Kissing Strangers

Kissing Strangers
Kissing Strangers-Mencium Orang Asing



Setelah pelantikan, Chris berencana kembali ke Indonesia, menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai dosen. Dia akan mengundurkan diri secara baik-baik. Kini ia, Shakila, teman-teman Shakila serta kedua anak buahnya telah berada di Jakarta.


Sesuai janji Chris juga, setelah menyelesaikan urusannya di kampus. Ia ingin bertemu kedua orangtua Shakila.


Hari minggu ini, Shakila nampak gusar, karena harus mengatakan pada Daddynya bahwa akan ada seseorang yang ingin datang. Dua hari yang lalu, Michael sudah kembali dari luar negeri.


Saat ini, Shakila berdiri di depan cermin sambil menarik napas panjang, hendak turun ke bawah, di mana Mommy dan Daddynya sedang bersantai-santai.


"Aduh, bagaimana ini?" Shakila bergumam sejenak, menetralisir perasaannya tak menentu. Dia takut kedatangan Chris tidak disambut dengan baik oleh Daddynya. Mengingat betapa galaknya Daddynya itu, Shakila bergedik ngeri sesaat, takut terkena amukan Daddynya.


"Ayolah, Shakila. Kamu harus berani, siapa tahu saja Daddymu mengerti!" Shakila berusaha menyemangati diri sendiri. Dalam sepersekian detik, dengan langkah semangat empat lima, Shakila keluar dari kamar lalu turun ke lantai bawah.


"Mom! Dad!" Begitu sampai di bawah, Shakila langsung memanggil kedua orangtuanya, yang tengah berbincang-bincang satu sama lain. Lantas Michael dan Sekar mengalihkan pandangannya seketika.


"Ada apa Sayang? Kemarilah, duduklah di sini." Sekar menyuruh putrinya untuk duduk di samping.


"Hm? Iya ada apa?" tanya Michael sambil mengambil cangkir yang berisi kopi di atas meja.


Shakila mendekat lalu duduk perlahan-lahan di samping Mommynya.


"Mom, Dad, em itu...." Mendadak Shakila keringat dingik kala melihat tatapan Daddynya. Padahal Michael hanya menatap datar putrinya itu tapi bagi Shakila, tatapan itu adalah tatapan maut.


"Itu apa, ngomong yang jelas Shakila, Daddy bukan cenayang, apa kamu minta dibelikan motor baru?" Michael menyeruput kopinya pelan-pelan.


"Bukan Dad, hehe." Shakila tersenyum hambar setelahnya. Lalu melirik Mommynya sekilas yang malah mengelus-elus pelan rambut panjangnya.


"Lalu?" Michael memicingkan matanya melihat gelagat putrinya nampak mencurigakan.


Sebelum menjawab, Shakila menarik napas panjang-panjang lalu berkata,"Dad, ada seseorang yang mau datang kemari nanti sore menemui Daddy."


Shakila meneguk ludah seketika kala melihat raut wajah Daddynya malah berubah.


"Siapa? Laki-laki atau perempuan?" tanya Michael sambil mengubah posisi duduk.


"Siapa Sayang, temanmu kah?" Sekar menimpali, sedari tadi dia memperhatikan tingkah laku putrinya yang nampak gugup, entah karena apa.


"Dosen Sha–"


"Apa kamu membuat masalah lagi, Shakila!" Michael menyela tiba-tiba, dengan suara tingginya.


"Bu-kan Dad," jawab Shakila sedikit terbata-bata sambil memilin-milin ujung kaosnya sedikit.


"Lalu apa?" Michael masih meninggikan suaranya. Dia begitu jengkel dengan kelakuan anaknya yang satu ini, sebab sudah berkali-kali membuat ulah di kampus dan pada akhirnya dia juga ikut turun tangan, dalam permasalahan yang dilakukan putrinya.


Jantung Shakila cenat-cenut seketika.


"Sabar Sayang, Shakila kan belum ngomong, sabar ya." Sekar menggeser bokongnya lalu mengelus-elus dada sang suami, hendak menenangkannya.


Michael mendengus sejenak. "Sayang, kamu tahu sendiri kan, Shakila selalu saja membuat ulah, lalu mengapa tiba-tiba ada seorang dosen yang mau datang ke rumah, pasti ada sesuatu di kampus," ucapnya sambil meletakkan cangkir di atas meja.


"Nggak Dad! Shakila nggak buat ulah lagi kok, dosennya datang cuma pengen silaturahmi sama Daddy dan Mommy, soalnya Shakila pacaran sama dosen itu jadi dia mau ketemu sama Daddy, ada yang mau diomongin," kata Shakila, cepat kemudian menundukkan kepalanya seketika karena tak mau melihat reaksi Daddynya.


Michael dan Sekar lantas terkejut. Keduanya melemparkan pandangan satu sama lain. Seakan tak percaya dengan perkataan putri mereka barusan.


"Untuk apa? Kalau mau pacaran, ya pacaran saja. Palingan bentar lagi putus." Michael memberi pendapatnya dengan mimik muka datarnya.


"Nggak! Ngapain putus! Shakila serius sama Pak Chris!" protes Shakila cepat, sambil menatap Daddynya.


Michael malah memutar matanya ke atas. Sebab dia sudah tahu sepak terjang putrinya yang masih suka bermain-main.


"Pak Chris? Maksud kamu, dosen yang ngekost di kostan Mommy kemarin." Sekar melayangkan pertanyaan pada Shakila. Dia semakin terkejut.


Shakila mengangguk pelan.


"Kamu kenal, Sayang?" Michael melirik Sekar.


"Iya tentu saja aku kenal, dia dosen yang aku minta tolong untuk menjaga Shakila di kampus," jawab Sekar, jujur. "Tapi aku tak menyangka kalau Shakila dan Chris berpacaran dan kemarin dia juga sudah keluar dari kost." Sekar melirik Shakila seketika.


Michael enggan menyahut. Namun, dia mengalihkan pandangan pada Shakila.


"Kalau mau silaturahmi, silakan, Daddy tak melarang," ucap Michael tanpa ekspresi sama sekali.


"Terima kasih Dad." Shakila melempar senyum kaku. Dia ingin berkata jujur kalau Chris adalah bule. Namun, dia urungkan niatnya, saat melihat lirikan mata Mommynya, yang seakan mengerti kegelisahannya.


"Tapi Shakila mohon, sambut Pak Chris dengan baik ya, hehe. Shakila mau ke atas dulu, nanti dia datang sekitar jam 3." Shakila bangkit berdiri.


"Hmm," balas Michael dengan dehaman rendah. Setelah itu, Shakila pun bergegas melangkah pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Sekar yang semakin mendekatkan tubuh pada sang suami.


"Sayang, ada yang mau bicarakan, tapi kamu jangan marah, kalau bisa turuti kemauan Shakila, walau bagaimanapun, kita tidak boleh membedakan ras," ucap Shakila pelan sambil menyentuh punggung tangan sang suami.


Michael mengangkat satu alis matanya sedikit."Memangnya kenapa?"


*


*


*


Menjelang sore, sesuai perkataan Chris. Dia akan datang ke rumah Shakila hendak menyampaikan keseriusan dalam menjalin hubungan dengan kekasihnya itu. Begitu menekan bel rumah, Chris merapikan kemeja putihnya sejenak, menetralisir perasaannya yang tak karuan saat ini.


"Selamat sore, Chris." Saat pintu terbuka, Sekar menyapa Chris terlebih dahulu.


"Selamat sore, Aunty. Maaf menganggu waktu senggangnya," ucap Chris tersenyum tipis.


"Oh tidak apa-apa, tadi siang Shakila mengatakan kalau kamu mau berkunjung, ayo silakan masuk." Sekar mempersilakan Chris untuk masuk ke dalam. Chris mengangguk pelan lalu melangkahkan kakinya, memasuki rumah bergaya Eropa modern itu.


Pandangan Chris langsung bertemu dengan Shakila yang sedang menuruni anak tangga, hendak menghampirinya.


"Sayang." Shakila berlarian dan berhamburan memeluk Chris.


Chris lantas terkejut karena Sekar melihat adegan tersebut. Sekar malah senyam-senyum sendiri melihat putrinya. "Sayang, masih ada Mommymu di sini." Chris berbisik di telinga Shakila seketika sambil tersenyum kecut pada Sekar.


Shakila baru saja sadar. Secepat kilat ia mengurai pelukan.


"Hmmmmm!" Dehaman berat dan nyaring di ujung sana, mengagetkan Shakila dan Chris seketika. Sedari tadi Michael sedang duduk di atas sofa sambil membaca koran dan tanpa sengaja melihat Shakila dan Chris berpelukan.


Chris melempar senyum tipis kemudian.


"Selamat sore, Uncle."


Shakila keheranan, melihat sikap Chris yang ramah pada Daddynya.


"Hm, sore," sahut Michael, tanpa berniat berdiri dari sofa.


"Ya sudah, ayo kita bergabung di ruang tamu, Chris."Sekar mencoba mencairkan suasana.


Anggukan pelan sebagai balasan Chris.


"Shakila, tolong ambil makanan dan minuman di dapur, tadi Mommy sudah siapin di atas meja," tambah Sekar. Shakila mengangguk paham lalu melirik Chris sekilas sebelum pergi ke dapur.


Setelah Chris duduk di hadapan Michael. Dia dapat merasakan aura yang sama dengannya. Wajah Daddynya Shakila memang terlihat sanggar dan galak sesuai ekspetasinya.


Saat ini, di ruangan hanya mereka berdua saja. Sekar pamit sebentar ingin membantu Shakila mengambil makanan dan minuman untuk dibawa ke ruangan.


"Ada perlu apa ke sini?" tanya Michael tanpa basa-basi lagi. Dia melipat koran yang sedari tadi bertengker di tangannya dan menatap Chris.


Chris mengulas senyum tipis sejenak dan bersiap-siap membuka bibir. Namun, kedatangan Sekar dan Shakila mengurungkan niatnya. Keduanya langsung meletakan makanan dan minuman di atas meja lalu bergabung bersama mereka. Sekar duduk di samping Michael. Sementara Shakila duduk di sampingnya.


"Jadi, apa tujuanmu datang kemari?" Tampaknya Michael tak sabar mendengar jawaban Chris. Dia mulai mengambil es jeruk di atas meja, yang dibawa istrinya tadi dan menyeruputnya pelan-pelan.


"Maaf sebelumnya Uncle, aku sudah lancang menjalin hubungan dengan putri anda, Shakila. Aku pun tak menyangka bisa menaruh rasa pada Shakila. Aku ingin menjalin hubungan serius dengan Shakila," ucap Chris sambil mengambil tangan Shakila seketika. Shakila tersenyum simpul mendengarnya.


"Bukan hanya sekadar pacaran, tapi sampai ke jenjang serius, Uncle," katanya sambil mengalihkan pandangan ke arah Michael.


Sekar pun tersenyum mendengar maksud dan tujuan Chris. Berbeda dengan Michael. Dia malah menyeringai tipis.


"Kamu yakin? Mau menjadikan Shakila istrimu?" Michael meletakan gelas tersebut ke atas meja.


"Yakin Uncle, aku sudah memantapkan hatiku."


"Cih! Shakila masih kecil, apa kamu tahu dia itu tidak bisa memasak dan masih mengompol di kasurnya?"


"Daddy!" Shakila bangkit berdiri karena perkataan Daddynya tidak sesuai fakta. Ya benar satu sih, yang tidak bisa memasak.


"Aku yakin Uncle, aku akan menerima semua kekurangan Shakila." Chris menggapai tangan. Shakila untuk duduk di sampingnya kembali. Shakila melempar senyum mendengar jawaban kekasihnya itu.


Michael mendengus kasar, melihat adegan romantis anaknya dan seorang pria dewasa. Walau sudah diberi pengertian dengan Sekar tadi. Michael tak serta-merta langsung mengatakan iya. Apalagi jarak umur Shakila dan Chris terpaut lumayan jauh. Dia kurang setuju alias kurang srek.


Sekar menarik lengan Michael untuk berusaha bersikap ramah pada sang tamu. Namun, Michael mengindahkan perkataan Sekar.


"Apa kamu tahu, Shakila dulu waktu masih kecil, dia mengira kalau mau membuat adik bayi menggunakan tanah liat? Apa kamu masih yakin, siapa tahu saja dia tak mengerti!" seru Michael. Membuat Sekar dan Shakila melebarkan matanya.


"Daddy, apa-apaan! Jangan menuduh yang tidak-tidak! Shakila tidak mungkin pernah berkata seperti itu, Shakila sudah besar sekarang, malahan Shakila sudah pernah ciu–hmmf!"


Shakila tersentak kala tangannya di tarik Chris dan mulutnya di bekap tiba-tiba. Chris melotot tajam berharap Shakila tak mengatakan sesuatu yang akan membuat citranya buruk.


Apa tadi katanya, ciu, ciuman? Aku tidak rela Shakila ku masih kecil, dulu saja ketika dia masih kecil, dia mengira bayi terbuat dari tanah liat. Tidak mungkin, bayi piyikku yang munggil ini' tidak mungkin sudah berciuman dengan pria jelek ini!


Michael memicingkan matanya, melihat interaksi antara Shakila dan Chris sekarang.