
Episode 15
Wanita itu nampak mengalihkan lagi pandangannya itu pada layar itu. Lalu, terkikik karena tayangan itu. Boy pun melangkah meninggalkannya. Menyisiri tangga yang mewah itu lalu menemukan sebuah ruangan yang ada sebuah sofa yang besar.
Sepertinya dia tinggal di tempat orang-orang yang bukan sembarangan. Bagaimana bisa sepeti ini?
Di sebuah tempat yang gelap. Nampak, berdiri sesosok orang. Namun, dia pendek.
"Ada sebuah ruangan seperti ini," ucap anak itu. Di sana tampak gelap. Ada satu tetesan-tetesan air.
Anak itu nampaknya menatap tajam pada hal itu.
Lama dia menatap lalu dia melihat ke arah satu jalan yang hitam. Karena gelap.
'Aku diserang saat itu, lalu aku tiba-tiba terdampar di tempat ini' batin anak itu. Anak itu adalah Boy. Namun, kenapa dia ada di tempat lainnya?
Boy nampak mencoba maju ke depan. Dia tak melihat dengan jelas. Dirinya nampak memasang wajah penasaran di dalam gelap itu.
Tap tap tap tap tap!
Melangkah dengan hati-hati pada segala hal di tempat itu.
Kemudian .....
Boruto keluar mengantar sepupunya yang bernama Saber itu.
"Boruto, aku lain kali akan ke sini jika sempat," ucap Saber sebelum nenaiki kendaraan canggih itu yang terbang ke atas.
Boruto mengangguk.
"Baiklah!"
Boruto menuju ke rumahnya lagi. Sudah akan menjelang malam. Dirinya menggenggam tangan mengingat Boy.
'Aku bahkan mengakuinya kuat. Aku tak sadar katakan itu, bahkan tubuhku juga tak masalah saat itu terlontar. Payah sekali diriku ini' batin Boruto.
Darui memiring kepalanya di sana.
Melihat Boruto di tempat yang sama persis namun hanya ditemani satu wanita saja. Yaitu rara.
"Aneh sekali kau orang jahat. Kau katakan itu dalam keadaan gugup dan tidak suka. Namun, kau malah mengatakan hal itu terjadi alami pada darah dan jantungmu sendiri? Apakah dirimu sendiri tidak merasakan janggal dan lucu setelah katakan hal itu? Tidak, kau pasti tertawa. Ya! Aku bisa melihatnya. Hatimu tertawa, melihat kehidupan dan kelakuan yang kau buat!" ujar tajam Darui penuh kebencian mendalam.
Melihat di dalam hati anak itu penuh kegelapan. Lalu, selalu tertawa terbahak-bahak. Seperti seorang aktor yang profesional. Menyembunyikan tawanya diam-diam. Menunjukkan perangai baik di sekitar mereka. Benar-benar aktor dalam kehidupan nyata.
Sudah!
Boruto masuki rumahnya. Tanpa merasa Darui terus saja melotot benci padanya.
'Kadang kala. Aku seperti merasa tak berguna. Apa yang sudah kuperbuat sepeti menghalangi jalanku sendiri' batin Boruto sebelum memasuki pintu itu.
"Tentu saja karena apa yang kau lakuan. Merugikan semuanya. Dasar Malofant mahkluk jahat!" desis Darui.
Sosok di belakangnya tampak diam mematung.
Kini, nampak Boruto yang bangun.
" ...kukuruyuk kukuruyuk ...."
Mendengar bunyi alarm itu. Boruto masih setengah sadar. Melihat dengan mata yang tidak sepenuhnya jelas dan terbuka.
"Sudah pagi kah?"
"Hoaaam!"
"Boruto! Kemarin Saber datang ke kamarmu. Dia menyetel alarm jam dua siang! Maaf ibu lupa beritahukan itu. Karena alarm ibu juga dia ubah!"
Bokuto seketika sadar.
"SABER SIALAN!"
Di akademi.
Beberapa temannya juga tampak bingung akan Boruto yang tak kunjung datang dari pagi. Mereka tampaknya akan bersiap misi berada di atap sana.
"Apakah ketua sekarang ada masalah?" tanya satu anak yang setia sekali pada Boruto itu. Bahkan semua orang di sini lebih setia daripada orang lainnya.
"Entahlah, kau tak dengan kabar apa pun."
"Tak biasanya ketua bolos seperti ini."
"Benar, ini sangat aneh."
Lalu, tiba-tiba datang Boruto dari lantai bawah itu.
Blaaar!
Menembus gerbang yang akan tertutup itu. Gerbang itu cukup canggih.
"Ah, maaf aku terlambat!" maaf Boruto. Namun, suatu suara tampak berteriak marah di sana.
"Hey! BORUTO! KAU SUDAH MERUSAK FASILITAS AKADEMI! MAKA DARI ITU KAU HARUS BAYAR DENDANYA DAN DIKENAKAN SKORS!"
Boruto terperangah kaget.
'Ini adalah hari tervuruk dalam hidupku' batin Boruto nampak menyesal dengan tadi itu.
Semua kawannya tampak berekspresi maklum saja dan tersenyum getir melihat kaptennya yang sudah merusak pintu itu.
"Tenang saja ketua! Kami akan membantumu!" ucap satu bawahan menenangkan. Akan tetapi ...
"TIDAK BOLEH!"
Suatu suara yang sepertinya dilakukan oleh kepala akademi itu. Nampak keras sekali.
"KITA TIDAK BOLEH MEMANDANG DIA SIAPA. POKOKNHA KALIAN SEMUA TAK BOLEH BANTU. JIKA KETAHUAN KALIAN AKAN BAYAR DUA KALI LIPATNYA DAN MENERIMA SKORS YANG PALING LAMA. CAMKAN INI!"
“NGIK!"
Semuanua tampak mengeluarkan keringat bersamaan. Ngeri dengan kepala akademi mereka yang sangat tegas dan harus tunduk pada aturan yang sudah dibuat oleh pemerintah.
Bahkan, terdengar suara sesuatu yang dibanting tadi.
"Haaaah!"
"Ayo ketua!"
Boruto pun mengangguk. Mereka lalu berangkat.
Boy memandang sedikit peduli pada Boruto. Lalu, dia berangkat paling belakang berbanding terbalik dengan Boruto.
Wuuush!
Mereka semua tak kehilangan Rara. Darui nampak melihat sosok Rara di sana. Yang masih mematung lalu.
Dia nampak tak melakukan apa pun. Kemudian rara nampak sadar begitu saja.
"Aaaaaaaargh!"
Anak perempuan itu tampak kesakitan pada kepalanya itu yang tak berdarah. Mungkin menderita sakit kepala atau migrainnya kumat?
Darui menatapnya serius terus menerus.
Lalu, nampak Rara nangis di depannya itu. Dia tersimpuh di sana. Saat ini Rara nampak tak pedulikan sekitarnya. Mungkin dia habis terkena musibah yang besar.
Serelah itu Darui yang duduk di pinggir gedung itu berdiri.
"Dengan ini, apa kau akan melawan takdirmu itu?" tanya Darui padanya.
Rara lun terdiam. Namun, tak ada jawaban. Darui nampak bosan dan dia kan pergi.
"Ya!" teriak Rara yang tak rela Darui akan pergi.
Destruction Future adalah kemampuan untuk merusak masa depan dengan mengirim kesadaran seorang dari masa lalu ke masa depan. Denhab masuk akal, jika kesadaran itu dikembalikan lagi. Hal itu akan mengubah masa depan itu.
"Baiklah kalau begitu," ucap dingin Darui. Namun, dia nampak terdengar seperti orang yang kejam. Rara nampak sedikit tersentak pada ucapan dingin itu. Seakan menusuk dirinya dan menebas lehernya.
Boruto kini mengepung suatu monster besar di sana yang mengamuk.
Lalu, di sekitar sana. Ada dua orang yang tak lain adalah Ben dan wanita itu.
"Awkarin, bagaimana caranya?" tanya Ben yang sepertinya sudah bersiap di tempat sekitar itu. Awkarin nama wanita dengan wajah yang jahat. Tampak, mengeluarkan gumpalan yang berlendir dari sebuah tempat yang dia bawa. Ben pun nampak melihat itu tak enak.
"Ini percobaan pertama. Mahkluk ini adalah modifikasi dari semi human. Dia mungkin tak bisa menggunakan Metamorfa ini dengan baik. Tapi, kekuatannya akan sangat lumayan."
Ben nampak mendesah di sana mendengar itu. Awkarin melihat bebarapa bocah yang datang kepada monster itu.
"Ben! Kau pegang ini, aku akan menyalakan sinar penerobos!" Awkarin nampak memberikan gumpalan itu.
Ben pun tak terima.
"Kenapa bukan aku yang melakukan hal itu saja?!" tanya Ben seperti anak-anak yang tidak suka diberikan mainan yang menurutnya lebih jelek dari apa yang diberikan ke anak lain atau saudaranya.
"Diamlah! Ini semua agar cepat! Ayo cepat Ben! Pegang!"
Ben dengan wajah jijiknya itu. Walau memakai kacamata dia terpaksa lakukan itu.
'Sial, ini hari terburuk keduaku," lelah Ben di sana.
Boruto datang. Dia terselimut api. Teman-temannya siap di sekitar monster itu.
Boy juga di sana.
'Bagaimana jika kita mengalahkan akarnya saja?' batin Boy.
Ternyata dia mendeteksi keberadaan dua orang itu. Dia juga tahu itu orang yang mencurigakan. Tebakannya mungkin benar. Mereka adalah Sern.
‘Sangat sulit mengakses tempat kejadian ini. Orang-orang itu juga bukan warga biasa' batin Boy.
Namun, Boruto di sana berteriak mengomando.
Dia pun harus turuti itu. Walau dia masih curiga tentang kehadiran dua orang itu.
Wuuush Wuush Wuuush!
Boy tampak meninju dengan kekuatan bayangnya.
Blaaar!
Pukulannya tampak kuat. Bocah lainnya tampak menatap senang pada tumbangnya monster itu.
Boruto puas.
"Bagus! Sekarang tamatilah dia!" teriak Boruto mengomando.
"Baik!"
Semuanya siap dengan serangan jitu masing-masing.
Boy mengubah tangannya menjadi besar dan lancip. Serta ada mata merah di sana.
"Deragon Boy!"
Wuuush!
Benda itu semakin bergerak ke atas semakin besar. Semuanya sudah siap.
Groaaar!
Wuush wuuush!
Jdummm!
Ledakan itu nampak luas. Asap di mana-mana. Boruto sepertinya tak menyerang. Dia percaya pada semua kawannya itu.
"Sudah tamat!" ujarnya tenang. Mengusap keringat setelah api di tubuhnya memudar.
Namun ...
Groaaaar!
Blaaaar!
Tampak, muncul lagi sosok monster namun, di tempat yang sama. Gelombangnya juga besar keluar dari sana.
Groaaar!
Boruto tak sempat untuk meminum satu tetesan airnya. Lalu, sesuatu hitam tampak muncul dari asap kepulan itu.
Boy nampak akan bergerak.
Blaaar!
Namun, dirinya terpental akan sesuatu.
Sesuatu tampak nendorongnya jauh.
Suatu sinar berwarna biru pudar.
"Bagus Ben! Kita biarkan dia mengalami proses stadium. Metamorfa sufah dipasang pada inti tubuh dan sumber energinya. Setelah itu, Metamorfa akan menjadi virus yang menyebar tentu itu butuh waktu tidak gampang," ucap seorang wanita itu.
Ben pun nampak mengangguk setelah dia menyerang sesorang dari tim Boruto tadi. Mengangguk setuju.
'Aku harap benda menjijikan itu memang berguna dan bisa diandalkan seperti kata dia' batin Ben merahasiakan perasaan jijiknya beberapa menit sebelum itu semua.
"Baiklah, selanjutnya kita lihat saja!" ucap wanita itu sembari tersenyum licik.
"Haaah baik!"
Wuuush!
Groaaarg!
Tampak, monster sudah menunjukannya wajahnya. Nampak, wajah itu seperti berubah. Lalu, sesuatu terlihat di dekat itu. Namun, itu seperti dia menderita penyakit saja. Wajahnya kotor akibat dari itu semua.
Semua anak itu khawatir.
"Aaaaaaaargh!"
"Lepaskan ketua!"
Mereka bergerak menuju Boruto.
Hyaaa!
Canonto!
Emere Strike!
Blar blar balar blaaar!
Boruto kini lemah. Tanpa, dia bisa meneteskan botol-botolnya itu.
Saat ini ....
Boruto coba meregangkan hal yang memeluk dirinya.
"Aku tak bisa gunakan kekuatanku. Mahkluk sialan, kau sepertinya memperhatikan diriku terlalu berlebihan. Saat seperti ini, di mana Boy itu!" teriak ketua itu yang dicengkram oleh segempal tangan.
Tangan raksasa monster itu. Tentunya.
Groaaarg!
Bersambung.