
Episode 13
Boy kembali ke akademi dengan selesaikan banyak misi sendirian. Sementara Boruto tampak bangga dengan pencapaian barusan yang baru saja mengalahkan monster Liquid bersama Rara.
Boy tampak menatap mereka datar saja. Tampak, Boy pun sepertinya pulang juga. Dia punya rumah yang ada di hiruk pikuk kota.
Tap!
Dia tampak pulang dan diapun disambut oleh wanita yang berkacamata itu.
"Sudah kubilang. Kau bisa sendiri," ucap sedikit jengkel bocah itu.
"Tidak apa! Aku hanya berkunjung!"
Mata Boy masih menatap jengkel walau sudah dijeoaskan begitu oleh wanita itu.
Tap!
Boruto kembali bersama Rara. Boruto menceritakan pertemuannya dengan Rage lalu fakta mencengangkan itu.
Rara pun tampak menunduk.
"Ada apa?" tanya Boruto.
Rara menggeleng.
Saat misi selesai. Rage tampak menuju rumahnya itu. Namun, dia melihat ada satu gadis yang duduk diterasnya.
"Rara! Oh, iya kau pasti tahu dari Boruto," ujar Rage yang sudah ambil pikirannya saja.
Rara berdiri.
"Rage! Kau keren! Aku pikir kau sangat kuat! Dan jika bisa ...."
Rara tampak menunduk. Tampak, dia membawa kotak berwarna hijau itu. Warna hijau sepertinya hal yang penting di sana.
Namun, dari atap gedung itu. Boruto yang sedang berlatih bisa melihatnya.
"Rara ...."
Esoknya.
Boruto tampak mencoba melihat Rara. Dia akan menuju ke akademinya lagi.
Namun, Rara tampak tak ada.
Dia pun menuju ke akademi langsung. Di sana dia juga tak temukan Rara.
Saat pulang misi. Dia memuju ke rumah Rara. Orang tuanya agak ragu mengatakannya.
"Rara! Dia pamit karena ingin berkencan. Sepertinya dua minggu!"
"Apa?!"
Boruto tampak tak tahu siapa pria yang disukai Rara. Lalu, dia mengingat tentang kejadian itu.
"Apakah Rage orangnya?"
Flasback.
Tampak, Boruto, Rara dan Rage kecil berumur lima tahunan. Bermain bersama. Suka cita terasa di antara mereka semua.
"Boruto! Suatu saat aku akan menikah denganmu!" ujar Rara yang kagum dengan Boruto yang kuat dan tangkas dalam menangkap suatu hewan itu.
"Eehahahaha!" Boruto hanya tertawa menanggapinya.
Rage kecil yang lemah tamak hanya tersenyum memujinya.
Mereka terus bermain. Lalu, pada akhirnya Rara mempunyai sifat yang keras karena salah satu temannya itu nampak tidak bagusan. Siapa lagi kapau bukan Rage.
Dia selali membentaknya. Menganggap Rage sangat lemah dan latihan otot. Namun, selama latihan pun Rage masih sangat kemah.
Hingga rara mengabaikan Rage itu setiap harinya. Saat itu Boruto tak tahu apa yang harus dia lakukan. Hingga hap itu sudah menjadi kebiasaan tanpa sadar(Sifat dasar mahkluk Malofant itu jahat, jadi tak akan sadar akan kebiasaan buruk yang merusak)
Flasback off.
"Padahal dia bilang ingin menikahiku!" ujar Boruto agak marah.
'Sialan' batinnya sedikit kesal.
Tap!
Boruto kini tak peduli lagi dengan urusan cinta. Dia terus jalankan misi hingga dia sedikit lebih unggul dari pada kebanyakan siswa-siswa Atgena. Bahkan, dipercaya suatu saat akan melampaui Rage.
"Rara! Aku tak menyangka kau tertarik padaku!" ujar Rage saat itu.
Rara hanya menunduk saja.
"Akan tetapi aku menolakmu!" lanjutnya sinis. Membuat Rara pun kaget.
"Apakah aku kurang di hadapanmu?" tanya Rara dengan emosinya yang semakin meluap.
"Ya! Kau adalah salah satu orang yang ingin kuhancurkan. Aku tak suka menghancurkan orang dengan cara membuat mereka bertekuk lutut. Aku belajar banyak di akademi Atgena. Bahwa, orang-orang seperti kita ini sebenarnya bukan mahkluk yang punya mentalitas," jawab Rage.
Rara tampak berlari sembari tak sadar jatuhkan kotak hijau itu. Rage memandang hadiah yang dipegang Rara itu.
Sebuah kotak pasir yang biasa mereka mainkan bersama Boruto waktu kecil. Namun, Rage tak berminat sama sekali.
Boruto tampak mencari Rara sampai ke akademi Atgena.
Dia melangkah dengan cepat ke sana. Tampak, Dia pun berpapasan deangn Rage secara kebetulan.
"Di mana Rara?!"
Rage hanya menunjuk suatu tempat. Yaitu pohon besar lalu meringkuk seorang gadis dengan pakaian yang elok itu.
"Rara!"
Boruto tampak menghampirinya. Lalu, Rara pun pulang.
Boruto kini kembali ke akademi tanpa Rara yang ternyata sakit hari itu. Dia pun akan membalasnya suatu saat untuk rara pada Rage.
Dia tampak akan jalani misi. Kebetulan sekali misi kombinasi bersama Atgena.
Saat itu muncul kumpulan monster yang kuat. Bentuk mereka besar dan seperti manusia. Bisa bicara juga dan punya pikiran. Itulah mengapa sangat merepotkan.
"Ayo!" teriak Boruto.
"Ya!" sahut semua temannya termasuk Boy.
Wuuush!
Mereka berangkat di gerbang depan itu. Tampak, ada banyak monster yang sudah bersiap. Orang-orang dibantu mengungsi oleh akademi Atgena itu. Rage menatap tak peduli pada hadirnya Boy juga.
Sepertinya dia tak tertarik lagi dengan anak itu. Boy hanya menatap penuh kedataran tinggi.
Darui masih santai di kafe itu. Hingga seseorang mendatanginya.
"Tuan! Anda sangat tampan menurutku. Apalagi anda selapu sendirian."
Seorang wanita tampak mendatanginya. Darui hanya menatap datar saja.
Pakaiannya sangat feminim sekali. Rambutnya terurai dan sangat ideal untuk dijadikan pasangan oleh siapa pun.
"Hmmmm!"
Boruto kini pukul satu monster dan tumbang. Kemudian, disusul dengan serangan teman-temannya itu. Menumbangkan sang monster.
"Canonto!"
"Saber Slash!"
Boy tampak memakai bayangannya untuk menahan tangan monster itu. Lalu menjatuhkannya dan mematahkannya tangannya sekaligus.
"Arrrgh!"
Monster itu tampak berteriak sakit.
Blaaaaaar!
Kini, tampak dua orang juga ada di kafe itu. Mereka mengobrol juga. Tentunya di kursi yang jauh Darui duduk dengan seorang perempuan yang tertarik padanya itu.
"Monster itu adalah dasarnya Ben! Aku masih perlu bahan lagi!" ujar wanita itu berambut kuning seperti orang yang biasa bersama dengan pemuda rambut biru.
Wanita itu menggeleng.
"Tidak! Aku hanya perlu makanan sisa saja. Namun, dari orang lainnya!" ujarnya sedikot membisik. Menoleh ke arah Darui dan ceweknya itu.
Darui menatap biasa pada gadis yang sangat tertarik padanya. Nampak, dia sepertinya sering melakukan obrolan.
Namun, datang dua orang pelayan yang sedikit buat curiga Darui. Namun, wanita itu tak curiga. Mereka tampak membawa piring-piring dan gelas sisa.
Darui pura-pura tak paham. Dia lalu menengok ke arah dua orang itu yang sepertinya sang penyamar itu.
'Apa yang mereka mau dari dariku?' batin Darui.
Wuuuush!
Terlihat kini tergelumpung banyak monster-monster manusia itu. Boruto mengusap wajah lelahnya itu. Mereka tampak akan kembali.
Namun, Boruto sengaja masih di sana dengan alasan memastikan.
Pada saat itu dia datangi kumpulan Atgena. Yaitu Rage.
"Boruto! Aku pasti mencoba menyerangku kan?" tanya Rage mepmgejutkannya yang sedang mengintip.
"Heh! Kau sadar ya!"
Boruto keluar dari persembunyiannya.
Kini, menatap dengan penuh benci.
"Apa yang kau lakukan pada Rara haaah?!" tanya Boruto meledak.
"Heh!"
Rage hanya terkekeh. Tampak dia gunakan pedangnya dan menebas suatu gedung. Lalu, runtuhannya tampak terlempar ke arah depan keduanya.
Bluuum!
Boruto agak kaget.
Lalu, keduanya tampak lompat ke atas rubuhan itu.
"Boruto! Rara sendiri yang tak menyukaiku. Taoi kenapa dia ingin menghancurkanku! Itu semua pasti untukmu kan!" teriak Rage yang kini malah marah juga.
Hyaaaa!
Rage dengan kekuatannya yang meledak-ledak itu tampak akan menyerang Boruto. Boruto tampak tak siap.
"Hentikan!"
Syuuut!
Sebuah tali hitam tampak menahan keduanya.
Grak grak!
"Heh!"
Rage mundur dan menghilangkan jejaknya. Hadirlah orang itu. Boy!
Boy tampak menggampirinya.
"Jika kedua anggota akademi terlibat masakah. Itu akan sangat merugikan. Bisa-bisa kita dikeluarkan!" nasihat Boy bijak.
"Maaf."
Boruto ke akademi lagi. Beristirahat sejenak di sana sendirian di kamar rawat itu.
Boy tampak duduk sendirian. Dia mencoba menjadi manusia seutuhnya dengan makan dan minum seusai misi.
'Aku pikir dia tidak sekuat itu karena banyak masalah dengannya' batin Boy. Dia masih makan dengan nikmat.
Boruto mengedipkan matanya. Mengingat Rara lalu dia pulang saja.
Dia menuju ke rumah Rara. Akan tetapi Rara tampak sedang asyik mengobrol dengan seorang pemuda. Tapi pemuda itu tampaknya lebih tua.
Membuat Boruto menganggap orang itu bukan pacar atau kekasihnya.
Boruto hampiri mereka namun ....
"Tuan tampan. Terima kasih anda sudah ingin menjadi suami impianku. Aku ...."
Wuuush!
Boruto tak peduli lagi dengan wanita sepenuhnya. Dia juga tak peduli rara berangkat misi atau tidak.
Kali ini muncul monster besar. Versi lain dari monster manusia yang berpikiran itu. Kali ini mereka punya kuku dan cakar, layaknya monster-monster jenis itu.
Hyaaaa!
Boruto terbang hindari injakan cakar mereka. Lalu, dia pun tampak meninju dan dorong monster itu.
Jduaaaar!
Rara menembakkan sesuatu dan itu mempan juga.
Arrrrrrgh!
Kini, tampak Boruto pun kembali mengincar monster lainnya.
"Cepat!" teriaknya.
Lalu, kawannya itu tampak bergerak cepat menyebar. Boruto bersiap untuk maju. Lalu ....
Wuuush!
Terbang mendekati monster itu. Tampak, Rara pun menembakinya. Namun, dia tampak terpental. Entah kenapa tidak ada yang peduli pada Rara. Apakah karena semua orrang meniru apa yang Boruto lakukan.
Hyaaa!
Boruto berhasil tumbangkan semuanya. Tampak, Rara kesakitan di tanah itu. Lalu ... semuanya pulang begitu saja.
Rara mencoba bangkit.
"Orang-orang sangat menyebalkan bukan?"
Muncul seseorang di dekatnya.
"Si-siapa kau!"
"Aku akan tunjukanmu keadaan di masa depan!" ucap orang itu yang kini mulai membuka matanya.
Nging!
SHINI EYE!
DESTRUCT FUTURE!
Boruto kini pulang. Dia merasa semakin kuat dan berguna.
'Apakah aku kuat dengan mengabaikan Rara? Ini sangat nikmat' batin Boruto yang sudah menjadi lain.
Sasuke sang sepupu tampak sedikit takut sekarang melihat Boruto yang selalu serius.
"Kak Boruto berubah menjadi dewasa!"
Wuuuush!
Kimi, dua orang yang khas itu berdiri di atas gedung kembali.
"Apakah akan di mulai?" tanya pria rambut biru itu.
"Ya!" jawab orang lain yang perempuan itu.
Terlihat dia mengunyah-unyah sesuatu di dalam mulutnya. Kemudian, dia pun keluarkannya dan taruh di telapak tangannya itu. Ada banyak liur yang keluar juga.
Sedikit buat jijik pria yang bernama Ben itu.
"Ini adalah Metamorfa. Dengan kekuatan manusia yang lebih banyak. Aku akan menciptakan gadisku yang paling cantik. Hahahahaha!"
Sangat mengejutkan?
Bersambung.