Just Prolog

Just Prolog
Pengkhianat kedua.



Episode 4


Darui tersenyum. Mendengar suatu pengemuan itu.


 


‘Sudah disangka’ batin pemuda itu.


 


“Fakta mereka jahat, adalah yang paling benar!”


 


Wuuuush!


 


Sern tampak menyerang lagi suatu hari. Monster besar dengan kaki-kaki dan capit kepiting yang berlapis api. Ukurannya sangat besar sekali.


 


Blaaaar!


 


Dia menghancurkan satu gedung yang dia tapaki itu. Merobohkannya ke bawah. Mengakibatkan kehebohan.


 


Jduuuum!


 


Gemuruh itu terdengar sampai dua akademi di negara yang saat ini dinaungi Darui. Si pengelana waktu.


 


Blaaar!


 


Monster itu lalu melompat. Setelah itu datang kawanan manusia dengan kekuatan supernya. Mereka terbang dengan sinar hijau transparan di tubuh mereka.


 


Blaaar!


 


Semuanya menempel pada tubuh monster itu. Berusaha untuk menahan sang monster agar tak mengacau.


 


Semuanya terkagum dengan aksi-aksi itu.


 


Lalu datang seorang anak yang membuat tangannya membesar puluhan kali itu. Bahkan tagan itu bersinar.


 


Dia berlari dari belakang monster lalu melompat dan hantamkan tangannya itu ke arah si monster.


 


Jduaaaaar!


 


Anak itu lalu napak. Sementara lawannya kesakitan. Namun, dia belum jatuh. Dia bersuara sangat mengerikan.


 


Ngriiiik!


 


Suaranya seperti rongsokan besi yang bersuara. Anak itu pun jadi waspada.


 


Serangan demi serangan dilakukan sang monster.


 


Jduaaar!


 


Monster ulurkan sesuatu ke segala penjuru. Menempel pada dataran apa saja. Lalu, dia berusaha bergerak dari semua anak-anak itu.


 


Ngriiiik!


 


Blaaaar!


 


Dia terseret dari posisinya. Sedikit alami ledakan di bagian tubuhnya itu yang besar.


 


Jduaaaar!


 


‘Monster ini sangat kuat. Seranganku apakah bisa untuk mengalahkannya?’ batin anak pemukul super tadi.


 


Ngriiiik!


 


Blar blar blar!


 


Lalu tibalah seorang yang terbang mendarat di sana.


 


Anak pemukul super terlihat senang akan kedatangan orang itu.


 


“Kapten!” ujarnya menyapa.


 


Kapten itu tampak gunakan seragam akademi Atgena. Akademi mereka semua. Bedanya dia juga gunakan jubah berwarna senada.


 


Rambutnya tampak panjang. Dia tampak seperti Rage.


 


Dia lalu bergerak ke arah monster itu.


 


Boruto kini berada di sebbuag tempat pertempuran. Dia tengah melawan gerombolan monster sendirian. Kini, dia pun bergerak dengan api yang sudah di tubuhnya. Menggunakan kekuatan itu dalam beberapa terjangan hingga berhasil tuntaskan mereka semua.


 


Blaaaar!


 


Satu monster dikalahkan Boruto. Lalu, dia pun berdiam di sana.


 


‘Aku tak sabar bertemu dengan Rage’ batin Boruto khawatir pada Rage.


 


Usai itu. Rage tampak kembali bersama pasukannya ke dalam akademi Atgena. Semuanya tampak menyapanya dengan antusias dan hormat. Rage yang kini  sangat berbeda itu. Melihat ke sebuah arah.


 


‘Aku pikir tadi melihat siapa. Sudahlah’ batinnya dan berlalu lagi.


 


Berbeda dengan akademi pahlawan yang tidak terlalu ramai ini.


 


Boruto kembali beraksi. Terjadi perusakan lagi di sekitar markas mereka. Para anak-anak super yang  ada langsung melaju. Di sana ada monster besar yang waktu iru dilawan oleh akademi Atgena yang dipimpin Rage. Yaitu monster kepiting api.


 


Boruto lalu menerjang dirinya. Sang monster tampak menahannya dengan gelombang yang berdengung darinya.


 


Ngung ngung ngung ngung!


 


Namun, Boruto masih bisa tahan. Setelah itu. Boruto maju dan tampak dia memukulnya namun, monster itu hilang, atau seakan-akan sang monster adalah bayangan ilusi semata.


 


“Ke mana dia?” tanya Boruto.


 


Beberapa kawannya kaget dan terkejut.


 


Lalu, monster itu muncul sebelum mereka menyadarinya. Langsung membuat serangan api besar yang dia tembakan dari capitnya itu.


 


Blaaaar. Voooom!


 


Boruto masih bisa bertahan. Dia bangun dari puing-puing itu. Berdiri dengan cepat. Sementara beberapa anak-anak di sana pingsan tak sadarkan diri.


 


Boruto kini marah. Apinya keluar lagi setelah dia minum cairan itu lagi.


 


Hyaaaaa!


 


Berteriak hebat darinya.


 


Blaaaar!


 


Dia mencoba maju. Namun, monster sadari dan dia menghindar. Serangan itu tak ada artinya. Boruto tak pantang menyerah.


 


Melempar banyak sekali hal dari tempat itu.


 


Jduuuum! Jduuuum! Jduuuuum!


 


Boruto terus melempar banyak hal. Berharap semuanya bisa lukai sang monster.


 


Dia perhatikan. Namun, setelah asap dari depannya reda. Tampak monster itu yang masih utuh mencoba menyerangnya.


 


Blaaar!


 


Api lurus dari sang monster. Dia menahannya. Boruto berusaha sebaik mungkin.


 


Melenguh karena kekuatan api dari monster itu. Monster itu maju. Membuat Boruto tambah terdesak.


 


“Sialan kau!”


 


Boruto kembali memperkuat apinya. Apinya membesar lebih besar dari sang monster. Tak berselang lama. Monster itu memperbesar lagi api miliknya melebihi Boruto.


 


Sehingga Boruto terdorong hingga beberapa meter.


 


Blaaar!


 


 


“Tak akan kubiarkan kau menghalangiku bertemu dengan Rage!”


 


Hyaaaa!


 


Boruto kini tambah kuat lagi. Namun, kembali lagi sang monster bisa dengan mudah mengimbangi bahkan melebihi kekuatannya. Apinya itu seperti tak ada batasnya untuk menguat.


 


“Hyaaaa!”


 


Boruto tetap optimis dalam hal ini. Dia tampak terus berusaha mendorong  sekuat tenaga.


 


Blaaar blaar blaaar blaaar!


 


Terus terdorong hingga menembus segala bangunan di sana. Namun, anak itu masih saja optimis.


 


“Hyaaaaaa!”


 


Blaaaar!


 


Hingga api itu mulai melemah. Boruto lalu bisa berhenti. Sesaat kemudian api itu mengecil dan mengecil lagi hingga menjadi tidak ada.


 


Boruto lalu melihat ke segala arah. Banyak anak-anak dari akademi Atgena. Tampak terbang ke segala penjuru.


 


Boruto hanya bisa menunduk di sana. Lalu mendengar ledakan besar di arah monster yang tadi. Sudah sangat jauh dia terpental. Hanya bisa lihat ledakan super besar itu dari sana.


 


Dia menatapnya datar.


 


Beberapa hari berlalu.


 


Boruto menatap sesuatu info di mana tertulis banyak hal. Rara dan beberapa kawan akademi juga melihatnya. Mereka melihat tentang sesuatu yang baru-baru ini dikemukakan.


 


Terlihat sosok Darui di atas menara dekat tempat Boruto itu. Menatap sinis kepada arah anak-anak itu.


 


“Jadi? Apa yang akan kau rasakan? Malofant?” tanyanya dingin dan kejam. Entah kepada siapa.


 


Boruto tampak berjalan di suatu lorong. Sedikit tergesa-gesa. Lalu, dia pun masuki sebuah ruangan.


 


Sepertinya dia akan latihan lagi.


 


Terlihat di informasi tadi. Semua nilai dan statistik dari dua akademi itu. Dan posisi paling atas adalah Rage. Salah satu ketua dari semua anak di akademi itu.


 


Nilai mereka sangat tinggi. Sementara Boruto masih tertinggal jauh dan hanya menempati posisi bawah. Di mana semua teman-temannya juga berada di posisi itu. Mereka semua berada satu level di bawah semua anggota akademi Atgena.


 


Usailah Bokuto berlarih. Dia tampak berjalan pulang. Lalu, melihat serangan monster di sana. Terhadap manusia di jalan itu. Terlebih lagi dia adalah anak-anak yang sendirian.


 


Sepertinya sern ini tak ada habisnya mengacau. Demi tujuan jahat mereka. Pikir Boruto.


 


Boruto tampak meminum cairan itu. Lalu, seperti membakar diri. Boruto melesat dan hantam semua monster-monster itu.


 


Blar!


 


Dia pun berhasil selamatkan anak itu  dari bahaya sern.


 


Sementara itu. Tampak dari sebuah atas gedung. Terjadi pertempuran antar monster itu. Tidak sepertinya salah satu robot dikendalikan oleh sesuatu.


 


Tak lain adalah monster kepiting milik rara. Rara sendiri berada di dalam tubuhnya. Monster-monster itu tampak menyerangnya dan rara  dengan lihai menghindar dan menahan deangn tangan robotnya itu.


 


Lalu, monster-monster itu mengepungnya. Membuat rara terpojok. Namun, wajah rara tampak biasa saja. Lalu, saat semuanya menyerbu.


 


Ngung!


 


Robot rara keluarkan energi gelombang ke semua penjuru yang berasal dari satu titik itu. Membuat Rara harus memutar tubuh.


 


Lalu, setelahnya.


 


Blaaaar!


 


Semua monster itu meledak tanpa sebab. Hanya karena gelombang itu saja sepertinya.


 


Rara tampak tersenyum puas.


 


Boruto malamnya tampak berlarih sendirian di sebbuah atap gedung. Sembari bayangkan nilai dirinya yang tak naik-naik.


 


Lalu, dia merasakan ada monster yang sedikit kuat. Dirinya tampak akan hadapinya. Namun, sesuatu tampak menindihnya dari atas. Dan orang itu sepertinya bukan anak-anak.


 


Perawakannya dewasa.


 


“Si-siapa kau?” tanya anak itu.


 


Orang itu mengenakan pakaian ketat hitam di bawah sinar bulan itu. Dia lalu berbalik setelah membelakangi Boruto.


 


“Sepertinya kau sedang berlatih ya! Maaf mengejutkanmu,” ucap wanita itu tenang dan mulai hampiri Boruto.


 


Boruto hanya mengangguk saja.


 


“Kau! Bagaimana bisa kalahkan monster itu?” tanya Boruto antusias.


 


Wanita itu hanya tersenyum sedikit.


 


“Aku berasal dari sebuah tempat gelap. Tempat gelapku itu sepertinya selalu membuat hal-hal aneh,” jawab wanita itu dan berdiri di pinggir sana. Melihat pemandangan kota.


 


Boruto ikutinya dari belakang.


 


“Apa itu? Semacam organisasi?” tanya Boruto curiga.


 


Wanita itu meliriknya.


 


“Sern!” ucap wanita itu singkat.


 


Mata Boruto melotot kaget.


 


Namun, wanita itu tertawa ke arahnya.


 


“Tenang saja. Tujuan kami sebenarnya hanya ingin mengambil alih saja. Bukan membunuh anak-anak. Maka dari itu kami membuat monster-monster yang tak masuk akal,” ujar wanita itu beralasan.


 


Boruto yang seharusnya menyerang. Tampak diam.


 


Dia memandang dengan tatapan lain ke arah wanita itu.


 


“Apa itu benar-benar hal yang kalian inginkan?” tanyanya dingin dan pelan. Wanita itu bisa mendengarnya.


 


“Ya! Kami hanya ingin mengambi alih dunia ini. Itu saja. Setelah itu ....”


 


Wanita itu menggantung kalimatnya.


 


Lalu dia tampak mendekat ke arah Boruto. Dan membisikkan sesuatu kepadanya.


 


Hari itu berlalu. Boruto kembali bertugas karena ada serangan besar dari sern. Sementara serangan kecil biasa terjadi tak diketahui. Maka dari itu tak ada yang tahu mereka bergerak secepat apa. Sern sangatlah berbahaya dan jahat.


 


Boruto tampak meninju dan hancurkan satu monster. Lalu, rara tampak menghancurkan kepala monster yang terlempar itu. Membuat tubuh monster besar yang tengah dihadapi beramai-ramai timnya itu. Meledak dan kalah.


 


Jduaaaar!


 


Suatu pertempuran kini dimenangkan lagi oleh mereka semua. Hal itu sedikit mengubah posisi di papan skor. Di mana Boruto menyalip setidaknya hampir seratus anak dari akademi Atgena.


 


Rara dan beberapa temannya pun demikian. Kini mereka mendekat pelan-pelan. Usaha tak akan menghianati hasil.


 


Karena Boruto rajin latihan dan mengasah diri. Dia pun bisa membawa semua kelompoknya untuk menyalip seratus posisi dari anak-anak super Atgena.


 


Tampak direktur pun senang atas perkembangan ini. Dia tampak bergumam berpikir.


 


“Baiklah, aku putuskan. Boruto adalah ketua dari semua siswa di akademi ku!” ucapnya tegas.


 


Serangan terjadi lagi. Boruto yang kini jadi kapten. Mengenakan tali kapten berwarna merah di lengan atasnya itu. Memimpin semua siswa untuk bergerak.


 


Bersambung.