsung keluar saat melihat si pelaku. Sementara Shakila sangat terkejut, secepat kilat menoleh ke belakang. Raut wajah Shakila langsung berubah kesal, baru saja teringat kejadian tadi pagi kala Chris menghiraukannya.


Dahi Chris berkerut kuat, melihat respon Shakila. Sepertinya kekasihnya itu sedang jengkel. "Apa aku ada salah, Sayang?" tanyanya.


Sebelum membalas perkataan Chris, Shakila mendelikkan mata ke atas sejenak. "Iya, banyak salahnya, tadi kenapa Bapak cuekin Shakila, terus kenapa juga duduk malah sama Merry," jelasnya singkat sambil melipat kedua tangannya di dada.


Chris mengulas senyum tipis. Kini ia baru menyadari sikapnya yang tak mau sampai orang curiga, membuat Shakila salah paham.


"Maaf Sayang, Bapak tidak mau orang-orang curiga, jangan marah lagi ya, sudah ayo kita keluar, nanti Bapak beri tahu di mana tempatnya," kata Chris sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan apa ada orang yang melihat mereka saat ini.


"Em, tapi Shakila masih marah." Shakila manyun.


Cup!


Tanpa banyak kata Chris mengecup cepat pipi kanan Shakila lalu berbisik di telinganya. "Jangan marah lagi Sayang, maaf ya, ayo kita keluar. Ingat nanti kita bertemu."


Semburat merah muncul di kedua pipi Shakila. Kekesalannya pun menguap seketika. Tanpa sadar ia menganggukkan kepala lalu keluar dari bus, mengikuti langkah kaki kekasih diam-diamnya itu.


***


Menjelang sore, setelah semua para mahasiswa mendirikan tenda di pos masing-masing, mereka bersantai sejenak, melepas lelah karena seharian sibuk mendirikan tenda. Para senior pun sedang berumbuk karena besok akan dimulai kegiatan yang sesungguhnya.


Shakila melirik ke kanan dan ke kiri, saat mendapat sebuah pesan dari Chris untuk menemui dirinya di bawah pohon yang tak jauh dari tendanya berada.


"Hm, Rika. Aku pergi dulu ya, mau pipis, hehe," kilah Shakila, membuat alasan.


Rika yang sedang menyantap cemilannya, menoleh ke samping. "Mau aku temanin?" tanyanya dengan mulut penuh makanan.


"Hehe nggak usah, kayak anak kecil aja deh, udah dulu ya, kebelet nih, bye!" Tanpa mendengarkan pendapat Rika, secepat kilat Shakila keluar dari tenda.


Lima menit, Shakila telah sampai di tempat yang dikatakan Chris. Baru saja tiba, Chris langsung menarik tangan Shakila dan membawanya ke dalam pelukan.


"Kangen." Chris mendekap lebih erat tubuh munggil Shakila sambil mengendus-endus curuk lehernya.


"Hihi, geli Pak. Iya Shakila kangen juga." Shakila berusaha melepaskan pelukan dari sang kekasih. Namun, Chris malah mengecup-kecup pelan lehernya sehingga bulu Shakila berdiri seketika. Meskipun begitu, Shakila juga menikmati apa yang dilakukan Chris saat ini. Tanpa sadar ia memejamkan matanya.


"Lepas Pak, geli ih," Shakila membuka cepat matanya kala kecupan Chris kali ini lebih liar.


Chris melonggarkan pelukannya seketika lalu memegang kedua pipi Shakila.


"I love you," kata Chris.


Shakila mengembangkan senyumannya kala mendengar Chris sudah mulai bersikap romantis, setelah semalam ia protes pada pacarnya itu.


"I love you too," jawabnya diiringi kekehan setelahnya.


Chris mengulum senyum sesaat lalu mulai mendekatkan bibirnya seketika lalu memagut pelan bibir merah sang kekasih. Bak dunia milik berdua, Shakila dan Chris bercumbu mesra di bawah pohon rindang pada sore itu, ditemani senandung pelan burung-burung munggil, yang hinggap di atas pohon tersebut. Tak hanya burung, dengan jarak beberapa meter, di balik semak-semak Calvin diam-diam, melihat apa yang dilakukan Shakila dan Chris saat ini. Dia tampak mengambil ponsel di saku celananya dan menekan-nekan layar ponsel lalu menempelkan benda itu ke telinganya.


"Fabrizio, siapkan pesawat malam ini," kata Calvin sambil menyeringai tipis.