
Episode 11
Tampak, Boruto kembali dan mengelap luka-lukanya di kamarnya itu. Dia masih di akademi pahlawannya.
Tampak, di luar ruangan itu. Orang-orang petinggi akademi itu sedang berkumpul grasah-grusuh.
“Semakin ke sini. Semakin banyak ancaman yang mendera. Tak kusangka ada hal semacam ini,” ujar salah satu dari mereka.
“Hmmm.”
Rara su rambut kuning tampak duduk di suatu tempat. Dia merenung kali ini dia sepertinya sedikit berpikir.
‘Aku pikir Boruto ada benarnya juga. Rage berubah. Anak culun itu memang tidak pantas menjadi pria idaman’ batinnya dengan ragu.
Terlihat, beberapa anak pahlawan berlarian memuju ke suatu tempat melewatinya. Dirinya masih di sana. Menyentuh kakinya yag diangkat tekuk itu.
Wuuuush!
Darui meminum teh di Cafe. Tampak, ada dua orang yang sedang berbincang di dalam kafe itu.
Satu orang berambut biru tampak menggebrak meja itu.
“Anak berbakat jahat itu harus dimasukkan ke dalam Sern!” ujarnya semangat.
Tampak, di depannya adalah wanita dengan rambut kuning dan indah itu. Dia tampak menyeruput minumnya itu lalu mengatakan sesuatu.
“Dia bisa mengacak-acak akademi Atgena dengan mudahnya. Dalam level dasarnya saja,” ujar wanita itu dan Sruput lagi tehnya.
“Ya! Kota harus mencari jejaknya!” tanggap orang berambut biru di depannya.
Darui kembali duduk-dudukan di atas genting. Lalu, tampak ada beberapa monster yang lewat di bawahnya itu. Dia tampak menghilang dan Krassh!
Menginjak monster itu tiba-tuba dan hancur leburkan.
Di suatu tempat yang gelap.
Tampak, satu wanita menunduk pada seorang yang duduk itu.
“Akademi itu sangat kuat! Tapi, aku berhasil menangkap seorang anak yang sepertinya dari akademi itu,” lapor wanita itu.
“Hmmm! Baiklah kalau begitu,” tanggap orang itu berdiri.
Tempat akademi pahlawan.
Tampak, beberapa anak itu sedang antusias menunggu di depan latar itu.
Layar tampak mengacak seaiatu lalu .....
Kring!
“Woaaaaah!”
Semuanya bersorak senang. Semuanya tampak bangga.
Lalu, tampak kepala sekolah akademi itu menatap senang pada mereka di depan pintu itu. Bersama saru orang bawahannya itu.
“Walau mereka tak berhasil dalam misi itu. Tapi, setidaknya peringkat mereka sudah naik di atas anak-anak akademi Atgena,” ujar senang kepala sekolah.
“Iya! Benar!”
Semua orang tampak senang atas peringkat baru mereka. Boruto sendiri masih menatap hal itu. Dia tampak melihat satu nama yang asing.
“Ini .....” gumamnya di sana.
Beberapa anak tak menyadarinya. Terlihat ada satu anak yang tepat di bawah peringkat Rage saat ini dan mengejutkannya lagi.
“Oh iya!”
Seruan kepala sekolah akademi pahlawan tampak membuat semua siswa diam di sana. Mereka langsung berbalik dan berbaris rapi.
Tap tap tap tap tap tap!
Boruto yang paling depan menatap kedatangan semua orang itu. Termasuk satu orang dengan pakaian hitam itu.
“Kita kedatangan anak baru!” ujar satu orang pengelola itu.
Tap!
Terlihat, anak berambut hitam itu yang tak lain adalah si kekuatan bayangan.
“Namaku Boy! Aku perungkat dua saat ini!”
Boruto dan beberapa kawannya kaget. Mereka tak menyangka ini. Boruto menatap ke arah semua orang dewasa itu.
“Ya! Kau benar! Dia adalah orang yang kalian perangi di sana! Namun, ternyata dia punya hubungan dengan orang penting dari negara lain! Mereka mengusungkan untuk dia bergabung dengan akademi ini. Ini tak terlalu aneh, negara itu memang mengaku menempatkan anak ini di kota itu. Jadi, jangan teralu curiga. Kita hanya kebetulan saja bertemu dengannya!” jelas kepala sekolah akademi pahlawan.
“Kebohongan. Di lihat dari mana pun adalah kejahatan sepele dengan efek yang kuat.”
Wuuush!
Boruto menatap seorang yang baru datang. Orang atau musuhnya itu. Namun, saat ini tidak. Boruto masih tak percaya dengan semua itu.
Nampak, Boy meluruskan tangan kanannya itu ke depan. Dia mengulurkan tangan ke arah Boruto.
“Saat ini! Aku adalah wakil ketua! Kita satu team! Jadi, bisakah kau lupakan semua yang terjadi?” tanya Boy dengan tatapan datar khasnya itu.
Boruto tampak menggeleng tak terima.
“Kau pasti merencanakan hal lainnya bukan?!” bentak dirinya dan langsung memojokkan Boy ke belakang sana.
Brak!
Boy masih tenang. Lalu, dia tampam menatap ke samping. Di sana ada Rara.
Rara menatap Boruto dan Boy itu. Lalu, mencoba memisahkan keduanya.
“Rara! Kau tahu! Orang ini adalah orang yang menyerang itu!” ujar Boruto.
Rara tampak menggeleng lemah.
“Aku tidak ingin tahu lagi!” ucap rara aneh.
“Ada apa denganmu rara?!”
Lalu rara tanpa sepatah kata apa pun terlihat berlari ke belakang sana. Menjauh.
Boruto menatap tajam pada anak berambut hutam itu.
“Ini semua pasti karena dirimu!” uar Boruto menyalahkan pada anak itu.
Boy masih tenang. Melihat punggung Boruto yang pergi darinya itu.
“Suatu saat nanti aku akan mengalahkanmu,” gumam anak itu.
Tap tap tap tap tap tap!
Tampak, Boruto sepertinya ke tempat kepala sekolah lagi.
“Ada apa pak?” tanya Boruto.
“Boruto! Sepertinya anak-anak berpotensi itu sebenarnya bukan diculik oleh Sern,” ujar kepala sekolah itu sambil meminum air hangat manisnya.
Boruto membelalak.
“Apa?!”
“Anak-anak itu sebenarnya sedang ada di luar negeri. Sepertinya kita baru tahu ini. Mereka mengikuti proyek latihan agar mereka bisa menjadu pahlawan dengan memunculkan kekuatan mereka,” jawab kepala sekolah itu menyeruput minumannya.
Rara tampak menatap punggungnya itu. Akhir-akhir ini gadis kecil itu sering memikirkan tentang hubungan Boruto dengan pahlawan lainnya.
‘Aku pikir Boruto harus menerima apa adanya’ batin Rara.
Boruto tampak berlatih di atas atap gedung kosong seperti biasanya. Sembari dia membunuh monster-monster sern yang sepertinya selalu ada itu.
“Sampai kapan masalah ini berlarut-larut haaaah!” teriaknya kesal di atas gedung itu.
Wuuah!
Angin membara dirinya dan rambut birunya itu melayang-layang. Darui menatapnya.
‘Inilah yang kau tak suka. Mereka mencoba membela di atas kelemahan dirinya sendiri. Kekuatan tidak murni pun muncul’ pikir Darui.
Boruto menatap langit dan berdiri di atas gedung itu. Tepat di sisinya. Dia tampak menatap ke arah area padat di bawah sana.
‘Orang-orang selalu berekspetasi lebih. Apalagi jika mereka adalah bawahan dan pemimpin. Mereka senang akan hal itu. Malofant juga seperti itu. Namun, sifat mungkar mereka menjadikan dirinya sendiri adalah objek. Tanpa sadar itu mengacaukan dunia ini’
Wuuuush!
Burung-burung beterbangan. Boruto tersenyum di sana. Dia seperti mendapatkan ilham.
“Bagus! Kebencian aku suka ini! Dan suatu saat kau akan membangkitkanku!”
Boruto membuka matanya. Entah suara dari siapa tadi itu.
Wuuuush!
Boruto tampak menatap kosong ke bawah lalu dia pun tampak menerjunkan dirinya ke bawah sana.
“Dunia Malofant ini penuh kepalsuan. Kepalsuan membuat kepalsuan lagi. Seperti itu terus. Suatu hari, orang-orang tak bisa kembali seperti sedia kala. Jahat merupakan sifat mereka, begitu pula keburukannya.”
Wuuuush!
Boruto terjun dari lantai paling atas itu. Menikmati angin-angin yang terus mendesir karena dirinya itu.
‘Suatu saat aku akan membangkitkan kekuatanku yang lain’ batin Boruto mnutup matanya itu.
Bersambung?
Esok harinya.
Boruto kembali temui monster itu lagi. Kadal robot yang besar.
“Kali ini aku akan mengalahkanmu dengan mudah,” ucap Boruto sendirian di tempat yan sudah luluh lantah itu. Api juga sudah membakar di mana-mana.
Tampak, Boruto mengeluarkan apinya itu namun seketika juga dia merasakan hal lainnya. Bersamaan dengan munculnya suara.
“Ehahahahaha! Akhirnya aku bangkit lagi!”
Crrrrt!
Tampak, tangan dan kulitnya kini muncul sesuatu corak-corak hitam yang misterius. Boruto tak mengerti.
“A-apa yang terjadi—“
“Aku akan mengambil alih!”
Suatu suara tampak membuatnya tak mengerti. Itu datang dari dalam dirinya. Lalu, Boruto tampak menyerang Rara yang tengah berdiri di sana.
Arrrgh!
Boruto bangun dari tidurnya.
Tap!
Boruto menatap ke atas kamarnya itu. Bunyi dering sudah terdengar dari tadi.
“Aku mimpi buruk yang aneh,” ucap Boruto.
Boruto turun tampak ayah ibunya sudah menunggu.
“Woah! Lihatlah si pahlawan ini. Wkwkwkwk!” tawa ayahnya yang melihat Boruto masih acak-acakan.
“Aku libur ayah!” ucap Boruto tak terima.
“Wkwkwkwk!”
Ibunya tampak menawarinya makanan dan Boruto pun makan pagi itu.
Tap tap tap tap!
Di depan rumahnya tampak ada beberapa bocah itu. Lalu, tampak bell itu berbunyi di rumah Boruto.
“Siapa itu? Pagi-pagi sekali!” teriak ayahnya itu.
“Boruto! Kau coba cek sana!”
Boruto yang sedang mrnbaca sesuatu mengangguk patuh. Lalu, dia pun tampak membuka pintu.
“Ketua!”
Ternyata beberapa kawannya itu. Boruto persilahkan mereka untuk masuk. Di sana mereka juga makan-makan. Sepertinya memang sedang libur di sana.
“Setelah adanya anak bernama Boy! Akhir-akhir ini! Masalah monster sudah gampang!” ucap anak-anak itu.
Boruto tampak menunduk. Membuat semuanya mencoba alihkan itu.
Boruto masih bersama kawannya mereka bermain di dalam rumah Boruto. Hingga sore hari mereka pamit untuk pulang.
Boruto menghela nafasnya malam itu. Menatap dirinya.
‘Aku masih sangat lemah. Rage mau pun Boy! Level mereka belum bisa aku capai’ batin Boruto sebelum kembali terjaga lagi malam itu.
Tap tap tap tap!
Seorang melangkah dengan sebal.
“Sialan! Ternyata anak itu sudah diambil oleh kumpulan pahlawan lemah itu!” ucap jelas si rambut biru itu.
“Tenanglah!” ujar satu lainnya yang merupakan perempuan.
“Saat ini pun. Luna belum ada kabar! Kita tak ada jadwal keluarkan monster sebelum ada kabar terbaru dari Si luna itu,” ucap pemuda rambut biru itu.
“Ya! Tapi itu memberikanku waktu untuk berimajinasi!” ucap wanita rambut kuning itu dengan lekuk senyum yang seperti mengulum sesuatu di dalam mulut.
“Apa kau akan menciptakan hal itu?” tanya pria itu.
Namun, wanita itu tampak hanya diam dan mengulas senyum sembari mengulum-ulum sesuatu dari dapam mulutnya.
“Heh!”
Kukuruyuk!
Bunyi alarm Boruto. Dia pun bangun.
“Hoaaam!”
Dia lalu berdiri di atas kasurnya lalu mencoba bersiap-siap untuk misi kali ini. Seperti biasanya.
Bersambung.