Just Prolog

Just Prolog
Pengkhianat.



Episode 3


Blaaar.


 


 


Pertempuran pun berakhir. Kedua belah pihak mundur.


 


Satu monster berkata di sana. Memperingatkan akan terus menyerang sampai tujuan mereka terwujud. Yaitu menguasai dan mengambil alih semua negara yang ada.


 


Boruto tampak terluka. Beberapa temannya bahkan lebih parah darinya. Namun, untuk Rage dan rara. Mereka baik-baik saja.


 


Boruto yang dibalut perban dan beberapa plester di wajahnya. Keluar dari tempat itu. Lalu, dia pun termenung sendirian sembari menahan rasa nyeri dari luka-luka yang baru saja sembuh miliknya.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Seorang suster tampak berjalan terburu-buru. Lalu, dia berhenti di hadapan seorang yang besar. Berwajah seram.


 


“Semuanya sudah bisa kembali pulih pak!” ujar suster itu sembari serahkan sesuatu ke orang yang ada di depannya.


 


“Baiklah!” balas orang itu. Si perawat itu pun berlalu darinya. Orang itu terlihat menatap daftar para pasien itu. Dia lalu melihat ke arah keluar. Di mana dia berada di lantai atas dengan tembok transparan itu. Menghela nafas dan menutup matanya sangat lega.


 


Semua anak itu pun bisa pulang setelah dirawat. Kemudian mereka kembali untuk belajar dan berlatih memperkuat mereka dan terus menjaga tubuh mereka agar siap menerima misi darurat lagi.


 


Orang yang menjadi direktur sekolah super hero itu adalah orang yang besar tadi. Dia adalah kepala organisasi yang semacam tentara juga.


 


Dia tampak berada di dalam ruangan bersama satu orang lainnya.


 


“Benar, entah kenapa serangan sern selalu sangat tiba-tiba!” ucap orang besar itu kepada orang lainnya. Orang lainnya itu berpakaian sangat rapi dengan jas hitamnya juga.


 


“Sepertinya kita harus temukan teknologi tang canggih,” balas orang itu.


 


“Lalu, apa ada tanda-tanda lainnya?” tanya orang itu.


 


Si besar pun menggeleng.


 


“Tidak ada. Semua alat pendeteksi yang kita pasang. Semuanya tak berfungsi sama sekali,” jawab orang besar itu.


 


“Cih, sepertinya para monster-monster buatan itu. Punya energi atau hawa yang menolak sensor deteksi kita yang saat ini,” kesal orang di depannya.


 


“Benar!”


 


“Untuk negara lain. Bagaimana?” tanya si besar.


 


“Beberapanya juga diserang sama seperti negara kita. Namun, tidak separah negara Ra. Untuk beberapa negara lainnya. Kita belum bisa mengkonfirmasinya,” jawab orang itu.


 


Boruto tampak berlatih di kelasnya. Dia tampak menggunakan kekuatan apinya  itu. Untuk menyerang berbagai hal untuk latihan mereka.


 


“Bagus Boruto, kau sangat berbakat dalam hal serangan!” ucap orang dewasa berpakaian seperti mereka semua. Orang dewasa itu sepertinya guru atau instruktur latihan mereka semua.


 


Boruto hanya mengangguk membalasnya. Lalu, dia pun terus melakukan berbagai latihan di sana.


 


Tap!


 


Kini, terlihat Rage yang juga berlatih. Dia menembak-nembak. Para instruktur atau guru tampak senang melihat ke semua anak. Termasuk Boruto tentunya. Namun, untuk dirinya. Entah kenapa dia lain. Namun, anak itu terus berlatih gunakan senjatanya itu dengan baik.


 


Darui pun melihat hal itu.


 


“Baiklah! Sekarang aku akan menguji kejahatanmu! Wahai Malofant yang lemah!” ucap Darui dari tempat yang jauh dan sepi.


 


Semuanya terus berlatih dengan serius. Lalu, anak bernama Rage itu terus saja berlarih. Beberapa kawannya awalnya berada di sekitarnya. Namun, entah mengapa di mana mereka.


 


Semua orang menjauh darinya.


 


Setelah itu. Boruto tampak akan pulang. Dia akan mengajak temannya yang bernama Rage. Keduanya adalah akrab. Mereka selalu pulang bersama. Namun ....


 


Tap!


 


Saat Boruto melihat Rage. Fia kaget. Rage tampak seperti orang yang berbeda. Dia pun heran dan hanya bisa melihat Rage saja yang barusan menggebrak sesuatu dan dia pergi keluar dengan cepat.


 


Boruto tak paham.


 


‘Kenapa Rage? Ada apa dengannya?’ Batin Boruto bingung.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Rage lalu pulang terlebih dahulu. Dia tak memedulikan semua orang. Dia menuju kamarnya di sana.


 


Tap tap tap tap tap!


 


Lalu, masuk ke dalam kamarnya sendiri.


 


Brak!


 


Dia tampak kacau. Ekspresinya memendam emosi.


 


‘Kenapa aku punya kekuatan yang lain?’ Batinnya. Sembari dia mengigil entah kenapa.


 


Mata Shini Darui bisa melihat jelas. Bahkan  Boruto yang tak jauh dari bocah bernama Rage. Tengah bingung.


 


Boruto lalu pulang ke rumahnya. Masih terik di sana. Merasakan beberapa orang juga berlaku-lalang di kompleksnya yang sepi itu.


 


Boruto lalu membuka pintu. Lalu tiba-tiba muncul dari dalam anak kecil yang lebih muda darinya.


 


“Kak Boruto!”


 


Anak itu memeluknya erat. Boruto kaget dan balas memeluk. Bahkan menggendongnya.


 


“Ah, Sasuke! Kau ternyata masih di rumah ya!”


 


“Ya! Aku besok saja pulangnya. Ibu dan ayah sudah mengizinkanku.”


 


Keduanya lalu masuk ke dalam. Lalu, di lantai atas sana. Di sebuah rumah. Rumah itu adalah rumah dari Rage. Sosok Rage tampak mengintip ke rumah milik Boruto. Dia tampak memandang jelas pada Boruto dan Sasuke yang akrab itu.


 


‘Boruto ....’ batin Rage.


 


Darui berdiri di malam itu. Kini sudah malam di tempat Baruto dkk. Dia melihat langit malam yang diterangi banyak sekali  alat-alat canggih.


 


Tap!


 


Melangkah ke depan sedikit. Beberapa orang lalu-lalang di sekitarnya. Lalu, dia pun melangkah lagi. Hingga dia memasuki sebuah area pembelanjaan yang sangat besar di kota itu.


 


Wuuush!


 


Angin menerjang tubuh seseorang di atas sana. Sedang berkomunikasi jarak  jauh sepertinya.


 


“Ya! Ya! Aku tahu.”


 


“Tapi, kita juga harus hati-hati! Sepertinya semuanya mulai  terbongkar!”


 


“Ya, baiklah aku akan memulainya sekarang!”


 


 


Beberapa bulan terus berlalu. Boruto dan yang lainnya terus bertarung. Rage tampak terlalu memaksakan dirinya. Hingga Boruto dan rara harus kerepotan.  Boruto tak masalah  namun rara yang pemarah selalu mengeluh.


 


Lalu hingga suatu hari.


 


Rage pun menemui keduanya. Dia yang biasanya sangat lembut itu. Membuat Boruto mengingat kejadian yang juga membuatnya heran. Di mana melihat Rage seperti lain. Lalu di depannya Rage berubah menjadi sosok yang lain itu.


 


Rara yang  heran melihat tatalan Rage yang dingin itu.


 


“Apa mau mu?” tanya rara.


 


Lalu, Rage pun menunjuk muka keduanya.


 


“Akan ada sekolah pahlawan lain! Aku akan masuk ke dalamnya!” jawab Rage dengan nada  yang sangat berbeda. Fia terdengar kasar.


 


“Apa?!”


 


“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Boruto kini menyelidiki.


 


“Hahahahaha!”


 


Rara mengernyit heran.


 


“Apakah hal semacam itu ada? Orang-orang seperti kita itu terbatas bukan?” ujar rara heran.


 


‘Benar, satu negara hanya punya satu sekolah. Karena mencari anak-anak berkekuatan tingi itu sangat susah  sekali. Untuk melawan monster-monster itu’


 


“Hahahahaha!  Kalian akan terkejut nanti.”


 


Boruto dan Rara menatap Rage yang ingin berlalu itu.


 


“Rage, apa yang ingin kau lakukan?”  tanya Boruto khawatir.


 


Rage meliriknya.


 


“Boruto .....”


 


“Terima kasih!”


 


Setelah mengucapkan itu. Dirinya rampak menghilang dengan kemampuannya itu. Keduanya pun mencari Rage  yang tak ada.


 


Serelah satu minggu. Ternyata ada sebuah kelompok yang melakukan suatu percobaan. Yaitu mereka mencoba ciptakan anak-anak super dan membuat mereka lebih kuat.


 


Hal itu ternyata disetujui pemerintah. Semua orang dari akademi pahlawan tak ada  yang tahu.  Hingga ternyata diciptakan akademi lain di negara itu. Akademi pahlawan Atgena. Akademi itu kini memiliki banyak sekali murid sudah seperti layaknya pasukan saja.


 


Boruto dan rara pun kaget. Mereka tak menyangka bahwa semua yang diomongkan oleh Rage itu benar. Mereka terus saja mencari Rage. Hingga mereka mencoba mencari di data  para murid akademi  Atgena.


 


Maat rara melotot tak percaya.


 


“Apa?” tanya Bokuto.


 


“I-itu!” Tunjuk rara ke monitornya.


 


Terlihat, identitas milik seorang murid dan mengejutkannya dialah  Rage yang ternyata punya kekuatan yang kuat. Dalam profilnya tertulis.  Dia bisa memanipulasi debu. Membuatnya bisa tak terlihat ataupun tercium oleh apa pun itu.


 


Boruto tak percaya ini.


 


Darui tampak di atas atap. Menutup matanya lalu membuka mata dan melihat ke atas.


 


Di bawah  sana. Sebuah perayaan berlangsung. Darui mendengarkan pidato itu yang diakhiri dengan kata yang menjelaskan semuanya.


 


“DENGAN INI AKADEMI ATGENA. RESMI BERJALAN!”


 


YEAAAAAAAA!


 


Esok harinya.


 


Semua hal  di kota itu. Para monster sern kini bisa  diatasi karena  jumlah pasukan itu sangat banyak. Semuanya bisa pojokkan sern kali ini.


 


Semuanya pun tampak terkendali. Kerusakan dan kerugian negara sangat minim. Boruto dan akademinya kini tak  terlalu repot di sana.


 


Direktur mereka tampak melihat  latar yang  memperlihatkan aksi-aksi dari akademi Atgena. Akademi lainnya itu.


 


‘Orang itu ternyata punya maksud lain di sini’ batinnya membayangkan rekan yang waktu itu berbicara padanya.


 


Tap!


 


Di suatu tempat sebelum semuanya terjadi. Setelah kehancuran negara Ra.


 


Salah seorang dari negara tetangga yang  pernah ditemui oleh Darui. Dengan memanipulasi pikirannya.


 


Dia mengatakan pada  semuanya. Bahkan itu adalah ulah orang-orang jahat yang  ingin hancurkan mereka. Dia menyebutnya sern.


 


Awalnya mereka tak percaya. Hingga dia pun diseret kepada raja negara itu. Raja itu sangat kejam dan punya kekuatan yang besar. Namun, dia belum bisa mengeluarkan itu.


 


Raja itu lalu berbincang paksa dengan orang itu.


 


“Siapa yang memberitahumu tentang ini?” tanya raja itu.


 


Orang itu mengangguk.


 


“Orang-orang sern! Aku melihatnya  kemarin dan berpesan agar aku katakan ini. Jika tidak...”


 


“Jika tidak mengapa?”


 


“Jika tidak .....”


 


“Kota ini akan hancur!”


 


Sang raja melotot mendengar kata-kata lanjutan orang itu  yang hanya bisa dia dengar. Karena setelah itu terjadi ledakan di luar tempatnya itu. Tidak jauh dari mereka.


 


Blaaaaar!


 


Ternyata itu adalah ulah dari Darui.


 


Darui kini menatap kekacauan yang masih terjadi di kota itu. Sern melawan semua orang yang ada di kota ini.


 


“Baiklah!” ucapnya dan berdiam diri. Mendengar banyak ledakan  di bawah sana. Serta bunyi-bunyi peperangan lainnya.


 


Sepertinya itu akan berlangsung lama.


 


Pertempuran melawan sern terus saja terjadi. Hingga suatu hari. Karena mereka bisa dengan mudah atasi segalanya. Terjadi pengemuan yang menjadi awal perselisihan dan persaingan dua akademi dengan tujuan yang sama itu.


 


“Bagaimana jika kita menilai semua performa akademi dengan sebuah kompetisi?”


 


Namun, setelah dengar itu. Boruto tampak tambah bersemangat. Dia yang kini bertambah kuat pula. Tak sabar untuk bertemu dengan anak yang sudah lama ia kenal. Bahkan dulunya adalah siswa akademi pahlawan ini.


 


Bersambung.