Kissing Strangers

Kissing Strangers
Kissing Strangers-Mencium Orang Asing



Beberapa tahun kemudian, setelah menempuh pendidikan selama kurang lebih empat tahun. Pada akhirnya Shakila, dan dua temannya, berhasil lulus dengan predikat cum-laude. Shakila tak menyangka, dirinya yang dulu tak pernah sekalipun mendapatkan prestasi. Akhirnya di ujung masa pendidikan, mendapatkan nilai sempurna. Semua itu karena semangatnya untuk mendapat restu dari Daddynya. Tempo lalu, Daddynya mengatakan akan memberi restu pada dia dan Chris. Jika Shakila berhasil mendapatkan nilai yang memuaskan. Tentu saja Shakila sangat bersemangat kala mendengar persyaratan dari Daddynya. Berkat kerja kerasnya dan dukungan dari kekasihnya, Chris rela bolak-balik dari Verona ke Indonesia demi Shakila.


Selama empat tahun ini Chris selalu datang ke rumahnya. Dengan beralasan mengajari Shakila. Meskipun Michael acapkali menampakkan ketidaksukaannya pada Chris. Namun, Chris tak patah arang. Chris selalu berusaha mencari cara agar hati calon mertuanya itu melunak.


Dari menanam saham di perusahaan Michael yang di Belanda, hingga membelikannya kapal pesiar dan masih banyak lagi, yang tak bisa dijabarkan satu-persatu. Akan tetapi, reaksi Michael biasa-biasa saja. Namun, beberapa bulan lalu, Michael mulai mau berbicara pada Chris kala Chris membahas tentang politik. Nampaknya secercah harapan mulai melingkupi hubungan Shakila dan Chris. Tentu saja pasangan sejoli itu senang, walaupun Michael tak serta-merta langsung menyetujui. Karena pikiran Michael amat sulit ditebak.


Saat ini, Shakila baru saja keluar dari gedung dengan memakai toga, hendak menghampiri kedua orangtuanya dan adiknya bungsunya Kyler yang menunggu dia di luar sedari tadi. Shakila berlarian dan berhamburan memeluk Mommynya terlebih dahulu.


"Selamat Sayang, akhirnya kamu lulus!" kata Sekar sambil mengelus pelan punggungnya.


"Terima kasih Mom." Shakila mengurai pelukan seketika lalu beralih menatapnya Daddynya yang berdiri di samping Mommynya sedari tadi.


"Selamat Shakila, Daddy senang, ini bunga untukmu Nak!" kata Michael sambil menyodorkan sebuket bunga mawar merah pada Shakila.


Shakila menyungging senyum lebarnya dan menyambut pemberian bunga dari Daddynya itu. "Terima kasih Daddy!" katanya.


"Selamat Kak, sekarang kamu sudah lulus hihi, ini coklat untukmu, aku membelinya dengan uang ku loh."Kyler mendongakkan kepalanya ke atas sambil menyodorkan coklat batangan kepada Shakila.


Shakila tersenyum lebar lalu mengambil coklat tersebut dan mengelus pelan rambut Kyler. "Terima kasih, Kyler."


"Tapi nanti Kyler minta sedikit ya hehe."


"Ck! Katanya untuk aku, dasar pendek! Nggak mau rugi," celetuk Shakila sambil memutar mata malas.


Kyler malah memajukan bibirnya munggil ke depan. "Pelit amat sih! Kan minta sedikit!" protesnya, cepat.


"Sudah, sudah nanti Kyler, Mommy beliin coklat ya." Sekar membungkukkan badannya sedikit dan menyentuh pundak Kyler. Berusaha melerai perdebatan kecil yang terjadi di antara Shakila dan Kyler, yang selalu seperti tikus dan kucing, setiap kali bertemu.


Kyler tak menyahut. Dia malah melipat tangan di dada lalu memasang tampang kesal.


Shakila menyeringai tipis sejenak, melihat ekspresi adiknya yang lucu itu. Dalam sepersekian detik, di tengah-tengah kerumunan para mahasiswa, pandangan bertemu dengan mata Chris yang berjarak beberapa meter darinya, sedang melangkahkan kaki ke arahnya sambil membawa sebuket bunga mawar berwarna pink.


"Chris...." Senyum hangat muncul di wajah Shakila seketika. Dia berlarian dengan sangat cepat, hendak menghampiri Chris pula. Meninggalkan Sekar dan Michael yang saling melemparkan pandangan, melihat kedatangan Chris.


Shakila langsung memeluk Chris dan menelusupkan wajahnya ke dada bidang kekasihnya itu.


Chris mengurai pelukan. "Selamat Sayang, akhirnya kamu lulus juga," kata Chris sambil memberikan bunga pada Shakila.


Shakila mengambil cepat bunga dan menghirup aroma bunga mawar itu sesekali.


"Aku pikir kamu tidak datang," kata Shakila dengan bibir turun ke bawah sedikit. Sebab semalam Chris mengatakan dia tidak bisa berjanji menghadiri acara kelulusan karena pekerjaannya di Verona belum rampung.


Chris terkekeh pelan sejenak, kala melihat wajah imut kekasihnya yang selalu membuatnya merindu. Ingin sekali dia mengecup bibir Shakila sekarang. Namun, dia urungkan kala melihat tatapan tajam dari Michael saat ini.


"Suprise! Aku sengaja tidak memberitahumu, begitu selesai perkerjaanku kemarin, aku langsung pergi ke sini," katanya.


Dari samping Merry dan Rika menghampiri mereka seketika. Kedua teman Shakila itu juga baru selesai berbincang-bincang dan berfoto-foto bersama keluarganya masing-masing.


Chris membalas dengan tersenyum tipis.


"Iya nih, hehe. Selamat ya untuk kita, semoga kita bisa langsung dapat kerjaan," kata Rika sambil melempar pandangan pada Shakila, Merry dan Chris.


"Aminn!" sahut Shakila dan Merry serempak. Namun, Chris hanya diam saja dan menatap Shakila penuh arti.


"Tapi sepertinya Shakila tidak usah berkerja," celetuk Chris kemudian. Membuat Shakila melonggo seketika.


"Ish kok nggak boleh, terus Shakila ngapain? Shakila juga mau dong sibuk kayak di wanita independent woman gitu," protes Shakila, cemberut.


"Iya Pak, masa Shakila nggak di bolehin kerja, eh tapi kalau Shakila nggak kerja, juga nggak apa-apa, kan Daddynya Shakila holang kaya," kata Merry, kurang setuju dengan pendapat Chris. Rika menimpali dengan menganggukkan kepalanya.


"Bukan begitu." Chris tersenyum lebar lalu memundurkan kakinya selangkah dan berlutut tiba-tiba di hadapan Shakila.


Shakila terkejut begitupula dengan Merry, Rika dan juga mahasiswa yang lainnya serta orangtua Shakila.


"Loh Pak! Bapak ngapain malu dilihatin orang, bangun Pak!" Shakila menyuruh Chris untuk bangkit berdiri. Namun, Chris malah mengambil sesuatu di belakang jasnya lalu mengeluarkan sekotak cincin pada Shakila dan membuka cepat kotak itu yang berisikan cincin berlian munggil berwarna putih.


Shakila terperangah sejenak.


"Aaaa, Shakila mau di lamar!" seru Merry. Rika pun menggoncang-goncang tubuh Merry sangking senangnya.


"Shakila, maaf kalau lamaran ini tidak romantis bagimu, sebenarnya nanti malam aku mau melamarmu, tapi aku tidak tahan lagi menyatakannya, maukah kamu menjadi Ibu dari anak-anakku kelak, kamu tak usah berkerja, di rumah saja, mengurus anak-anakku," kata Chris sambil menatap dalam bola mata Shakila.


Shakila tersenyum lebar. Dia sangat tak menyangka Chris akan senekat itu melamarnya di depan orang banyak. Kebahagiaan meliputi relung hatinya kini. Sebuah kebahagiaan yang tak bisa Shakila ungkapkan dengan kata-kata. Sebelum menjawab dia melirik Daddynya sekilas. Meminta persetujuan dari Daddynya.


Michael terdiam. Tak langsung memberi jawaban.


"Sayang, ayolah kamu kan sudah berjanji. Aku yakin Chris bisa membimbingnya, Shakila bukan lagi anak kecil kita Sayang. Dia sudah dewasa, biarlah dia menentukan hidupnya, kita sebagai orangtua berdoa yang terbaik untuk Shakila," kata Sekar, memberi pengertian pada Michael.


Michael membuang napas kasar lalu mengangguk pelan sebagai kode untuk Shakila, mengiyakan lamaran Chris.


"Ya, aku bersedia!" sahut Shakila seketika sambil mengangkat jari manisnya ke udara.


Chris segera menyematkan cincin tersebut ke jari Shakila lalu bangkit berdiri dan memeluk erat Shakila di depan semua orang. Membuat kumpulan manusia riuh, melihat adegan romantis di hadapan mereka.


"Sayang, aku senang dengan keputusanmu, lihatlah Shakila sangat bahagia, Shakila berada di tangan orang yang tepat," kata Sekar lagi sambil menggapai tangan Michael.


"Hm, iya kamu benar, Sayang." Tanpa sadar Michael tersenyum tipis.


Setelah melihat perubahan sikap Shakila selama beberapa tahun ini. Shakila lebih banyak di rumah, tak pernah membuat onar lagi, jarang keluar malam dan terkadang membantu Sekar memasak di rumah. Dan pada akhirnya Michael mencoba merestui hubungan Chris dan Shakila. Walau jauh di lubuk hatinya dia belum rela untuk melepaskan putri kecilnya yang dulu selalu dia manja-manja.