
Sebulan kemudian, setelah Chris melamar Shakila di depan semua orang. Ia pun mualaf, mengikuti agama yang dianut Shakila. Chris begitu senang karena pada akhirnya Michael mau menerimanya. Walau pria itu masih menunjukkan rasa ketidaksukaannya. Menurut Chris, Michael belum rela melepaskan putrinya itu. Tapi, Chris memakuminya. Mungkin saja di masa yang akan datang, dia juga akan bersikap sama seperti Michael.
Hari ini tampaknya kediaman Michael terlihat ramai dengan kumpulan manusia. Sebab pernikahan Shakila dan Chris akan berlangsung hari ini. Terlihat Benvolio dan Ricki juga ikut menghadiri akad pernikahan. Sementara Ricko tak nampak batang hidungnya. Tak ketinggalan pula Merry dan Rika. Sedari tadi nampak senang dengan pesta pernikahan Shakila yang akan berlangsung sebentar lagi.
Rena, Reni dan juga Kyler nampak duduk tak jauh dari pak penghulu yang sedang berbincang-bincang bersama Michael. Sementara Sekar masih berada di kamar bersama Shakila.
Chris nampak gugup. Sesekali dia membenarkan peci putih yang bertengker dikepalanya itu. Tema pernikahan hari ini mengusung adat Jawa. Dia terlihat tampak dan gagah dengan balutan jas dan celana berwarna serba putih.
"Jodoh aku kemana ya, pengen banget nikah," celetuk Rika sambil matanya celingak-celinguk ke segala arah. Siapa tahu saja ada jodohnya di antara para tamu undangan yang hadir.
"Ngarep banget dah, nggak ada cowok yang mau naksir cewek gila kayak kamu–"
"Shftt diam! Lihat Shakila udah turun, ya ampun cantik banget." Rika langsung membekap mulut Merry seketika kala melihat Shakila bersama Sekar tengah menuruni anak tangga
Chris mengalihkan pandangannya, melihat Shakila terlihat cantik dengan balutan kebayanya. Kedua matanya enggan berkedip, memandangi wanita yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
Shakila duduk perlahan-lahan di samping Chris. Tanpa memudarkan senyuman hangat di wajahnya. Dia melempar senyum lebar kala diperhatikan begitu seksama oleh Chris.
"Aku tak sabar menunggu nanti malam," kata Chris pelan seketika.
Blush.
Shakila bersemu merah, membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam. Dia menyenggol pelan lengan Chris tiba-tiba, kala Pak penghulu mulai membuka suara.
Chris tergagap-gagap. Secepat kilat mengalihkan pandangan ke depan.
Akad pun di mulai. Pak penghulu pun mulai membacakan doa-doa. Chris menarik napas panjang, berusaha menetralisir kegugupan yang menderanya. Dalam hitungan menit, pada akhirnya momen sakral pun telah tiba.
"Saya terima nikah dan kawinnya Shakila Loivtun binti Michael Luivton dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas di bayar...tunai," ucap Chris dengan sekali tarikan napas.
"Bagaimana para saksi sah, sah?" tanya Pak penghulu pada dua orang saksi.
"Sah!" jawab para saksi serempak.
Chris menarik napas lega karena Shakila telah sah menjadi istrinya. Dia melempar senyum lebar pada sang istri, kala Shakila mulai menyalami tangannya dengan takzim.
Acarapun kembali dilanjutkan.
*
*
*
Menjelang sore, acara resepsi di lanjutkan di hotel The Ritz-Carlton, Jakarta. Hotel di mana pertama kali Shakila dan Chris bertemu. Tampak Chris dan Shakila berdiri menyalami para tamu undangan yang datang silih berganti, memberi ucapan. Setelah itu, Shakila duduk ke tempat semula kala tamu undangan sudah nampak lengang.
"Sayang, kalau capek kita beristirahat ya ke ruangan," kata Chris sambil menyeka dahi Shakila yang berkeringat dengan tisu.
"Hehe, nggak kok Sayang, aku masih kuat, tak apa."
"Baguslah, aku senang mendengarnya, berarti nanti malam siap, 'kan?" Chris mengedipkan matanya centil pada Shakila.
Shakila reflek memukul dada Chris seketika sambil berkata,"Dasar mesum!"
"Kamu kan istriku Sayang, tidak salah kan mesum sama istri sendiri," kata Chris tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Shakila.
Shakila malah menjawil kuat perut Chris. Tapi pria itu malah tertawa pelan.
"Wah so sweet banget Shakila. Selamat ya Shakila, aku turut senang. Berikan cepat keponakan untukku ya." Wanita berhijab biru laut menyela obrolan Shakila dan Chris seketika. Dialah Rena, saudara sambung Shakila. Wajahnya nan teduh itu, turut bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Shakila sedari tadi.
"Rena!" Shakila bangkit berdiri seketika. Begitupula dengan Chris. "Terima kasih, aku pikir kamu tak datang hihi," katanya sambil memeluk erat Rena.
"Tentu saja aku harus datang ke pernikahan saudaraku kan, walau aku sekarang sibuk dengan perkerjaanku sekarang di Belanda," balasnya lalu mengurai pelukan.
"Hehe, baguslah, aku harap kamu dapat menyusulku, Rena. Aku yakin suatu saat nanti, kamu mendapat pengganti yang lebih baik dari pria itu hehe." Shakila memegang erat kedua tangan Rena.
Rena membuang napas berat kemudian. "Hmm, entahlah, sepertinya aku tidak mau menikah, aku ingin sendiri," katanya lalu tersenyum hambar.
"Aish, move on dong! Lihat tuh gara-gara cowok sialan itu kamu malah minggat ke luar negeri." Shakila memukul pelan tangan saudaranya itu.
Rena membalas dengan tertawa pelan sejenak. Lalu dia mengalihkan pandangan ke arah Chris. "Selamat ya Chris, aku harap kamu bisa bersabar dengan sikap jahilnya," katanya.
"Pasti itu, terima kasih Rena."
Rena mengangguk pelan. "Aku ke bawah dulu ya, kamu lihat di sana Reni dan Kyler bertengkar lagi," katanya sambil menunjuk ke bawah sana, melihat Reni dan Kyler mendorong satu sama lain.
"Hehe, iya. Kamulah pawangnya."
Selepas kepergian Rena, Chris bertanya pada Shakila. "Sayang, memangnya Rena kenapa bisa sampai pergi ke Belanda?"
"Ya gitu deh, gara-gara pacarnya Rena hamilin anak orang, jadinya Rena trauma."
Chris mengangguk-angguk pelan mendengarnya.
"Awas ya kalau kamu selingkuh, ***** kamu aku potong nanti," kata Shakila sambil melototkan mata.
Chris mengalihkan pandangan.
"Selamat Chris, Paman senang, akhirnya kamu sudah berkeluarga sekarang, Paman harap kamu tak melupakan tanggung jawabmu," kata Benvolio sambil menjabat tangan Chris.
"Terima kasih Paman, tentu saja," balas Chris dengan mengulas senyum tipis. Lalu Benvolio bergeser dan menyalami Shakila.
Ricki menjabat tangan Chris lalu berkata,"Selamat bos, gajian aku dinaikin ya, hehe."
"Hm, iya, iya, tenang saja. Oh ya? Di mana Ricko? Dari tadi aku tidak melihatnya?" Chris menoleh ke sana kemari, mencari keberadaan Ricko. Yang sedari kemarin tak nampak.
Ricki menggaruk kepalanya sesaat, seakan menyimpan sesuatu. Secepat kilat ia mengambil amplop berwarna putih di jasnya dan menyodorkan benda tersebut pada Chris.
"Surat ini bisa menjawab pertanyaan Mister. Ricko menitipkan surat ini padaku. Dia menyampaikan permintaan maaf karena tak bisa hadir, dia juga mau mengejar cintanya, Mister," jelas Ricki, singkat.
Dahi Chris berkerut kuat mendengarnya. Tanpa memberi tanggapan, ia mengambil alih surat dari tangan Ricki dan membacanya dengan seksama.
*
*
Sementara itu, di sisi lain. Gissel meletakkan embernya seketika ke tanah karena keletihan harus mengangkat ember sedari tadi. Kini penampilan Gissel jauh dari kata elegan. Dia sudah menjadi salah satu budak, pemilik pulau kecil yang sangat jauh dari kota Verona.
Cletak!
Suara cambukan menerpa punggung belakang Gissel seketika.
"Argh!" Gissel mengaduh kesakitan seketika.
"Heh, mengapa kamu berhenti ha! Dasar pemalas! Lanjutkan lagi perkerjaanmu itu, kamu lihat di belakang sana, gara-gara kamu kawan-kawanmu yang lain jadi terhambat berkerjanya!" teriak seorang wanita bertubuh gemuk, di sinyalir atasan tertinggi di empunya rumah.
"Maaf, Madam. Tanganku sakit," kata Gissel jujur. Sebab beban yang diangkatnya sangatlah berat.
"Alasan!" Wanita itu hendak mengangkat cambukan ke udara.
Gissel reflek menutup cepat matanya. Namun, dia heran mengapa tubuhnya tak sakit. Dengan cepat ia membuka matanya, melihat Ricko menahan cambukan.
"Ricko..."lirihnya, terkejut.
"Heh! Siapa kamu!" teriak wanita itu sambil melototkan mata.
Ricko menyeringai tipis. "Kamu tak perlu tahu siapa aku, lepaskan Gissel. Dia bukan budak majikanmu lagi sekarang, aku sudah membelinya," kata Ricko sambil menyentak kasar cambukan tersebut hingga terjatuh ke tanah.
"Tidak mu–"
"Antonela, lepaskan Gissel. Pria itu sudah membelinya dariku, lanjutkan perkerjaan kalian!" Seorang pria tua berseru seketika. Dialah pemilik pulau ini.
Wanita itu mendengus kasar lalu melengoskan muka dan menyuruh budak lainnya, untuk melanjutkan perkerjaan.
Setelah situasi aman dan kondusif, Gissel menatap Ricko.
"Ricko, kenapa kamu di sini?" tanyanya, heran dan penasaran.
"Tak usah kamu pikirkan, Gissel. Aku ke sini ingin membebaskanmu, ayo sekarang, kita keluar dari pulau ini," kata Ricko sambil menyambar tangan Gissel.
Gissel menahan tangannya. "Tapi Ricko, aku tidak bisa keluar dari pulau ini, walau aku tidak menjadi budak lagi,"katanya. Sebab sesuai perjanjian jika budak yang sudah di bawa kemari tak bisa berkeliaran dengan bebas di luar sana.
"Baiklah, kalau begitu kita di pulau ini saja bersama-sama."
"Bersama-sama, maksudnya?" Gissel semakin heran.
"Iya, kamu harus mau menikah denganku, Gissel." Ricko tersenyum penuh arti seketika.
"Ha? Apa kamu sedang bercanda?"
"Tidak, ini semua tidak gratis, Gissel. Pilih mana? Pilih tinggal di sini sebagai budak, atau menjadi istriku? Tenanglah, menikah hanya formalitas saja."
Gissel diterpa kebingungan. "Tapi—"
"Begitu aku hitung sampai lima kamu harus memberikan jawaban." Ricko mulai menghitung setelahnya.
"Aku...." Gissell tampak panik.
"Lima! Bagaimana, mau menjadi istriku atau menjadi budak di sini?"
Gissel mengedarkan pandangan di sekelilingnya sejenak. Melihat bangunan megah bak istana, menyimpan trauma mendalam baginya selama ini. Tanpa pikir panjang, Gissel terpaksa menganggukkan kepalanya.
Ricko tersenyum lebar. Akhirnya dia dapat berdekatan dengan wanita yang selama ini, ia cintai. Dia bertekad akan membuat Gissel mencintainya nanti. "Bagus, ayo sekarang kita pergi dari rumah ini," kata Ricko sambil menarik tangan Gissel, yang sedari tadi ia pegang dengan erat.
Gissel mengangguk pelan dan mengikuti langkah kaki Ricko. Tanpa sengaja ia melihat tangannya yang terpaut dengan tangan Ricko. Gissel mengulas senyum tipis sejenak. Dia sangat senang, ternyata masih ada orang yang mau memperdulikannya. Namun, entah mengapa Gissel sangat heran sekarang saat merasakan jantungnya berdebar-debar tak karuan.
Ada apa dengan jantungku?
Satu tangan Gissel menyentuh dadanya seketika.