Kissing Strangers

Kissing Strangers
Kissing Strangers-Mencium Orang Asing



"Dekat?" Dahi Shakila mengerut kuat.


"Iya, sekarang kamu lagi dekat dengan siapa?"


Dengan raut wajah tak terbaca, Calvin menatap lekat-lekat wajah Shakila. Dia pun bingung mengapa menanyakan hal ini kepada Shakila. Saat pertama kali bertemu Shakila. Calvin sudah mulai tertarik pada mahasiswinya ini. Yang menurutnya teramat berbeda dengan wanita lainnya. Apa adanya dan tidak dibuat-buat. Meskipun begitu, sempat terbersit di benaknya bahwa Shakila dan Chris dekat. Namun, sampai saat ini belum ada informasi dari Fabrizio jika Chris berhubungan dengan Shakila.


"Dengan Pak C–" Shakila membekap mulutnya sendiri seketika saat hampir saja keceplosan tentang hubungannya dengan dosennya itu.


Calvin memicingkan matanya saat mendengar hurur C di sebut. Raut wajahnya berubah datar. "Jadi kamu lagi dekat dengan seseorang?" tanyanya tanpa mengedipkan mata sama sekali.


Shakila menurunkan perlahan tangannya dari mulut lalu menggaruk kepalanya yang tidak. "Hehe, iya Pak."


Mendengar hal itu, rahang Calvin sedikit mengeras. "Siapa namanya?" tanyanya penasaran.


"Maaf Pak, sepertinya Bapak nggak perlu tahu. Kalaupun saya kasi tahu, Bapak pasti nggak akan percaya." Shakila tidak mau terlalu terbuka pada orang yang baru di kenalnya. Apalagi Calvin, dosen yang baru mengajar di kampus. Shakila menebak sepertinya Calvin menaruh rasa kepadanya. Dia tak mau memberi harapan kepada Calvin. Jadi, lebih baik dia mengatakan jujur kalau sedang dekat dengan seseorang.


"Hmm, baiklah. Apa kalian sekadar teman dekat atau lebih." Kini raut wajah Calvin menjadi dingin.


"Lebih Pak, em sudah ya Pak. Shakila mau ke kelas dulu. Nanti Bu Sinta ngomel, permisi


Pak!" Shakila membungkukan kepalanya sedikit lalu melangkah pergi, tanpa mendengarkan balasan dari Calvin.


Selepas kepergian Shakila. Calvin mengepalkan kedua tangannya seketika. Dia marah karena diacuhkan oleh wanita yang disuakinya.


"C, siapa C? Apa mungkin Chris?" Perhatian Calvin langsung tertuju pada satu nama yaitu Chris, adiknya. Apa Chris dan Shakila berdekatan. Entahlah. Tanpa pikir panjang Calvin mengambil ponsel dari sakunya, hendak menghubungi Fabrizio. Namun, belum juga ia mengusap layar ponsel. Fabrizio menghubunginya terlebih dahulu.


Calvin mengangkat panggilan.


"Mister, aku sudah menyelesaikan tugasku, sebentar lagi aku akan tiba di Indonesia, anak buahku menemukan sesuatu," sahut Fabrizio di ujung sana.


"Ck! Kamu juga harus mencari informasi tentang Shakila!" Calvin mengertakkan giginya karena tangan kanannya itu melewatkan sesuatu.


"Baik Mister."


"Nanti sore temui aku di hotel XXX!" Calvin memutus sambungan seketika.


Calvin berdecak kesal sejenak. Memikirkan bagaimana caranya membawa Chris ke sana.


***


Waktu menunjukkan pukul tiga siang, Calvin baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai dosen. Suasana di kelas sudah tampak sepi.Sambil merapikan buku dan laptopnya. Perhatian Calvin teralihkan seketika saat melihat di luar sana Shakila melintas di depan pintu. Lantas Calvin reflek melangkahkan kakinya, ingin melihat apa yang dilakukan Shakila.


Secara perlahan-lahan Calvin menyembulkan kepalanya keluar pintu lalu mengerutkan dahinya sedikit kala melihat Shakila masuk ke ruangan lain.


"Apa yang dia lakukan di situ?" Calvin bergumam pelan. "Apa dia sedang bertemu kekasihnya?" Calvin mengepalkan kedua tangannya saat membayangkan Shakila bersama pria lain.


Dengan sabar Calvin menunggu Shakila untuk keluar, tapi sudah lima menit Shakila juga tak kunjung menampakkan hidungnya. Oleh karena itu, Calvin memutuskan mengambil barang-barangnya dan menunggu di pekarangan kampus saja. Siapa tahu saja Shakila dan pacarnya itu keluar bersamaan.


Begitu sampai di depan kampus, Calvin duduk di bawah pohon besar. Dia mengarahkan pandangan ke ruangan yang didatangi Shakila sambil sesekali melihat arloji di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul setengah empat.


"Lama sekali. Apa yang dia lakukan?" Calvin menarik napas panjang, menetralisir rasa panas di dadanya.


Selang beberapa menit, Calvin menajamkan penglihatannya, melihat Shakila keluar dari ruangan sambil senyam-senyum sendiri. Dapat dipastikan Shakila sedang bersama kekasihnya. Ingin sekali Calvin berlarian menghampiri Shakila. Namun, dia tak mau menunjukkan sikap kepeduliannya, mengingat betapa angkuhnya Calvin. Dia hanya ingin tahu siapa kekasih Shakila. Akan tetapi, setelah Shakila terlihat, tak ada lagi seseorang yang keluar.


"Tidak mungkin dia sendirian?" Pandangan Calvin masih tertuju pada ruangan tersebut.


"Belum, sebentar lagi. Kamu ngapain di dalam sana?" Calvin langsung bertanya sambil menyembunyikan kecemburuannya.


"Hm, rahasia hehe. Ya sudah kalau gitu Shakila pulang dulu ya Pak, permisi!" Shakila melenggang pergi seketika.


Calvin mendesah kasar karena Shakila selalu membuatnya mati penasaran. Karena tak ada tanda-tanda ada seseorang. Calvin memutuskan untuk pergi ke hotel, ingin bertemu Fabrizio.


*


*


*


Sesampainya di hotel, Calvin bergegas masuk ke kamar khusus, yang dipersiapkan oleh seseorang yang selama ini membantunya di Indonesia.


"Mister."


Saat Calvin melangkah masuk ke dalam ruangan, Fabrizio berserta anak buahnya yang berjumlah 4 orang membungkukkan badan, menyambut kedatangannya.


"Hm, ambilkan aku air putih." Fabrizio mengangguk paham lalu melangkah cepat menuju nakas. Calvin melempar tas kerja ke atas kasur lalu melangkah cepat menuju sofa.


"Apa semua organ sudah dikirim ke tempat pesanan masing-masing, Fabri?" Calvin menghempas bokongnya di sofa kemudian menyenderkan kepalanya pada kepala sofa.


"Sudah Mister, tapi pelanggan sepertinya memerlukan jantung anak remaja." Fabrizio mendekat sambil membawa segelas air putih.


Calvin enggan membalas. Dia malah mengambil alih gelas dari tangan Fabrizio dan meneguk air putih itu hingga tandas.


Fabrizio mundur beberapa langkah dan berdiri tak jauh di dekat sofa.


"Ada temuan apa, sampai-sampai kamu menghubungiku duluan tadi?" Calvin menatap Fabrizio seketika.


Fabrizio malah mengalihkan pandangan ke arah 4 anak buahnya. Sedari tadi menunggu perintah dari atasan. Melihat gerakan mata Fabrizio, mereka mengambil i-pad dan menyodorkan benda tersebut pada Fabrizio. Lalu Fabrizio membuka dan menekan-nekan layar i-pad sejenak..


"Ini Mister, anak buahku yang bertugas memantau gerak-gerik Chris, mereka tak sengaja merekam ini." Fabrizio memberikan i-pad pada Calvin sambil mengulas senyum penuh arti.


Saat melihat ekspresi Fabrizio, alis Calvin terangkat sedikit. Tanpa bertanya dia menyambar i-pad berwarna hitam itu dan menekan tombol start.


Calvin melebarkan matanya kala melihat pemandangan yang membuat dadanya bergemuruh kuat. Shakila dan Chris sedang berciuman panas. Ternyata benar dugaannya jika kekasih Shakila adalah Chris. Rahangnya yang mengeras semula tiba-tiba mengendur menjadi seringai kuat yang membuat Fabrizio dan para anak buahnya bergedik ngeri. Hawa yang menguar dari tubuh Calvin berubah drastis. Entah apa yang dipikirkan Calvin. Namun, sepertinya pria itu sedang merencanakan sesuatu. Keheningan tercipta sesaat di ruangan.


"Fabrizio!"


Suara Calvin yang dingin memecah keheningan tersebut.


"Iya Mister."


"Aku punya rencana yang bisa membuat Chris datang sendiri ke Verona," sahutnya dengan seringai kuat yang tak pernah pudar sedari tadi.


"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan, Mister?"


"Tunggu saja perintahku," sahut Calvin masih dengan ekspresi yang sama.


Fabrizio tak lagi bertanya tapi dia dapat menebak akan ada rencana besar yang dilakukan Calvin.