
Beralih ke Indonesia, tepat pukul 9 malam, akhirnya resepsi pernikahan Shakila dan Chris telah selesai. Keluarga dari kedua belah pihak menginap memutuskan untuk menginap di hotel pula.
"Chris, Shakila sangat keletihan lebih baik dia jangan kamu apa-apa kan,"ucap Michael seketika sambil menepuk pundak Chris.
Belum sempat Chris menyanggah perkataan mertuanya itu. Sekar mencubit kuat perutnya hingga Michael mengaduh kesakitan sejenak.
"Sayang, mereka kan sudah pasangan suami istri, udah ah kamu ini," kata Sekar sambil melototkan matanya sedikit. Michael malah memanyunkan bibirnya sedikit.
Chris malah terkekeh pelan, melihat tingkah mertuanya itu.
"Hehe, maaf ya Nak Chris, harap maklum, ya sudah kalian beristirahat ya, lihat Shakila dia sudah menguap dari tadi." Sekar mengalihkan pandangan ke samping, melihat Sekar terduduk lemah di atas kursi sambil menyenderkan kepalanya ke belakang. Shakila tak berniat menimpali obrolan mereka.
"Iya Mom, tidak apa-apa, aku memakluminya, Mom dan Dad juga jangan lupa beristirahat." Chris melempar senyum tipis sejenak.
Sekar mengangguk pelan lalu merangkul tangan Michael, hendak melangkah pergi. Setelah melihat punggung mertuanya menghilang, Chris duduk kembali dan berkata pada Shakila," Sayang, ayo kita ke kamar."
Shakila mendongakkan kepalanya ke atas. "Gendong," kelakarnya dengan senyum jahilnya. Tanpa banyak kata Chris mengangkat cepat tubuh Shakila ala bridal style hingga Shakila menjerit histeris jadinya.
"Ahk! Aku cuma bercanda! Turunkan aku!" teriak Shakila sambil melirik ke kanan dan ke kiri, melihat ketiga saudaranya ternyata masih di ballroom hotel. Shakila malu manakala Reni dan Kyler tertawa keras sementara Rena hanya mengulum senyum tipis, melihat kemesraan saudaranya itu.
"Tidak! Aku tahu kamu sangat capek, Sayang. Tak apa." Chris mulai melangkah kakinya menuju pintu utama ballroom.
"Tapi aku malu, lihatlah masih ada orang di sini." Sambil merengek, Shakila berusaha memberontak namun tenaga Chris lebih kuat darinya.
Chris mengindahkan perkataan Shakila. Dia malah mengayunkan kakinya dengan sangat cepat.
*
*
*
Sesampainya di kamar, Chris merebahkan Shakila secara perlahan-lahan ke atas kasur. Dia terkekeh pelan, melihat bibir Shakila yang manyun sedari tadi, menahan malu saat banyak pasang mata memandang ke arah mereka di lorong hotel tadi.
"Sudah, jangan marah-marah, sebaiknya sekarang kamu membersihkan diri Sayang, tenanglah malam ini aku akan membebaskanmu." Chris mencoba menahan diri untuk tidak menggauli Shakila kala melihat sang istri nampak keletihan sekali. Dia tak mau wanitanya kecapekan.
"Benarkah?" Shakila merubah posisi badannya, menjadi duduk. Dia tersenyum sumringah karena ketakutannya pada malam pertama menguap seketika saat mendengar ucapan Chris barusan.
"Iya, malam ini kita istirahat dulu." Chris merendahkan tubuhnya lalu melabuhkan kecupan cepat di pucuk kepala Shakila.
Shakila mengangguk. "Baiklah, kalau begitu aku mau ke kamar mandi, mau mandi," katanya sambil beranjak dari ranjang.
Chris menyeringai tipis setelahnya. "Mau aku bantu, Sayang?"
"No!!!" Secepat kilat Shakila berjalan menuju ambang pintu kamar mandi. Meninggalkan Chris yang tertawa sendiri karena tingkah laku Shakila yang nampak menggemaskan menurutnya.
***
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, Chris dan Shakila sudah memasuki ruang mimpi masing-masing. Kamar yang mereka tempati sekarang terlihat remang-remang, minim akan pencahayaan.
Shakila nampak tertidur amat pulas sambil memeluk tubuh Chris seperti bantal guling saat ini. Sesekali dia bergumam-gumam tak jelas. Sementara Chris, melenguh sejenak saat merasa di bawah sana sesuatu yang besar menimpa adiknya.
Chris membuka matanya perlahan-lahan dan menoleh ke bawah, melihat paha Shakila menyentuh adiknya itu.
"D4mn..." Chris melirik Shakila sekilas. Sebab istrinya itu malah menggesekkan kakinya sekarang. Gairahnya tiba-tiba memuncak. Shakila membuat dirinya tak bisa menahan diri lagi. Apalagi sekarang paha Shakila terekspos hingga menampilkan kulit mulusnya.
Jakun Chris naik dan turun, menahan gairah yang sudah di ubun-ubun. Sementara, Shakila, dengan mata terpejam ia melenguh sejenak tatkala merasa adanya pergerakan di sekitarnya sekarang.
Gleg.
Saat melihat buah kembar di hadapannya sekarang, Chris menelan air ludahnya seketika. Tampak mulus dan seputih pualam. Tanpa basa-basi ia mendekatkan wajahnya dan mulai menjelajahi buah kembar tersebut hingga Shakila pada akhirnya membuka matanya dengan cepat.
"Chris! Apa yang kamu lakukan?" teriak Shakila sambil berusaha beringsut ke belakang.
Chris menatap Shakila sekilas lalu menyentak kasar kain penutup si kembar hingga tubuh atas Shakila polos. Chris menahan tubuh Shakila.
"Ah, hentikan!" Shakila lantas terkejut.
"Ini semua salahmu Sayang," kata Chris sambil mengu l u m pelan biji melon Shakila.
Dada Shakila melengkung ke atas tiba-tiba kala sensasi geli menerpa bagian sensitifnya itu.
Saat mendengar suara Shakila yang mendayu, napas Chris semakin memburu. Lidahnya mulai bergerak ke atas, meng3 cu p pelan-pelan leher Shakila.
"Hahaha, geli Sayang, jangan seperti ini, ahh...."
"Shft, diamlah Sayang, nikmati saja, aku suamimu sekarang." Dan pada akhirnya Shakila hanya bisa pasrah. Dengan mata terpejam dia menikmati sentuhan yang diberikan sang suami.
Lima menit pun berlalu, dengan napas terengah-engah Chris mulai menanggalkan pakaiannya satu-persatu sambil menatap Shakila yang mulai bergairah juga karena sentuhannya barusan.
Shakila menatap penuh damba pada Chris. Sentuhan yang diberikan Chris barusan membuatnya melayang-layang sejenak. Dia dapat merasakan di bawah sana, inti tubuhnya sudah basah akibat pemanasan tadi.
Chris melempar senyum tipis sejenak sambil melempar pakaiannya ke sembarang arah. "Tenanglah Sayang, aku akan pelan-pelan," katanya sambil meloloskan pakaian berbentuk segitiga miliknya dengan cepat.
Shakila memalingkan mukanya ke samping saat melihat batang pisang Chris yang besar, berdiri dengan tegak dan kokoh.
Kenapa aku jadi takut begini sih.
Shakila mengigit bibir bawahnya, menetralisir rasa takutnya. Akan tetapi, di penglihatan Chris, Shakila seakan menggodanya. Tanpa banyak kata pria itu mengukung Shakila hingga pada akhirnya pergulatan panas mulai terjadi.
Chris benar-benar menepati janjinya. Dia tak serta-merta memasukkan pusakanya ke dalam inti tubuh Shakila. Dia membuat Shakila merasa nyaman terlebih dahulu, dengan memberikan kecup4n-kecup4n pelan di seluruh tubuh Shakila lalu setelah itu mulai mengarahkan pusakannya perlahan-lahan ke dalam tubuh Shakila.
Sambil mencengkram sprei kasur, Shakila mendongakkan wajahnya sesaat. Menahan perih kala benda tumpul itu melesak masuk ke tubuhnya, memecah selaput darany, yang sedari dulu telah dijaga.
"A h h.... Shfff..."
"Sayang, i love you." Chris melabuhkan kecupan singkat di bibir Shakila seketika. Dia tak menyangka ternyata Shakila masih peraw4n. Semula Chris tak percaya ketika Shakila mengatakan dirinya masih bersegel. Namun, kini Chris percaya perkataan istrinya.
"I love you too.... Perih, Sayang, apa sudah selesai." Karena terlalu sakit dan perih, Shakila sampai menitihkan air matanya tiba-tiba.
"Belum, ini baru permulaan." Chris mulai memaju mundurkan pinggangnya sambil menyatukan jari jemarinya ke jemari Shakila.
Dalam hitungan detik, kini di dalam ruangan temaram itu terdengar bunyi hentakan yang menggema. Rasa sakit yang Shakila rasakan tadi perlahan-lahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dia jabarkan sama sekali saat ini. Malam ini Chris membawanya ke dalam samudera kenikmatan. Pria itu menghujamnya bertubi-tubi hingga menjelang dini hari.
Chris terpaksa menyudahinya kala melihat Shakila nampak keletihan. Setelah menyemburkan benih-benih kecebong ke dalam inti tubuh Shakila, Chris melabuhkan kecupan di pucuk kepala Shakila. Lalu menaruh kepala Shakila di atas dada bidangnya.
"Terima kasih Sayang, aku harap ada bayi tumbuh di sini," kata Chris sambil mengelus pelan perut Shakila.
"Hmm, aamiin," Dengan mata terpejam, Shakila menjawab.