
Episode 14
Wanita berambut kuning tergerai itu. Nampak Ben masih sedikit membuat jarak, memundurkan wajahnya sedikit.
Ben masih dengan posenya itu. Lalu, tampak wanita itu tak peduli hal itu bahkan tak pernah mendeteksi gelagat Ben.
Boruto di pagi hari. Hari ini libur. Jadi dia masih di rumah mengenakan pakaian sehari-harinya. Kaos dan celana pendek. Seperti pakaian para bocah pada umumnya di musim panas ini.
Di tempat dunia ini. Perubahan musim juga ada. Di mana ada 2 musim yang ada. Uniknya semua temoat selalu mengalami perubahan musim yang hampir bersamaan. Jadi tidak ada daerah yang berbeda sepeti hanya punya satu musim dalam kalender mereka.
Saat ini musim panas. Beberapa hari lagi musim dingin. Pada saat itu, para monster-monster buatan juga akan menyesuaikan diri mereka.
Mereka bermutasi dengan udara sekitarnya. Hal itu tak membuat para hero bisa libur walau musim yang berganti tidak layak untuk dijadikan hari-hari kerja mereka yang berada di luar sana.
Boruto dan kawannya terus melakukan pekerjaan dalam musim yang dingin dan hujan itu. Bisa dibilang itu adalah musim hujan. Namun, suhu di tempatnya itu akan sangat dingin. Membuat orang-orang hanya bisa berada di dalam ruangan sepanjang musim itu berjalan.
Namun, saat ini tentu saja banyak teknologi khusus yang bida sedikit membantu pekerjaan para hero. Tentu saja karena alat-alat semacam itu hanya bisa digunakan oleh para hero.
Begitu pula dengan akademi sebelah. Atgena. Sistem mereka sangat terstruktur. Jadi tidak heran mereka punya segala fasilitas yang sangat unggul dibanding akademi saingannya.
Keadaan di beberapa negara tak jauh berbeda. Mereka bahkan ada yang mempunyai lebih dari akademi. Ada yang saling menopang, bersaing bahkan bermusuhan layaknya dengan Sern.
Boruto berdiri di dekat pintu. Dia akan membuka pintu itu. Hari ini biasa saja. Dia bisa keluar karena bukan musim dingin. Boruto terlihat memasang wajah yang ragu dan sedikit hati-hati.
Padahal dirinya hanya ingin membuka pintu saja. Kelakuannya itu nampak aneh hari itu. Boruto pun sesekali bersuara aneh. Seperti sesuatu menekan mulut sampai ke kerongkongannya.
Lalu, dia pun melangkah keluar pintu. Dia melihat langit biru itu. Seseorang berdecih, sepertinya dari tadi ada yang menguntitnya. Mungkin anak itu merasakan hal itu.
Ekspresi Boruto normal lagi saat sudah keluar. Tersenyum lebar menikmati dunia luar. Tampak di sebuah gedung yang tidak bisa dilihat oleh Boruto. Baik dari kerlingan dan sudut matanya.
Duduk di atap gedung di bagian pinggir sana. Lalu, di sampingnya ada dua orang perempuan yang berbeda umur itu. Mereka tampak seperti menatap kosong ke arah Boruto. Namun, satu orang lain tentunya tak begitu.
Dia adalah Darui. Setelah mengalahkan raja iblis Rave. Dia menuju ke masa depan untuk membuat ingatan paling nyata kepada penjahat di masa lalu. Langkah ini cukup rumit. Namun, kenapa dia sampai melakukan hal ini?
Sepertinya Darui juga mengontrol gadis Hero yang mungkin 'mantan' temannya Boruto dan kawan-kawan. Gadis pirang cantik itu adalah Rara. Sementara yang lain kita sudah tahu siapa dia.
Dia wanita yang ada di dalam tubuh Sern dan orang yang menginformasikan tentang semua gerakannya pada seorang raja di negeri samping kota Ra.
Terlihat kedua wajah mereka menatap kosong pada Boruto. Sementara Darui .... Menatap sinis anak itu yang berjalan ke samping pada jalanan sekitarnya.
Boruto berjalan beberapa meter kemudian dia melihat seorang yang bersender di tembok itu. Boruto melihat dan mengenalnya. Penampikannya sangat dingin. Wajahnya juga begitu.
"Saber? Hari ini panas sekali. Tapi kau memakai pakaian yang tebal."
Boruto menyapa anak itu. Dia tampak lebih tinggi darinya. Bahkan, mungkin lebih tua dari Boruto. Boruto menatap heran. Karena anehnya anak itu yang dia kenalnya.
"Boruto, bagaimana tentang keadaan di sini? Apakah sama saja seperti di Nirvana?" tanya anak itu. Dengan ekspresi yang biasa saja.
Boruto mengangguk.
"Ada banyak kejadian aneh. Tapi itu semua sudah selesai, saat ini ancaman kami hanya dengan monster seperti manusia yang setiap hari Jumat akan muncul di sekitar pemandian air panas," jawab Boruto.
Orang itu menutup matanya. Tampaknya dia lega. Ekspresinya tampak tenang. Lebih tenang dari biasanya.
"Baiklah, kalau begitu. Maukah kau menemaiku jalan-jalan hari ini?" tanya orang itu yang kini berekspresi lebih hangat.
Boruto mengangguk. Anak itu dengan senang hati menerima ajakan orang itu.
Tap tap tap tap tap tap!
Boruto tampak berjalan menuju suatu tempat.
"Jadi kau kesini hanya ingin melihat tempat ini ya?" tanya Boruto.
Mereka tampak di sebuah tempat. Di depan mereka ada bangunan besar yang ada tanda di atas sana. Sepertinya pemandian air panas itu.
Orang itu mengangguk.
"Ya! Hal ini sangat jarang. Bahkan sampai membuat negara-negara luar ingin membuat hal ini, dengan cara yang tidak sama dengan di sini bahkan," jawab orang itu.
Boruto pun ber oh ria. Nampak, keduanya tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Saber aku juga belum pernah ke sini," ucap Boruto polos. Dengan senyum.
"Apa?!" kejut orang itu.
"Hahahaha!" Boruto malah tertawa.
"Dasar kau ini! Sepertinya kau tak butuh hal ini kan?" tanya orang itu. Saber.
Boruto mengangguk. Mereka berjalan ke dalam sana. Tampak akan mengantre. Antrean sangat rapi. Walau mereka semua sebenarnya bukan manusia. Tapi hal ini sepertinya sudah ditanam dalam diri mereka. Seakan-akan mereka mahkluk terpintar di dunia ini dan hanya seorang diri di sana.
"Dengan cairan oli ku. Air sedingin apa pun bisa menjadi panas. Maka dari itu, aku selalu mandi dengan bantuan air oliku. Ini sebenarnya rahasia. Tapi kau sepertinya sudah paham bukan? Saat pertama kali melihatnya kau juga langsung tahu apa kekuatan itu," ucap Boruto mengobrol.
Mereka berjalan ke dalam setelah dapatkan nomor masuk mereka.
Saber mengangguk.
Hingga keduanya berendam bersama. Membasuh diri mereka untuk sekalian membersihkan tubuh mereka.
"Selain meningkatkan kekuatanku! Itu juga berguna untuk hal lain. Selain memanaskan air. Hal itu juga bisa aku gunakan untuk digunakan pada kotak makananku, agar makananku tidak basi," ucap Boruto bangga.
Saber tampak tak menyangkanya. Memuji Boruto dan keduanya tertawa.
Nampak, di belakang mereka di sana. Ada orang yang juga melirik mereka. Wajahnya sangat dingin. Itu adalah Boy. Nampaknya dia juga mendengar percakapan Boruto dengan orang itu.
Tap tap tap tap!
"Haaah! Lumayan juga ya!" ucap Boruto setelah selesai mandi. Mereka sedang berganti pakaian lagi.
Saber mengangguk.
"Ya! Air ini lebih sempurna. Tidak sepeti di tempat lainnya. Saat aku merasakan hal itu, seperti kekuatanku puluh dan menjadi seperti awal lagi," balas orang itu.
"Menjadi awal?"
"Ya! Sepeti saat pertama kali digunakan. Itu sangat lama dan kuat. Kau tahu? Sebuah penemuan? Saat pertama lali digunakan. Itu terdengar sangat luar biasa," jawab Saber pada Boruto.
"Oh, ya begitu. Hehehe!"
Mereka pun berjalan keluar di lorong itu. Nampak ada beberapa orang dan kelompok juga di sana keduanya terus mengobrol.
"Ngomong-ngomong Boruto. Aku dengar ada yang baru masuk ke akademimu itu ya?" tanya Saber pada Boruto.
Boruto nampak mengalihkan pandangannya dan berekspresi sungkan.
'Ada apa dengan anak ini?' batin Saber merasa ada yang aneh.
"Apa anak itu mengganggumu?" tanya Saber.
Boruto nampak semakin berekspresi aneh. Namun, dia masih tak menjawabnya. Saber pun sepertinya tak menagih lagi untuk itu.
Tap tap tap tap tap tap!
Boruto nampak mulai bersuara walau tidak menatap orang itu.
"Orang yang tadi."
Saber pun nampak tak mendengar hal itu. Lagi pula dia sepertinya yakin Boruto tak akan menjawab pertanyaan di bagian itu dan juga suaranya sangat pelan seperti bergumam saja.
"Apa yang kau katakan?" tanya Saber antusias.
"Tadi ada Bocah di samping kita kan? Di lorong?"
Saber coba ingat itu. Nampak, memang dia sekilas lihat orang yang berbaju hitam dan panjang mirip sepertinya. Bahkan dia memakai masker hitam dan memakai jaket dan ditudungi pula.
Dirinya yang sepertinya tak aneh pada hal itu atau mungkin dia punya kebiasaan yang sama. Dia nampak tak melihat aneh.
"Ya! Ada orang bermasker itu."
Boruto nampak diam setelah itu. Beberapa menit kemudian mereka pun sampai.
Lalu, dia pun nampaknya mulai menjawab itu. Keduanya berhenti di depan rumah Boruto.
"Orang itu kuat sekali. Dia pernah mengacau di kota ini. Yang kita kira adalah bagian dalam organisasi musuh. Lalu, dia adalah orang yang kau tanyakan itu," jawab Boruto setelah lama tak bersuara. Dengan nada yang sungkan untuk menjawabnya.
"Oh, jadi dia ya?" gumam Saber.
Lalu, dirinya pun sebenarnya mengingat ada orang yang sama setiap kali dia berjalan bahkan di pemandian panas.
'Sepertinya dia juga sangat berbahaya dalam kehidupan sehari-hari Boruto' batin Saber.
Lalu, nampak Boruto heran padanya. Dari tadi memanggilnya untuk mampir ke dalam rumahnya.
"Ah, ya maaf. Aku datang!"
Keduanya pun masuk ke dalam rumah Boruto yang tidak terlalu besar.
Tap tap tap tap tap!
Nampak, seorang bocah datang ke sebuah tempat. Membuka pintu lalu melihat ruangan luas dipenuhi berbagai perabotan yang bukan sembarangan.
Nampak, ada seorang wanita di sana yang duduk dengan menumpuk kakinya. Lalu, nampak dia sedang menikmati sebuah acara dalam sebuah layar kotak itu.
"Oh, kau pulang. Apa sudah puas main?" tanya wanita itu. Dia adalah Sabrina, dia orang dibalik dari anak yang kini berdiri di depannya.
"Sampai kapan kau menginap di tempat ini? Aku jadi tidak bebas bergerak. Ke mana pun kau selalu bersuara," ucap anak itu. Melepas tudung dan maskernya tu. Nampak wajahnya yang marah. Dia adalah Boy.
"Hahaha. Maaf, maaf!" sahut orang itu. Nampak dia melepas kacamatanya itu tubuhnya sedikit berisi dan juga tinggi. Rambut pirang terurai dan ada kepang-kepang yang lumayan untuk penampilannya ini.
Dialah Sabhrina, Anggota Cern.
Bersambung.