Just Prolog

Just Prolog
Terpukau dan melesat.



Episode 17


Semua orang terpana. Boruto juga tak bisa bertindak karena dia jauh dan dia tak siap. Apalagi yang tadi, dia tak melihat jelas apakah itu manusia atau bukan. Namun, melihat monster itu memakannya. Dia tahu!


 


"Apa yang dipakukan akademi Atgena. Korban jiwa memang tak terelakkan, tapi menghindarkan hal itu terjadi. Itu harus dilakukan. Dasar bodoh!" teriak Boruto kesal.


 


Salah satu akademi Atgena mendengar itu hanya menunduk.


 


"Heh  sudah kubilang bukan?"


 


Dengan songong Boy menoleh dan pasang ekspresi menyebalkan. Rage tampak tak suka.


 


"Kau ini!" geramnya dan tampak mencengkeram leher baju Boy.


 


Orang lainnya nampak melerai hal itu.


 


"Ini bukan waktunya bermusuhan. Ayo, semua kita balaskan dendam salah satu orang penting dalam akademi kita!"


 


Rage pun menurutinya. Melepas paksa hingga membuat Boy jatuh. Rage tampak mendecih keras. Melihat Boy yang sudah sekarat. Dia bisa saja tadi dengan mudah melukainya.


 


'Aku bisa saja menambah point tadi. Tapi, sayang sekali bukan saatnya' batin Rage.


 


Sring!


 


Dia nampak mengeluarkan pedangnya untuk bertarung.


 


Boruto juga begitu. Namun, dia agak menjaga jarak agar teman-temannya tak terlalu terluka nantinya.


 


Boy hanya diam di tempat para Atgena berkumpul. Melihat ke depan dan sebenarnya pandangannya itu sudah agak kabur.


 


Tap!


 


Kumpulan Atgena akan lari untuk menyerang.


 


Wuuush Wuuush wuuush!


 


Terlihat, mereka semua kan menyerang secara bersamaan.


 


"Terimalah dendam kami!"


 


Heaaa!


 


Groaaar!


 


Semua serangan itu tampak bertubi-tubi pada tubuh monster itu.


 


Jduaaaaar!


 


Lalu, sepertinya monster tumbang di sana.


 


"Akademi Atgena mengalahkan monster dengan kekuatan sepuluh kali lipat dari yang biasanya!"


 


Seorang yang membaca berita di kabar berita tampak kagum.


 


"Akademi Atgena yang paling kuat! Sebenarnya apa fungsi dari akademi hero yang itu?" komentarnya.


 


"Jangan berpendapat seperti itu. Akademi itu akan berguna, kau lihat seperti sebuah mahakarya. Semua itu butuh yang namanya karya lainnya yang menginspirasinya bukan?" timpal seseorang yang mungkin temannya di sana.


 


"Hmmmm!"


 


Boruto tampak menunduk di tempatnya itu.


 


"Saat ini, ada korban dari akademi Atgena. Kita memang tak seharusnya merasakan ini. Namun, walau bagaimanapun mereka selalu membantu kita. Jika saja mereka tak datang, mungkin di akademi ini hanya tersisa Boy sendirian," ucap Boruto.


 


Di sekitarnya ada semua bawahannya dan Boy juga. Boy mengangguk.


 


"Monster itu sebenarnya pemakan manusia. Semakin dia memakan manusia dia akan kuat. Saat itu jika akademi Atgena tak menyerang monster itu secara langsung karena kematian rekannya. Setelah beberapa detik monster itu akan jauh sangat kuat, aku merasakannya karena aku sudah pernah hadapinya," ujar Boy.


 


Semua merenung. Semuanya mungkin berkabung dengan kematian orang dari akademi Atgena.


 


"Aku merasakan monster itu menerima sesuatu yang membuat tubuhnya juga berubah. Bukan hanya menguat. Tingkahnya juga akan sangat brutal. Kekuatannya juga akan meningkat. Aku belum terlalu paham, tapi aku yakin. Monster itu jarang sekali aku lihat memakan satu onggok daging pun. Namun, hal ini di luar kebiasaannya," jelas Boy.


 


"Jadi begitu. Mungkin hal itu benar adanya!" ujar kepala akademi yang ada di sana.


 


"Monster itu mungkin masih dalam tahap terlemahnya," ucap Boy.


 


"Benar, di mada depan. Kita belum tahu, apakah monster-monster seperti itu akan ada lagi atau tidak," komentar kepala akademi itu.


 


Di tempat lain.


 


Tap tap tap tap tap!


 


"Siapa kau?"


 


Tampak ada sedikit orang di sana. Saat itu sepertinya mulai masuki musim hujan. Beberapa tempat sedikit berbeda masuki musim-musim mereka.


 


Tap!


 


Nampak, ada Ben dan Awkarin yang sedang makan makanan di atas kertas lembar yang cukup lebar stau porsi makanan sederhana.


 


Lalu, di depan mereka. Nampak, seorang bocah. Dengan mata merah yang bersinar sampai menyinari Ben dan Awkarin yang mungkin bersantai di kota lainnya.


 


"Perkenalkan! Namaku Rara! Aku adalah salah satu anggota akademi Hero!" ujar wanita manis itu.


 


Boruto kini tengah makan bersama dengan teman-temannya. Boy ada di sana. Walau dia terluka parah tapi tak ada tanda memar dalam tubuhnya. Dia mungkin lebih ke kehilangan banyak tenaga sehingga sulit untuk bergerak.


 


Kini, dia sudah pulih.


 


Boy kini makan bersama dengan semuanya.


 


'Apa tidak ada yang menanyakan keberadaan gadis yang murung itu?' Batinnya di sana. Dia hanya membatin karena tak mau menanyakan hal itu.


 


Semuanya khidmat makan di sana. Dipimpin Boruto tentu saja.


 


Selesai itu. Nampak, Boy mengajak Boruto untuk berlatih.


 


Boruto pun dengan semangat mengiyakan. Mereka berlatih dengan berbagai mesin. Beberapa anak pulang untuk bertemu dengan keluarga mereka kembali.


 


Boruto dan Boy tampak berlatih dengan sebuah alat menonjol di tembok itu.


 


Alat itu akan bergerak dan keduanya harus memukul di saat alat itu bergerak di satu titik tertentu.


 


Balar balar blaaar blaaar!


 


Tampak, Boruto dan Boy sepertinya selesai dengan latihan itu. Kini keduanya mendongak ke atas. Melihat papan bersinar di sana bertuliskan nomor-nomor itu


 


Itu adalah data-data dari latihan mereka dalam memukul itu. Boy nampak lebih unggul dalam ketahanan dan kecerdasan. Alat itu menguji berbagai hal dalam sudut pandang.


 


 


Namun, keduanya tampak untuk terus berlatih dengan alat lainnya. Mereka mengayuh suatu yang seperti alat gym sepeda.


 


Mengangkat sesuatu yang berat layaknya barbel. Semuanya tampak untuk melatih diri mereka.


 


Kini keduanya sudah pulang.


 


"Peringkatmu naik, karena orang yang tepat berada di bawahku itu sudah mati," ucap Boy tanpa basa-basi terlebih dahulu.


 


Boruto hanya tersenyum kecut mendengar itu.


 


"Ya! Tapi, itu hal yang sangat mengecewakan dan tidak penting," sahut Boruto.


 


Mereka lalu berpisah di sana. Kemudian berjalan menuju tempat masing-masing.


 


Entah kenapa Boruto merasa Boy itu selalu ingin melindunginya. Dia menyadari waktu itu. Boy sebenarnya terpental sangat jauh sekali melewati berbagai hal. Namun, setelah dia tahu Boruto dalam bahaya dan tak ada yang bisa menolong.


 


Boy memaksa untuk ke tempatnya. Dengan menyewa pesawat pemerintahan di sana. Dirinya waktu itu menerobos tanpa harus mengurus ijin dulu.


 


Membuatnya harus membayar berbagai denda di sana.


 


Boruto kini sadari Boy adalah orang yang jauh sekali berbeda dari bayangannya.


 


'Saat melakukan itu kira-kira ..... apa yang dia pikirkan?' batin Boruto.


 


Tap!


 


Boruto tampak gelisah. Saat ini libur. Musim hujan belum masuk dalam kota Boruto.


 


Dia lalu mengingat Boy. Kemudian, dia nampak hubungi sepupunya itu lewat alat komunikasi jarak jauh.


 


"Saber, apa kau bisa menebak isi pikiran manusia?" tanya Boruto tak masuk akal.


 


Lalu .....


 


Boruto berjalan. Saat ini hujan deras di sana. Namun, belum terlalu dingin.


 


Tap tap tap tap!


 


Dia mungkin bukan di kotanya sendiri.


 


Lalu, masuki sebuah tempat. Menutup payung kotak yang merupakan sebuah sistem canggih itu.


 


"Itu dia orangnya. Katanya dia ingin mengetahui apa yang dipikirkan orang!"


 


Seseorang di dalam tampak menunjuknya. Bersama dengan dua orang menggunakan pakaian misterius.


 


Boruto tak mengetahui siapa mereka. Dia pun hanya mengangguk mengiyakan.


 


"Aku pikir aku butuh tahu," ucap Boruto lemah. Semuanya memandangnya. Lalu, salah satu orang dengan pakaian merah dan topi yang mengikat erat kepala. Nampak, menjawab itu.


 


"Mencari tahu pikiran itu sangat langka. Itu pun hanya bisa lakukan satu kali dalam hidupmu," ucap orang itu.


 


Namun, Boruto tetap antusias.


 


"Bagaimana caranya?!"


 


Setelah dijelaskan panjang lebar. Akhirnya, Boruto pun paham. Saber yang ada di sana tampak malas.


 


"Apakah aku boleh tak boleh membantumu?" tanya Saber.


 


"Tidak boleh!"


 


"Aaaaaaaargh! Sial!"


 


Beberapa hari kemudian. Boy nampak keluar dari gedung itu. Akan menuju sesuatu tempat.


 


Saat tiba-tiba hujan. Boy yang sepertinya tak tahu harus apa. Hanya berdiam di sana. Menyentuh air-air itu. Kebetulan sekali di tempat itu tak banyak orang. Ternyata mereka tak keluar atau jarang. Walau sat ini belum dingin sekali seperti yang seharusnya.


 


Mata Boy menemukan seseorang di depan sana. Sedang berdiri. Namun, ada sebuah hal yang halangi hujan itu.


 


'Air-air dia halangi. Itu sebabnya dia tak terkena air dan basah' batin Boy.


 


Orang itu lalu menuju ke arahnya. Lalu, dia menyadari itu adalah si rambut biru itu.


 


"Kau si rambut biru," jelas Boy. Menyadari itu adalah Boruto.


 


"Boy! Aku berterima kasih padamu! Kau sudah selamatkan aku. Membantuku meyakinkan Rara! Membuatku terlihat sebagai ketua yang layak di depan semua orang," ucap Boruto padanya.


 


Kata-kata aneh itu nampak tak membuat Boy menyangkalnya.


 


"Bagaimana kau  tahu?" tanya Boy dingin.


 


Boy pun rasakan cuacanya makin dingin setelah ada badai dari atas sana.


 


"Saat ini kau tak bisa keluar. Ini musim dingin. Untuk semua human tak boleh keluar karena rentan dan akan sering terjadi hujan," ucap Boruto jelaskan itu.


 


"Terima kasih," balas Boy datar.


 


Keduanya saling tatap.


Tak jauh dari mereka.


Di sebuah menara tinggi itu. Nampak, ada satu sosok di sana berdiri. Menyentuh hujan itu.


 


Akan tetapi dirinya nampak tak terpengaruh. Badai di atas sana juga sangat dekat. Petir menyambar-nyambar begitu lekat di menara tinggi itu.


 


Darui!


 


Saat ini tak merasakan apa pun. Dirinya juga terus berada di sana. Memperhatikan Boruto dan Boy. Di mana keduanya berpisah. Boruto pergi karena sudah dingin ke rumahnya.


 


Boy pun masuk ke dalam lagi.


 


Darui menatap mereka keduanya. Hanya dengan dua mata tanpa batasnya.


 


"Si rambut biru itu, dia mencoba memperdaya sifat seseorang dengan perubahan yang dia buat. Keuntungan seperti itu, hanyalah kejahatan yang tidak ada gunanya. Miris sekali, hanya dengan rasa penasaran. Bukannya itu cukup. Tapi ...... Mereka selalu tak puas dan ingin lebih dan lebih ..... LEBIH UNTUK MENDAPATKAN KEUNTUNGAN WALAU REISKONYA MATI."


 


Lalu, dia meluaskan pandangannya itu. Tampak, di matanya itu. Semua human yang ada di kota ini. Dia bisa melihat secara bersamaan.


 


"Aku tak tahu. Ini hanya hujan! Tapi mereka melakukan berbagai alasan untuk tidak melewati ini," ujarnya tenang. Dia nampak menikmati semua air itu.


 


Menikmati dalam damai.


 


"Itu sebenarnya mereka adalah mahkluk yang terganggu dengan kejahatan mereka sendiri. Saat kejahatan bersamaan di satu tempat. Hal-hal bodoh mau tak mau keluar."


BERSAMBUNG.