Just A Bunch Of Life

Just A Bunch Of Life
Hari Penuh Ikrar



Helaan napas panjang terdengar dari mulut Aisha yang terduduk di depan meja belajar kamarnya. Matanya menatap lamat pada foto di hadapannya, foto pernikahannya dengan Arsal.


Hal itu pun mengingatkan kembali acara pernikahan mereka, yang menurutnya sangat campur aduk, di mulai dari kegugupannya saat sebelum akad dimulai.


Aisha memejamkan matanya erat. Lalu kembali memandang pantulan dirinya di cermin. Make up tersapu natural di wajahnya. Gaun gamis putih dengan khimar berwarna senada melekat pada dirinya, ditambah mahkota kecil di atas kepalanya.


"Aisha?"


Gadis itu kontan menoleh. Ibunya mendekat padanya, setelah berdiri sejenak di ambang pintu kamar. "Ibu,"


"Kamu udah siap, Nak?"


Jika ditanya seperti itu, tentu akan banyak jawaban yang akan ia ucap. Hingga hanya anggukan pelan yang ditutur. "Insya Allah," tukasnya pada Lusi yang duduk di kasur, di sampingnya.


"Pesan ibu, kamu harus jadi istri yang baik ya, buat Arsal. Meskipun ibu tahu pernikahan ini terjadi karena perjodohan," Aisha terhenyak.


Aisha menggeleng pelan. "Ibu jangan ngomong gitu. Aisha nggak menyesal atau terpaksa kok, menerima pernikahan ini."


"Karena aku tahu, ini sudah jalan dari-Nya. Jalan di mana ia dan Arsal ditakdirkan untuk bersatu. Diterima atau ditolak, ia tak akan dapat untuk mengelak," batin Aisha.


"Makasih ya, Nak." Lusi mendekap erat Aisha.


"Sama-sama, Bu." Rasanya Aisha ingin menangis.


Seperkian detik, keduanya terdiam. Tersebabkan oleh suara Yusuf —ayahnya yang menjadi wali— terdengar.


"Bu," panggil Aisha lirih. Lusi yang mengerti langsung saja mengeratkan pelukan mereka.


Suara penyerahan dari sang ayah mulai terdengar. Mendengar hal itu, tanpa aba-aba, dengan gerakan slide, seketika itu juga memori di otaknya berontak untuk diingat. Tentang perkenalan, permainan, dan perpisahan.


"Kenalin, nama aku Arsal!"


Perkenalan dari bocah laki-laki itu, adalah awal dari bahagia dan sedih hidupnya, akibat mencintai si pemilik nama.


"Main sama aku, yuk!"


Ajakan itu ... adalah ajakan dari bocah laki-laki itu kepadanya. Bukan hanya untuk bermain, ternyata sampai ke pelaminan.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Aisha Kaneishia binti Yusuf dengan maskawin tersebut, tunai."


Dan ucapan itu ... adalah awal dari perjalanan hidup mereka setelah perpisahan waktu kecil. Ucapan yang seketika itu langsung membuatnya lemas.


"Aisha, ayo kita keluar."


"Bu, Aisha nggak mau keluar, mau di sini aja. Ibu temanin aku, ya?" Aisha menggenggam erat tangan Lusi.


"Jangan. Kasihan Arsal di luar nunggu kamunya. Ayo, Nak!"


Aisha menggigit bibir bawahnya. Lalu berdiri lemas. Lusi, ia pun merangkul Aisha, membawanya keluar kamar.


Ya Allah ...


Semua tatapan tamu tertuju pada dirinya. Meski yang di undang hanya keluarga dan para tetangga saja, namun cukup membuatnya merasa seperti jelly. Karena hal itu, ia tak sadar jika sang suami, sedari tadi memandang lamat dirinya. Ya, hanya pada dirinya.


Aisha memegang erat lengan Lusi saat mendengar perintah ayahnya.


"Duduk dulu, Sha!" Lusi bersuara pelan-dengan nada gemas-saat merasakan tangannya tak lepas dari Aisha.


"Nak, ayo." Jihan —ibu Arsal— ikut menyuarakan perintah.


Dengan gerakan kaku ia menuruti. Terlebih saat Lusi menekan pelan kedua bahunya ke bawah, menyuruh duduk. Namun duduknya tak berhadapan dengan Arsal yang sudah terlebih dahulu menyerong padanya.


"Aisha, hadapnya ke mana? Itu loh, hadap Arsal!" protes Lusi kembali bersuara.


Aisha hendak merengek, jika saja tidak ada banyak orang-orang yang menatapnya. Tak banyak dari para tamu ada yang tersenyum geli melihat betapa kakunya Aisha.


Menghela napas, Aisha pun memperbaiki duduknya menghadap Arsal. Namun lagi-lagi ia memundurkan badannya, meski tak jadi, karena merasakan jika Lusi memegang lengannya. Bagaimana tidak, lututnya dan lutut lelaki di hadapannya bersentuhan.


"Ya Allah, berasa kesetrum aku," batin Asia tertunduk menatap tangannya yang bergetar.


"Salim tangan suaminya, Nak."


Eh, apa kata ayahnya? Aisha merasa blank sesaat. Untuk duduk di samping Arsal saja ia butuh waktu hampir lima belas menit.


Aisha menahan napas, saat melihat sebuah tangan kokoh tersodor padanya. Bukannya menyambut, dirinya malah meremas gaunnya di atas paha.


"Aisha, ayo salim." Lusi menyenggol lengannya pelan.


Tangan Aisha masih tetap di posisi sama. Keringat dingin membasahi dahi dan juga tangannya. Sekali lagi, ia hanya mengusap gaunnya.


"Nak."


Dengan gemetar ia menyambut tangan Arsal. Baru sedetik ia memegang tangan Arsal, Aisha langsung menyentak kembali ke tempat semula. Meski sebenarnya tak bisa dikatakan memegang, karena Aisha hanya menyentuh ujung jari tengah Arsal, yang lebih tepatnya hanya terasa seperti seringan bulu.


"Masya Allah, Aisha ..." Lusi hanya bisa menghela napas sambil mengurut dada melihatnya, geregetan sendiri jadinya.


Aisha semakin menunduk dalam. Rasanya ia ingin menangis kencang. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Padahal ia tahu, sangat tahu jika saat ini semua orang menunggu pergerakannya.


Tiba-tiba, dan tanpa aba-aba, dengan lembut, Arsal mengambil tangannya. Aisha menahan mati-matian degup jantungnya yang berdetak kencang.


"Aisha, dicium tangan suaminya."


Dengan kaku-dan tak ingin membuat waktu lebih lama, seperti sebelum-sebelumnya-ia menuruti perintah ayahnya yang kembali menyuruh. Napasnya tertahan saat bibirnya sudah sampai pada punggung tangan Arsal, suami sahnya.


Suami?


Sekuat tenaga ia menahan gugup sekaligus tangis haru, saat kata itu terlintas di kepalanya. Lalu ia pun mengangkat kepalanya, namun tertahan saat sebuah tangan memegang ubun-ubunnya, yang diiringi lantunan doa dari suaminya untuk keberkahan pernikahan mereka.


Rasanya ... ada yang menghangat, di dalam dada, sebelah kiri. Aisha tak sanggup berkata-kata. Kelu.


Dengan suara lirih, ia mengaminkan doa yang dilangitkan oleh suaminya. Untuk kehidupan mereka. Kehidupan bahtera pernikahan mereka setelah ini, yang akan banyak warna-warni dan rasa yang diliputi asa.


Setelah semua hal tersebut, harusnya Aisha tidak memilih untuk menghindari suaminya, dikarenakan adanya orang ketiga di tengah mereka. Harusnya, sebagai seorang istri ia lebih terbuka. Meskipun perjodohan, ia juga perlu kepastian.


Ya, ia harus membicarakan semuanya dengan Arsal, suaminya.